
Pesan yang diterima Ethan adalah jadwal meeting yang dikirimkan Bella. Sekretarisnya itu hampir melupakan jadwal padat bosnya untuk esok hari.
"Baiklah, Bella. Aku siap untuk meeting hari esok. Malam ini aku ingin menemani Meriel dan Maribel di kamarnya."
Saat Ethan memutuskan untuk tinggal di kamar putrinya, dua baby sitter-nya harus tidur di kamar masing-masing. Walaupun nantinya Ethan akan mengalami kesulitan, dia menjalaninya dengan begitu telaten.
Keesokan paginya, Ethan tampak sangat mengantuk saat kembali ke kamarnya. Dia melihat Olivette sudah bangun kemudian memberikan senyuman pagi hari.
"Selamat pagi, Sayang. Bagaimana malammu?" tanya Olivette.
"Aku baik. Mereka sempat rewel. Aku berniat membawanya ke kamarmu untuk disusui, tetapi aku tidak tega membangunkanmu. Terpaksa aku meminta baby sitter untuk menyiapkan susu botol."
Olivette tampak sangat menyesal. Seharusnya dia tidak tertidur sangat pulas. Selain lelah, dia juga mengantuk.
"Maafkan aku, Ethan. Seharusnya kau membangunkan aku! Jangan buat aku menyesal karena tidak bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi hak Meriel dan Maribel."
Wajah Olivette terlihat lesu. Penyesalannya begitu dalam. Ethan tidak bisa melihat kesedihan itu.
"Baiklah. Mulai malam ini kedua box bayi itu akan berada di kamar kita. Aku janji!"
Buru-buru Ethan bersiap. Dia harus pergi ke kantor lebih pagi dari sebelumnya. Setelah selesai, dia kembali ke kamar dengan penampilan barunya yang sangat rapi.
"Sayang, kau harus pergi dengan sopir. Aku tidak mau kau mengendarai mobilmu sendirian," jelas Olivette.
"Kau jangan khawatir, Sayang. Aku sudah memikirkan segalanya."
Olivette memang sudah terlihat cantik. Dia sudah membersihkan diri sedari pagi sebelum Ethan kembali ke kamarnya. Setelah ini, mereka akan sarapan pagi bersama.
Mertua Ethan sudah kembali ke hotel. Mereka akan tinggal selama beberapa hari sampai perayaan itu dibuat.
"Selamat pagi! Bagaimana malam kalian?" tanya Clara.
"Baik, Ma," jawab Olivette.
Saat mereka bersiap sarapan, tiba-tiba salah satu baby sitter yang biasa merawat Maribel datang. Maribel sedikit rewel pagi ini.
"Maaf, Nyonya. Baby Maribel menangis. Aku sudah mencoba menenangkan, tetap saja menangis."
"Hemm, tunggulah. Aku akan ke sana," ucap Olivette.
__ADS_1
"Pergilah, Sayang. Nanti mama akan meminta maid mengantarkan makanan ke sana," kata Clara.
Berada di meja makan berdua saja dengan Ethan membuat Clara ingin membicarakan hal penting. Beberapa hari sudah menahannya, tetapi saat ini adalah waktu yang tepat.
"Ethan, mama ingin berbicara denganmu."
Ethan mendongak, memandang mamanya, kemudian melanjutkan sarapan paginya.
"Katakan, Ma!"
Clara mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya. Setelah itu Clara mencoba berdamai dengan keadaan. Walaupun dia senang, tetapi ada sedikit perasaan yang mengganjal.
"Kau tidak menginginkan sesuatu lebih dari ini?"
Ethan tidak paham dengan perkataan mamanya. Sejenak dia meletakkan alat makan kemudian memandang lekat ke arah Clara.
"Mama tahu ini sedikit berat. Namun, mama butuh mengatakan ini padamu. Aku tahu Meriel dan Maribel sudah menyita perhatianmu. Apa kau tidak menginginkan anak laki-laki?" lirih Clara.
Walaupun pembicaraan ini hanya berdua saja dengan sang mama, tetapi diakhiri dengan tuntutan bahwa sejatinya Clara menginginkan cucu laki-laki.
"Ma, sudah berapa kali Ethan katakan. Laki-laki atau perempuan sama saja. Aku akan mendidik kedua putriku itu menjadi penerus perusahaan. Mama jangan khawatir."
Sepanjang jalan menuju ke kantor, Ethan terdiam. Dia duduk di kursi penumpang karena tidak sendiri. Ada sopir yang mengantarkannya. Ethan menyadarkan tubuhnya, memejamkan mata, kemudian memikirkan sesuatu.
