Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 44. Target Selanjutnya


__ADS_3

Sebenarnya Clara tidak setuju, tetapi Ethan lah yang memintanya. Akhirnya, para maid dan beberapa pria yang bekerja di mansion mengubah kamar itu menjadi sesuatu yang berbeda. Ya, walaupun itu baru selesai keesokan harinya.


"Sayang, hari ini aku akan ke kantor. Kalau kau ingin ikut, boleh. Kalau lebih memilih di mansion atau pergi bersama mama, pergi saja!"


Olivette tipe wanita yang selalu disiplin. Dia yang menyiapkan segala keperluan suaminya. Ethan agak aneh diperlakukan seperti ini. Pasalnya, selama menikah dengan Wileen, wanita itu lebih sering pergi keluar negeri ketimbang mengurus suaminya. Terkadang dia pergi dengan rekan sosialitanya.


"Aku ikut ke kantor saja. Bosan di mansion."


Ada alasan khusus dengan pilihan Olivette. Selama menikah dengan Will, dia sama sekali tidak tahu kantor. Ya, walaupun bebas dengan teman sosialitanya, tetapi penawaran menarik ini tidak bisa dilewatkan.


"Hemm, baguslah. Oh ya, nanti di kamar kita akan ada renovasi sedikit. Aku menambahkan tiang menari untukmu. Maksudku, tiang untuk pole dance. Kau berutang padaku," jelas Ethan.


"Hah, mengapa kau pasang di kamar? Tidak adakah tempat lain yang lebih luas?"


Olivette memang tidak tahu jika ukuran kamar Ethan lebih luas dari kamar yang ditempatinya saat ini. Jika ruangan itu ditambahkan tiang pole dance, tidak akan menjadi masalah.


"Aku hanya ingin melihatmu menari indah di depan mataku. Tidak untuk orang lain. Hanya itu. Kamar adalah tempat paling nyaman untuk kita. Jadi, kau bebas bereksplorasi di sana."


"Ya, ya, terserah suamiku saja. Aku milikmu. Lalu, untuk apa lagi aku melakukan protes jika semuanya sudah beres?"


Semakin ke sini, Olivette membuat Ethan semakin tergila-gila. Terkadang Olivette seakan bersikap jual mahal, tetapi juga dia lebih sering mendominasi untuk merayu suaminya.


Ethan sengaja tidak sarapan di mansion karena Olivette sudah menyiapkan bekal untuk sarapan pagi di kantor.


"Hei, kalian tidak mau menemani mama untuk sarapan pagi?" tanya Clara saat melihat Olivette menyiapkan perbekalan untuk dibawa ke kantor.


"Kami akan sarapan di kantor, Ma. Mungkin suamiku ingin mencoba sesuatu yang baru dan kenangan baru, bukan? Selama ini sarapan di mansion lebih sering dilakukan bersama mama dan juga mantan istrinya. Jadi, aku sengaja membuat sesuatu yang baru agar suamiku bisa memandangku dari sudut yang berbeda. Aku harap Mama tidak salah paham ataupun kecewa," jelas Olivette.


Mana mungkin Clara bisa marah jika putranya menjadi pusat perhatian menantunya. Justru ini adalah kesempatan yang bagus agar keduanya semakin dekat.


"Tentu saja tidak, Sayang. Mama senang kalau kalian terlihat bahagia seperti ini. Semoga harapan mama pada pernikahan kalian benar-benar terwujud, yaitu selalu bahagia dan lekas memiliki keturunan."


"Terima kasih, Ma. Doakan saja," jawab Ethan.


Sangatlah riskan sekali membahas masalah keturunan. Terlebih Ethan sudah membicarakan itu sebelumnya. Setelah semuanya siap, mereka pun lekas berangkat ke kantor. Jangan tanya lagi bagaimana penampilan Olivette dengan pakaian resminya. Dia tetap terlihat cantik dan anggun seperti saat pertama kali bertemu.

__ADS_1


"Aku kadang suka heran denganmu, Olive," ucap Ethan membuka pembicaraan saat berada di mobil.


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?"


"Tidak. Kurasa ada bidadari yang tertukar. Ya, kau cantik dan sempurna," puji Ethan.


"Tidak seperti itu, Ethan. Aku akan sempurna jika berhasil mengandung anak dari hasil pernikahan kita. Jika belum, maka jangan katakan itu lagi."


"Hei, jangan bersedih. Aku hanya ingin menyenangkan hatimu. Ingat, jangan setres! Nikmati perjalanan waktu kita dengan cara yang berbeda."


