
Hari berganti begitu cepat. Clara melihat Ethan sangat bahagia. Hari ini dia mau datang ke kantor lebih pagi dan menyelesaikan urusannya. Tidak hanya itu, semalam dia juga sudah memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper yang akan dibawanya.
"Tunggu! Mama tidak tahu kalau kau akan pergi. Memangnya kau mau ke mana?"
"Memperjuangkan calon istri, Ma. Doakan Ethan, ya!"
"Kau mau pergi ke tempat Olivette?"
"Iya, Ma. Kalau bukan karena syarat yang diajukan dan aku memaksanya, aku juga tidak akan pergi ke sana. Bukankah Mama setuju jika aku mengejarnya?"
Tentu saja Clara senang. Kehilangan Wileen bukan berarti menyerah untuk Olivette. Wanita itulah yang tepat menggantikan posisi mantan menantunya.
"Tentu, Ethan. Mama harap kalian segera melangsungkan pertunangan kemudian menikah. Mama sangat tidak sabar sekali."
Sebagai cara untuk menghemat waktu, Ethan membawa serta kopernya ke kantor. Tidak hanya itu, semua paspor dan perlengkapan lainnya pun disiapkan secara mendadak.
Kalau hari ini Clara dan Ethan gembira. Lain halnya dengan Bella, sekretarisnya. Selama beberapa hari wanita itu harus menerima kenyataan pahit harus mengurus perusahaan.
"Tuan, Anda yakin akan pergi begitu lamanya?"
"Ya, Bella. Tapi, aku berharap bisa lebih cepat daripada perkiraanku."
"Memangnya Anda mau ke mana?"
"Mengejar cinta janda konglomerat! Apa kau lupa?"
Bella menepuk jidatnya. Rupanya Ethan serius dengan rencananya. Bella pikir kalau Ethan hanya sekadar omong kosong untuk membuang gundah gulananya.
"Baiklah, Tuan. Demi masa depan Anda aku rela menggantikan posisi Anda untuk beberapa hari ke depan. Tapi, ingat saat pulang nanti Anda harus sudah membawa kabar baik."
Bella juga menyukai Olivette. Wanita itu sangat ramah dan tidak terlalu menjaga image di depan karyawan seperti Bella. Bahkan, Olivette bisa membaur dengan siapa pun.
Menjelang sore hari, Ethan buru-buru meninggalkan kantornya. Dia harus menjemput Olivette di hotel lebih dulu. Sebelum sampai di sana, Ethan mampir ke toko bunga untuk membeli setangkai mawar merah.
Saat sampai di hotel, Ethan harus turun lebih dulu untuk mengambil koper yang hendak dibawa Olivette. Sampai di depan sebuah kamar, Ethan menekan belnya. Tidak lama, pintunya pun dibuka.
__ADS_1
Olivette sudah membawa satu koper. Dia meletakkannya di depan pintu kamar saat tahu bahwa Ethan sudah datang.
"Biar dibawakan pelayan saja!"
Olivette tidak enak harus meminta Ethan yang membawakannya. Namun, Ethan paham situasinya.
"Kalau begitu kita barter," ucap Ethan.
"Barter?"
"Biar aku yang membawakan kopermu. Kau bawa mawar ini." Ethan menyerahkan mawar yang sedari tadi disembunyikan di balik badannya.
"Ethan, biar koper ini dibawa pelayan saja." Olivette terlampau malu untuk mengakui bahwa Ethan adalah pria yang cekatan. "Mawarnya kuambil. Terima kasih."
"Hemm, lekaslah ke resepsionis dan selesaikan urusanmu. Koper ini akan kubawa. Tunggulah di depan pintu masuk. Mobilku ada di sana."
"Hemm, baiklah."
Tidak butuh waktu lama karena mereka harus segera pergi ke bandara. Semula Olivette ingin naik di bangku penumpang, tetapi Ethan melarangnya.
Perhatian yang ditunjukkan Ethan bukanlah hal biasa sehingga Olivette pun mengikutinya tanpa melakukan protes. Selain itu, Ethan juga dibantu Olivette untuk memesan hotel di negara tempat Olivette tinggal.
"Sampai bandara, kau harus pergi ke hotel. Aku langsung pulang ke rumah," ungkap Olivette saat mobil mulai berjalan.
Tidak ada kata manis ataupun romantis yang keluar dari mulut Olivette, tetapi pesonanya tetap menjadi primadona bagi Ethan. Justru wanita sepertinya lah yang patut diperjuangkan sejauh ini.
