
Sejenak melupakan kebahagiaan Ethan. Kabar terbaru Will adalah dia enggan untuk menikahi Wileen. Walaupun Wileen sudah mencoba ribuan cara, tetapi Will tidak bergeming sekali pun.
Will tidak tahu jika diam-diam Ethan sudah bersiap untuk melangsungkan pertunangan. Nomor ponsel Will sudah diblokir oleh Olivette karena wanita itu tidak mau lagi berhubungan dengan Will.
Seperti pagi ini di ruang kerjanya, Will merasa ada yang hilang. Berpisah dengan Olivette malah membuat hidupnya hampa dan tidak bergairah sama sekali.
"Selamat pagi, Tuan! Anda harus melakukan kunjungan kerja ke hotel. Ehm, maksudku Anda harus bertemu dengan klien di hotel Novotel Zurich."
"Baik, Paul. Siapkan semua berkasnya!"
Will tidak akan menyangka jika siang ini akan bertemu dengan Ethan. Pria itu juga sedang menuju ke hotel Novotel untuk melakukan reservasi bersama mamanya, Clara.
"Jadi, Tuan Zion sengaja membuatmu menunggu begitu lama?" tanya Clara yang terus mengulang cerita putranya saat berada di dalam mobil.
"Iya, Ma. Rupanya Tuan Zion memiliki alasan khusus untuk itu."
"Karena putrinya kembar dan salah satunya sudah tiada. Ethan, mama tidak bisa membayangkan kalau keduanya hidup. Olivette saja sudah sesempurna itu, bagaimana dengan Olivia?"
Tentunya Olivia tidak kalah cantiknya dengan kakaknya, Olivette. Sayang, takdir lebih dulu memanggilnya hingga Zion memiliki perubahan sikap yang begitu drastis.
"Aku malah membayangkan memiliki anak kembar bersama Olivette, Ma. Mama pasti akan menyukainya."
Keinginan terbesar clara masih seputar cucu dan suasana mansion yang begitu sepi.
"Tentu saja, Ethan. Kembar dua dan seterusnya. Mama pasti akan sangat bahagia dikelilingi bayi-bayi dengan wajah yang begitu mirip. Ah, mama tidak sabar, Ethan!"
Setelah sampai di hotel, seorang parking valet membawa mobilnya menuju ke tempat parkir. Ethan dan Clara lekas memasuki hotel kemudian menemui resepsionis.
"Bisakah aku melakukan reservasi ballroom untuk minggu depan?" tanya Clara.
"Tunggu, Nyonya! Anda akan kami pertemukan dengan manager. Anda bisa melakukan reservasi langsung."
Sudah diduga, ini pasti akan membutuhkan waktu yang lama hanya untuk melakukan reservasi. Tahu begitu lebih baik Bella saja yang melakukan reservasi.
Menunggu sejenak hingga Ethan merasa bosan. Dia mencoba mengalihkan suasana untuk memilih pergi ke restoran hotel yang ada di atas. Jadi, Ethan dan Clara harus naik menggunakan lift untuk sampai di sana.
Ethan hendak masuk ke restoran, tetapi tanpa sengaja seseorang malah menabraknya dengan membawa beberapa berkas hingga beberapa kertas berjatuhan.
"Maaf, Tuan. Aku sungguh tidak sengaja," ucap Paul yang merupakan asisten pribadi Will.
__ADS_1
"Paul, kau ini bagaimana? Bereskan berkas itu dan jangan sampai tertukar!" perintah Will yang belum menyadari jika asistennya menabrak Ethan.
"Tuan Will!" sapa Ethan.
Will baru melihat ke sumber suara. Pria yang ada di hadapannya saat ini merupakan mantan suami kekasihnya, Wileen.
"Oh, Tuan Ethan. Apa kabar? Sekian lama baru bertemu kembali, bukan?" tanya Will.
"Ethan, siapa dia?" bisik Clara.
"Mantan suami Olivette, Ma," jawab Ethan.
"Oh, Anda yang namanya Tuan Will?"
"Iya, Nyonya. Anda siapa?" tanya Will.
"Clara, mamanya Ethan."
Clara mengamati Will dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebenarnya bukan pria yang buruk menurut pandangan matanya, tetapi saat ingat pengkhianatan Wileen, Clara rasanya ingin sekali mengumpat kasar.
"Tumben Anda berada di sini, Tuan?" selidik Will.
"Wah, selamat, Tuan! Sebentar lagi Anda akan mengakhiri masa duda, ya."
