
"Bella, adakah berkas lainnya yang harus ditandatangani?" tanya Ethan yang baru saja sampai di ruang kerjanya.
"Ada, Tuan. Oh ya, besok Anda juga harus meeting dengan klien penting yang datang dari luar negeri. Dia tiba-tiba menelepon dan memajukan jadwal pertemuannya," jelas Bella.
"Oh, Tuan Vincent?"
"Iya, Tuan. Anda sudah tahu?"
"Ya, dia mengirimkan pesan padaku. Aku hampir melupakan hal sepenting itu."
Bella lega karena bosnya ingat. Namun, ada sedikit yang mengganjal Bella.
"Tuan, ada sedikit masalah," ucap Bella.
Ethan mendongak. Dia memandangi Bella dengan penuh tanda tanya.
"Ya, katakanlah!"
"Tuan Vincent meminta Anda datang bersama Nyonya Wileen. Ehm, maksudku bersama istri atau pasangan Anda, Tuan." Bella menunduk.
Wajar kalau Vincent mengatakan hal demikian. Terlebih dia belum tahu jika Ethan sudah bercerai dari istrinya.
"Jangan khawatir, Bella. Nanti malam aku menjemput Olivette ke bandara. Besok aku akan mengajaknya menemui Tuan Vincent. Kau jangan khawatir. Urus saja reservasi restorannya!"
Bella bernapas lega. Dia beruntung karena Olivette datang di saat yang tepat. Rasanya ingin sekali memeluk Olivette kemudian mengucapkan terima kasih. Tidak hanya itu, Bella akan memberikan hadiah terbaiknya.
"Baik, Tuan."
Hari ini urusan pekerjaan beres lebih awal. Namun, Ethan tidak pulang ke mansionnya. Melainkan tetap berada di kantor untuk bersiap. Bahkan, saat Bella hendak pamit, Ethan tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Tuan, aku pulang dulu. Jangan lupa besok siang bersama Tuan Vincent dan istrinya, Nyonya Grace."
"Baik, Bella. Terima kasih untuk kinerjamu hari ini. Tetap semangat!"
"Semangat, Tuan!"
Inilah yang disukai Bella dari Ethan. Pria itu selalu bisa memancarkan aura positif di tempat kerjanya. Sehingga beberapa karyawan pun merasa nyaman sekali.
Menjelang waktu yang sudah disepakati bersama Olivette, Ethan lekas bersiap untuk meninggalkan perusahaannya. Ethan mengganti pakaian resminya dengan baju kasual. Terlihat sangat santai dan nyaman.
Satu catatan yang perlu digarisbawahi oleh Ethan adalah jangan sampai terlambat. Dia akan merasa malu sekali berada di hadapan Tuan Zion.
__ADS_1
Saat sampai di sana, masih ada waktu 20 menit lagi hingga jet pribadi yang ditunggunya landing. Sambil menunggu, rasanya aroma kopi sangat menarik untuk dinikmati.
Ethan mampir ke coffee shop. Dia memesan secangkir kopi hitam yang aromanya kuat sekali. Seperti kekuatan jantungnya yang berdetak begitu hebat saat berada di dekat Olivette.
"Cinta memang gila! Aku tidak pernah merasakan khawatir dan rindu seperti ini saat bersama Wileen. Apa memang aku sudah tidak mencintainya kala itu? Atau, pengkhianatannya yang membuat aku cepat menghapus rasa cintaku?" tanya Ethan lirih sambil menghirup aroma kopi.
Tak terasa waktu sudah berlalu sekitar 15 menit. Menikmati secangkir kopi terkadang membuat orang lupa waktu. Buru-buru Ethan membayar bill-nya kemudian menunggu Olivette dan keluarganya di ruang tunggu kedatangan turis mancanegara.
Baru saja ingin duduk, Olivette dan keluarganya sudah datang dengan menarik beberapa koper di tangan mereka. Buru-buru Ethan membantu Tuan Zion supaya pria itu tidak bersikap yang aneh-aneh.
"Selamat datang, Tuan! Maaf, jika aku sedikit terlambat," ucap Ethan basa-basi.
"Tidak. Kau tepat waktu," balas Zion.
Secangkir kopi memang tidak membuat perut Ethan kenyang. Dia belum menikmati makan malamnya saat menunggu kedatangan Olivette.
