Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 36. Tanggal yang Sama


__ADS_3

Walaupun di pesta pertunangan itu ada orang tua Olivette yang sebenarnya adalah mantan mertua Will Wesly, tetapi dia tidak mendekat sama sekali. Mungkin Will merasa malu sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan putrinya.


"Terima kasih sudah mau menjadi bagian keluarga kami," ucap Clara kepada orang tua Olivette.


"Justru kami yang harusnya berterima kasih pada putramu, Nyonya. Dia bisa menerima putriku apa adanya," ucap Sophia merendah.


"Putrimu itu seperti berlian. Putraku pasti paham harus memperlakukannya seperti apa," tegas Clara.


Ethan memang akan memperbaiki diri dengan membahagiakan siapa pun wanita yang akan dinikahinya. Terlebih Olivette adalah pilihan pertama dan terakhir setelah bercerai dari Wileen.


"Kuharap demikian, Nyonya. Jangan sampai disakiti lagi." Harapan Sophia begitu tinggi.


Sementara Zion, dia memang tidak bicara apa pun. Pandangan matanya tertuju pada mantan menantunya yang terlihat bermesraan dengan pasangan barunya saat berada di deretan jamuan makan para tamu.


Tangan Zion mengepal. Rasa sakit hatinya terhadap mantan menantu yang diharapkan bisa membahagiakan putrinya, nyatanya malah sangat menyakiti ulu hati. Bahkan, Olivette merahasiakan rencana perceraiannya hingga putusan perceraian berada di genggamannya.


"Ma, tunggu di sini! Aku ada urusan," pamit Zion. Dia ingin membuat perhitungan dengan Will.


"Kau mau ke mana, Pa?" tanya Sophia.


"Bertemu Will sebentar."


"Pa, lebih baik tidak usah. Kau pasti akan sangat emosi padanya," cegah Sophia.


"Sebentar saja. Aku hanya ingin tahu alasannya melepaskan putriku setelah dia memintanya seperti itu tempo hari. Kau pikir sebagai orang tua, aku tidak sakit hati?"


Sophia tidak lagi bisa mencegah kemauan suaminya. Sebagai orang tua, Sophia sebenarnya merasakan hal yang sama.


Sesampainya di dekat Will, pria itu tidak menyadari jika mantan mertuanya itu ada tepat di belakangnya.


"Will, kau terlihat cemburu pada Olivette, bukan?" tanya Wileen yang masih bisa didengar oleh telinga Zion.


"Kau ini bicara apa? Sudah biarkan saja. Dia sudah menemukan kebahagiaannya," jawab Will seakan enggan mengomentari mantan istrinya.


"Jangan bohong, Will! Mulutmu berkata demikian, tetapi hatimu tidak. Kau pikir aku tidak tahu kalau selama ini sengaja menunda pernikahan kita karena dia, kan?" Wileen langsung menuduhnya demikian.

__ADS_1


Sebenarnya yang terjadi, Will memang menginginkan kembali mantan istrinya. Hanya saja, apakah dia akan menjadi perebut istri orang untuk yang kedua kalinya?


"Tidak. Kau hanya salah paham. Aku sengaja melepaskannya karena kau tahu sendiri kan, selama ini dia tidak kunjung hamil. Anggap saja itu alasannya," jelas Will.


Sontak telinga Zion langsung memanas. Dia menarik tangan Will sehingga pria itu tersadar bahwa ada Zion di dekatnya.


"Papa?" ucapnya terkejut.


"Papa kau bilang? Aku bukan papamu lagi, Will. Kau sadar atau tidak dengan ucapanmu barusan? Apa kau peduli saat istrimu membutuhkan? Tidak, kan? Justru kau lebih banyak bercengkrama dengan selingkuhanmu itu!" Zion menunjuk Wileen. Walaupun dia tidak tahu siapa sebenarnya selingkuhan mantan menantunya.


"Pa, aku bisa jelaskan!"


"Aku tidak mau penjelasan apa pun sekarang. Aku hanya butuh kepastian darimu bahwa kau tidak akan pernah sekali pun mengganggu kehidupan baru putriku. Kalau sampai kau berani masuk kembali, jangan harap bisnismu bisa berkembang sejauh ini. Aku bisa saja membuatmu jatuh miskin sekarang, tetapi putriku selalu melarangnya. Kau tahu kenapa? Karena dia ingin membuatmu sadar!" tegas Zion.


"Wow, luar biasa, Tuan. Terima kasih karena kebaikan putrimu, calon suamiku masih kaya seperti ini," sahut Wileen.


Tatapan mata Zion beralih pada Wileen.


