
Setelah kemarin Ethan tidak menampakkan diri di kantor, hari ini dia datang lebih awal. Permintaan istrinya itu sangat sulit dijangkau. Terlebih buah apel yang kulitnya hitam itu hampir tidak pernah ditemuinya di kota tempat tinggalnya. Ethan memijat keningnya.
Pusat pikirannya terpecah hingga Bella menampakkan diri di hadapannya. Dia datang untuk menyerahkan berkas-berkas yang sudah diselesaikan kemarin.
"Tuan, Anda terlihat tidak baik-baik saja."
"Ya, Bella. Aku sedang memikirkan sesuatu. Oh ya, letakkan berkas itu seperti biasa. Nanti aku akan melihatnya."
Tidak mungkin Ethan akan mengatakan bahwa istrinya itu sedang hamil. Namun, Ethan ingat pesan mamanya untuk lekas memberikan hadiah kepada para karyawannya.
"Bella, tunggu!" Ethan menahan wanita itu agar tidak keluar dari ruangannya.
"Ya, Tuan. Ada apa?"
"Siapkan data seluruh karyawan perusahaan kita. Setelah itu, datanglah ke tempat Tuan Hamlet. Minta dia mendesain kalung dengan berat standar untuk semua karyawan. Pengecualian untuk karyawan laki-laki yang belum menikah. Ganti saja dengan uang. Ehm, maksudku transfer saja sejumlah uang seharga perhiasan itu!"
Tumben sekali. Sepertinya Bella akan mendapatkan perhiasan secara gratis. Namun, bosnya memberikan sesuatu bukan tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya menjadi sebaik ini.
"Apakah ada momen spesial, Tuan?" tanya Bella penasaran.
Semakin sedikit yang mengetahuinya akan semakin baik. Walaupun Ethan dekat dengan Bella, bukan berarti dia harus tahu segalanya, bukan? Namun, tidak ada salahnya Ethan menanyakan sesuatu pada Bella.
"Anggap saja hadiah pernikahan kami, Bella. Oh ya, tiba-tiba aku menginginkan apel hitam. Aku harus mencarinya di mana?"
Bella bukan sekretaris yang bodoh. Apel hitam adalah jenis apel yang langka. Hanya bisa ditemukan di daerah tertentu. Itu pun di luar negeri. Mungkin saja ini adalah sesi mengidam bosnya. Itu artinya Olivette hamil.
"Cie, Anda pasti menyembunyikan sesuatu dariku, Tuan. Aku juga wanita yang pernah melahirkan. Jadi, apakah tanda-tanda keberhasilan Anda sudah dekat?"
Bella terkadang menjadi sekretaris yang cerdas. Kadang juga menyebalkan seperti ini. Rasanya ingin mencoret namanya dari daftar para pekerja. Entah, Ethan semakin emosional.
"Jangan banyak bicara! Semakin sedikit yang tahu, akan semakin baik!" tegur Ethan.
__ADS_1
"Hemm, baiklah, Tuan. Jadi, apakah ini benar? Ehm, maksudku Anda sudah berhasil?"
"Ya, aku berhasil, Bella. Ingat, jangan sampai bocor! Kalau semua orang tahu tentang kehamilan istriku, orang pertama yang akan aku depak dari perusahaan adalah kau!" ancam Ethan.
Wajar Ethan melakukan hal demikian. Selama 8 tahun menikah dengan Wileen, dia sempat diisukan mengalami infertilitas. Namun, Ethan tidak ambil pusing. Dia tidak mampu menutup mulut semua orang, tetapi dia mampu menutup dua telinga dengan kedua tangannya.
"Iya, Tuan. Selamat, ya! Jadi, masih mau dicarikan keberadaan black diamond apple?"
"Tidak perlu! Urus saja yang kuminta sebelumnya. Pembayarannya nanti informasikan dulu kepadaku. Bagikan setelah Tuan Hamlet menyelesaikan semuanya!"
Urusan Bella dan Ethan sudah selesai. Bella kembali ke ruangannya. Sementara Ethan, dia lekas menyelesaikan beberapa berkas baru berkutat dengan laptopnya untuk mencari informasi keberadaan buah apel hitam itu.
Menjelang siang, tiba-tiba Ethan dikejutkan dengan kedatangan Wileen. Wanita itu seolah mengolok-olok dirinya yang sama sekali tidak berhasil seperti Wileen saat ini.
"Selamat siang, Mantan suamiku! Apa kabar?" tanya Wileen seolah memamerkan bahwa hanya dia yang sedang hamil saat ini. Terlebih dia menggunakan pakaian yang agak ketat sehingga menampakkan perut buncitnya.
"Ada apa kau kemari?"
