
Babak belur. Itulah yang terjadi pada Ethan. Bella merasa bersalah saat tahu tuannya berujung keributan dengan tamu tak terduga.
"Tuan, apa perlu dibawa ke rumah sakit? Wajah Anda memar dan berdarah juga," ucap Bella.
Ethan tertawa. "Kau pikir aku kenapa, Bella? Aku baik-baik saja."
Bella khawatir kalau sampai Olivette tahu. Semua itu memang ulah Bella tanpa unsur ketidaksengajaan.
"Kalau Nyonya tahu, bagaimana? Apa dia tidak akan marah padaku?"
Ketakutan Bella jelas tanpa alasan. Yang ribut siapa, yang khawatir siapa. Ethan merasa lucu sekali.
"Jangan berlebihan, Bella! Ini pertama kalinya aku mengeluarkan otot untuk ribut dengan pria tidak tahu diri itu."
"Memangnya apa yang Anda ributkan, Tuan?"
"Ah, kau tidak akan percaya ini, Bella." Ethan mengelap darah di sudut bibirnya menggunakan tisu. "Dia masih mengusik kehamilan istriku dan berniat mengakuisisi anak dalam kandungannya itu. Aneh, bukan? Kemarin-kemarin ke mana saja saat istrinya dikhianati?"
Bella bukannya ketakutan, dia malah tersenyum. Rupanya bukan hanya istri bosnya yang terdahulu. Bahkan, bayi yang belum lahir juga ingin dimiliki oleh pria itu.
"Serakahnya luar biasa, Tuan. Makhluk itu terbuat dari apa? Kenapa bisa sampai seperti itu? Apakah ada sistem syarafnya yang gagal terhubung? Ah, rasanya aku pun kesal mendengar penuturan Anda, Tuan. Harusnya tadi aku ada di sini," jelas Bella.
Ethan memandang lekat wajah Bella. "Kau mau apa?"
"Aku bantu menghajar pria brengsek itu, Tuan. Biar dia sadar diri apa yang salah dalam dirinya."
"Lupakan saja, Bella. Dia hanya cemburu. Wajar kalau cemburu seperti itu. Saat dia tidak bisa menggapai apa yang dimiliki oleh orang lain, maka hatinya akan terus menyuruhnya melakukan tindakan di luar nalar. Ya, seperti yang dilakukan hari ini. Beruntung aku masih bisa mengendalikan diri. Jika tidak, salah satu dari kami pasti akan mati. Kau tahu apa yang kurasakan saat adu jotos dengannya?"
Bella menggeleng. Terkadang pemikiran Bella dan Ethan tidak sejalan. Sebenarnya Bella bisa bekerja sama dengan Ethan karena jalan pikirannya yang berbeda, tetapi keduanya selalu bisa menemukan solusinya.
"Aku merasa lucu saja. Harus meladeni orang yang sedang kalap. Hanya itu. Aku merasa seperti menjadi orang yang tidak berguna." Ethan kemudian tertawa.
Benar saja. Selain kehilangan waktu, Ethan juga merasa kalau kebahagiaannya saat ini menjadi pusat perhatian Will dan Wileen. Rasanya lelah sekali, tetapi harus dijalani dengan baik.
Sore hari, Ethan kembali ke mansion. Walaupun tidak ada bekas darah, tetap saja memar tidak bisa ditutupi. Kecuali dia menggunakan foundation. Sayangnya, Ethan tidak menggunakan barang-barang seperti itu. Ketampanannya asli diberikan dari Tuhan.
"Ethan, baru pulang?" sapa Clara yang bertemu di ruang tamu.
__ADS_1
Clara berniat pergi ke luar negeri selama beberapa hari. Lebih tepatnya sebelum Olivette memutuskan akan melakukan gender reveal party atau tidak.
"Mama sudah rapi. Mau ke mana?"
"Maaf, aku lupa memberitahukan padamu. Mama ada urusan sebentar. Kau tahu sendirilah kalau teman sosialita mama mengajak liburan. Jadi, mama harus berangkat sekarang." Fokus Clara pada beberapa koper dan tas yang akan dibawanya.
Saat dirinya berniat memberikan kecupan sampai jumpa lagi, mata Clara memindai sesuatu. Mengapa harus kecupan sampai jumpa lagi? Karena itu adalah salam perpisahan yang akan bertemu lagi. Bukan untuk selamanya, tetapi hanya sementara. Clara tidak suka mengatakan selamat tinggal. Mata Clara terpusat pada wajah Ethan yang memar.
"Wajahmu kenapa?" tanya Clara.
