
Vincent tertegun. Ini pertama kalinya Ethan mengeluarkan taringnya untuk membela seorang wanita. Terlebih wanita itu adalah istri barunya.
"Cukup, Ethan! Lebih baik kita pulang sekarang," saran Vincent.
Sebelum terjadi keributan besar, Vincent harus segera mengamankan sahabatnya. Namun, Yuval seperti sengaja membuat Ethan semakin marah.
"Maaf, Tuan Ethan. Sungguh aku tidak sengaja, tetapi sejujurnya istri Anda sangat luar biasa."
Yuval tidak bisa menahan mulutnya. Dia sangat tertarik pada Olivette secara keseluruhan.
"Cukup, Tuan!" Grace membentak Yuval. "Ayo, Ethan! Jangan ikuti kegilaan pria gila ini."
Ethan sudah mengepalkan tangannya. Dia mau membawa Olivette menghadiri dinner malam ini karena yakin kalau istrinya itu tidak akan tergoda. Namun, ucapan Yuval yang membuatnya semakin mendidih. Seumur hidup Ethan, baru pertama kalinya berusaha mati-matian membela pasangannya.
"Cukup, Sayang! Sebaiknya kita pulang sekarang," bisik Olivette.
Sedari tadi bukannya Olivette tidak ingin berbicara, hanya saja dia benar-benar geram pada tingkah konyol tuan rumahnya. Ethan sendiri langsung setuju meninggalkan kediaman Yuval.
Sayangnya Yuval tidak terima. Beberapa rekan bisnisnya terlihat mundur dan malas sekali masuk ke dalam perdebatan dan kegilaan Yuval. Setelah Ethan melangkah beberapa langkah, Yuval menyusulnya kemudian menarik mundur Ethan.
Ethan terkejut. Yuval tiba-tiba melayangkan tinjunya. Sontak para tamu wanita langsung histeris. Vincent lekas melerai, tetapi agaknya kedua pria itu sudah dikuasai amarah masing-masing.
Sementara Will yang baru menyadari ada keributan, dia pun ikut maju.
"Will, kau mau ke mana?" tanya Wileen.
"Ada keributan di sana!" Will menunjuk ke arah kerumunan.
Saat Will tahu bahwa Ethan dan Yuval terlibat baku hantam, Will mencoba melerai.
"Vincent, kenapa kau diam saja?" tanya Will geram.
"Biarkan saja! Lagi pula keduanya sedang dikuasai amarah masing-masing." Vincent tetap tenang. Lagi pula itu bukan sepenuhnya salah Ethan. Hanya saja melihat Ethan babak belur seperti itu membuatnya kasihan.
Will mencoba maju, tetapi sepertinya Vincent benar. Keduanya sama-sama kuat dan tidak mau mengalah. Sementara Olivette, dia tidak rela suaminya diperlakukan seperti itu.
"Stop!" teriak Olivette menggema ke seluruh ruangan.
__ADS_1
Suara musik telah berhenti dan orang-orang sedang membicarakan kegilaan Yuval yang tidak pernah berhenti. Sementara beberapa lagi mengelukan Ethan karena pria itu hanya membela diri dan kehormatan istrinya.
Yuval dan Ethan menghentikan perkelahiannya. Olivette mendekati suaminya kemudian menghapus noda darah yang sempat mengalir di sudut bibirnya.
Hal itu semakin membuat tingkat kecemburuan Yuval meningkat. Rasa kesalnya semakin memuncak. Namun, saat ingin melanjutkan perkelahiannya, tiba-tiba Olivette memandangnya.
"Tuan, tidakkah kau malu dengan sikapmu seperti ini? Kurasa Anda cukup paham betul dunia bisnis dan kaum sosialita kelas atas. Sikap Anda hari ini sama sekali tidak mencerminkan sikap sebagai pria yang baik dan santun. Justru itu menjatuhkan harga diri Anda sendiri!" tegas Olivette.
Tidak hanya Yuval yang semakin sakit hati pada pembelaan Olivette terhadap Ethan, tetapi juga Will. Olivette banyak berubah saat bersama Ethan. Dia semakin bersinar dan menawan. Rasanya irama jantung kedua pria yang patah hati dan cemburu itu terus berdetak kencang.
"Maafkan aku, Nyonya. Aku merasa kesal pada sikap suami Anda," ungkap Yuval.
Olivette semakin geram karena Yuval terus saja menyalahkan suaminya.
"Maaf, Tuan. Anda yang seharusnya bisa berpikir secara nalar. Aku wanita bersuami. Tidak sepantasnya Anda menggodaku atau mencari kesempatan untuk bisa menyentuhku. Semakin Anda nekad, aku semakin tidak respek terhadap Anda! Ayo, Sayang! Kita pulang sekarang," ajak Olivette pada suaminya.
