
Ethan merasa resah saat Zion meninggalkannya sendirian. Lebih mudah menghadapi partner bisnis ketimbang orang tua Olivette. Diam-diam Zion masuk kategori pria meresahkan di dalam hidup Ethan.
Saat tahu pria itu kembali dengan wajah datarnya, Ethan semakin merasa ngeri. Usahanya untuk mendekati Olivette agaknya akan tumbang sebelum berkembang.
"Apakah kau menunggu jawabanku?"
Tenggorokan Ethan kering, tercekat, dan rasanya begitu sesak. Terlebih saat datang belum mendapatkan minuman atau apa pun di hadapannya. Entah, ini memang cara keluarga Olivette menerima tamu atau sengaja menyiksa tamunya.
"Kemarilah!" Zion malah mengurus Maid ketimbang mendengar jawaban Ethan.
"Ya, Tuan. Ada apa?" tanya Maid.
"Siapkan minuman dan beberapa makanan kecil untuk tamu kita," ucapnya menghangat.
"Baik, Tuan."
Setelah Maid itu pergi, fokus Zion kembali pada Ethan.
"Kau tahu alasanku membiarkan dirimu tanpa makanan dan minuman?" tanya Zion basa-basi.
"Tidak, Tuan."
"Agar aku tahu seberapa kuat kau menunggu keputusanku dan tidak akan semena-mena terhadap putriku!"
Ethan salut pada sikap Zion menghadapi tamunya. Rupanya dia punya cara yang unik dan patut dicontoh di kemudian hari untuk putrinya.
Saat Maid mengantarkan makanan dan minuman, Zion langsung meminta meletakkan di hadapan tamunya.
"Terima kasih," ucap Ethan.
"Silakan diminum sebelum aku menjawab rasa penasaranmu."
Tetap saja rasanya sulit sekali menenggak minuman itu. Ada yang tercekat, tapi bukan minuman. Perasaannya campur aduk tidak menentu. Dulu, saat dirinya ingin menikah dengan Wileen tidak serumit saat ingin mendapatkan Olivette.
Setelah mengembalikan gelas ke tempatnya semula, Ethan kembali fokus pada Zion. Pria itu mengambil cerutunya, tetapi bukan untuk dinyalakan. Hanya untuk dipamerkan kepada Ethan.
"Kau suka cerutu?"
Ethan menggeleng. "Tidak, Tuan. Aku anti rokok, terlebih cerutu yang mahal seperti itu."
"Ck, apa hidupmu nyaman seperti itu?"
__ADS_1
"Sangat nyaman sekali, Tuan. Aku merasa bugar sepanjang hari. Bahkan, aku juga membuat suasana kantorku jauh dari asap rokok atau apa pun itu."
Mengesankan. Putrinya akan terjamin jika hidup dengan pria seperti Ethan. Tidak menunggu waktu lama, Zion mengembalikan cerutunya.
"Setelah aku berunding dengan keluarga, kurasa tidak ada salahnya aku menerimamu."
Lega rasanya saat Zion mengatakan hal itu. Ethan bisa tersenyum puas dan tenggorokannya pun kembali seperti semula.
"Tunggu! Jangan senang dulu! Aku menerimamu bukan berarti mudah bagimu untuk menyakiti putriku. Aku memiliki beberapa syarat yang harus kau penuhi."
Sepertinya Ethan akan kenyang dengan semua syarat yang akan dilontarkan Zion sebentar lagi. Apakah akan gagal jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi?
"Katakan, Tuan. Aku bukan pria ingkar janji seperti pria pada umumnya."
Zion menarik napas panjang kemudian menghembuskannya.
"Aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk melangsungkan pernikahan. Jadi, kau bisa menentukan kapan pertunangan dilangsungkan dan tanggal pernikahan. Jangan terlalu jauh dari tanggal pertunangan. Selain itu, aku ingin kehidupan putriku terjamin dan tidak akan pernah kau sakiti seperti pria bodoh sebelumnya. Syarat yang terakhir, kau bebas membawa putriku ke mana pun yang kau sukai saat sudah resmi menjadi suaminya kelak."
Syarat yang begitu mudah, tetapi membuat irama jantung Ethan hampir berhenti berdetak. Dia tidak menyangka akan secepat ini.
"Baiklah, Tuan. Pertunangan akan digelar seminggu lagi dari hari ini. Aku akan meminta mamaku untuk mengurus segalanya. Mengenai tanggal pernikahan, aku perlu berbicara dengan mamaku lebih dulu."