"Semoga kau bahagia dan tidak mengalami kisah menyedihkan seperti putriku!" pesan Zion sebelum dia meninggalkan keduanya.


"Ck, aku heran. Dia itu mengutuk atau memberikan peringatan?" cibir Wileen.


"Ck, kuharap dia tidak membuktikan ucapannya. Kalau sampai dia melakukan itu dan kau miskin, aku akan meninggalkanmu begitu saja."


"Lalu, kau akan kembali pada mantan suamimu yang sudah tidak mengharapkanmu lagi, hah?"


Will benar. Wileen tidak akan ada kesempatan lagi. Terlebih Clara sudah menutup pintu mansionnya.


Sementara pasangan yang baru saja bertunangan seakan mendapatkan kebahagiaan berlimpah. Selain buket bunga dan cincin pertunangan, Olivette menerima satu set perhiasan yang dihadiahkan dari Clara. Tidak hanya itu, Tuan Hamlet juga memberikan satu set khusus untuk hadiah pertunangannya.


"Tuan, ini sangat berlebihan sekali," ucap Olivette saat menerima satu kotak perhiasan.


"Tidak berlebihan, Nyonya Olivette. Itu cocok untuk wanita yang cantik dan luar biasa," puji Hamlet.


"Terima saja, Sayang. Tuan Hamlet juga akan mendesain perhiasan untuk pernikahanmu nanti," sahut Clara.

__ADS_1


"Ini sangat luar biasa, Mama. Terima kasih, Tuan Hamlet. Semoga Anda menikmati acaranya," ucap Olivette.


"Kau benar, Sayang. Aku harap juga begitu. Silakan nikmati pestanya," sahut Ethan.


Mereka menikmati pesta pertunangan itu dengan santai. Beberapa para tamu undangan mengucapkan selamat dan menunggu kapan pengumuman pernikahan mereka akan digelar.


Clara sebenarnya menginginkan pernikahan digelar seminggu lagi, tetapi karena pihak catatan sipil belum bisa mengabulkan secepat itu, maka terpaksa harus diundur sampai hari kesepuluh.


Jadi, 10 hari lagi pernikahan akan digelar. Lebih cepat dari jadwal semula. Banyak orang yang begitu bahagia, tetapi rupanya Wileen menginginkan hal yang sama seperti Olivette.


"Will, aku mau kita menikah di tanggal yang sama seperti Ethan. Mau atau tidak, kau tidak bisa mundur lagi. Kehamilanku cepat atau lambat pasti akan membesar. Aku tidak mau anakku lahir tanpa seorang papa," jelas Wileen tanpa mempedulikan perasaan Will.


"Aku belum bisa, Wileen. Aku banyak pekerjaan. Lupakan mimpimu untuk menikah denganku!" tegas Will.


Will memang dilema. Wileen terus saja memintanya untuk menikah. Dia takut kalau Wileen tidak bisa seperti Olivette yang selalu menjadi istri terbaiknya selama ini.


"Kau mau menikah di tanggal yang sama, atau aku akan meminta Tuan siapa itu, papanya Olivette untuk memiskinkan dirimu!" ancam Wileen.


"Ya, ya, baiklah. Kita akan menikah di tanggal yang sama dengan Olivette. Kau puas?"


"Belum, Will. Berikan aku perhiasan mewah seperti yang Ethan berikan pada Olivette. Selain itu, kau juga harus menyiapkan gaun pernikahan terbaik agar aku tidak kalah dengan Olivette!"


Permintaan Wileen sangat banyak sekali sehingga membuat Will pusing. Jalan satu-satunya, Will harus meminta Paul untuk mengurus segalanya. Tidak hanya rencana pernikahan saja, tetapi seluruh keperluan Wileen.


"Aku akan meminta Paul mengurus segalanya. Apa kau puas?"


"Aku tidak mau! Paul bukan calon suamiku. Aku hanya mau kau yang mengurus segalanya!"


"Wileen, aku bekerja! Aku tidak bisa melakukan semua itu dalam waktu singkat. Jangan gila, atau aku—"


"Membatalkan rencana sama saja memintaku untuk mendekati pria itu dan mengatakan segalanya bahwa aku dijebak oleh pria sepertimu. Kau yang memulai perselingkuhan ini dan sekarang kau tidak mau bertanggung jawab?"


Keributan ini tidak akan pernah usai jika Will terus saja mendebatnya. Terpaksa Will mengiyakan semua permintaan Wileen walaupun itu sangat rumit.


...🌾🌾🌾...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya yang Emak rekomendasikan. Ceritanya gak kalah keren. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️



__ADS_2