
...SELAMAT DATANG DI GERALD KANEđź–¤...
...SEBELUM MULAI MAU TANYA KABAR KALIAN GIMANA HARI INI? HAPPY KAN? OH YA KALIAN UDAH FOLLOW IG FANBASE KAN? UDAH PSTI KAN YAA.....
...DAN YANG BELUM YUK BISA DI FOLLOW AKUN YANG EMANG SELALU AKTIF WALAU JARANG UPDATE....
...@ARCELLAQUEENZIEG...
...@ARCELLAQUEENZIEG...
...@ARCELLAQUEENZIEG...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...DI TUNGGU YAA!!!...
...BANYAK BACOT BANGET KAN AKU SENGAJA SI WKWK YAUDAH LANGSUNG AJA YUK YUK KE CERITANYA....
...KALIAN INGAT YA INGATTTT!!! AKU SELALU MANTAU KALIAN MAU DI IG ATAU KOMENTAR HEHEH JADII TERIMA KASIH BANGETT KALAU KALIAN JUGA AKTIF MAU IG ATAU KOMENTARđź–¤...
Harusnya saat ini mereka bertemu di Brazil namun mereka memilih ke Belgia saja, alasan pertama tak pergi ke Brazil adalah Carnaval yang di adakan di Rio Je Janeiro karena dilanda banjir bandang dan longsor walau bisa saja mereka ke kota lain yang tidak terkena tapi Gerald dan teman-temannya tidak mau.
Menurut mereka jika mereka pergi ke sana sama saja dengan mendukung Carnaval yang berlangsung, alhasil mereka pergi ke negara Belgia. Padahal papa Gilbert memaksa mereka langsung pulang saja karna terlalu berbahaya, namun kakek bilang semua aman terkendali walau cucu-cucu nya hampir mati.
“Sudah kakek bilang kan” ucap Martinus Axen kakek Nata saat Nata baru saja tiba.
“Bilang apa?” Tanya Nata
“Langsung ke sini”
“Iya suka-suka kakek aja deh” Nata malas menghiraukan kecerewetan sang kakek.
“George, apa kabar?” Tanyanya ke kakek Gerald, George Ouraldo
“Hampir meninggal, dan kau? Apa kabar Martin?”
“Sangat sehat menikmati masa tua” keduanya saling tos dan masuk ke dalam rumah.
Bukan hanya Gerald yang bersahabat dengan keempat temannya, orang tua mereka bahkan akur dan kakek nenek mereka juga bersahabat sedari dulu maka itu mereka sudah seperti keluarga.
Walau begitu mereka dulu tak langsung berteman karna ya kalian sudah tau saat membaca bab berapa gitu ya. kalo ga salah:)
“Sudah datang? Silahkan masuk aku masak seadanya saja, Geo” Terina Axen nenek Nata,
“Wahh apa ini? Nata di abaikan?” Gumam Nata dengan nada kekanak-kanakan.
__ADS_1
“Oh astaga cucu ku yang sangat tampan” neneknya langsung mendatangi dan mengecup pipi Nata berulang kali karna gemas.
“Apa lukanya sudah di obati?”
“Apa terasa sakit? Oh astaga nenek tidak sengaja”
“Kamu sudah minum obat?”
“Kamu psti lelah, kamu istirahat saja”
“Kamu mau makan apa biar nenek buatkan” Tanya nenek Nata yang begitu cerewet.
Kalau kata Relga nenek Terina dan kakek Martin itu cocok karna sama-sama cerewet,
“Nata gapapa nek, oh ya kapan nenek ke Indonesia?”
“Ck, bulan lalu nenek kan sudah” Nata tau dan tak akan lupa hanya saja hal lain yang di inginkan Nata.
Nata ingin keluarga nya semua berada di satu negara walau berbeda kota agar kalau kenapa-kenapa tak memerlukan waktu panjang untuk ke tempat orang itu.
Tapi ya tak bisa apa-apa karna kakek nenek nya ini sedari dulu suka traveling dan memilih untuk menikmati masa tuanya di Belgia,
“Bagaimana Eden dan Rizell? Kapan kita jadi besan” tanya kakek Nata ke kakek Gerald.
Gerald yang mendengar nama kakaknya di sebut langsung menoleh ke arah dua orang tua itu yang tengah berbincang,
“Aish sudah ku bilang biarkan Rizell yang memutuskan jalannya sendiri”
“Eden dan Rizell? Apa maksudnya?” Tanya Gerald
“No! Rizell belum boleh menikah apalagi sama Eden” mode posesif Gerald muncul.