"Bagus! Aku setuju."
Duduk manis di meja makan. Makanan dihidangkan oleh para Maid. Kemudian Olivette turun bersama mamanya.
Aura Olivette terlihat semakin bersinar. Senyumannya membuat Ethan akan selalu rindu padanya. Begini kah rasanya saat cinta bertahta?
"Olivette, sebelum makan siang, papa ada informasi penting untukmu. Seminggu lagi pertunangan kalian digelar," ungkap Zion.
Mata Olivette sempat beradu dengan Ethan. Dia menunjukkan senyum terbaiknya untuk wanita yang sudah dijanjikan akan dibahagiakan dengan segenap jiwa dan raganya. Bahkan, Ethan sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk menggantikan kebahagiaan Olivette.
"Ini kabar bahagia, Papa. Oh ya, jangan lupa bagikan kebahagiaan ini pada seluruh anggota keluarga di rumah ini," ucap Sophia.
Jika ada hal seperti ini, beberapa karyawan akan mendapatkan bingkisan yang cantik dan unik. Terkadang mereka mendapatkan perhiasan atau barang-barang sesuai kebutuhan. Yang paling sering adalah tambahan gaji beberapa persen dari gaji pokok.
"Tentu, Ma," ucap Zion yakin.
Makan siang kali ini terasa berbeda. Sebentar lagi keluarga Phoenix akan memiliki menantu yang tidak kalah menarik dan keren seperti Will. Bahkan, bisa dibilang lebih menarik ketimbang mantan menantunya.
Seusai makan siang, Sophia mengajak Zion untuk pergi lebih dulu. Mereka sengaja membiarkan putrinya supaya berbincang dengan Ethan.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau memiliki syarat lainnya selain yang diutarakan Tuan Zion?" tanya Ethan. Kalaupun ada, biar sekalian dilakukan olehnya untuk mendapatkan cinta Olivette.
"Tidak. Kurasa syarat yang diajukan papa sudah lengkap."
Bukan lengkap lagi. Sangat lengkap malah, tetapi Ethan tidak akan melemah ataupun merasa terbebani. Justru dengan semua syarat yang diajukan Zion bisa membuat Ethan semakin dekat dengan Olivette.
"Jadi, kapan kau akan kembali?" tanya Olivette.
Ethan terkejut. Dia pikir bahwa keberadaannya sangat menggangu sekali. Sehingga Olivette melontarkan kata pengusiran secara halus.
"Aku masih ingin menikmati suasana rumah ini. Mungkin besok aku kembali. Kenapa? Apa kau takut kalau aku hanya bercanda untuk meminangmu?"
"Tidak. Aku hanya takut jika papa berubah pikiran. Mungkin saat ini kalian sudah setuju, tetapi beberapa menit lagi papa akan datang ke sini kemudian membatalkan segalanya."
"Itu tidak akan mungkin terjadi, Olivette. Aku sudah membuat keputusan besar bersamanya. Kalau Tuan Zion berani berulah? Akan kupastikan putrinya tidak akan pernah bisa berpaling dariku."
"Kau mau menculikku?" tanya Olivette dengan suara bergetar.
"Tidak. Aku hanya ingin membuat putrinya tidak bisa jauh dariku. Apalagi sampai keluar kamar karena aku akan membahagiakanmu dengan caraku sendiri."
Keluar kamar? Rasanya mendengar ucapan yang sangat ambigu sekali.
"Kau! Belum juga bertunangan, tetapi pikiranmu sudah sejauh itu!" geram Olivette.
"Bukan seperti itu. Pikiranmu yang negatif. Aku ingin ngobrol berlama-lama denganmu."
Olivette tersenyum. Rasanya membaur dan berbincang dengan Ethan membuatnya semakin nyaman.
"Hemm, baiklah. Oh ya, lebih baik kau pulang segera. Beberapa hari lagi, aku dan keluarga akan menyusul ke sana."
Justru pikiran Ethan saat ini adalah untuk menyewakan jet pribadi supaya mereka lekas sampai. Selain itu, seluruh biaya akomodasi akan ditanggung oleh Ethan.
"Iya. Besok aku akan kembali. Hari ini aku ingin jalan-jalan lebih dulu. Bagaimana?"
Olivette ragu. Namun, sebuah suara meyakinkannya.
"Pergilah! Ajak Ethan jalan-jalan," sahut Sophia.
...🌾🌾🌾...
Sambil menunggu update, yuk mampir rekomendasi keren dari teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1