Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 24. Ketakutan Olivette


__ADS_3

Saat perceraian putrinya berlangsung, Zion Phoenix memang tidak bisa datang dengan alasan kesehatannya. Olivette sudah mengatakan padanya bahwa tidak ada gunanya bertahan dengan suami seperti Will yang diam-diam selingkuh di belakangnya.


"Jadi, hari ini kau bawa tamu untuk bertemu dengan papa? Apa dia pria yang berniat serius untuk menikahimu?" tanya Zion saat sarapan pagi.


Semalam Olivette memang langsung pulang sehingga Zion maupun Sophia juga tahu kedatangan Ethan. Olivette juga menjelaskan bahwa Ethan adalah mantan suami dari wanita yang menjadi selingkuhan Will.


"Iya, Pa. Masalah serius, aku tidak tahu. Biarkan dia berbincang dengan Papa," jelas Olivette.


Keputusan memang ada di tangan papanya. Sejak tahu putrinya dikhianati, Zion sebenarnya ingin membuat Will hancur hingga tak tersisa. Namun, Olivette melarang untuk membalas apa pun perbuatan buruk Will.


"Papa mau dia lebih dari Will. Kalau perlu, keberadaannya akan menghancurkan Will. Tidak secara langsung, perlahan pun tidak masalah," geram Zion.


"Papa, Olive sudah mengatakan itu ribuan kali. Biarkan Will hancur dengan sendirinya," sahut Sophia, mama Olivette.


"Iya, Papa. Lupakan Will. Kita harus hidup dan memandang jauh ke depan. Tidak masalah aku harus kehilangan pria itu sebelum memiliki anak darinya, tetapi aku tidak suka jika Papa masih memiliki dendam padanya," jelas Olivette.


"Kau akan memiliki dendam yang sama jika anakmu diperlakukan seperti itu!" tegas Zion.


"Papa, sudahlah. Kesehatan Papa jauh lebih penting dari apa pun," sahut Olivette.


Olivette beruntung bahwa orang tuanya mampu berdiri saat dirinya jatuh. Keduanya selalu menguatkan dan meyakinkan diri untuk tidak bertahan dengan Will. Lepaskan dan lupakan. Kata itu yang selalu menjadi pegangan hidup Olivette sampai detik ini.


"Siapa nama pria itu?" tanya Zion.


"Ethan Reagan Soenser, Papa."


"Bagaimana cirinya?"


"Papa, kau tahu hanya dengan jentikan jari saja, bukan?" sahut Sophia.


Nama itu seakan tidak asing bagi Zion. Mungkin dia pernah mengenal orang di masa lalunya, tetapi tidak mampu diingat secara mendetail.


"Hemm, baiklah. Suruh dia menghadap siang ini. Kalau sampai dia berlaku hal yang sama dengan Will, jangankan perusahaannya, nyawanya pun akan menjadi taruhannya!"


"Papa!" seru Sophia.


Seperti waktu yang sudah dijanjikan, Zion meminta sopir untuk menjemput tamunya ke hotel. Ini juga dilakukan seperti dulu saat Will datang untuk meminta putrinya secara langsung. Sayang, saat amarah Zion memuncak, justru Olivette terus menghalanginya.

__ADS_1


Tidak baik menimbun dendam kepada Will. Biarkan dia bahagia dengan keputusannya. Lagi pula Olivette tidak menyesal harus berpisah dengannya.


Sebuah rumah mewah bergaya Eropa klasik menjadi pemandangan pertama saat Ethan mulai memasuki halamannya. Terlihat asri dan begitu megah. Sopir pun segera membuka pintu mobil saat mereka baru saja tiba.


"Tuan, bisa langsung masuk. Mari kuantar!" ucap sopir.


Sayang, saat sampai di depan pintu masuk rumah, seorang Maid menghadangnya.


"Biar aku yang antar. Tuan Zion sudah menunggunya di ruang keluarga."


"Hemm, baiklah." Sopir itu mundur dan kembali ke mobilnya.


Sementara Ethan merasa dadanya bergetar hebat. Dia merasa bahwa Tuan Zion bukan hanya seorang papa, melainkan pria yang memiliki kualitas hebat seperti yang diceritakan sopir pada saat perjalanan dari hotel.


"Tuan, Tuan Ethan sudah datang," ucap Maid pada Zion.


Ethan sama sekali tidak melihat keberadaan Olivette ataupun wanita yang bernama Sophia yang merupakan istri dari Zion.