"Tuan Yuval, sebaiknya Anda perbaiki citra diri sebelum bertemu kami lagi," pungkas Vincent.
Mereka pun akhirnya keluar dari ruangan itu menuju ke tempat parkir. Di sana, Olivette sangat khawatir.
"Apa kau yakin akan pulang ke mansion malam ini? Bagaimana kalau mama bertanya tentang lukamu itu? Apa yang akan kukatakan?" Kekhawatiran Olivette beralasan.
"Ethan! Tolong jangan buat aku khawatir seperti ini!" protes Olivette.
Vincent dan Grace memandangi mereka dari jauh. Vincent tersenyum puas memandangi wajah lebam Ethan.
"Sayang, kenapa kau tersenyum begitu? Harusnya kau hajar saja Yuval brengsek itu!" keluh Grace.
"Sayang, kau tidak paham sesuatu. Harga diriku jatuh kalau main keroyokan. Sementara Ethan, dia meladeni Yuval hanya ingin menunjukkan kepada Olivette bahwa dia peduli. Sedangkan Olivette sendiri terlihat khawatir. Lalu, mengapa aku ikut campur dalam drama kehidupan mereka?"
Grace tidak memahami dengan detail yang diucapkan suaminya.
"Aku tidak mengerti, Sayang."
"Anggap saja itu kesempatan emas Ethan untuk menguji perhatian dan cinta istrinya. Lambat laun Olivette akan menyadari bahwa dia harus membalas Ethan dengan cintanya."
Grace tidak paham cara pikir para pria itu. Kembali pada Ethan dan Olivette yang kini sedang saling pandang.
__ADS_1
"Kau terlihat khawatir sekali. Aku baik-baik saja. Wajar kalau pria berkelahi seperti tadi. Kalau aku tidak merespon, bisa-bisa Yuval menertawakan aku." Ethan mencari pembenaran.
"Jangan lagi bertingkah seperti itu! Aku tidak suka. Aku merasa sedih melihat kesakitan di wajahmu, Ethan. Ini baru pertama kalinya aku sangat khawatir padamu."
"Terima kasih, Sayang. Drama ini berhasil juga rupanya," canda Ethan yang mencoba memecah kekalutan wajah istrinya.
"Apa maksudmu drama? Apa ini kesengajaanmu untuk memainkan drama bersama Tuan Yuval di hadapanku?" geram Olivette.
"Bukan seperti itu, Sayang. Kalau ini hanya drama, aku tidak mungkin terluka seperti ini. Amarah Yuval sangat jelas, tetapi aku patut berterima kasih padanya. Gara-gara dia, istriku semakin perhatian padaku."
"Ethan!"
"Sayang! Percayalah, aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Jadi, kau mau kita pergi berbulan madu ke mana?"
Ethan sengaja memberikan tawaran demikian karena ingin fokus membuat pikiran Olivette tenang. Setelah itu dia yakin akan memiliki anak dari wanita yang paling cantik dan luar biasa itu.
Olivette terdiam. Sebagai sosialita kelas atas, ada satu impiannya yang belum pernah terwujud sampai saat ini. Mungkin permintaannya agak terlalu aneh, tetapi kenyataannya dia ingin sekali.
"Ethan, aku takut ini akan menggangu pekerjaanmu. Permintaanku sederhana, tetapi memerlukan waktu yang lumayan lama."
"Katakanlah! Jangan buat aku menyesal tidak bisa mewujudkan apa yang kau inginkan."
"Kapal pesiar, Ethan. Aku ingin berbulan madu dengan menggunakan kapal pesiar."
Ethan tidak menyangka. Bahkan bulan madu pun tetap berkelas. Respon Ethan sangat luar biasa.
"Oke, kita akan pergi. Aku akan mengajak Vincent dan Grace agar kau tidak kesepian. Bagaimana?"
Orang yang dibicarakan berada tidak jauh dari tempatnya saat ini. Ethan melambaikan tangannya memanggil keduanya.
"Ada apa, Ethan?" tanya Vincent.
"Siapkan diri kalian. Kita akan pergi berbulan madu menggunakan kapal pesiar," ucap Ethan.
"Benarkah?" Grace sangat histeris. Selama ini dia menginginkannya, tetapi Vincent selalu menolak dengan kesibukan pekerjaannya. Kalau sudah seperti ini, Vincent mana berani menolak perintah sahabat dekatnya.
...🍒🍒🍒...
__ADS_1
Sambil menunggu persiapan Ethan jalan-jalan menggunakan Kapal Pesiar, yuk mampir dulu ke rekomendasi keren dari karya teman Emak. Thank you ❤️