Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 68. Menerima Pesan


__ADS_3

Sejak Wileen keluar dari mansion suaminya, dia harus belajar hidup mandiri. Selama ini dia sering bergantung pada Ethan dan Will. Semakin ke sini, dia harus mandiri karena tidak semua yang Will berikan itu murni dari ketulusan hatinya.


Perbedaan antara Will dan Ethan sangat jelas. Wileen terjebak dengan kisah masa lalunya. Will bukanlah pria yang baik. Dia banyak berubah. Wileen seperti tidak mengenalnya.


"Ya, aku tinggal di apartemen, Ethan."


"Kalian ada masalah?" Seharusnya Ethan tidak bertanya demikian. Itu bukan urusannya lagi. "Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian. Aku minta maaf."


Akan lebih baik jika Ethan segera meninggalkan mereka. Kembali ke kamar rawat istrinya akan jauh lebih baik.


Benar saja, Will menarik tangan Wileen menuju ke tempat parkir. Di sana, keduanya bertengkar hebat sehingga Zack ikutan menangis. Bayi berumur beberapa bulan itu seolah mengerti kondisi kedua orang tuanya.


"Apa yang ingin kau buktikan pada Ethan, hah? Apa kau ingin mempermalukan hubungan kita? Kau menunjukkan padanya seolah hubungan kita tidak baik, bukan? Kenapa kau masih bertahan?"


Will terus saja memberondong pertanyaan itu. Dia setres. Kehidupannya kacau. Ethan bukan lagi bandingan, tetapi dia sudah jauh di depan beberapa puluh langkah. Bahkan, ratusan langkah di depannya.


"Apa yang ingin kau tunjukkan padanya? Kau seolah menjadi suami yang baik. Suami yang bisa diandalkan oleh istri dan anakmu. Kenyataannya apa? Kau tenggelam dalam urusan masa lalumu. Olivette hanya bagian masa lalu."


Will terdiam. Mendengar namanya saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Mana Will yang dikenal oleh Wileen? Pria yang menggebu-gebu dengan kisah masa lalunya. Sekarang, dia tak ubahnya seperti orang tidak punya kehidupan. Dia terus saja tenggelam dalam penyesalannya.


"Kau diam itu artinya ucapanku benar!" bentak Wileen.


Will mau menyangkal apalagi? Kenyataannya memang seperti itu. Dia sudah kehilangan akal sehatnya saat semuanya menghilang dari kehidupannya. Cinta, keyakinan, dan kepercayaan hidup. Semua hilang bersamaan dengan perginya Olivette dari kehidupannya.


Pertengkaran itu tidak akan pernah berakhir. Will membawa Wileen kembali ke mansion. Jalan terakhir adalah memperbaiki rumah tangganya yang sedang kacau.


Beberapa hari kemudian, Olivette sudah diizinkan untuk pulang. Mereka sangat bahagia sekali dengan kehadiran nyonya mansion dengan dua bayinya. Pesta penyambutan digelar secara sederhana.


Para maid menyiapkan segalanya. Termasuk kamar bayi yang sudah dihias dengan berbagai pernak-pernik. Selain itu, Ethan juga mengirimkan kedua foto bayinya kepada Vincent. Dia sengaja melakukan itu untuk mengabari bahwa Ethan sudah menjadi seorang daddy sekarang.

__ADS_1


"Sayang, apa yang kau lakukan?" protes Olivette saat Ethan memperlakukan kedua putrinya bak model.


"Foto yang akan kukirimkan pada Vincent. Dia juga harus tahu bahwa salah satu calon menantunya telah lahir," jawab Ethan.


"Kau terlalu dini membicarakan perjodohan itu, Sayang," sahut Clara.


Benar saja. Ada Meriel dan Maribel. Mana anak gadisnya yang akan dijodohkan dengan putra tunggal Vincent? Jelas tidak akan mungkin keduanya, bukan?


"Kapan perayaan akan digelar? Maksudku, pengenalan dua bayi kalian kepada kerabat dekat. Aku tidak mau publik terlalu mengekspos dua bayi kalian." Zion memberikan peringatan.


Ethan dan Olivette berpandangan. Keduanya belum menentukan hari yang tepat. Pasalnya, beberapa pekerjaan sedang menunggunya.


"Akan kupikirkan lagi, Papa. Lebih cepat lebih baik," ucap Ethan.


"Bagus. Agar kami bisa lekas kembali ke rumah. Aku sudah rindu rumah dengan segala isinya," kata Zion.