Selama Ethan belum sampai di kantor, rupanya Bella, sekretarisnya itu sudah kedatangan tamu. Ah, bukan tamu. Hanya sebuah undangan yang membuatnya harus repot sepagi ini.


"Apakah undangan ini tidak bisa datang esok hari saja?" tanya Bella dengan nada protes pada pengirimnya.


"Maaf, undangan ini memang baru dikirimkan hari ini, Nyonya. Maafkan aku." Kurir tersebut merasa bersalah karena mendapatkan omelan wanita yang menerima undangan tersebut.


Bella merasa bingung karena Ethan tidak memberitahukan bahwa hari ini dia datang ke kantor. Makanya, Bella sedikit kesal dengan undangan yang dikirimkan dari relasi bisnis bosnya itu.


"Baiklah, terima kasih." Terpaksa Bella menerimanya dan berniat membawa undangan itu masuk.


"Selamat pagi, Bella! Apa kau hari ini baik-baik saja?" sapa Ethan.


"Ah, maaf, Tuan. Sebenarnya aku panik hari ini. Tidak biasanya aku memarahi kurir karena kupikir Anda tidak datang," jelas Bella.


"Jangan galak-galak, Bella. Maaf, kami datang ke kantor tanpa memberitahumu," sahut Olivette.


"Maaf, Nyonya. Selamat datang di kantor dan semoga Anda betah menjadi bagian terpenting kami," ucap Bella.


"Terima kasih. Ayo, kau mau masuk atau hanya menunggu di sini saja?" ajak Olivette.


Seumur hidup Bella, baru kali ini mendapatkan perlakuan yang luar biasa seperti ini. Sesampainya di ruangan, Bella lekas menyerahkan undangan yang tidak tahu apa itu isinya.


"Sayang, buka saja undangannya!" perintah Ethan.


Olivette membuka undangan indah itu. Tertulis undangan dinner dari klien Ethan, yaitu Tuan Yuval Vincenzo. Nama itu tidak asing di telinga Olivette, tetapi dia belum pernah menjumpainya sama sekali.

__ADS_1


"Undangan dinner, Sayang. Dari Tuan Yuval."


Sebenarnya Ethan merasa tidak nyaman dengan undangan makan malam ini. Terlebih saat tahu pengirim undangan tersebut. Namun, di sana akan ada rekan bisnisnya juga, Vincent Walton.


"Tuan, jika Anda tidak nyaman, lebih baik tidak datang," sahut Bella yang masih ada di ruangan tersebut.


"Bella, ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang membuat suamiku tidak nyaman dengan undangan ini?" tanya Olivette penasaran.


"Bella, keluarlah! Aku akan bicara sebentar dengan istriku."


"Baik, Tuan." Bella langsung keluar ruangan.


Olivette mengamati wajah Ethan. Rasanya seperti berada di dalam fase yang menyedihkan.


"Sayang, kenapa kau sangat cemas?"


"Sayang, dengarkan aku! Sebenarnya undangan ini sangat penting bagiku. Di sana akan ada semua pebisnis dari kelas atas. Kemungkinan mantan suamimu juga ada di sana, tetapi ada yang membuatku tidak nyaman."


"Apa ini gara-gara Will ada di sana sehingga membuatmu merasa tidak nyaman? Atau, ada hal lain yang tidak aku ketahui?"


Bagi Ethan, Will bukan apa-apa. Terlebih dia juga sudah menikahi Wileen. Lalu, apalagi yang harus ditakutkan? Will sama sekali bukan tandingannya. Ini hanya akal-akalan Tuan Yuval untuk membuat salah satu rumah tangga kliennya bermasalah.


"Aku tidak takut pada Will, Sayang. Aku mencemaskanmu!" Ethan berdiri, mendekat, kemudian menggenggam kedua tangan istrinya.


"Apa yang perlu dicemaskan dariku, Ethan? Aku istrimu. Aku milikmu. Apalagi yang kau khawatirkan?"


"Tuan Yuval adalah pria mata keranjang. Dia sengaja mengundang rekan bisnisnya secara berpasangan dengan tujuan lain, Sayang. Aku tidak mau dia melihatmu kemudian menjadikanmu target selanjutnya."


Kekhawatiran Ethan tidak beralasan. Target apa yang dimaksud? Olivette benar-benar tidak mengerti sama sekali.


...🌾🌾🌾...


Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya keren berikut ini. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya ❀️πŸ₯°πŸ™


__ADS_1


__ADS_2