
Gara-gara Ethan mendadak menyetujui permintaan istrinya untuk berbulan madu menggunakan kapal pesiar, kini Vincent harus datang ke kantor Ethan. Pasalnya, Grace tidak mau pulang sebelum mereka berlibur. Ini kesempatan langka, yaitu bisa berbulan madu dengan pasangan pengantin baru.
"Kenapa kau terlihat kusut seperti itu?" tanya Ethan.
Mereka berada di ruang kerja Ethan. Ethan harus mengurus beberapa pekerjaan dalam waktu yang lumayan lama. Tidak hanya Ethan, Bella sang sekretaris pun demikian. Dia mendapatkan tugas yang tidak mudah, yaitu memesan Luxury Cruise Ship yang akan digunakan untuk berbulan madu bosnya.
"Ini gara-gara Olivette."
"Kenapa dengan istriku? Apa dia mengganggumu?"
"Tidak, Ethan. Kupikir Grace akan memengaruhi Olivette untuk berbuat hal yang aneh, tetapi ternyata Grace yang terpengaruh," sesal Vincent.
Vincent bukannya tidak mau ikut, tetapi seharusnya dia kembali dan mengurus beberapa bisnisnya. Terlebih waktu berlibur ini sangat menyita waktunya.
"Vincent, tidakkah kau pikir ingin membahagiakan Grace? Ehm, maksudku siapa tahu setelah istri kita berlibur, sepulang dari sana mendapatkan kabar baik. Maksudku, siapa tahu Grace dan Olivette bisa hamil bersamaan?"
Vincent hampir lupa. Dia juga menginginkan anak. Mungkin dengan mengambil cuti beberapa hari akan mendapatkan kesempatan emas itu.
"Terima kasih, Ethan. Aku hampir lupa. Oh ya, kalau anakmu perempuan dan anakku laki-laki, apakah bisa kita jodohkan?" Keyakinan Vincent akan memiliki anak semakin tinggi, tetapi agaknya Ethan ogah merespon pertanyaan Vincent barusan.
"Aku tidak bisa memaksakan harus mencintai atau menikah dengan siapa, Vincent. Biarkan Kehidupan anak-anak kita nantinya bebas dan tidak tertekan karena perjodohan konyol orang tuanya. Namun, kalau memang mereka berjodoh, apa salahnya?"
"Baiklah. Kau memang sahabat yang luar biasa. Jadi, kapan kita akan pergi?"
"Aku menunggu kabar Bella. Dia yang kuperintahkan mencari kapal pesiar."
Vincent tahu kalau pergi menggunakan kapal pesiar budgetnya melebihi batas perjalanannya sekadar pulang dan pergi mengunjungi sahabatnya.
"Ethan, aku yang akan bayar liburan kita kali ini," ucap Vincent yakin. Taksirannya memerlukan biaya satu juta dolar.
"Tidak bisa, Vincent! Aku yang merencanakan liburan ini dan kau adalah tamuku. Harga kebahagiaan istriku tidak bisa dibayar oleh orang lain, kecuali suaminya."
Ucapan Ethan sangat berkesan sekali. Walaupun keduanya sama-sama kaya, Ethan menolak. Sekarang, Bella sedang menghadap bosnya.
"Tuan, aku mendapatkan Luxury Cruise untuk lusa. Tuan meminta liburan selama 5 hari, kan? Sudah disetujui. Seperti biasa pembayaran akan aku urus," jelas Bella.
"Terima kasih, Bella. Jika ini bukan liburan bulan madu, kau bisa ikut. Kapan-kapan kita atur liburan bersama," jelas Ethan.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan. Yang paling penting Anda dan Nyonya selalu bahagia."
Bella langsung undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Vincent, dia sedang menghitung berapa lama akan berada di sini menemani Ethan.
"Jadi, mari kita buat kesepakatan!" ucap Ethan membuat atensi Vincent tertuju padanya.
"Tunggu! Ini liburan, Ethan. Bukan kesepakatan bisnis atau apa."
Ethan tertawa. "Jangan bodoh, Vincent! Kau pikir kita akan bersenang-senang di dalam kapal pesiar? Tidak!"
Vincent mencium gelagat yang tidak pernah dibayangkan sama sekali. Terlebih ini memang liburan Ethan. Jadi, Vincent juga perlu tahu aturan mainnya.
"Lalu, untuk apa kau menyetujui permintaan Olivette?"
"Dengarkan aku! Waktu liburan lima hari. Satu hari pertama dan hari terakhir, baru kita akan bertemu. Sisa tiga hari, kau dan aku memiliki cara sendiri untuk melakukan sesuatu."
