Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 42. Pria Paling Bahagia


__ADS_3

Keesokan paginya, suasana kamar yang semula indah berakhir dengan sesuatu yang berbeda. Ranjang yang berhiaskan bunga mawar segar, kini tidak nampak lagi keindahannya. Semuanya berantakan karena ulah dua anak manusia yang saling menyalurkan hasrat terpendamnya.


Semalam, seusai dari kamar mandi, Ethan sudah tidak sabar untuk menyalurkan dahaganya selama ini. Saat dia menginginkannya, Ethan pun mengutarakan maksud dan tujuannya. Olivette semula merasa belum siap, tetapi setelah melakukan negosiasi dengan cara Ethan, yaitu dimulai dengan sentuhan kecil dan diakhiri dengan penuntasan hasrat yang menggebu. Mereka pun akhirnya tuntas melakukan malam pertamanya.


Pagi ini, keduanya masih tenggelam dalam mimpi masing-masing. Berdua di dalam selimut dan saling memeluk rasanya menjadi pemandangan yang begitu asing bila ingat akan ucapan Olivette. Katanya belum siap, nyatanya semalam keduanya berakhir imbang, yaitu satu sama.


Olivette mulai membuka matanya. Dia lebih dulu terbangun saat tangan kekar mencoba memeluknya dengan erat dari dalam selimut tebalnya. Tatapan mata Olivette langsung tertuju pada ciptaan Tuhan yang luar biasa. Ketampanan suaminya menjadi penyambutan indah di pagi yang penuh warna.


Senyuman mengembang di bibir Olivette. "Sayang, tolong lepaskan tanganmu! Aku ingin ke kamar mandi sekarang."


"Hemm, diam saja! Jangan banyak gerak! Aku masih mengantuk," jawab Ethan dengan mata yang terpejam.


"Aku tidak tahan, Sayang. Rasanya ingin ke kamar mandi sekarang," pinta Olivette lagi.


Pasalnya, semakin Olivette ingin pergi ke kamar mandi, Ethan malah mengeratkan pelukannya. Kulit-kulit polos itu saling bersentuhan hingga menimbulkan energi listrik berkekuatan dobel power. Rasanya Ethan masih ingin mengulang kembali kejadian semalam yang membuatnya tidak bisa berpaling dari istrinya.


"Apa kau ingin mengulanginya di kamar mandi, Sayang? Ini masih pagi," ucapan Ethan semakin tidak menentu.


"Ck, rasanya badanku lengket semua. Please, lepaskan aku sekarang!" Mode merayu Olivette sudah dikeluarkan sejak semalam.


Semalam, sebenarnya tidak hanya Ethan saja yang mencoba membuat suasana menjadi panas. Namun, gaya busana Olivette lah yang membuat libido Ethan semakin meningkat.


Ah, bayangan Olivette dengan gayanya semalam membuat Ethan akhirnya mengalah. Dia menarik satu tangannya untuk melepaskan istrinya. Lagi pula saat ini keduanya sudah menikah dan menuntaskan malam pertamanya. Selain itu, Ethan juga berhasil menanamkan modalnya di dalam tubuh istrinya. Lalu, apalagi yang harus dikhawatirkan?


Olivette turun untuk mengambil gaun malamnya yang sengaja dilemparkan suaminya sesuka hati. Selain itu, sebelum benar-benar meninggalkan ranjang menuju ke kamar mandi, Olivette sempat memandang suaminya yang sangat teduh dan menyenangkan.


Olivette pun memegangi perutnya yang masih rata seakan mengharapkan sesuatu ada di dalam sana.


"Apakah ini bibit unggul yang memang seharusnya tumbuh di dalam rahimku?" gumamnya lirih.

__ADS_1


Sejujurnya, selama 6 tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Will, belum pernah sekali pun Olivette merasakan yang namanya hamil. Bahkan, saat suaminya itu berhasil menghamili selingkuhannya, Olivette merasa sedih dan berkecil hati. Beruntung Ethan selalu memberikan semangat dan dukungan yang belum pernah didapatkan dari mantan suaminya dulu.


Olivette cukup lama berada di kamar mandi. Ethan merasa khawatir kalau terjadi sesuatu padanya. Dia pun menggedor pintu kamar mandi dan hal itu membuat Olivette terkejut. Buru-buru Olivette membasuh tubuhnya kemudian mengambil bathrobe sekenanya.