"Selamat datang, Tuan Ethan!" sapa Zion dari balik punggungnya. Pria itu kebetulan sedang membelakangi Ethan sesuai posisi tempat duduknya saat ini.


"Terima kasih, Tuan."


Ethan berjalan memutar sampai berada di hadapan pria yang menurutnya sangat tampan di usianya yang matang. Tatapannya beradu hingga membuat jantung Ethan berdetak lebih cepat. Rupanya bukan hanya Olivette yang mampu membuat jantungnya mendadak aneh, tetapi juga Zion, papanya.


"Siapa namamu?" tanya Zion. Walaupun dia sudah tahu namanya dari Olivette, tetap saja akan dilakukan sesuai keinginannya.


"Ethan, Tuan."


"Nama lengkap!" perintah Zion lagi.


"Ethan Reagan Soenser, Tuan," jawab Ethan tegas dan tanpa ragu sedikit pun.


"Apa pekerjaanmu?"


Cara Zion menanyakan hal-hal kecil itu seperti seorang HRD yang menanyai karyawan barunya.


"CEO ER Corporation, Tuan."

__ADS_1


"Perusahaan milik sendiri atau warisan?"


Sungguh ini merupakan jawaban yang sangat membingungkan. Ethan memang membuat ER Corporation atas dasar perpecahan dari perusahaan papa sekaligus keluarga besarnya. Itu pun hanya mendapatkan suntikan modal yang sangat kecil. Sehingga Ethan harus berjuang untuk memajukan perusahaan dalam kurun waktu yang lumayan lama. Terlebih saat ini usia Ethan sudah hampir mendekati 41 tahun.


"Sebenarnya itu pecahan dari perusahaan mendiang papa, tetapi seiring perjalanan waktu berkembang dengan pesat, Tuan."


Zion tampak sedang memikirkan sesuatu. Suasana menjadi hening seperti sedang menjalani ujian di sebuah universitas.


"Sudah berapa lama kau mengenal putriku?"


"Kami hanya bertemu beberapa kali, Tuan."


"Ck, baru beberapa kali. Lalu, kau sudah mengejarnya? Apa yang bisa membuktikan bahwa kau serius kepada putriku? Apa kau sanggup menyerahkan nyawamu hanya untuk ditukar dengan kebahagiaan putriku?"


Ethan diam. Sepertinya Zion tipe pria yang sangat perfeksionis. Lalu, mengapa dia membiarkan Will lolos begitu saja? Bahkan, Ethan merasa bahwa Zion bukan pria biasa yang begitu mudah menyerahkan putrinya.


"Aku serius, Tuan. Aku akan menyerahkan nyawaku hanya untuk membuatnya bahagia. Terlebih aku pun merasa bersalah karena mantan istriku sudah membuat Nyonya Olivette harus kehilangan suaminya."


Zion berdiri. Dia membiarkan Ethan selama beberapa waktu. Tujuannya untuk menemui Olivette yang saat ini berada di dalam kamarnya bersama Sophia.


"Ah, akhirnya kau muncul juga, Zion," ucap Sophia. "Bagaimana? Apa kau menyukainya?"


Sophia khawatir kalau suaminya akan menolak beberapa pria hanya untuk mendapatkan pria seperti Will di masa lalu. Sayang, Will sudah mengecewakan putrinya.


"Olivette, papa minta maaf padamu. Kalau papa boleh tahu, bagaimana perasaanmu terhadap pria itu? Papa tidak akan melarangmu lagi untuk dekat dengan siapa pun jika kau memang menginginkannya."


Sejujurnya Olivette adalah wanita bangsawan yang terkekang oleh aturan orang tuanya. Banyak pria yang ingin memilikinya, tetapi hanya sebagian kecil yang lolos dari tangan Zion.


Seperti halnya dengan Will. Zion sudah memilih pria itu karena sesuatu hal. Sekarang, Zion tidak lagi mengekang kebebasan putrinya setelah kesakitan yang ditorehkan oleh Will, mantan suami yang menjadi pilihan papanya kala itu.


"Papa, Ethan pria yang baik. Mamanya pun baik. Lalu, Olivette harus apa lagi? Apakah Papa tidak menyukainya? Jika memang Papa tidak suka, Olivette menurut saja."


Sophia seakan memberikan kode bahwa putrinya menyukai pria itu. Hanya saja rasa sukanya itu terkubur bersamaan dengan ketakutan akan penolakan papanya. Zion memahami situasinya sehingga dia memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga dan memberikan jawaban terbaiknya.


...🌾🌾🌾...


Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya yang Emak rekomendasikan. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️

__ADS_1



__ADS_2