Gerald Kane

Gerald Kane
GERALD 38


__ADS_3

...SELAMAT DATANG DI GERALD KANEšŸ–¤...


...SEBELUM MULAI MAU TANYA KABAR KALIAN GIMANA HARI INI? HAPPY KAN? OH YA KALIAN UDAH FOLLOW IG FANBASE KAN? UDAH PSTI KAN YAA.....


...DAN YANG BELUM YUK BISA DI FOLLOW AKUN YANG EMANG SELALU AKTIF WALAU JARANG UPDATE....


...@ARCELLAQUEENZIEG...


...@ARCELLAQUEENZIEG...


...@ARCELLAQUEENZIEG...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...DI TUNGGU YAA!!!...


...BANYAK BACOT BANGET KAN AKU SENGAJA SI WKWK YAUDAH LANGSUNG AJA YUK YUK KE CERITANYA....


...KALIAN INGAT YA INGATTTT!!! AKU SELALU MANTAU KALIAN MAU DI IG ATAU KOMENTAR HEHEH JADII TERIMA KASIH BANGETT KALAU KALIAN JUGA AKTIF MAU IG ATAU KOMENTAR...



"Gue kangen lo" ucap Raven seraya memeluk Mahen.


Mahen juga memeluk Raven, mereka memang dekat tapi tidak ibunda atau permaisuri pertama.


Andaikan bisa Raven ingin memberikan posisi pangeran pertama atau putra mahkota yang belum di tentukan itu ke Mahwn bukan dirinya.


Dia sudah muak hidup di istana yang terlihat baik-baik saja di luar namun aslinya sangat kacau di dalam. Raven tau dimana selama ini Mahen berada dia hanya diam sesekali memantau keadaan adeknya ini.


"Gue muak! Gue cape di istana sialan ini"


"Lo gak bisa cape dan muak karna ini rumah lo" ucap Mahen.


"Gue mau hidup bebas tanpa kekangan, tanpa tuntutan gila setiap saat!"


"Ikut gue" ajak Mahen


"Kemana? Indonesia? Permaisuri pertama gak akan ngebiarin gue pergi. Dia gila dia tergila-gila dengan tahta sialan itu!!"


"Gue punya cara" ucap Mahen seraya menyunggingkan senyum kecil bahkan tak ada yang melihat nya.

__ADS_1


"Apa?" Raven menatap Mahen penuh harapan


Dia benar-benar muak, sedari kecil di tuntut harus bisa semua hal mulai dari pelajaran yang semuanya harus dia kuasai, minimal menguasai sepuluh bahasa di setiap negara terkemuka, bisa semua seni bela diri, menghafal nama keluarga bangsawan dan setiap minggu harus berkencan dan menghadiri pesta yang di adakan setiap bangsawan.



"Salah satu cara lo mau bebas adalah membunub permaisuri pertama, karna semua hal memuakkan yang lo alami pemicunya dari permaisuri pertama kan?" Dengan seringai kecilnya Mahen berucap sangat santai.


Jika ad yang mendengar ini sama saja pemberontakkan terhadap kekaisaran, tapi bagi Mahen itu cuman masalah kecil dia bisa saja menghancurkan kekasiaran jika memang dia benar-benar ingin.


"Selain membunuh permaisuri, lo juga harus menghabisi seluruh keluarga yang memihak permaisuri" gumam Mahen lagi.


"Pemikiran lo sungguh gila, membunuh mereka tak semudah itu. Lawellyn!"


"Bagi lo sulit, tidak bagi gue. Gue yang sebagai Mahendra Saputra"


"Gue gak bakal bertindak seperti itu! Gue gak dengar apa yang barusan lo ucapin"


"Oh come on! Lo mau bebas kan?" Ucap Mahen


Apa yang Mahen pikirkan sekarang? Dia memprovokasi pangeran pertama untuk membunuh ibunya sendiri? Apa yang dia rencanakan sekarang? Ini membuat bingung karna di luar konsep yang ada.


"Gue tau lo benci nyokap lo" gumam Mahen lagi,



Raven menatap Mahen mencoba menebak isi pikiran Mahen saat ini,


"Gue diam selama ini karna gue yakin lo bakal berubah! Lo? Bunuh para tukang itu kan?" Tanya Raven.


"Gue? Hahahahahha gila gila lo tau dari mana hmm?" Mahen tertawa seraya menggeleng tak percaya dengan ap yang di ucapkan Raven.


"Jujur Lawellyn!"


"Lo gak percaya gue?"


"Jawab gue Lawellyn!!"


