
Berdiam diri di mansion dengan suasana hati gundah tidak akan membuat Wileen nyaman dan betah. Nyatanya setelah makan siang yang menurutnya tidak enak lagi, Wileen lekas bersiap. Dia akan pergi ke kantor suaminya untuk meminta jatah liburan menggunakan kapal pesiar seperti yang dilakukan Olivette saat ini.
Sejujurnya Will terkejut saat mendapati istrinya datang dengan wajah masamnya. Sungguh perbedaan yang jelas sekali saat menjadi sepasang kekasih dan istrinya saat ini.
"Tumben kau datang ke kantorku," ucap Will dengan penyambutan yang kurang maksimal.
"Will, selama kita menikah, aku belum pernah sama sekali memiliki permintaan padamu. Maka, hari ini aku akan memintanya dan kau harus mengabulkannya!"
Perasaan Will tidak enak. Seperti akan ada sesuatu yang membuat darahnya mendidih. Rasanya seperti akan ada sebuah ledakan besar di kantornya.
"Kau seperti anak kecil saja. Apa yang kau minta?"
"Ehm, aku mau kita berlibur menggunakan kapal pesiar."
Will langsung menghentikan pekerjaannya. Semula dia berniat mendengar tanpa melakukan komentar atau protes dalam bentuk apa pun. Namun, kapal pesiar bukanlah hal yang menarik baginya.
"Tidak! Pekerjaanku jauh lebih penting daripada kapal pesiar itu sendiri. Kenapa tiba-tiba menginginkan hal itu? Kau tidak sedang dipengaruhi seseorang, kan?"
Wileen menatap tajam suaminya. Dia merasa perlakuannya kepada Olivette sangat berbeda. Maka, pada hari ini Wileen akan melayangkan protes.
"Aku cemburu pada mantan istrimu, Will. Dia bisa menikmati liburan bersama mantan suamiku. Sedangkan aku di sini merasa kesal karena melihat media sosial milik Grace yang berisi foto liburan mereka."
Will tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia harus menjelaskan alasannya. Terlebih kapal pesiar bukan tujuan utamanya. Kalaupun istrinya mau lebih baik dia berangkat sendiri.
"Aku tidak ada kesempatan untuk menuruti ide gilamu itu, Wileen. Sekarang, lebih baik kau pulang dan berdiam diri di mansion. Kau itu wanita hamil, sedangkan Olivette itu masih bebas. Ingat anak yang ada di dalam kandunganmu itu!" tegur Will.
Wileen hening sejenak. Dia sedang memikirkan ucapan yang pas untuk membalas suaminya.
"Oh ya, aku lupa. Dia kan wanita tidak sempurna yang tidak berhak mendapatkan kebahagiaan sepertiku. Oke aku cukup sadar diri Will. Namun, coba pikirkan lagi. Tidakkah kau ingin membahagiakan diriku sebentar saja?"
Bahagia yang bagaimana? Bahkan, Wileen sudah mengubah Will menjadi orang yang aneh. Hanya karena kesalahannya membangun kembali hubungan dengan Wileen, dia sudah melepaskan berlian yang nilainya tinggi. Sekarang, Ethan mendapatkannya. Mungkinkah keberuntungan akan memihak pria itu?
"Cukup dengan ocehanmu yang tidak bermutu itu! Sekarang, pulang dan jangan datang lagi ke kantorku!"
Saat Will dan Wileen selalu diselimuti pertengkaran dan perdebatan yang tiada henti, di sisi lain Ethan dan sahabatnya terlihat sangat bahagia. Mereka menikmati makan siang bersama dengan hidangan yang luar biasa.
__ADS_1
"Ethan, kau curang!" Grace melayangkan protes.
"Curang bagaimana?" tanya Ethan dengan tatapan tenang sambil memotong steaknya.
"Aturan apa yang kau buat dengan Vincent? Gila saja, datang-datang aku langsung dipaksa kerja keras. Halo, ini liburan bukan sekadar hubungan ranjang saja!" Grace kesal karena melihat kamar Ethan masih rapi seperti saat Grace datang ke kamarnya.
Sebenarnya yang terjadi adalah, Ethan hanya melakukan ciuman bersama Olivette. Dia sengaja memancing istrinya untuk mengecupnya lebih dulu kemudian berakhir dengan ciuman yang semakin menuntut. Ethan tidak mau terburu-buru. Malam masih panjang. Jadi, untuk pemanasan siang ini hanya sebatas ciuman saja.
