
Tepat hari H pernikahan, Ethan dan Olivette sudah siap di gedung catatan sipil. Seperti yang sudah direncanakan, mereka akan melakukan prosesi pernikahan di sana. Baik Ethan maupun Olivette tidak tahu jika Will dan Wileen juga akan menikah di hari yang sama.
Clara dan kedua orang tua Olivette ikut serta dalam prosesi pernikahan tersebut. Tidak hanya ikut, tetapi Clara bertugas membawakan cincin pernikahan yang dihadiahkan dari Tuan Hamlet.
Sebenarnya Ethan sudah memesan cincin itu setelah pertunangan, tetapi Tuan Hamlet malah memberikannya secara cuma-cuma. Harapan pria paruh baya itu adalah agar Ethan selalu hidup bahagia.
"Ayo, masuk!" ajak Ethan.
Prosesi pernikahan kali ini, Olivette tidak menggunakan gaun pernikahan layaknya pengantin. Dia hanya menggunakan gaun dengan belahan dada yang agak rendah, dan bawahan yang menonjolkan keseksian kakinya. Terlihat cantik dan elegan dengan tatanan rambut sederhana dan Tiara berlian terpasang di sana. Terlihat sangat mewah sekali walaupun bukan gaun pernikahan. Selain itu, high heels senada juga dikenakan olehnya, yaitu warna silver.
Petugas kantor catatan sipil segera melakukan tugasnya untuk menikahkan pasangan yang baru saja masuk. Selain mereka, petugas juga menginformasikan akan ada pasangan lain lagi setelah ini. Makanya mereka melakukan prosesi pernikahan dengan waktu yang tepat dan tidak terlambat sama sekali.
Setelah sumpah pernikahan diambil, keduanya dipersilakan memakaikan cincin pernikahan. Selain itu, Ethan dan Olivette mendapatkan surat resmi bahwa keduanya kini sudah menjadi pasangan suami istri.
"Selamat! Pernikahan kalian sudah disahkan."
"Terima kasih," jawab Ethan dan Olivette bersamaan.
Setelah itu, Ethan untuk pertama kalinya memberikan kecupan mesra di kening istrinya. Sebenarnya Ethan tidak sabar untuk memberikan kecupan pada bibir istrinya, tetapi belum rela tanpa izin Olivette.
"Selamat, Sayangku! Akhirnya kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Jangan lagi berpisah atau apa pun. Mama tidak akan rela!" ungkap Clara.
"Benar. Mama juga harap demikian. Ini pernikahan terakhir kalian. Ethan, mama titip Olivette. Jaga dan bahagiakan selalu! Jangan sekali pun buat dia menangis atau mengeluarkan air mata," jelas Sophia.
Kali ini giliran Zion. Dia mendekati putrinya, memeluk dengan hangat, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya.
"Maafkan papa, Nak. Selama ini papa terlalu mengekangmu. Kini kau bebas dan tidak akan lagi mengikuti peraturan papa. Lahirkan cucu untuk papa. Bahagiakan papa disisa akhir hidup papa," bisik Zion kemudian melepaskan pelukannya.
"Terima kasih, Papa. Olivette janji akan memberikan yang terbaik untuk Mama dan Papa. Doakan selalu ya, Pa!" pinta Olivette.
Setelah mereka merasakan kebahagiaan itu, kini gilirannya keluar karena calon pengantin berikutnya akan segera masuk.
Saat berada di depan pintu keluar, tatapan keduanya beradu dengan calon pengantin yang akan masuk. Rupanya Will dan Wileen lah calon pengantin yang dimaksud.
"Wah, selamat! Akhirnya kalian sah juga," ucap Wileen sinis.
__ADS_1
Selain ucapannya, Wileen seperti memamerkan gaun indah yang dikenakan saat ini. Terlebih melihat Olivette hanya menggunakan gaun biasa menurutnya.
"Terima kasih," jawab Olivette semringah.
Kalau sekarang mereka seakan bertukar pasangan, yang harusnya merasa paling beruntung adalah Ethan. Dia melepaskan wanita seperti Wileen kemudian mendapatkan Olivette yang menurutnya begitu istimewa.
Tanpa mau melanjutkan perdebatan yang mungkin sebentar lagi akan dilontarkan oleh Wileen, Olivette memilih mengajak suaminya menghindar.
"Ethan, kau akan menyesal menikahinya," ucap Wileen lirih yang masih bisa didengar oleh beberapa anggota keluarga lainnya. Namun, Olivette tidak bergeming.
"Jangan dengarkan ucapan Wileen!" pesan Ethan saat keduanya berada di dalam mobil.
Ya, mereka semua akan pergi menggunakan mobil terpisah. Ethan dan Olivette akan langsung menuju ke kamar hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Sementara Clara akan kembali ke mansion. Sedangkan Zion dan istrinya kembali ke penginapan seperti sebelumnya.