“Alasannya? Eden cucu ku itu sudah memiliki pekerjaan tetap dan sudah mapan”
“Pokoknya gak boleh. Jangan membahas tentang Rizell, kakek Martinus Axen” ucap Gerald, sebenarnya dari kalimat itu maksud lainnya adalah ancaman dari Gerald.
Hanya Gerald yang berani melawan para orang tua, melawan dalam hal yang jelas jika itu salah bukan jadi bocah keras kepala yang mau aerox nendang pintu ya.
“Cucu mu itu tidak berubah” Geo menatap sang cucu lalu tersenyum.
“Kau benar, persis seperti Gilbert saat mendengar kalau keluarga Aximus ingin menjadikan Rizell tunangan saat dulu”
“Hahaha iya Gilbert bahkan sempat membuat saham perusahaan Aximus menurun drastis walau tidak sampai bangkrut saat itu”
“Hahahah benar” mereka pun elanjutkan pembicaraan seakan sudah cukup lama tidak bertemu padahal mah dua bulan sekali mereka berkumpul bersama dengan yang lain di negara tertentu.
...Rizell (chat)...
^^^Woi^^^
^^^Lo awas aja ya deket-deket Eden!^^^
^^^Gue gak setuju oke.^^^
^^^Gue bunuh aja kali ya Eden nya^^^
__ADS_1
^^^jangan sama Eden kalo mau pacaran^^^
^^^Cari cowok yang jangan berseragam^^^
^^^Bukan pekerjaan Eden gak bagus tapi gak suka aja gue.^^^
Apasih gajelas.
^^^Y^^^
Read.
Gerald memasang wajah datar, bagaiaman tidak datar mood nya seketika hancur. Para sahabatnya sudah biasa melihat hal ini karna posesif Gerald itu menurut mereka benar dan juga salah.
“Dugem kuy ntar” ajak Relga
“Dugem mulu meninggal mampus lo” ucap Rian
“Drive night aja gimana?” Tanya Relga
“Come on Rel, kita baru aja di zona aman itupun gak seratus persen aman” ucapan Rian ada benarnya, Relga sebenarnya hanya mengalihkan topik dan mengalihkan fokus mereka yang sesekali ke arah kedua kakek itu.
Mengingat kakek nenek Mahen dari kedua orang tuanya sudah tidak ada, padahal dulu Mahen sangat dekat juga dengan kakek neneknya namun keduanya meninggal dalam kecelakaan pesawat.
Pesawat Boeing 737 USAir itu dalam perjalanan dari Chicago ke Pittsburgh dan telah dijadwalkan untuk melanjutkan perjalanan ke West Palm Beach, Florida. Namun apa yang terjadi saat penerbangan tersebut, pesawat itu jatuh dan saat tim penyelamat ke lokasi tak ada yang selamat dari perituwa tersebut.
Padahal seharusnya Mahen ikut di dalam pesawat itu tapi karna mereka Gerald dan yang lain baru saja tiba di Chicago, jadilah Mahen akan menyusul kakek neneknya. Namun hal tak terduga terjadi.
“Tuan, permai... maksud saya nyonya menghubungi” Mahen pun menuju telpon rumah karna memang hanya telpon rumah saja yang memungkin kan untuk di gunakan telpon menelpon walau chatingan juga bisa melacak.
“Mahen?”
“Ya?”
“Apa kamu baik-baik saja sayang? Maafkan mamah”
“Aku baik-baik saja”
“Maafkan maaf hikss maafkan mamah yang gak hiks becus jaga kamu”
“Mahen gapapa, jangan menangis!”
“Bagaimana keadaan kamu? John bilang kamu terluka!! Mamah mau peluk kamu hiks mamah mau liat kamu! Maafkan mamah Mahen maafkan mamah!!”
“Mahen akan tutup telponnya kalau mamah masih menangis”
“Enggak hiks mamah hiks gak nangis mamah cuman kelilipan”
“Oke, selamat malam mah, jangan sakit”
“Mahe...” panggilan itu sudah dimatikan sepihak,
Mahen tau kalau tindakannya ini salah, walau begitu Mahen tak suka mendengarkan suara tangisan itu. Memang benar tiga bulan sekali mereka bertemu tapi itu dulu saat Mahen masih kecil sejak, jadi hampir sepuluh tahun Mahen hidup sendiri walau bisa saja Mahen yang mendatangi orang tuanya.
Namun hal itu memiliki resiko yang cukup besar bagi Mahen dan orang tuanya,
__ADS_1
...đź–¤JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENđź–¤...