
Ethan membawa istrinya memasuki kamar presiden suit. Dia menggenggam erat tangannya sehingga tak ingin dilepaskan lagi.
"Ethan, pelan-pelan! Gaunku sangat menyulitkan," ucap Olivette.
"Iya, Sayang. Kau jangan khawatir! Aku akan pelan-pelan saja."
Saat sampai di depan pintu masuk kamar luar biasa yang akan menjadi saksi hubungan baru itu. Bergegas Ethan membuka pintunya menggunakan kartu akses yang sudah dibawanya sedari tadi.
"Ayo, masuk!" pinta Ethan lirih.
Awalnya Olivette ragu. Ini waktu tercepat mengenal pria kemudian menikah dengannya. Walaupun restu dari papanya sudah didapatkan, tetapi perasaan cintanya pada sang Suami belum sepenuhnya tumbuh.
"Hei, kenapa ragu? Aku ini suamimu, Olive. Jangan seperti wanita yang dipaksa masuk ke kamar suaminya," canda Ethan saat tidak ada pergerakan dari istrinya.
"Ya, baiklah."
Olivette merasa aneh saat memasuki kamar itu. Walaupun belum sampai ke kamar utama, tetap saja rasanya asing. Kata suami dan istri pun masih asing. Benar-benar berbeda saat pertama kali menikah dengan Will yang langsung bisa akrab dengan pria itu.
Saat Ethan membuka kamar utama, sudah terlihat hiasan bunga-bunga di sana. Di atas ranjang pun sudah ada bunga tabur yang ditata sedemikian indahnya.
"Kau suka?" tanya Ethan.
Ini sengaja disiapkan untuk istrinya. Agar Olivette merasa betah dan nyaman di kamarnya.
"Terima kasih, Sayang. Ini luar biasa dan aku suka. Oh ya, dari mana kau tahu kalau aku suka bunga mawar?"
"Sayang, sebagai suami yang baik, aku mencoba menggali informasi sebanyak mungkin tentang calon istrinya. Selain itu, aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa membahagiakanmu di mana pun dan dalam situasi apa pun."
Suami sempurna di mata Olivette. Sebagai istri yang pagi tadi baru saja disahkan, rasanya memang aneh karena Olivette belum tahu banyak tentang suaminya.
"Tapi, aku belum tahu banyak hal, Sayang. Tidak bisakah kau menyebutkan satu-satu apa yang disukai dan tidak?"
__ADS_1
"Itu nanti setelah kita ganti baju. Apa kau nyaman dengan gaun selebar itu, Sayang?"
Olivette menggeleng. Entah, rasanya aneh sekali saat dia mencoba bermanja-manja di hadapan suaminya.
"Kemarilah! Duduk di sini dulu. Aku lepaskan sepatumu dulu!"
Olivette terkejut. Suaminya ini terbuat dari apa? Bahkan, Ethan tidak pernah canggung untuk memberikan perhatian sesederhana seperti ini.
"Jangan! Biar aku saja," tolak Olivette.
"Kau akan kesulitan. Setelah ini, aku akan lepaskan resleting gaunmu. Aku tahu ini agak aneh, tetapi aku akan memberikan perhatian lebih padamu disela-sela kesibukanku nanti. Jadi, malam ini jangan tolak!" Permintaan Ethan benar-benar mutlak tidak bisa diganggu gugat.
Terpaksa Olivette pun mengikuti kemauan suaminya. Terkadang tanpa sengaja tangan Ethan menyentuh kulit lembut Olivette. Rasanya benar-benar seperti baru pertama kali bertemu dengan pujaan hatinya.
"Maaf," ucap Ethan lirih.
"Tidak apa-apa. Lambat laun aku pun akan terbiasa."
Olivette benar. Sebagai istrinya, Ethan memang hanya sampai memberikan kecupan kening saja. Untuk bagian lainnya, rasanya masih agak kaku dan Ethan belum berani. Terlebih Olivette bagaikan berlian di matanya.
Ritual suami istri sedang dibahas Ethan. Olivette tidak mungkin bisa menghindar dari hal intim itu. Bagaimanapun dia juga harus melayani suaminya dengan baik. Ethan adalah suami pilihan papanya. Jelas dia pasti akan menjadi pria yang paling baik. Selain itu, masa lalu Ethan dengan mantan istrinya dulu akan menjadi pembelajaran berharga.
"Kapanpun kau mau, aku akan siap."
