Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 70. Austin Harry Walton


__ADS_3

Pertemuan tidak sengaja yang terjadi antara Clara dan Wileen lah yang menyebabkan perubahan sikap Clara. Secara emosional Wileen tidak memengaruhi kehidupan Clara, tetapi Clara sendiri lah yang memiliki obsesi tinggi terhadap cucu laki-laki.


Sejenak Olivette memikirkan hal itu, tetapi kemudian dia melupakannya. Tidak ada gunanya berharap lebih pada cita-cita untuk memiliki anak laki-laki. Perayaan kelahiran Meriel dan Maribel sudah ditentukan. Kesibukan mansion semakin terlihat jelas.


Seperti biasa, Bella lah yang mengurus segalanya. Sekretaris kepercayaannya itu sangatlah luar biasa dalam mengurus keperluan tuannya.


"Rencana untuk perayaan kelahiran bayi kembar itu sudah aku susun sedemikian rupa, Nyonya. Kita akan bicarakan lagi saat bertemu," ucap Bella.


"Tentu. Kau bisa datang ke mansion setelah urusan kantor selesai," balas Olivette.


Kenapa tidak menggunakan event organizer? Kenapa harus Bella? Bukankah urusan seperti itu bisa diserahkan kepada pihak yang berkepentingan? Konsep yang dipilih Olivette tidak seperti itu. Bella adalah orang kepercayaan suaminya. Semua pekerjaan selesai tepat waktu jika Bella yang mengerjakannya. Tentunya dia tidak sendiri, tetapi dibantu oleh orang-orang yang berkompeten.


"Kapan Bella akan datang?" tanya Clara.


"Secepatnya, Ma. Apa Mama ingin menambah sesuatu? Maksudku susunan acaranya," ucap Olivette.


"Tidak ada. Cuma papamu pernah bilang kalau ada pengumuman penting. Entah, apa itu?"


Olivette juga tidak tahu. Zion tidak mengatakan apa pun secara detail. Sepertinya akan ada kejutan yang luar biasa.


Kali ini Clara menyarankan untuk mengundang Wileen. Terasa janggal sekali, tetapi saran mama mertuanya tidak bisa dibantah. Sebenarnya Olivette sudah menyampaikan keberatannya pada sang suami, tetapi Ethan mencoba memberikan pengertian.


"Aku tahu kalau kau keberatan, Sayang. Aku pun demikian, tetapi permintaan mama untuk bertemu mantan menantunya tidak bisa kita hindari. Aku juga berusaha berbesar hati. Semoga kau pun demikian."


Dalih apalagi ini? Masalah bayi laki-laki saja belum usai. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Wileen. Apalagi yang direncanakan wanita itu? Will sudah direnggut dari kehidupannya. Lalu, sekarang mama mertuanya. Besok, siapa lagi?


Olivette bisa melupakan masalahnya saat bertemu dengan Bella. Sesuai janjinya, Bella akhirnya mengabari kalau akan datang ke mansion untuk mematangkan konsep yang sudah disusun secara sempurna.


"Akhirnya kau datang juga, Bella," sapa Olivette. "Ayo, ikuti aku!"


Olivette mengajak Bella ke kamar bayinya. Jika malam hari box-box bayi itu dipindahkan ke kamarnya, tetapi jika siang hari dikembalikan lagi ke tempat semula.


"Anda terlihat sangat tidak nyaman, Nyonya. Maaf, jika aku lancang."

__ADS_1


Saat Bella masuk ke kamar bayi, Olivette meminta dia baby sitter-nya untuk keluar sebentar. Nanti kalau Olivette membutuhkan, dia akan memanggilnya lagi.


"Kau benar, Bella. Aku merasa tertekan sekarang. Ehm, maksudku mama mertuaku berniat mengundang Wileen. Sementara aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya."


Bella tersenyum. "Wajar sikap Anda seperti itu. Aku pun dulu sama cemburunya setelah melahirkan. Kurasa itu masih dalam tahap normal. Namun, Anda jangan khawatir. Tuan Ethan sangat menyayangi Anda."


Olivette tidak pernah meragukan cinta suaminya. Ethan sudah memberikan semua penjelasan, kejujuran, dan bukti cintanya. Lalu, apa yang perlu ditakutkan? Olivette harus tetap positif thinking agar semuanya kembali seperti semula.


Olivette lekas membaca beberapa lembar kertas itu. Lalu, salah satu bayinya terjaga sehingga Olivette buru-buru mengambilnya kemudian menenangkan.


"Bella, aku belum membaca keseluruhan konsep yang kau buat. Namun, aku percaya bahwa kau tidak akan pernah mengecewakan aku. Aku setuju dengan konsep buatanmu," pungkas Olivette.


"Terima kasih, Nyonya. Anda adalah wanita yang paling baik yang kukenal. Anda juga selalu menyukai semua konsep yang kuajukan. Terima kasih." Bella sangat bersyukur memiliki bos seperti Ethan dan juga Olivette.


