
"Olive, kenapa kau terlihat gugup, Sayang? Aku hanya akan menanyakan undangan pertunangan saja."
Saat Clara mengatakan undangan, Olivette mencoba bersikap biasa saja. Padahal sebelumnya dia takut dengan perasaannya saja.
"Oh, memangnya kenapa undangannya? Bukankah Aunty sendiri yang memesannya?"
"Panggil mama saja, Olive. Iya, memang mama yang memesannya. Namun, ada beberapa orang yang belum masuk list undangan. Mama berniat berbicara dulu padamu."
"Iya, Ma. Katakan saja!"
"Begini, Sayang. Mama tahu kalau hubungan Ethan dengan Wileen sudah berakhir. Mama berniat mengundangnya untuk datang ke pertunangan kalian. Apa boleh?"
Mengapa pikiran Clara sama dengannya sekarang? Ya, anggap saja sama-sama jahat untuk menunjukkan bahwa kebahagiaan ini harus mereka saksikan secara langsung.
"Iya, Ma. Maaf, aku lupa. Sebenarnya tadi aku bertemu Wileen dan mantan suamiku saat kami pergi ke butik. Aku juga berencana mengundang mereka."
"Ah, senangnya!" seru Clara.
"Mama terlihat sangat bahagia. Kenapa?"
"Ya, karena mama tahu kalau pemikiranmu dan mama sama. Ah, terima kasih, Sayang! Kau bisa kembali pada Ethan di ruang keluarga."
"Baik, Ma."
Olivette beranjak menuju ruang keluarga. Mereka sedang berbincang dengan asyik dan membahas beberapa gaun yang sempat dibeli Grace. Saat tahu Olivette masuk, Vincent malah berdehem menggoda Ethan.
"Ehem, apakah kau tidak merindukan sesuatu, Ethan?" goda Vincent.
Ethan mendongak melihat kedatangan Olivette.
"Oh, kemarilah, Sayang! Kupikir Grace meninggalkanmu sendirian," ucap Ethan.
Inilah yang membuat Olivette kadang bingung. Sepertinya sikap romantisnya keterlaluan. Apakah ini hanya sekadar untuk membuat Olivette malu atau memang sebenarnya Ethan selalu seperti ini?
"Aku berbincang dengan mama barusan. Hanya ada sedikit masalah."
Olivette memilih duduk agak jauh dari Ethan, tetapi dekat dengan Grace. Ethan merasa ada yang aneh dengan calon tunangannya.
"Grace, kau tidak mengungkapkan kejelekanku padanya, bukan?" canda Ethan.
__ADS_1
"Oh, tidak! Aku hanya menceritakan sesuatu yang lain, Ethan. Itu rahasia. Iya kan, Olive?" Grace tampak senang menggodanya.
Olivette hanya tersenyum saja. Dia mengambil box gaun yang sudah dibelikan Grace untuknya dan juga Ethan.
"Grace membelikan kita satu set gaun pertunangan. Kuharap kau bisa memberikan oleh-oleh yang pantas untuknya!" perintah Olivette.
"Jangan khawatir, Sayang! Grace memang selalu begitu. Uang suaminya tidak akan habis hanya untuk membeli gaun untukmu. Bukan begitu, Vincent?"
"Kau selalu benar, Ethan! Grace bisa mengerti aku. Namun, bagi kami hanyalah doa yang diharapkan," ungkap Vincent.
"Doa?" Olivette sedikit terkejut.
"Ya, Olive. Aku berharap kalau kalian mendoakan aku agar segera memiliki anak. Pernikahan kami sudah lama, tetapi sampai detik ini belum juga ada tanda-tanda kehamilan," sahut Grace.
Membicarakan masalah itu, Olivette memandang lekat wajah Ethan. Begitu pun sebaliknya. Apa masalahnya setelah menikah dengan Ethan akan sama seperti masa lalunya?
Merasa pembicaraan ini tidak baik untuk pemikiran Olivette. Terlebih saat menjelang sore, dia harus lekas kembali.
"Maaf, aku harus kembali sekarang. Orang tuaku pasti mencariku."
"Oh, ya ampun. Kami yang tidak tahu waktu," balas Vincent.
"Hemm, kalian pamit saja sama mama. Aku akan mengantar Olivette pulang. Oh ya, jangan lupa datang ke pesta pertunanganku!" pesan Ethan.
Suasana mobil Ethan begitu sepi saat dua anak manusia berada di dalamnya. Semakin mendekati pertunangan, Olivette seakan mencoba menjaga jarak dari Ethan.
"Oh, ya ampun! Aku melupakan sesuatu, Sayang!"