"Iya, gue bunuh mereka karna mulut dan mata mereka gak bisa di percaya" Raven menggeleng.


Adeknya ini psikopat, walau dia tau segila apa Mahen jika haus akan darah walau begitu Mahen tak pernah membunuh manusia selama yang dia tau selain binatang yang mereka tangkap dulu saat masih kecil.


"Waktu gue di sini gak lama, lo mau bebas ya bunuh nyokap lo dan gue bakal bantu atau lo bakal selalu berada di dalam sangkal kecil ini" baru kali ini Mahen berucap panjang lebar.


Tok tok tok


"Hen, jarak dua kilometer arah jam 12 ada pergerakan ke arah sini" Nata memberitahu.


"Oke" ucap Nata.

__ADS_1


"Berapa manusia yang sudah lo bunuh?"


"Tanyakan permaisuri pertama, seberapa banyak pembunuh bayaran yang dia dan keluarga nya kirimkan selama ini" Raven menatap tajam Mahen karna kaget.


Pantas Mahen kekeh meminta dia membunuh ibunda nya karna ini, setau dia bunda nya bahkan keluarga tidak lagi menyentuh atau mencari tau keberadaan Mahen.


"Syalan!!" Umpat Raven,


Raven sangat sayang dengan Mahen dia sudah menganggap Mahen itu adek kandungnya sendiri walau permaisuri pertama ingin membunuh Mahen dan snagat membenci Mahen. Karna saat mereka kecil hanya Mahen dan permaisuri kedua saja yang berada di dekatnya dan baik ke dirinya.


"Hen, dekat" ucap Relga.


"Lo pada naik ke atas pohon" perintah Mahen.


Tanp Mahen suruh pun mereka sudah naik dan yang terakhir naik adalah Relga makanya sempat memberitahu. Pintu masuk ke dalam rumah pohon ini tak ada karna memang di buat se tak kasat mata atau seakan tak ada pintu sama sekali.


"Dayang istana itu bilang mereka pergi ke arah sini bukan? Segera temukan sebelum matahari terbit! Permaisuri pertama menunggu kabar baik dari kita!!" Ucap ketua pembunuh bayaran yang menyamar menjadi pengawal.


"Lo dengar sendiri kan? Gue bakal menghargai keputusan lo apapun itu asalkan dia tidak menyentuh ibuku lagi" rahang Mahen mengeras jika mengingat apa yang terjadi beberapa tahun silam yang membuat dia harus mengasingkan diri dan bersembunyi.


Mahen sebenarnya memiliki adek berusia satu tahun namun meninggal akibat keracunan, saat itu Mahen tengah bersama sang adek dan bertemu permaisuri pertama di taman istana lalu dayang memberikan cemilan ke mereka.


Mahen tak langsung memakannya karna tau kalau ada racun namun adek nya yang masih belum memilki akal langsung memakan dan ya begitu keracunan.


Sejak saat itu susana istana menegang, Mahen di sembunyikan oleh permaisuri kedua ke tempat sahabat sekolahnya dulu yaitu orang tua Gerald dan yang lain.


Cukup lama mereka berdiam di dalam rumah pohon sampai mereka Gerald turun setelah merasa aman,


"Ngomong apa lo berdua?" Tany Relga yang penasaran.


"Muka lo kencang banget keriput ntar Hen" ucap Rian


"Syalan!" Umpat Mahen.


"Gue paling males pke pedang anj!" Ucap Nata seraya menepis pedang dari pembunuh bayaran itu.


Mereka terkepung, untung saja mereka menemukan Mahen dkk saat jauh dari rumah pohon andai ketahuan bakal menjadi maslaah untu Raven, Mahen tak mau Raven terkena imbasnya.


Aneh bukan? Mahen tak mau Raven kenapa-kenapa tapi dia menyarankan untuk membunuh ibunya. Kebodohan apa yang ada di otak Mahen?.


"Terlalu banyak!!" Ucap Relga.


"Bodoh" gumam Gerald.


Terlalu banyak katanya? Menghabisi puluhan mafia saat itu saja mereka sangat menikmati ini hanya lima belas kurang di bilang terlalu banyak.


"Terlalu banyak perhiasan di jubah gue anj!! Topengnya agak bikin ribet" sahut Relga lagi.


"Ya elah alay lo!!" Ucap Rian.

__ADS_1


Mereka menghabisi pembunuh bayaran itu dalam sekejab walau agak kesusahan si Relga karna jubahnya. Siapa suruh memakai pergiasan di jubah dasar anak aneh.


...šŸ–¤JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENšŸ–¤...


__ADS_2