Hampir sebulan mereka meninggalkan rumah, menunggu kelahiran cucunya, kemudian mereka akan pulang.


Mereka menggunakan baby sitter untuk merawat baby twin di kala siang. Sementara malam, Ethan lah yang menggantikan peran mereka. Hampir 9 tahun, pernikahan keduanya membawa kebahagiaan dan berkah bagi semua orang.


"Terima kasih, Sayang," ucap Ethan sebelum pergi ke kamar bayinya.


"Kenapa harus berterima kasih?"


"Karena kau sudah memberikan dua bayi mungil yang sangat cantik dan luar biasa. Aku mencintaimu."


Olivette tersenyum. "Hanya aku?"


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Kau lupa, Sayang. Aku, Meriel, dan Maribel adalah bagian dari hidupmu sekarang. Jadi, apakah kau akan mencintaiku saja?"


Inilah yang disukai dari istrinya. Dia selalu memberikan sesuatu yang berbeda. Cinta yang lain. Jarang sekali diungkapkan, tetapi Olivette selalu memberikan senyum semangat, kecupan mesra, dan sesekali pelukan tidak terduga.


"Baiklah, kali ini aku harus berhadapan dengan tiga peri cantik dalam hidupku. Aku sangat bahagia!"


Tentu saja. Olivette pun merasakan hal yang sama. Ethan, cinta, keluarga, dan dua putrinya. Selain itu, tidak ada hal lain karena Olivette sudah memiliki segalanya.


"Aku juga."


"Benarkah, Sayang?" tanya Ethan penasaran.


"Tentu. Kau pria yang baik, Ethan. Kau lah alasanku untuk tetap hidup dan bertahan. Kau memberikan kesempatan padaku untuk hidup kembali. Terima kasih," jelas Olivette.


"Kaulah yang membuka mataku, Olive. Kau sangat kuat dan tegar. Kau tidak pernah tahu, bagaimana aku menangisi kegagalan pernikahanku?"


Sungguh Olivette terkejut. Pria seperti Ethan bisa menangis. Walaupun posisinya saat ini berada di ranjang, tetapi tatapan matanya tertuju pada suaminya. Ethan duduk tepat di sampingnya, memandang lekat mata istrinya.


Ya, saat itu Ethan menangis. Dia meratapi kegagalan pernikahannya. Apa yang kurang darinya? Tampan, tentu saja. Memiliki kekayaan, sudah pasti. Cinta, Ethan selalu memberikan cinta itu pada Wileen. Namun, semuanya berubah begitu cepat saat pertemuan pertamanya dengan Olivette. Wanita itu susah payah mengatakan kebohongan suaminya demi menyelamatkan pernikahan lain. Nyatanya, keduanya sama-sama hancur.


Hati bisa berubah. Tentu saja sakit yang diberikan Wileen padanya mengikis kepercayaan, cinta, dan hubungan yang mereka bangun. Tidak hanya itu, Ethan berusaha menjaga hatinya dengan bertahan. Bukan hanya dia, tetapi Clara juga.


"Jadi, apakah kau menangis sepertiku? Ehm, maksudku menangisi kegagalan kita di masa lalu?"


"Tentu, Olive. Aku kalut, rapuh, dan sangat menderita. Satu hal yang membuat aku tersadar, bahwa aku tidak sendirian. Kaulah satu-satunya wanita yang membuatku menyadari hal itu."


Lucu memang. Hati bisa berubah dengan cepat hanya karena sebuah kebencian. Ethan bukan pria pembenci. Rasa sakit hatinya pun mampu memaafkan Wileen begitu mudah, tetapi dia tidak akan menerimanya kembali. Lucu memang. Pemikiran yang cukup dewasa untuk seorang Ethan. Melepaskan kemudian menggantinya dengan kehidupan baru.


"Aku tidak menyadari itu, bahkan saat mama Clara mempertemukan kita di pesta itu, aku tidak pernah menyadari jika kau sudah mentargetkan aku."

__ADS_1


Olivette benar. Saat itu Ethan memang sudah bercerai dari Wileen. Namun, dia tidak mudah membuka hati sampai pada pertemuan itu.


Percakapan itu berakhir. Ethan berniat keluar kemudian memasuki kamar dua bayinya, dia menerima pesan dari seseorang. Pesan yang begitu penting sehingga dia buru-buru keluar dari kamarnya.


__ADS_2