
Kesempatan emas harus dimanfaatkan dengan baik. Seperti yang dilakukan Ethan saat ini. Setelah malam itu mendapat kesempatan, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Siang ini Ethan sudah membuat janji makan siang bersama Olivette. Dia masih betah berada di sini selama beberapa hari. Walaupun rasanya sesak saat mengingat mantan suaminya, hidup tetaplah berjalan.
"Bella, aku akan kembali sedikit terlambat," pesan Ethan sebelum meninggalkan ruangannya.
"Memangnya Tuan mau ke mana?"
Tidak biasanya Ethan makan di luar mendadak seperti ini. Biasanya dia juga melibatkan Bella. Namun, kali ini tidak lagi.
"Bertemu Nyonya Olivette. Kenapa? Apa kau mau ikut?"
"Ah, tidak, Tuan. Aku tidak akan mengganggu pasangan fenomenal," canda Bella.
"Maksudmu?"
"Intinya, aku tidak mau mengganggu janda dan duda premium."
"Premium?"
"Ah, lupakan saja, Tuan! Aku hanya bercanda," jelas Bella.
Wajar saja kalau Bella mengatakan hal demikian karena Ethan adalah bos yang tampan. Sementara Olivette adalah janda berkelas yang cantik dan rupawan. Sama-sama dari kalangan konglomerat.
Ethan pikir dialah yang paling awal tiba di restoran. Nyatanya dia salah. Olivette sudah lebih dulu tiba di sana dan duduk dengan gaya elegannya.
"Nyonya, maaf aku terlambat!" ucap Ethan saat dirinya sudah berada di hadapan Olivette.
"Panggil Olive saja! Aku merasa tua kalau kau panggil seperti itu, Tuan."
"Hemm, baiklah. Sudah pesan makanan?"
"Belum. Menunggumu saja."
Tidak etis rasanya Olivette memesan makanannya lebih dulu saat tamunya belum datang. Kini, ada rasa canggung yang menderanya. Berdua dengan pria yang memiliki status berbeda.
"Baiklah. Bisa pesan sekarang," ungkap Ethan.
"Silakan, Tuan!"
Ethan memanggil pelayan kemudian memilih beberapa makanan dan minuman. Olivette pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Pesanannya jadi satu saja," pesan Ethan sebelum pelayan meninggalkan meja mereka.
"Baik, Tuan."
Setelah pelayan pergi, Ethan kembali mencoba mencuri pandang ke arah Olivette. Bagi Ethan, rupanya wanita itu sudah menjadi candu.
"Kalau semisal ada pria yang tidak menginginkan Anda kembali, bagaimana?"
"Maksudnya tetap bertahan di sini. Begitu?"
Ethan mengangguk.
"Tergantung, Tuan. Siapa pria itu? Kalau sekadar untuk singgah dan mempermainkan perasaan, untuk apa?"
Olivette membuat denyut jantung Ethan berdetak tiada terkontrol. Bukannya biasa pria mempermainkan wanita, tetapi kali ini seolah dirinya yang dipermainkan
"Aku orangnya. Aku pernah mengatakan pada Anda bahwa akan memperbaiki keadaan. Menggantikan masa lalu Anda dengan sebuah kebahagiaan berlipat ganda, tetapi dengan satu syarat."
"Apakah aku harus memenuhi syarat itu?" tanya Olivette.
"Tentu!"
"Menikahlah denganku!"
Hal yang sangat mengejutkan. Olivette mengira bahwa Ethan hanya berbasa-basi saja untuk membesarkan hatinya dari kekalahan di masa lalu. Semakin ke sini, Ethan rupanya menunjukkan keseriusannya. Namun, Olivette belum mau memberikan kesempatan itu sebelum Ethan bertatap muka langsung dengan orang tuanya.
"Anda pasti bercanda, Tuan. Aku anggap itu hanyalah joke siang hari agar aku bisa tersenyum dan melupakan kisah kelam itu, bukan?"
Ethan tidak menyerah. Rupanya keseriusannya dianggap candaan oleh Olivette. Baiklah, mari kita buktikan!
"Kapan Anda kembali? Maksudku, kapan Anda pulang ke rumah?" tanya Ethan. Dari sini, dia bisa memutuskan untuk lanjut mengejar Olivette atau melepaskannya begitu saja.
"Besok. Penerbangan terakhir karena aku ingin tiba di sana pada malam hari."
"Baguslah. Aku akan ikut dalam penerbangan itu. Berikan alamat tujuannya agar aku bisa memesan tiket pesawat hari ini juga."