Pikiran Ethan hanya tertuju pada Olivette. Istrinya itu harus selalu berada di sampingnya tanpa terkecuali. Ini peraturan gila memang, tetapi Vincent paham tujuannya.
"Jangan sampai mereka tahu aturan ini! Grace bisa-bisa kabur dari genggamanku," ucap Vincent.
Grace suka banyak teman. Sementara Olivette, dia bisa menyendiri dan suka juga berteman. Jadi, kesepakatan ini hanya akan diketahui para suami.
"Kau sudah menyiapkan segalanya, Sayang. Nikmatilah liburan ini! Ingat, jangan setres. Kau paham kan tujuan kita untuk berbulan madu?"
"Iya, Ethan. Kita berbulan madu untuk liburan, bukan? Agar aku tidak setres."
Semuanya salah. Bukan itu tujuannya mereka berlibur. Ethan tampak tersenyum memandang wajah istrinya.
"Oh ya, sebelum kita berangkat hari ini, aku memiliki beberapa peraturan yang harus kau patuhi, Sayang. Jangan melanggar atau protes! Oke?"
Rasanya sangat berbeda saat hendak pergi berbulan madu dengan suaminya. Ini pengalaman pertama dengan pria yang berbeda dan cara liburan berbeda pula.
"Oke. Aku coba dengarkan. Kalau masuk akal, aku akan menerimanya. Jika tidak, jangan salahkan aku kalau menjadi pembangkang nomor satu," canda Olivette.
"Peraturan yang perlu kau ketahui dan tidak boleh diketahui Grace."
"Apa? Peraturan macam apa itu?"
__ADS_1
"Dengarkan dulu, Sayang! Jadi, peraturannya adalah bebas, kamar, kamar, kamar, dan terakhir bebas."
Sontak mata Olivette membulat sempurna. Peraturan macam apa itu? Baru kali ini liburan dengan peraturan aneh seperti itu.
"Tunggu! Peraturan apa itu, Ethan? Ini liburan. Kapal pesiar menyuguhkan keindahan laut yang luar biasa. Lalu, kau akan mengurungku di kamar sepanjang hari?"
Olivette terlihat kesal. Ini liburannya. Seharusnya Ethan tidak menekannya seperti itu. Rasanya sangat aneh jika dirinya tidak menampakkan wajahnya di hadapan Grace atau Vincent.
"Liburan ini adalah bulan madu, Sayang. Tugas kita bersenang-senang dan berusaha keras untuk mewujudkan keinginan kita dan mama. Kau paham, kan?"
"Tidak untuk siang hari! Aku ingin berlibur dan menikmatinya, Sayang. Oh ayolah. Kau sudah berjanji padaku, bukan?" Olivette kini berbeda. Dia sedang merayu suaminya agar semua keinginannya terkabul. Entah, sejak kapan dia berubah manja seperti ini?
"Oke. Sepakat!"
Ketimbang tidak mendapatkan apa pun dari peraturan yang dibuat, Ethan pun mengalah. Dia tidak bisa membayangkan betapa jeniusnya anaknya nanti jika mewarisi kedua bibit premium ini. Ethan pasti akan kalah bersaing dengan keturunannya sendiri.
"Baiklah. Terima kasih, Sayang. Kau memang yang terbaik!"
Kali ini Ethan akan pergi bersama Vincent dan istrinya. Sebelum pergi ke pelabuhan, Ethan harus menjemput Vincent ke hotel lebih dulu.
"Ingat, Sayang. Jangan katakan apa pun peraturannya pada Grace!"
Olivette tersenyum. "Kurasa kau takut sekali pada Grace, Sayang. Kenapa?"
"Aku tidak takut padanya, tetapi aku takut pengaruhnya bekerja dengan baik kepadamu, Olive."
Kekaguman Olivette pada suaminya semakin meningkat. Semula dia mengira kalau Ethan adalah tipikal pria dingin, tetapi semakin ke sini selera humornya luar biasa sekali.
"Hai, kalian akhirnya sampai juga. Aku menunggu beberapa menit dari waktu yang sudah disepakati," kesal Grace.
"Maaf, Grace. Kami sedikit terlambat. Ada hal yang perlu kami bicarakan sebelum pergi," ucap Olivette.
"Apakah ini tentang peraturan?" tanya Grace.
Ethan seakan menatap tajam ke arah Vincent. Sahabatnya itu benar-benar tidak bisa menjaga rahasia sama sekali. Awas saja kalau sampai di dalam kapal pesiar. Ethan akan membuat perhitungan dengannya.
...🌾🌾🌾...
__ADS_1
Sambil menunggu update, mampir dulu yuk ke karya teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️