"Apakah langsung ke hotel atau mampir ke suatu tempat lebih dahulu?" tanya Ethan.
"Antar kami ke hotel kemudian ajak Olivette makan malam. Kurasa kalian memerlukan waktu untuk berdua," sahut Sophia.
Kesempatan emas bagi Ethan. Dia juga akan membicarakan pertemuan esok siang yang akan melibatkan Olivette.
"Baik, Nyonya."
"Kalian mau terus di sini atau langsung ke mobil?" protes Zion.
"Papa, sabar dulu! Tuan Ethan akan mengambil mobilnya. Sementara kita menunggu. Benar begitu, bukan?" sahut Olivette yang mencoba menyelamatkan Ethan.
"Ah, iya. Tunggu sebentar. Aku akan mengambil mobilnya."
Ethan merasa gugup saat berhadapan dengan Zion. Pria itu seakan menjadikan Ethan kambing hitam di segala situasi.
Tepat di menit ke-10, Ethan sudah memarkir mobilnya tepat di hadapan Olivette. Mereka memasukkan beberapa koper hingga barang bawaan yang sudah bisa ditebak bahwa itu adalah oleh-oleh.
Orang tua Olivette duduk di bangku penumpang. Sedangkan Olivette berada di samping Ethan. Rasanya begitu dekat hingga jantung Ethan terus berdegup begitu cepat. Seakan-akan Olivette lah yang menjadi pemicunya.
Suasana di dalam mobil sangat hening. Sampai mereka tiba di hotel. Seakan Ethan tidak membawa manusia, melainkan barang.
Sampai di hotel, Ethan lekas membantu Zion dan Sophia menuju ke kamarnya. Selain itu, Ethan juga harus mengantarkan Olivette menuju kamar khusus yang dipesan untuk pujaan hatinya itu.
"Maukah kau makan malam bersamaku?" tanya Ethan saat Olivette berniat masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Rasanya masih agak kaku saat Ethan yang sebentar lagi akan menjadi calon tunangannya mengajak makan.
"Baiklah. Tunggu 5 menit. Aku akan bersiap."
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, Olivette perlu menyegarkan dirinya lebih dulu. Dia tidak akan terlihat kusam di hadapan Ethan walaupun sebenarnya kecantikannya tetap terlihat.
Ethan tetap bersabar menunggu hingga Olivette keluar. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan yang lebih segar dan santai.
"Maaf sudah membuatmu menunggu."
"Hemm, tidak masalah. Ayo!"
Ethan sengaja membawanya ke restoran hotel. Hal itu dilakukan Ethan demi menghemat waktu dan kesempatan untuk membicarakan pertemuan esok hari. Sampai di restoran, Ethan menarik satu kursi agar Olivette duduk di kursi tersebut.
Keduanya pun langsung memesan makanan. Berhubung sudah sama-sama lapar, mereka menikmati makanannya. Sesekali Ethan melihat ke arah Olivette yang sedang asyik menikmati makanannya.
"Olive, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu." Ethan sudah selesai makan.
"Hemm, silakan katakan!"
"Besok ikutlah denganku! Aku akan memperkenalkanmu dengan klienku. Bagaimana? Apa kau tidak keberatan?"
Mengejutkan sekali. Olivette pikir esok hari dia akan bersantai seharian di dalam kamarnya. Kalau sudah seperti ini, mau menolaknya pun tidak bisa.
"Mengapa harus mengajakku?" selidik Olivette lebih dulu.
"Klienku datang bersama istrinya. Mereka mengira kalau aku masih bersama Wileen."
"Oh, pertemuan seperti itu?"
Ethan mengangguk. "Apa kau juga pernah melakukan pertemuan seperti itu bersama Will?"
"Tidak. Dia jarang sekali melibatkan aku di dalam pertemuan seperti itu. Dia lebih memilih membawa pasangan lain ketimbang diriku."
"Maksudmu?"
"Ah, lupakan! Itu hanya masa lalu. Kau sudah berjanji padaku untuk selalu membuatku bahagia, bukan? Maka jangan sekali pun kau sebut namanya lagi di hadapanku. Maaf," jelas Olivette.
Kalau sudah seperti ini, niat Clara untuk mengundang Will ataupun Wileen harus segera dibatalkan. Jika tidak, maka akan menimbulkan masalah baru untuk Ethan.
...🌵🌵🌵...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk mampir ke rekomendasi keren dari teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️