"Aku tidak mengerti. Mengapa tiba-tiba mama berubah? Bukankah sudah sepakat untuk menerima dua bayi perempuan kami?" ucap batin Ethan.
Ethan mengira telah terjadi sesuatu. Dia berniat menyelidikinya saat memiliki waktu senggang. Sesampainya di kantor, Ethan langsung disambut dengan beberapa meeting penting bersama Bella.
"Tuan, Anda tampak tidak sehat," ucap Bella setelah berada di ruangan Ethan.
Rapat panjang sudah usai. Kini giliran bersantai untuk mengungkapkan segala kegundahan hati. Bella selalu terbuka mengenai masalah-masalah tersebut.
"Kau benar, Bella. Aku sedang memikirkan ucapan mama."
Bella duduk tepat di hadapannya. Dia mencoba menerka apa ucapannya. Semacam sesuatu yang membuat semua orang penasaran atau mungkin sebuah bom waktu yang siap meledak.
"Apakah telah terjadi sesuatu yang aneh, Tuan?"
Ethan mengangguk. "Ya. Tiba-tiba mama menanyakan perihal bayi laki-laki. Aku merasa tidak enak hati, tetapi Olivette baru saja melahirkan dua bayi perempuan. Harusnya itu bukan masalah serius."
__ADS_1
Sebenarnya berbeda orang berbeda pula cara pandangnya. Mungkin bagi Ethan ataupun Olivette, dua anak perempuan bukan menjadi masalah. Kenyataannya bagi Clara, harus ada satu anak laki-laki di dalam rumah tangga putranya. Seperti sebuah keharusan, tetapi terdengar sangat tidak nyaman.
"Sebenarnya bagi setiap orang memang tidak masalah, Tuan. Namun, bagi Nyonya Clara, mungkin seperti sebuah keharusan. Tidak masalah kalian memiliki anak perempuan. Nanti, beberapa tahun lagi mencoba program kehamilan. Semoga bisa memiliki bayi laki-laki."
Mudah sekali berucap, tetapi bagi Ethan tidak seperti itu. Dia sangat bersyukur bisa memiliki dua bayi perempuan di usianya yang tidak lagi muda.
Saat perbincangannya belum usai, Vincent menghubungi Ethan. Buru-buru Ethan meminta Bella untuk keluar dari ruangannya dengan memberikan kode.
"Maaf," lirih Ethan pada sekretarisnya.
Bella mengerti. Tuannya butuh privasi saat menerima panggilan.
"Hai, Vincent! Apa kabar?" sapa Ethan.
"Aku baik, Ethan. Kau apa kabar?" Vincent tersenyum.
"Aku juga baik, Vincent. Oh ya, kapan Grace akan melahirkan?" Ethan tidak sabar ingin melihat bayi mungil mereka.
"Tinggal beberapa minggu lagi, Ethan. Semoga semuanya lancar. Kau terlihat tidak bersemangat. Ada apa?"
"Mama, Vincent. Dia mengharapkan bayi laki-laki dari kami."
Hening sejenak. Vincent tidak bisa ikut campur urusan itu. Terlebih bayinya nanti adalah laki-laki. Rasanya tidak adil jika Vincent mencoba memberikan saran.
"Sabar, Ethan. Tunggu beberapa tahun. Coba program kehamilan lagi. Semoga berhasil." Hanya itu ucapan Vincent.
Sementara di mansion, Olivette sedang bercengkrama dengan mama mertuanya. Perubahan sikap Clara membuat Olivette tidak enak hati. Ingin bertanya, tetapi Clara terlihat tidak nyaman. Akhirnya Olivette memutuskan untuk diam saja.
"Kata dokter, kapan kau bisa melakukan program kehamilan lagi?" tanya Clara memecah keheningan.
Sebelumnya Olivette sudah memikirkan hal ini. Setelah kelahiran dua bayi kembarnya, dia tidak berniat hamil kembali. Olivette ingin fokus membesarkan dua bayi kembarnya.
"Kami belum konsultasi, Ma. Ada apa?"
"Mama berharap kau bisa melakukan program kehamilan lagi. Usahakan bisa memiliki anak laki-laki!" Clara beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kamarnya.
Olivette menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya. Rasanya ada yang aneh dengan mama mertuanya.
"Apa karena hal ini Ethan lupa berpamitan padaku?" lirih Olivette.
__ADS_1