"Apa kau takut kalau aku akan memperlakukanmu tidak baik? Tenang saja, aku bukan pria seperti itu."
"Ck, kurasa kau paham maksudku. Kalau kau berani macam-macam, itu bukan saja menjatuhkan harga diri keluargaku, tetapi harga dirimu juga akan jatuh hingga kau tidak mampu bangkit lagi!"
"Siap, Nyonya! Kau memang wanita premium dan berkelas. Kurasa mantan suamimu itu pasti menyesal sudah menceraikanmu. Lalu, sebutan yang pantas adalah pria bodoh dan tidak berperasaan."
"Lupakan untuk menyebut nama pria itu. Kau sendiri juga pria bodoh yang mau saja melepaskan istrimu itu," balas Olivette kesal karena sejak pertemuan mereka, Ethan selalu saja menyebut nama Will.
"Aku? Aku adalah pria keren yang ikhlas melepaskan batu sungai demi mendapatkan berlian. Selain itu, aku adalah pria yang sangat beruntung bisa mengenalmu lebih jauh. Kurasa Will akan semakin menderita saat tahu kita bersatu di kemudian hari."
__ADS_1
"Anda terlalu percaya diri, Tuan!"
Ucapan Olivette barusan menjadi akhir perjalanan darat mereka. Kelanjutannya adalah penerbangan malam ini. Olivette merasa tenang saat dirinya jauh dari Ethan. Bukan karena tidak nyaman dekat dengan pria itu, tetapi dia ingin tahu seberapa kuat Ethan menghadapi orang tuanya.
Perjalanan yang ditempuh hanya beberapa jam saja sehingga sampai di bandara tujuan. Seperti kesepakatan sebelumnya, Ethan harus langsung menuju ke hotel yang sudah direservasikan atas namanya.
"Apakah perbincangan kita akan berakhir di sini?" tanya Ethan saat keduanya sudah mendekati area taksi.
"Sepertinya begitu, Tuan. Esok hari aku akan membuat janji temu antara kau dan orang tuaku. Ingat, hanya satu kesempatan! Jika orang tuaku menolaknya, maka lebih baik Anda lekas tinggalkan tempat ini dan lupakan aku!"
Olivette terus saja berusaha mematahkan hati Ethan. Semakin dipatahkan, perjuangan Ethan akan semakin ditingkatkan lagi. Membalas rasa sakit hatinya di masa lalu adalah dengan mendapatkan hati dan cinta Olivette, menikahinya, dan membahagiakan istrinya dengan sepenuh hati.
Ethan akan mengadakan resepsi pernikahan yang begitu mewah dan akan mengundang para mantan agar mereka tahu bahwa jauh lebih sakit melihat mantan yang bahagia ketimbang pada saat ketahuan diselingkuhi. Percayalah, pembalasan itu akan lebih nyata sakitnya.
"Sepertinya kau sudah tidak sabaran, Nyonya," canda Ethan.
"Bukan begitu, Tuan. Semakin cepat Anda menemui orang tuaku, maka semakin cepat pula Anda kembali ke mansion dan meminta Nyonya Clara untuk mencarikan wanita lain sebagai calon istrimu."
Ethan merasa kalau Olivette memang belum siap untuk menjalin hubungan baru. Namun, Ethan tidak menyerah. Setelah Olivette berada digenggamannya, maka Ethan akan berusaha menjadi candu baginya.
"Kalau apa yang Anda ucapkan itu berbanding terbalik dengan kenyataan esok hari, maka apa yang akan Anda berikan kepadaku?" Ethan sengaja memberikan tantangan itu padanya.
Olivette terdiam. Berdebat dengan Ethan sama saja membuatnya lelah. Sebentar lagi keduanya akan naik taksi masing-masing.
"Aku akan belajar menerima Anda, Tuan."
"Ck, tidak adakah perasaan walau sedikit pun untukku?"
Olivette menggeleng. "Aku tidak mudah jatuh cinta dan percaya pada pria lain sebelum ada pembuktian, Tuan."
Benar-benar definisi janda premium yang dilontarkan oleh Bella. Sulit sekali menaklukkan Olivette. Dalam keadaan seperti ini pun dia masih sanggup mematahkan lawan bicaranya.
...🌾🌾🌾...
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya rekomendasi dari Emak. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1