"Tidak, Ethan. Aku hanya akan mendengarkan ucapanmu saja," balas Olivette.
Ethan menggenggam erat jemari tangan istrinya. Rasanya baru beberapa menit yang lalu keduanya sah menjadi sepasang suami istri.
"Terima kasih, Sayang. Jadilah istriku yang sangat luar biasa. Lahirkan anak-anak yang lucu untuk mengikat hubungan kita agar semakin erat. Oh ya, kalau nantinya kau mengalami kendala, kita bisa menggunakan cara lain. Kau jangan khawatir, ya!" pesan Ethan untuk membesarkan hati istrinya.
Kata ini yang membuat Ethan merasa menjadi orang yang paling berharga di muka bumi ini. Setelah kekeringan melanda, kini muncul pengganti yang akan selalu membasahi kehidupannya dengan segala kebahagiaan. Selain itu, Olivette akan menjadi orang terakhir yang beruntung mendapatkan cintanya.
Sementara pasangan yang baru saja masuk ke ruang kantor catatan sipil untuk melangsungkan pernikahan tidak didampingi oleh keluarganya. Hanya Paul yang menyusulnya untuk menjadi saksi pernikahan itu tanpa sebuah resepsi pernikahan.
Saat petugas kantor catatan sipil mengatakan bahwa keduanya sudah sah, di situlah Paul bekerja sebagaimana mestinya. Selain menjadi saksi, Paul juga menjadi fotografer dadakan yang diminta oleh Wileen. Istri bosnya itu memintanya untuk mendapatkan hasil potret yang bagus untuk dipajang di sosial media miliknya. Seperti biasa, Wileen akan memamerkannya pada dunia bahwa dia sangat bahagia.
"Nyonya, semua fotonya sudah kukirim ke ponsel Anda. Oh ya, sebelumnya selamat atas pernikahannya!" ucap Paul.
"Terima kasih, Paul. Kau memang asisten suamiku yang baik. Benar begitu kan, Sayang?" ucap Wileen meminta persetujuan suaminya.
Sejak berpapasan dengan Olivette, Will tampaknya lebih banyak diam. Hanya berbincang sebentar saat proses pernikahan berlangsung. Setelah itu, dia kembali diam.
"Sayang! Hei, kenapa diam?" tanya Wileen lagi.
"Sudahlah. Lebih baik kita pulang," ajak Will.
__ADS_1
"Pulang ke mansionmu, kan?"
"Ya. Siapkan barang-barangmu!"
Rona bahagia terlihat jelas di wajah Wileen. Setelah pernikahannya disahkan, Will sudah memintanya untuk tidak membuat drama baru, yaitu resepsi pernikahannya yang tidak akan pernah digelar. Tidak masalah bagi Wileen asalkan anak dalam kandungannya mendapatkan kejelasan.
Paul merasa menjadi orang yang tidak dibutuhkan lagi. Dia meminta izin pada bosnya untuk pulang lebih dulu.
"Tuan, lebih baik aku pamit. Anda dan Nyonya Wileen langsung kembali ke mansion, bukan?" tanya Paul.
Sebenarnya memang seperti itu, tetapi Will penasaran dengan pernikahan Olivette malam ini. Will berniat hadir di sana karena dirinya mendapatkan undangan dalam pesta pernikahan tersebut. Dia merahasiakannya dari Wileen agar tidak menggangu dirinya yang ingin mendekati Olivette kembali.
"Paul, tunggu di tempat parkir! Ada hal yang ingin dibicarakan sebentar denganmu," pinta Will.
"Sayang, kau mau bicara apa dengan Paul? Aku harus tahu segalanya tentangmu. Kita ini sudah menjadi sepasang suami istri. Jadi, jangan ada rahasia di antara kita!" tegur Wileen.
"Kau mau mendengarkan urusan pekerjaanku, hah?" tanya Will. Dia sengaja berbohong untuk menghindari istrinya.
"Ya, baiklah. Aku tunggu di mobil saja." Wileen menyerah.
Andaikan Wileen tahu bahwa suaminya berniat untuk menghadiri pernikahan mantan istrinya, dia pasti akan sangat marah sekali.
"Ada apa, Tuan?" tanya Paul.
"Jemput aku di mansion! Malam ini kita akan datang ke pernikahan Olivette. Kau diundang juga, kan?"
"Iya, Tuan. Nyonya Olivette memang mengundangku."
"Hemm, pastikan jangan sampai Wileen tahu kalau kita pergi ke sana," pungkas Will.
Harusnya malam ini Will menikmati malam pertamanya dengan Wileen, tetapi keputusannya untuk datang ke pernikahan mantan istrinya lebih tepat daripada di mansion bersama Wileen.
...🍒🍒🍒...
Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1