Olivette membelalakkan mata. Dia pikir Ethan akan menyerah. Rupanya dia salah besar. Semakin Olivette menghindar, Ethan terus saja mengejarnya.
"I-itu tidak perlu, Tuan. Anda mungkin hanya terobsesi terhadapku saja. Lebih baik lupakan keinginan Anda untuk serius. Aku memang menginginkan pria yang bertanggung jawab, tetapi bukan berarti harus secepat ini," protes Olivette yang mulai gugup.
Jika dulu Will adalah pria yang mampu membuat Olivette luluh. Maka berbeda dengan Ethan. Pria itu mampu menyihir Olivette menjadi wanita yang mendadak ketakutan akan keseriusannya. Padahal, niat Ethan agar Olivette tidak terlepas lagi dari genggamannya.
__ADS_1
Tujuannya bukan untuk membalas rasa sakit hati yang ditorehkan mantan istrinya, tetapi untuk memberikan kebahagiaan orang yang sudah mulai mengisi relung hatinya.
Saat kegugupan mulai melanda, pelayan datang dengan membawa beberapa pesanan mereka. Tidak hanya itu. Entah ini memang disengaja atau tidak, pelayan itu membawakan setangkai bunga mawar merah yang begitu segar.
"Aku tidak memesan bunga mawar itu!" ucap Olivette.
"Bukan Anda yang memesannya, Nyonya. Pria di hadapan Anda lah yang memesannya untuk Anda. Tolong diterima!" rayu Pelayan.
Makan siang dengan beberapa kejutan romantis membuat Olivette tersipu. Dia terpaksa menerima mawar merah itu karena keburu malu pada pelayan.
"Lihat, bagaimana aku berniat serius kepadamu, Nyonya? Besok malam aku akan pergi bersamamu dan memintamu langsung dari kedua orang tuamu."
"Tuan, orang tuaku galak. Kau pasti akan merasa kesulitan saat di sana."
"Aku tidak takut, Nyonya. Apalagi niatku baik. Pasti mereka mau menerima pria sepertiku. Yah, anggap saja aku adalah duda premium."
Kali ini joke yang dilontarkan Ethan membuat Olivette tersenyum. Bisa-bisanya dia membanggakan diri sebagai duda premium.
"Tunggu! Mengapa Anda terlalu percaya diri? Premium atau bukan, jika orang tuaku menolak. Anda pasti akan mundur!" Olivette mencoba menakutinya.
Ethan pikir seorang anak kecil yang akan menyerah begitu saja. Tidak semudah itu, Olivette! Cinta yang Ethan gaungkan sendiri murni dari rasa bersalah yang pernah ditorehkan mantan istrinya yang sudah merebut suami Olivette di masa lalu. Seperti janjinya, Ethan akan mengupayakan agar bisa mengembalikan keadaan menjadi lebih baik, yaitu sama-sama bahagia.
Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya Ethan membeli tiket pesawat untuk penerbangan yang sama. Walaupun mereka tidak berada di kursi yang dekat, setidaknya masih dalam satu pesawat.
Olivette pun mengatakan padanya jika Ethan tidak bisa langsung datang ke rumahnya. Dia harus tinggal di hotel terlebih dahulu. Saat Olivette sudah bisa meyakinkan bahwa ada pria yang berniat serius, maka Ethan baru diperbolehkan untuk bertamu ke rumahnya.
"Aku penasaran dengan cara Tuan Will untuk mendapatkanmu tempo hari. Apakah sama rumitnya denganku?" tanya Ethan sambil menikmati makan siangnya.
Mungkin saja Will terlalu mudah mendapatkan Olivette sehingga pria itu mengabaikan tanggung jawabnya. Namun, bukan itu yang akan dijawab Olivette. Melainkan hal yang berbeda.
"Pria itu dan duda premium akan mengalami ujian yang berbeda. Anggap saja semakin sulit ujiannya, duda premium akan lebih mampu berpegang teguh pada prinsip serta tujuannya!"
"Kurasa aku sudah tahu jawabannya. Tuan Will hanyalah salah satu pria terbodoh yang rela melepaskan berlian demi batu sungai."
Sebenarnya Olivette enggan membahas pria masa lalunya, tetapi Ethan terus saja mengingatkan nama itu. Nama yang perlahan mulai dihapus dari hatinya agar segera tergantikan dengan pria lain yang serius memperjuangkan dirinya. Maka, Olivette akan membuka hati dan cintanya pada orang baru tersebut.
...🌾🌾🌾...
Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya rekomendasi dari Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1