Pendengaran Ethan tidak tuli, kan? Dia sempat tidak percaya saat Olivette mengatakan hal demikian.
"Resletingku sudah selesai, bukan? Boleh aku izin ganti baju ke kamar mandi? Aku pun ingin membersihkan diri lebih dulu," ucap Olivette menghalau rasa gugupnya.
"Tentu. Silakan! Semua baju ada di koper. Mau aku ambilkan atau kau ambil sendiri?"
Ah, percakapan yang dirasa masih kaku di antara keduanya. Seperti sepasang kekasih yang baru dipertemukan setelah melalui aplikasi kencan buta, kemudian dipaksa menikah.
__ADS_1
"Aku ambil sendiri saja, Sayang. Maaf, terkadang aku masih merasa kaku dan risih memanggil sebutan itu padamu. Lambat laun aku akan terbiasa juga, kan?"
Ethan mengangguk. Setelah Olivette masuk ke kamar mandi, dia merebahkan tubuhnya di sofa. Melepaskan sepatunya kemudian jasnya. Tersisa hanya kemeja dan dasi yang perlahan mulai dilepaskan kemudian diletakkan ke atas meja.
Senyuman Ethan mengembang sempurna. Rasanya seperti berada di negeri dongeng bisa menikah dengan putri secantik Olivette.
"Apakah ini artinya pelangi setelah badai? Aku mendapatkan wanita secantik dan sebaik Olivette dalam waktu singkat. Aku berharap ini akan menjadi pernikahan terakhirku," gumamnya lirih.
Sementara Olivette yang saat ini berada di dalam kamar mandi. Dia sudah berhasil melepaskan gaun pengantinnya. Beberapa perlengkapan sudah dilepaskan dan menghapus make up-nya.
Sebenarnya ini sudah sangat larut sekali, Olivette tidak ingin mandi. Namun, tubuhnya terasa lengket sekali sehingga dia memutuskan untuk berendam sebentar di bathtub yang sudah diisi dengan air hangat. Tidak lama, setelah itu dia mengganti dengan baju santainya.
Saat membuka beberapa baju di kopernya, dia menemukan gaun malam di sana. Ingin rasanya mengenakan pakaian itu, tetapi Olivette masih malu. Kalau dia tidak menggunakan pakaian itu, Ethan pasti berpikir lain kepadanya.
"Apa iya aku harus menggunakan gaun ini?"
Olivette mengambil gaun malamnya yang berbahan satin. Gaun berwarna biru navy yang terlihat sangat seksi saat digunakan. Setelah menimbang beberapa hal, akhirnya Olivette memutuskan menggunakan gaun itu. Dia merias tipis wajahnya. Menyisir rambut dan membiarkannya digerai.
Setelah selesai, Olivette memutuskan untuk keluar. Saat melihat suaminya itu memejamkan mata, Olivette sebenarnya berniat membangunnya agar Ethan membersihkan diri lebih dulu. Dia mengira suaminya sudah tertidur, nyatanya Ethan masih terjaga.
"Sudah selesai, Sayang?"
Ethan membuka matanya kemudian menoleh ke arah istrinya. Betapa terkejutnya saat melihat bidadari keluar dari kamar mandi. Ethan susah payah menelan salivanya. Olivette sangat cantik dengan gaun tipisnya itu.
"Sayang, apa ada yang aneh denganku?" tanya Olivette yang mulai mendekat ke arah suaminya. Mengikis jarak dan rasa gugup memang sulit, tetapi demi kebahagiaannya, Olivette harus berjuang.
"Ti-tidak. Aku hanya terkejut saja saat melihat istriku keluar dari kamar mandi. Kau sangat cantik, Sayang. Cantik sekali," puji Ethan.
"Kalau begitu lekaslah ke kamar mandi. Bersihkan diri agar terlihat lebih segar. Kau terlihat sangat lelah, Sayang."
Ethan masih ingin mengagumi penampilan istrinya saat ini. Dia sebenarnya ingin menunda pergi ke kamar mandi, tetapi permintaan istrinya juga begitu penting.
__ADS_1
"Baiklah, Sayang. Tunggu aku di sini. Aku tidak akan lama," pamit Ethan.
Olivette mengangguk dengan senyuman mengembang di bibirnya. Entah, malam ini atau kapan pun Ethan menginginkannya, Olivette akan siap. Namun, sepertinya malam ini Olivette hanya ingin berbincang dengan suaminya hingga rasa kantuk menderanya.