Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 50. Umpatan Wileen


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan panjang, kini mereka sudah berada di dalam kapal pesiar. Olivette terlihat senang sekali, padahal Ethan sudah berniat membuat istrinya itu tidak akan keluar dari kamar yang ada di dalam kapal tersebut.


"Oke, sesuai kesepakatan kita akan tinggal di kamar yang letaknya terpisah. Aku di sisi kiri dan kau di kanan!" Ethan mencoba mendominasi menjadi seseorang yang mengatur segalanya.


"Baiklah, Ethan. Terserah kau saja," balas Vincent.


Beberapa kru kapal yang bertugas memberikan pelayanan membantu membawa koper mereka ke dalam kamar masing-masing. Selain itu, mereka juga sepakat untuk bertemu saat makan siang.


Memasuki kamar yang luar biasa indah itu, Ethan langsung menutup pintunya. Jangan sampai Vincent atau Grace mengganggunya. Ethan langsung membuka pintu kaca yang langsung menuju ke sebuah tempat yang dirasa mirip balkon yang langsung memandang jauh ke laut.


Olivette membawanya menikmati pengalaman pertama sepanjang perjalanan hidupnya kali ini. Ethan menarik Olivette dengan lembut untuk menuju tempat yang menyajikan pemandangan luas air laut.


"Kemari, Sayang! Ini sangat luar biasa," ungkap Ethan.


Ethan memposisikan istrinya berada tepat di hadapannya. Kemudian tangan pria itu mulai memeluk istrinya dari belakang.


"Apakah ini seperti sebuah rayuan?" tanya Olivette.


"Bisa dikatakan seperti itu, Olive. Tidak ada salahnya kan kalau aku merayu istri sendiri. Menurutku itu bukan sebuah kesalahan," jelas Ethan.


"Hemm, boleh tanya sesuatu?"


"Ya, katakan! Apa pun itu."


Olivette melepaskan tangan suaminya. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Ethan. Tatapan matanya beradu.


"Sejak kapan suamiku tertarik padaku? Ehm, maksudku pertemuan singkat kita itu bukan menjadi sebuah alasan, bukan?"


Lucu memang. Saat Wileen selingkuh dengan Will, tiba-tiba saja Ethan memiliki rasa ingin membahagiakan Olivette jika nantinya wanita itu menjadi miliknya. Entah, Ethan terkadang merasa apa bedanya dia dengan Will. Will menyakiti hati Olivette dan membahagiakan istrinya, Wileen kala itu.


Terbersit sebuah keinginan untuk membahagiakan Olivette dan mengganti kisah sedih wanita itu. Kalau dipikir-pikir, Will dan Ethan tidak ada bedanya. Hanya saja posisi Ethan lebih menguntungkan karena mengejar Olivette setelah mereka sama-sama bercerai.


"Aku tidak mau basa-basi, Olivette. Sebagai pria dewasa, pertemuan pertama kita di kantor kala itu sudah membuatku tertarik padamu. Secara logika, aku salah karena mengagumi istri pria lain. Namun, secara naluri saat kau mengatakan keburukan Wileen di hadapanku, aku jadi berpikir ingin membuatmu bahagia. Aku kirimkan hadiah sederhana agar kau tersenyum, tetapi kau menolaknya dan memberikan hadiah itu pada maid di mansionmu, bukan?"


Sejenak Olivette tersenyum. "Lalu, bagaimana jika aku belum bisa mencintaimu?"


"Tidak masalah. Aku akan terus memupuknya sampai rasa cinta itu tumbuh. Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku dalam waktu dekat."


Kalau sudah seperti ini, apakah Olivette tetap akan berdiam diri saja tanpa mau belajar mencintai suaminya? Ethan sudah mencurahkan segalanya.


"Kau mau menungguku?" tanya Olivette meyakinkan diri.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Kau istriku. Sampai kapan pun aku akan tetap menunggu cintamu. Aku juga perlu belajar mencintaimu lebih dalam lagi."


"Terima kasih, Ethan."


"Kau tidak mau memberikan kesempatan suamimu untuk bahagia?"


"Hah, maksudnya?"


"Berikan aku sebuah ciuman!" pinta Ethan.


Selama ini yang dominan paling agresif adalah Ethan. Dia terus berjuang untuk membuat istrinya nyaman dan mengikuti permainannya tanpa canggung. Saat Ethan mencoba merayu istrinya, di kamar lain sedang terjadi pergulatan yang luar biasa.


Grace sebenarnya ingin lekas menikmati perjalanan singkat ini bersama Olivette. Dia juga ingin mencurahkan semua isi hatinya. Mencoba mencari solusi yang tepat untuk semua permasalahannya saat ini.