Sebenarnya tidak ada alasan lagi untuk bersikap ketus pada Wileen. Sekarang pun semuanya sudah berbeda. Ethan sangat bahagia dengan keputusannya menikahi Olivette.
"Ya, katakan! Aku akan mendengarnya."
Wileen tersenyum. Dia menyerahkan undangan tepat di meja Ethan. Ethan melihat sekilas undangan tersebut.
"Undangan apa itu?" tanya Ethan.
"Sabar, Ethan! Kau sekarang suka tidak sabaran, ya? Apa Olivette yang membuatmu seperti ini? Apa kau juga tinggal di kamar lain yang ada di mansion kita dulu?"
Wileen penasaran. Jika Will melakukan hal demikian, apakah Ethan juga melakukan hal yang sama?
"Ya, kau benar, Wileen. Olivette membuatku semakin bergairah dan menggebu-gebu. Apakah suamimu juga demikian? Atau, dia sudah bosan terhadapmu? Kau juga ingin tahu kan kami tinggal di kamar yang mana? Kami tinggal di kamar bekasmu."
__ADS_1
Semula Wileen kesal mendapatkan ejekan seperti itu. Saat tahu Olivette tinggal di bekas kamarnya, membuat Wileen bisa membalikkan ejekan mantan suaminya.
"Ck, rupanya dia mendapatkan bekas kamarku. Baguslah! Memang pantas mendapatkan bekas seperti itu."
Kini giliran Ethan yang tersenyum jahat. "Ya, semula aku memintanya untuk tinggal di kamar yang berbeda. Aku tidak mau membuat kenangan lama bersamamu muncul kembali. Kau tahu Olivette, kan? Dia selalu bisa memberikan solusi untuk semua masalah kami. Dia tidak merasa keberatan tinggal di kamar bekasmu, tetapi akan membuat kenangan baru bersamanya. Dia nyaman tinggal di kamar bekas yang sudah direnovasi sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi namamu di dalamnya!"
Kenapa begitu cepat Ethan melupakan dirinya? Tidak hanya Ethan, terkadang Will juga masih memuji kehebatan mantan istrinya.
"Oke, cukup! Aku datang ke sini untuk mengundangmu bersama Olivette hadir dalam acara gender reveal party. Kuharap kalian bisa hadir untuk memberikan selamat padaku. Setidaknya aku sudah bisa hamil dalam waktu singkat dan cepat."
Wileen pikir Ethan akan tersinggung dengan ucapannya. Nyatanya dia seperti tidak peduli sehingga Wileen mengucapkan satu kalimat lagi. Mungkin hal itu akan membuat Ethan semakin sakit hati kepadanya.
"Oh ya, satu lagi, Ethan. Kupikir rumor mengenai dirimu yang infertilitas itu benar adanya. Kenyataannya sampai saat ini kau tidak mampu membuat aku ataupun istrimu yang sekarang hamil, bukan? Kalaupun bisa hamil, pasti kau melakukan inseminasi buatan. Atau, paling jeleknya kau membeli ****** dari pria lain yang akan kau gunakan untuk membuahi sel telur istrimu."
Jahat sekali mulut Wileen. Ethan merasa kalau Wileen cemburu kepada Olivette. Ucapannya saja sudah jelas seperti itu.
"Sudah cukup membualnya? Kupikir setelah menjadi Nyonya Will Wesly kau akan menjadi wanita sosialita berkelas yang bisa menjaga ucapanmu itu. Tidak semua orang berhak kau nilai buruk seperti itu, Wileen! Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai ucapanmu itu mempermalukan dirimu sendiri! Lebih baik sekarang kau keluar dari ruanganku!" Ethan malas mendengar ocehannya lagi.
Wileen harus memastikan bahwa mantan suaminya dan Olivette akan datang di acaranya. Rencananya dia akan membuat Olivette lebih malu lagi di sana.
"Baiklah. Aku akan keluar, Ethan. Tapi, aku harus memastikan kau bisa hadir esok hari. Jangan lupa ajak istrimu itu."
Ethan berdiri. Dia berjalan menuju ke pintu kemudian membuka pintunya.
"Kau sudah tahu jalan keluar, kan? Silakan keluar! Tapi, kau jangan khawatir. Aku dan Olivette pasti akan datang."
Ethan mengusir Wileen dari ruangannya. Sebenarnya Ethan hampir saja meluapkan emosinya. Sejak Olivette mengandung, sikap Ethan kadang bukan seperti dirinya. Terkadang dia menjadi pria yang sangat baik, tetapi juga cukup emosional. Ethan merasakan perubahan besar dalam dirinya.
...🍒🍒🍒...
Sambil menunggu update, jangan lupa mampir ke karya keren teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1