"Oh, ini hanya kecelakaan kecil, Mama. Oh ya, Mama hati-hati di jalan. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa kabari Ethan jika sampai di sana. Oh ya, mengapa Olivette tidak ikut mengantar Mama ke depan?"
"Biarkan dia istirahat. Mama tidak ingin mengganggunya."
Beruntung sekali Clara memperlakukan Olivette dengan sangat baik. Ethan tidak perlu khawatir lagian saat dirinya berada di kantor. Selepas kepergian mamanya menuju ke bandara, Ethan menuju ke kamarnya.
Olivette sedang berbaring di sana. Dia tidak memejamkan mata, melainkan menatap kedatangan suaminya tanpa melakukan apa pun.
"Kau lelah, Sayang?" tanya Olivette.
Olivette bangun dari rebahan. Dia berniat turun dari ranjang, tetapi dicegah suaminya.
"Tetap di situ saja. Aku akan mendekat setelah membersihkan diri."
Ya, Ethan akan mandi lebih dulu. Namun, sepertinya sang istri tidak menginginkan itu.
"Jangan mandi dulu! Aku ingin menghirup aroma tubuhmu sepulang kerja. Rasanya seperti menginginkan sesuatu, Sayang."
Nah, Olivette bertingkah lagi, bukan? Ini jarang terjadi. Baru kali ini Olivette seolah menyukai aroma keringatnya.
"Sayang, rasanya tubuhku lengket sekali," tolak Ethan. Dia sangat tidak percaya diri dekat dengan Olivette dalam keadaan seperti ini.
"Ayolah, Ethan! Ini permintaan baby twin," rengek Olivette.
Selama ini Ethan memang sudah jatuh cinta pada pesona Olivette. Satu hal yang membuat Ethan luluh karena perlakuan Will di masa lalu. Bagi Ethan, Olivette adalah sosok yang sempurna. Namun, bagi Will wanita yang ada di hadapan Ethan ini tidak lebih dari wanita yang tidak bisa memberikan keturunan. Makanya Will tega bermain hati. Sayang, ungkapan cinta Ethan sampai saat ini belum berbalas. Hanya sebatas hubungan timbal balik sebagai suami istri.
"Boleh aku bertanya sesuatu sebagai syarat permintaanmu ini?" tanya Ethan.
__ADS_1
"Hemm, bahkan di saat seperti ini kau sangat perhitungan sekali," kesal Olivette.
Ethan duduk di dekat istrinya. Olivette mampu menghirup aroma keringat berpadu dengan parfum yang digunakan suaminya.
"Sebenarnya bukan syarat, Olive. Hanya pengakuan atau sebatas kejujuran yang kuminta darimu."
Perasaan Olivette semakin tidak menentu. Sepertinya Ethan akan memberikan syarat yang sulit untuk dipenuhi.
"Hemm, katakan!"
"Apakah kau mencintaiku?"
Hening. Tatapan mata Olivette beradu. Memar itu terlihat sangat jelas.
"Kenapa wajahmu babak belur seperti itu, Ethan? Siapa yang melakukannya?"
Setahu Olivette, suaminya tidak memiliki rival. Rekan bisnis dan teman-temannya banyak yang baik, kecuali Yuval. Pria mata keranjang yang selalu membuat Ethan mendidih. Apa kabar dengan pria itu? Apakah masih betah menduda atau sudah berganti status?
"Jawab pertanyaanku!" tuntut Ethan.
Cinta? Selama ini Olivette belum merasakan getaran hebat di jantungnya. Hatinya pun belum terlalu dalam mengukir nama Ethan. Sejauh ini, masih tersisa nama Will di sana. Namun, Olivette sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha mencintai suaminya sepenuh hati. Status cintanya saat ini sedang diusahakan.
"Aku belum mencintaimu, Ethan. Aku sedang berjuang keras untuk mengukir namamu di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Apakah pengakuanku ini tidak akan membuatmu memberikan apa yang kuminta?"
Ethan sudah menduga. Dia sudah berusaha sekeras mungkin untuk membuat Olivette jatuh cinta. Nyatanya itu sangat sulit sekali.
"Ya, itu bukan masalah. Namun, apakah nama Will masih terpatri di dalam hatimu?"
Cobaan apalagi ini? Di saat Olivette sedang berjuang mengukir nama suaminya, Ethan terus saja mengingatkannya pada Will. Entah, ini rasa benci atau muak. Tiba-tiba Olivette enggan mendengar namanya lagi.
"Kalau kau ingin aku belajar mencintaimu seutuhnya, tolong jangan sebut nama itu di hadapanku!"
...🌺🌺🌺...
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren Bestie Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1