"Sama-sama, Bella."


Keluarga Ethan sedang menyiapkan perayaan kelahiran baby twin, di mansion Will sedang terjadi gonjang-ganjing. Wileen menolak untuk tinggal di mansion yang sama saat Will tetap menempatkannya di kamar lama. Dia menginginkan kamar yang dulunya menjadi tempat tinggal Will dan Olivette.


"Kamar lamamu! Kita akan tinggal di sana. Jika kau menolaknya, maka jangan coba-coba untuk mendapatkan Zack kembali. Aku akan membawanya pergi jauh dari kehidupanmu hingga kau tak mampu lagi menjangkaunya."


Setiap pertemuannya dengan Wileen, kehidupan Will penuh dengan ancaman. Jika bukan karena Zack, Will sudah menceraikan Wileen sejak dia memutuskan keluar dari mansion. Namun, hati nurani Will masih tergerak untuk menyelamatkan pernikahannya. Mungkin saja Wileen memerlukan waktu untuk menyendiri kemudian memutuskan untuk kembali.


"Aku tidak mengerti apa keinginanmu? Tujuanmu mendapatkan kamar itu untuk apa? Bukankah aku sudah menjadikanmu satu-satunya ratu di mansion ini? Lalu, apalagi?"


"Belum cukup, Will! Aku menginginkan kamar lama itu sama seperti yang dilakukan Olivette pada mantan suamiku. Dia bahkan memberikan kamar itu untuk membuat kenangan baru. Mengapa kau tidak bisa? Apa karena kau masih mencintai Olivette? Katakan!" bentak Wileen.


Beruntung karena Zack dititipkan pada salah satu maid yang dipercaya. Jika tidak, bayi beberapa bulan itu akan menangis histeris mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.


"Aku sama sekali tidak paham dengan cara pikirmu! Aku sudah melepaskan ikatan pernikahanku demi menikah denganmu. Nyatanya itu belum cukup. Kalau begitu, terserah kau saja!"


Terkadang kehidupan itu random. Ada yang sedang berbahagia dan juga sedih. Namun, lain halnya dengan keluarga Vincent di belahan negara lain. Seperti yang sudah dijelaskan oleh dokter, beberapa minggu lagi adalah waktu Grace melahirkan.


Keluarga terheboh sepanjang waktu. Grace berteriak histeris saat mengalami kontraksi asli. Hal itu yang menyebabkan Vincent harus pulang dari kantor lebih cepat. Lucunya Grace tidak mau pergi ke rumah sakit jika suaminya belum pulang.

__ADS_1


"Nyonya, Anda harus pergi ke rumah sakit sekarang," ucap maid.


"Tidak! Aku menunggu Vincent," tolaknya.


"Tapi, Nyonya—"


"Diam! Biarkan Vincent datang!" teriak Grace menahan sakit. Air matanya mulai luruh begitu saja.


Vincenti yang baru saja sampai di mansion langsung menggendong istrinya. Membawanya ke mobil kemudian mengantarkan ke rumah sakit. Suara rintihan kesakitan Grace terdengar jelas di telinga Vincent.


"Vincent, ini sangat sakit!"


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi sampai."


Tentu saja Vincent melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa mobil yang sempat menghalangi pun dilewati begitu saja. Vincent seperti berpacu dengan waktu.


Sesampainya di rumah sakit, Vincent meminta para perawat untuk lekas membawa istrinya masuk. Semuanya terlihat sibuk. Apalagi saat Grace siap melahirkan bayinya. Dia sudah menahan rasa sakit dari beberapa jam yang lalu.


Dokter meminta para perawat untuk lekas membawa Grace ke ruang persalinan. Namun, Grace tidak mau jika suaminya tidak menemaninya. Sejujurnya Vincent masih syok mendengar teriakan sang istri menahan rasa sakit.


"Tuan Vincent, Nyonya Grace meminta Anda segera masuk ke ruang persalinan. Dia tidak mau melahirkan jika Anda tidak ada di sana."


Oh God, Vincent rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. Ingin menolak, tetapi Vincent tidak tahan dengan suara kesakitan itu. Rasanya ini cukup sekali membuat istrinya hamil. Dia benar-benar tidak tega.


Vincent pun melangkah gontai memasuki ruang persalinan. Akan ada drama yang tidak diduga Vincent sepanjang kehidupannya. Ya, saat Grace mengejan, dia tidak hanya berteriak, memaki, dan menahan rasa sakit, tetapi juga membuat Vincent lebam karena cakaran Grace.


Hampir saja kehabisan napas, akhirnya suara tangis bayi menggema. Vincent merasa lega kemudian mengecup kening istrinya.


"Terima kasih, Sayang. Bayi laki-laki kita telah lahir. Kau sudah menyiapkan namanya?" tanya Vincent.


Grace mengangguk. Dia merasa lelah sekali. Ingin memejamkan mata, tetapi kalah dengan rasa bahagianya.


"Namanya Austin Harry Walton."

__ADS_1


__ADS_2