Olivette membuka pintu dengan rambut yang masih basah. Ethan terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Ada apa? Aku masih berendam."


Hening.


"Hei, Sayang! Kenapa diam?" tanya Olivette lagi.


"Tidak ada. Kukira kau kenapa-napa di dalam. Makanya aku gedor pintunya."


"Apa kau takut kalau aku kabur?"


Perbincangan sedang berlangsung di ambang pintu masuk kamar mandi. Mengagumi Olivette adalah pekerjaan baru bagi Ethan. Pria itu tidak ada bosannya menggoda sang istri.


Ethan sengaja membuat Olivette mundur dan terbentur pada tembok. Kini, posisinya benar-benar berjarak, tetapi hanya beberapa centimeter saja. Tingkah nakal Ethan untuk menggoda istrinya di pagi hari benar-benar diwujudkan.


"Tidak penting alasannya," kilah Olivette.


"Ck, tidak lucu, Sayang! Kau harus mendengarnya!"


"Ya, ya. Katakan! Aku masih harus menyelesaikan ritual mandiku."


Ethan semakin mendekat seolah hendak mencium bibir ranum istrinya. Olivette mulai memejamkan mata. Deru napas keduanya memburu sehingga Ethan pun merasa senang berhasil menggodanya.


"Tentu saja aku tidak mau kau kabur membawa bibit premiumku," bisik Ethan lembut.

__ADS_1


Tidak mau melewatkan kesempatan, Ethan pun memberikan kecupan bibir selamat pagi. Hanya beberapa detik karena dia cukup sadar diri belum pergi ke kamar mandi sama sekali.


Olivette pun terkejut sehingga dia memutuskan untuk mendorong suaminya dan kembali menutup pintu. Di balik pintu, deru napas Olivette masih memburu bersamaan dengan senyum yang merekah di bibirnya. Disentuhnya bibir yang baru saja dikecup singkat oleh suaminya. Rasanya ingin meminta lebih dan lebih.


"Oh, ya ampun! Aku semakin menggila saat berada di dekat Ethan. Dia benar-benar memperlakukan aku dengan sangat romantis. Rasanya luar biasa!" seru Olivette.


Setelah ranjang, rupanya kamar mandi menjadi tempat kedua yang paling nyaman. Terlebih saat dia sudah memandangi wajah suaminya, seakan semuanya menjadi candu baginya. Namun, kebahagiaannya itu tiba-tiba luntur seketika saat dia mengingat kegagalannya menjadi istri sempurna saat bersama Will.


"Apa aku bisa hamil?" Satu pertanyaan yang membuat semangat Olivette menurun.


Bergegas Olivette menghapus bulir air mata yang baru saja lolos melewati sudut matanya. Ethan selalu memberikan support dan solusi yang baik. Lalu, mengapa Olivette masih saja bersedih?


"Ah, aku pasrah. Apa pun kehendak Tuhan, aku akan menerimanya."


Olivette lekas menyelesaikan ritual mandinya dan mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih segar dan santai. Dia tidak mau terlambat sarapan pagi di restoran hotel yang letaknya beberapa lantai di bawah kamarnya saat ini.


Olivette tidak tahu jika suaminya sudah menyiapkan sarapan pagi romantis di dalam kamarnya. Saat dia keluar, ruangan itu berubah menjadi tempat yang berbeda. Pasalnya, di meja sudah tersedia beberapa hidangan dan satu tangkai bunga mawar untuk istri tercintanya.


"Ah, akhirnya kau keluar juga. Pagi ini kita akan sarapan di kamar saja. Aku mau mengurungmu seharian di dalam kamar. Oke? Aku akan bersiap. Tunggu beberapa menit!" Ethan buru-buru masuk ke kamar mandi.


Pikirannya semakin melayang saat menghirup aroma parfum yang sangat wangi dan menggairahkan. Entah, Olivette terus saja membuat Ethan menjadi pria yang paling bahagia.


"Tunggu aku, ya!" teriaknya sebelum benar-benar menutup pintu kamar mandi.


Olivette geleng-geleng kepala tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya barusan. Sejujurnya, banyak perbedaan antara Will dan Ethan. Ethan jauh lebih bisa memahami kondisi Olivette dengan memberikan kejutan kecil agar dirinya melupakan kesedihan yang sebenarnya.


...🌾🌾🌾...


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren rekomendasi dari teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️

__ADS_1



__ADS_2