"Iya, Tuan. Terima kasih. Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah sudah menikah kembali?"
Sebenarnya Ethan berharap mendapatkan jawaban dari Will, tetapi Paul mengabari jika kliennya sudah datang.
"Maaf, Tuan. Lain kali kita bicara lagi. Aku buru-buru," pamit Will.
"Jangan lupa datang ke pertunangan putraku, Tuan!" pesan Clara sebelum Will pergi.
"Baik, Nyonya."
Mereka memisahkan diri. Ethan dan Clara memilih duduk untuk memesan makanan dan minuman.
"Ma, kenapa kau mengundangnya?" tanya Ethan.
"Mama hanya memberitahukan, Ethan. Supaya dia tahu rasanya berbahagia di atas penderitaan orang lain itu seperti apa," jelas Clara sangat puas.
__ADS_1
"Hemm, terserah Mama. Kupikir Olivette tidak akan suka jika Will ada di dalam pesta pertunangan itu."
Hal itu diucapkan karena orang tua Olivette pasti hadir di sana. Ethan tidak mau merusak kebahagiaan pesta pertunangannya.
"Biar mama yang akan bicara padanya."
Sementara Will merasa ada yang aneh terhadap Ethan. Sebelum memulai meeting bersama kliennya, Will sempat penasaran pada Ethan. Dia merasa kalau Ethan terlalu cepat mendapatkan pengganti Wileen. Sementara Will sendiri belum memberikan kepastian apa pun pada kekasihnya.
"Siapa wanita beruntung itu? Apakah aku mengenalnya?" ucap batin Will.
Paul menyenggol lengan bosnya karena klien sudah meminta untuk memulai meeting-nya.
"Ah, maaf, Paul. Aku sedang memikirkan sesuatu. Maaf," ucap Will.
Will memulai meeting-nya kemudian menjelaskan detail kerjasama yang akan mereka lakukan. Setelah mendapatkan penjelasan secara keseluruhan, klien memutuskan untuk menandatangani kontrak kerjasama. Setelah itu, klien berpamitan lebih dulu karena akan menghadiri meeting ke tempat lain lagi.
"Tuan, sebenarnya apa yang mengganjal di benak Anda? Kurasa Anda terlihat seperti tidak nyaman saat bertemu pria tadi," ucap Paul.
"Pria tadi adalah mantan suaminya Wileen."
Pantas saja seperti terjadi sesuatu yang tidak nyaman di antara keduanya. Paul menyayangkan perpisahan yang terjadi antara Will dan Olivette. Namun, mau bagaimana lagi, bosnya itu yang berkhianat.
"Sepertinya dia sudah mau mengakhiri masa dudanya, Tuan. Lalu, Anda kapan? Bukankah Nyonya Wileen juga sudah sendirian? Tunggu apalagi?" tanya Paul.
"Aku tidak peduli, Paul. Kalaupun dia mengakhiri masa dudanya, yang pasti kuharap tidak menikahi wanita yang kukenal."
Will maksud adalah jangan sampai Ethan menikahi Olivette. Harapannya semoga Ethan menikahi wanita lain. Maka Will akan merasa menang sudah mendapatkan Wileen, mantan istri Ethan.
Harapan itu berbanding terbalik dengan pemikiran Paul. Justru asistennya itu berharap kalau wanita yang dinikahi Ethan adalah Olivette, mantan istri bosnya. Supaya Will paham bagaimana rasa sakitnya saat orang yang pernah dikhianati itu bahagia bersama pria lain.
"Semesta akan berjalan sebagaimana mestinya, Tuan. Anda tidak bisa memesankan takdir untuk orang lain. Begitu juga dengan Anda. Anda lebih memilih mempertahankan hubungan dengan Nyonya Wileen. Hal itulah yang menyakiti hati dan perasaan Nyonya Olivette. Kalaupun pada akhirnya Nyonya Olivette bahagia, itu sebanding dengan luka yang sudah Anda torehkan, Tuan."
Terkadang asistennya itu seperti sahabat yang begitu dekat. Kadang Will merasa kalau Paul sangat jauh dari asisten pribadinya yang justru lebih memihak orang lain ketimbang dirinya. Ucapan Paul barusan memang benar. Gara-gara kelakuannya, Olivette harus berpisah. Namun, apakah Will rela jika wanita yang selama 6 tahun sudah menjadi bagian dari hidupnya akan menikahi pria lain?
...🌾🌾🌾...
Sambil menunggu update, jangan lupa mampir ke karya keren dari teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1