Olivette menoleh ke arah Ethan yang fokus dengan kemudinya. Tanpa disadari Olivette, dia sangat mengagumi wajah tampan calon tunangannya. Sangat tampan hingga Olivette tidak mampu berpaling. Hanya ini jalan satu-satunya untuk bisa memandangi wajah Ethan tanpa diprotes pemilik wajah itu.
"Jangan terus dipandangi begitu! Nanti kau jatuh cinta padaku. Bukankah itu akan melanggar prinsip hidupmu?"
Ya, Ethan tahu jika Olivette sangat sulit jatuh cinta. Ethan akan berusaha menggapai cinta istrinya nanti. Tidak hanya itu, Ethan akan memastikan bahwa mereka akan saling mencintai setelah pernikahan.
Olivette kembali memandang ke depan. Pikirannya sekarang bercabang pada hal lainnya.
"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Ethan.
"Ya, Ethan. Aku memikirkan ucapan Grace. Dia juga menginginkan anak. Apa kau juga sama menginginkannya?"
__ADS_1
Tentu saja. Ethan malah berniat untuk melakukan program hamil sebelum bercerai dari Wileen. Sebelum mantan istrinya itu ketahuan bermain api di belakangnya.
"Kau pikir tujuanku menikah untuk apa jika bukan untuk seorang anak atau lebih?"
Olivette sudah menduganya. "Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikannya padamu, Ethan? Apa kau akan menceraikan aku?"
Ethan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Memandang lekat ke arah Olivette adalah jalan satu-satunya.
"Mengapa kau pesimis, Olive? Kita belum mencobanya, bukan?"
"Kau tahu mantan istrimu, bukan? Dia sedang mengandung. Itu karena Will. Lalu, selama kami menikah, sampai sekarang aku belum memiliki anak. Mungkin aku yang bermasalah, Ethan."
Olivette tampak terlihat rapuh. Sebenarnya Ethan juga sedang memikirkan hal yang sama. Mengapa saat Wileen bercerai darinya, wanita itu bisa hamil? Selama ini Ethan sudah pergi ke sana kemari hanya untuk mengecek kesehatannya. Semua baik-baik saja.
"Jangan khawatir. Kalau kita tidak bisa dengan jalan normal, kita bisa melakukan surrogate mother, Sayang. Itu tidak masalah untukku."
Apakah Ethan sangat mencintainya? Hingga tidak ada kesempatan sedikit pun untuk mengeluh tentang kondisinya.
Ethan kembali mengemudikan mobilnya. Sementara Olivette terus saja meluapkan kegundahannya.
"Aku cemburu saat tahu Wileen hamil. Mengapa Will bisa menghamili wanita itu? Sementara denganku tidak bisa. Apa aku wanita yang tidak subur?"
"Olive, jangan katakan lagi! Kau mungkin tidak subur karena setres. Apa dokter pernah mengatakan padamu jika kandungan atau rahimmu bermasalah? Tidak, kan? Kurasa kau butuh ketenangan saja. Setelah menikah akan kita coba. Aku tidak mau kalau kau setres atau memikirkan hal-hal negatif. Coba selalu berpikir positif."
Entah, Ethan merasa langsung nyaman membicarakan masa depan dengan Olivette. Terlebih Olivette seperti menjadi sesosok wanita yang patut untuk dijaga, dilindungi, dan dibahagiakan. Rasanya sangat berbeda saat dekat seperti ini.
"Ya, baiklah. Terima kasih."
"Olive, tidak bisakah kau bersikap biasa saja padaku? Ehm, maksudku jangan terdengar begitu formal. Kau seperti bukan calon tunanganku, tetapi seperti seseorang yang sedang melakukan interview saja."
Ah, inilah yang susah dari Olivette. Dia benar-benar kaku menghadapi Ethan. Sangat wajar karena Olivette baru mengenalnya beberapa kali. Berinteraksi pun memerlukan waktu yang cukup banyak.
"Iya, aku minta maaf. Aku harus bagaimana?"
"Bersikaplah seperti seorang kekasih. Ya, aku tahu itu tidak mudah. Belajarlah dari sekarang, Sayang!"
Panggilan itu tidak hanya sekali, tetapi berulang kali sehingga Olivette merasa aneh pada dirinya. Dia merasa ada gelombang lain yang mulai merasuki jiwanya. Apakah ini pertanda bahwasa Olivette mulai memiliki rasa terhadap Ethan?
...🌾🌾🌾...
__ADS_1
Sambil menunggu update, jangan lupa mampir karya teman Emak yang tidak kalah kerennya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️