Sayangnya, Vincent keburu mengajak istrinya untuk melakukan sesi bercinta yang begitu mendadak. Kini, Grace merasa kelelahan. Menurut Vincent, ini adalah perintah Ethan.


"Vincent, aku heran. Kenapa tiba-tiba kau seagresif ini? Apa ini salah satu ajaran sesat Ethan?" tuding Grace pada suaminya.


"Ethan bilang padaku kalau sampai di kapal ini, dia juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan sekarang, Grace. Itu peraturannya."


"Oh, ya ampun! Kau sudah dibodohi sahabatmu sendiri. Dia sengaja membuat kita sibuk, sementara dia enak-enakan dengan istrinya!" seru Grace.


"Wajar, Sayang. Dia juga menginginkan anak. Sama sepertiku. Kau pikir aku tidak berjuang seperti saat ini. Aku juga lelah."


Anak. Satu kata itu yang membuat Grace merendahkan suaranya. Apakah ini memang rencana Ethan Agara Grace juga memiliki anak?


"Lalu, apalagi rencana kalian?"


"Kau dan Olivette hanya akan bertemu di hari pertama dan terakhir."


Grace langsung menarik selimutnya. Dia tidak memperdulikan lagi suaminya yang masih polos. Rasanya kesal sekali dan Grace tidak terima itu.


"Grace, selimutnya jangan dibawa!" Vincent kesal sekali. Dia ingin menikmati selimut lembut dan ranjang bekas pergulatannya beberapa ronde.


Grace pergi ke kamar mandi. Dia harus segera bersiap kemudian menuju ke kamar Ethan, menjemput Olivette. Dia berencana untuk menikmati keindahan Luxury Cruise ini berdua saja tanpa gangguan suami mereka.


"Sayang, aku ke kamar Ethan dulu," pamit Grace.


Vincent turun dari ranjang untuk mengambil celana panjang, kemudian buru-buru mengenakannya. Dia mengejar Grace yang sedang menuju ke kamar Ethan.


Sayang, Vincent terlambat. Grace sudah mengetuk pintu kamar itu sehingga penghuninya membukakan pintu dan menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Grace! Ada apa?" tanya Olivette.


Tatapan mata Grace langsung tertuju ke ranjang yang masih rapi. Olivette pun dengan riasannya yang tetap cantik. Bajunya masih sama seperti saat berpisah untuk menuju ke kamar masing-masing.


"Kalian tidak sedang melakukan sesuatu yang penting, bukan?" tanya Grace memastikan.


"Tidak. Kami hanya mengobrol sambil menikmati pemandangan air laut yang begitu luas saja. Kenapa memangnya?"


"Ethan di mana?"


"Masih di kamar mandi. Katanya mau membersihkan diri dulu sebelum makan siang. Aku juga belum bersiap. Masih menunggunya saja."


Perhatian Grace beralih pada suaminya yang hanya menggunakan celana panjang. Dia memperlihatkan tubuhnya yang sangat atletis sekali.


"Masuk ke kamar atau aku akan—"


"Oke. Setelah 10 menit, aku akan menyusul ke meja makan." Vincent segera kembali ke kamarnya.


Grace sengaja melakukan itu agar Olivette tidak melihat suaminya seperti barusan. Bukannya takut direbut Olivette, tetapi Vincent pasti akan memamerkan keindahan tubuhnya.


"Ada apa, Grace?"


"Tidak ada apa-apa. Oh ya, bisa kita foto selfi sebentar? Aku mau upload di sosial media milikku," pinta Grace.


"Aku belum ganti baju, Grace," tolak Olivette.


"Tidak masalah. Kau selalu cantik."


Akhirnya Olivette menurut saja. Setelah itu Grace memposting di Instagram miliknya dengan caption 'bulan masuk kedua bersama keluarga'. Tampak wajah Grace dan Olivette terlihat bahagia di sana.


Sementara di sebuah mansion, Wileen sedang bersantai. Dia menikmati waktu menunggu makan siangnya yang memang akan dimulai beberapa menit lagi. Notifikasi di ponselnya memberitahukan jika ada seseorang yang sedang meng-upload sesuatu.


Bergegas Wileen membukanya. Betapa kesalnya saat melihat wajah Olivette dan Grace terlihat bahagia. Bahkan, backgroundnya sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah sebuah kapal pesiar yang mewah.


"Sial! Kenapa mereka semakin bahagia sekarang? Harusnya aku yang berada di sana bersama Ethan! Harusnya aku yang menikmati kekayaan Ethan saat ini." Umpatan rasa kesal Wileen terus saja keluar dari mulutnya. Ada rasa sesal yang menderanya saat ini.


...🌾🌾🌾...


Sambil menunggu update, silakan mampir ke karya keren yang Emak rekomendasikan. Jangan lupa berikan ulasannya ❤️


__ADS_1


__ADS_2