"Memangnya kau membuat aturan apa, Suamiku? Grace terlihat kesal sekali," ucap Olivette.
"Tidak ada. Itu hanya maunya Vincent saja kemudian menuduhku seperti itu," kilah Ethan.
Ethan tidak mencoba memberikan aturan apa pun. Hanya saja saat Vincent menanyakan kiat-kiat agar berhasil mendapatkan keturunan adalah saat sampai, Vincent harus segera menuntaskan hasratnya.
"Ethan!" seru Grace.
"Apa kalian akan ribut terus?" tanya Vincent yang sedang asyik menikmati makan siangnya.
"Lebih baik kita selesaikan makan siang ini. Setelah itu, aku ingin bersantai di dek," jelas Olivette.
Berenang? Bahkan di dalam pikiran Olivette tidak berniat sama sekali untuk melakukan itu. Dia memang menginginkan liburan ini, tetapi tidak untuk berenang.
"Aku tidak ingin berenang," tolak Olivette.
"Sayang, lebih baik kau ikut saja bersama Grace," ucap Ethan.
Sulit sekali menjelaskan padanya. Alasan yang paling penting adalah Olivette tidak membawa bikini.
"Ethan, aku akan melihat Grace berenang. Lagi pula, aku juga tidak membawa bikini," ucapnya beralasan.
Grace yang menginginkan kebersamaan ini berlanjut, dia sudah menyiapkan segalanya. Kemungkinan Olivette tidak membawa bikini karena lupa. Makanya, dia sudah membelikan bikini baru untuk Olivette.
"Aku sudah membelikannya untukmu, Olivette. Aku sudah memikirkan bahwa kau pasti melupakan hal sepenting itu," sahut Grace.
"Nah, kau bisa ikut bersama Grace," perintah Ethan.
__ADS_1
Bagaimana caranya menjelaskan hal ini pada suaminya? Olivette memang pandai menari, tetapi untuk berenang. Dia benar-benar tidak bisa. Kesempurnaan di dalam dirinya tidak sepenuhnya. Bagaimana jadinya kalau Olivette tidak mengatakannya pada Ethan? Mungkinkah dia akan tenggelam di kolam renang?
"Baiklah. Aku akan mengambil bikininya sekarang," pamit Grace.
Olivette semakin cemas. Kalau hanya bermain air di tepi kolam, mungkin bukan masalah. Lalu, bagaimana kalau Olivette benar-benar masuk ke dalam kolam? Rasanya seperti dejavu. Ingatannya kembali ke masa lalu saat papanya berniat mengajari Olivette berenang. Mamanya sudah melarangnya, tetapi Zion teguh pendirian.
Kejadian itu membuat Olivette langsung syok, tubuhnya membiru karena ketakutan, kemudian harus dilarikan ke rumah sakit karena Sophia ketakutan melihat putrinya.
Grace sudah kembali. Dia membawa dua paper bag. Satu diserahkan kepada Olivette.
"Terima kasih," ucap Olivette. "Ethan, kau akan menunggu kami saat berenang, bukan?"
Setidaknya Olivette harus mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak jujur pada Ethan adalah sebuah kesalahan, tetapi menolak Grace yang sudah berbaik hati padanya juga sangat sulit.
"Iya. Kalian pergi saja. Setelah ini aku akan menyusul bersama Vincent," balas Ethan.
"Pergilah! Kami tidak akan lama," ucap Vincent.
Setelah para wanita itu pergi, Vincent melihat sesuatu yang aneh pada sikap Olivette. Wanita itu ragu saat Grace mengajaknya ke kolam renang.
"Ethan, kau tidak melihat wajah istrimu. Dia terlihat ingin menyampaikan sesuatu, tetapi kau terus saja menyangkalnya. Dia terlihat tidak nyaman sekali berenang. Entah, apa yang sebenarnya ingin disampaikan?"
"Mungkin saja dia tidak nyaman mengenakan bikini, Vincent. Wajar dia seperti itu. Apalagi aku juga tidak pernah melihatnya berpakaian minim di hadapanku."
Kecuali malam itu. Ethan memang sudah mengetahui segalanya. Mungkin saja Olivette malu di hadapan Vincent. Makanya dia mencoba menolak ajakan Grace.
Saat keduanya sedang berbincang, tiba-tiba suara teriakan membuat mereka lekas meninggalkan meja makan.
"Tolong! Tolong!" Grace sangat ketakutan.
...🍒🍒🍒...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren Kak Sensen. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1