Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 43. Meminta Kamar Utama


__ADS_3

Melupakan kisah indah dan romantis sepasang pengantin baru. Clara sedang bersiap untuk pergi ke hotel tempat besannya menginap. Setelah pesta pernikahan usai, seharusnya mereka kembali ke negara asalnya.


"Siapkan mobil! Antarkan aku ke hotel X," perintah Clara pada sopir pribadinya.


Sebelumnya, Clara sudah mendapatkan pesan kalau Ethan akan membawa istrinya pulang ke mansion. Seperti yang dilakukan Will, Ethan pun menyiapkan kamar yang baru. Bukan kamar lama yang berisi kenangan pernikahannya bersama Wileen. Itulah sebabnya Clara harus keluar hari ini.


Setelah pertemuannya dengan orang tua Olivette usai. Nantinya Clara akan mampir untuk berbelanja kebutuhan yang akan digunakan untuk menghias kamar baru putranya.


"Ah, akhirnya kau sampai juga, Clara," sapa Sophia.


"Tentu saja. Hari ini aku juga akan mengantarkan kalian pergi ke bandara," balasnya.


"Terima kasih. Kami sudah memesan mobil hotel untuk mengantarnya. Jadi, jangan khawatir, Nyonya," sahut Zion.


"Panggil Clara saja, Tuan Zion. Kurasa kita seumuran," canda Clara.


Zion tersenyum. Jika dulu putrinya hanya tinggal dengan suaminya saja, maka berbeda dengan suami keduanya. Putrinya akan tinggal bersama ibu mertua yang menurutnya sangat baik.


"Anda bisa saja membuatku tersenyum. Oh ya, kuharap setelah ini putriku lekas bisa hamil, Clara. Aku sudah sangat menginginkan cucu. Sukur-sukur bisa kembar dua atau tiga. Pasalnya Olivette memiliki gen kembar," jelas Zion.


Harapan yang sama dengan Clara. Tujuannya menikahkan putranya dengan Olivette memang seperti itu. Namun, Clara merasa bersyukur karena Olivette merupakan wanita dari bibit unggul.


Zion menolak diantarkan oleh Clara ke bandara. Clara akhirnya memilih undur diri untuk pergi berbelanja.


"Kalau kalian tidak mau kuantar ke bandara, aku langsung pamit. Siang ini kemungkinan Ethan dan Olivette akan pulang ke mansion. Aku harus memberikan penyambutan luar biasa untuk menantu kesayanganku itu," jelas Clara dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Terima kasih, Clara. Aku titip Olivette. Tegur kalau dia melakukan kesalahan," pesan Sophia.


"Tentu. Dia juga sudah menjadi putriku sekarang."


Setelah berpelukan dengan Sophia, Clara segera keluar dari kawasan restoran hotel. Dia langsung masuk ke mobil kemudian menuju ke toko bunga. Dia akan membeli beberapa bunga yang sudah dipesan oleh Ethan.


Selain membeli bunga, Clara pun menyiapkan beberapa make up merek terkenal dan paling mahal. Itu untuk dihadiahkan kepada menantunya.


Sekembalinya dari belanja, Clara meminta para maid untuk mendekorasi kamar baru Ethan. Beberapa Maid tampak heran kepada Clara.


"Maaf, Nyonya. Mengapa kita tidak menghias kamar Tuan Ethan?"

__ADS_1


"Oh, itu kamar lamanya. Mulai hari ini, dia dan istrinya akan menempati kamar ini. Putraku akan membuat kebahagiaan baru di kamar yang baru. Kamar lama hanya akan dibersihkan setiap hari, tetapi Ethan tidak akan lagi tinggal di sana. Nanti, kalian bisa memindahkan barang-barang yang biasa dipakai putraku ke kamar ini, ya!"


"Baik, Nyonya."


Menurut desas-desus mengenai istri baru tuannya, para Maid harus bersyukur. Wanita itu sangat baik dan begitu royal. Jauh berbeda dengan mantan istri tuannya yang pelit dan terkadang suka memerintah tanpa kejelasan.


Ethan sendiri saat ini sedang menikmati kebersamaan dengan istrinya. Seusai sarapan pagi, keduanya kembali lagi ke kamar. Ethan rasanya betah sekali berada di sana bersama Olivette. Terlebih istrinya sudah menjadi candunya sekarang.


"Ethan, apa kau akan terus mengurungku di kamar ini?" tanya Olivette.


"Tentu. Sampai kau hamil," jawabnya yakin.


"Bagaimana kalau aku—"


"Ssstt!" Ethan menutup bibir istrinya dengan satu jemari tangannya. "Jangan berkata seperti itu. Kita usahakan selama satu bulan ini dengan hubungan intens, tetapi berjeda. Jadi, tidak setiap hari kita akan melakukannya. Jika selama satu bulan belum ada perkembangan, kita akan pergi ke dokter untuk melakukan program kehamilan."


Olivette pun menurut saja. Bisa dibilang Ethan adalah pria yang sangat pengertian.


"Oh, ya. Satu lagi! Ingat, jangan setres. Aku tidak suka kalau kau sedang memikirkan sesuatu, tetapi tidak mau membagi keluh kesahnya padaku."


Setres? Apakah selama 6 tahun pernikahannya dengan sang mantan Olivette merasakan dirinya tidak bahagia? Atau, justru tanpa disadari banyak tekanan yang membuat Olivette tidak kunjung hamil.


"Hemm, wanita cerdas!"


Clara mengirimkan pesan pada Ethan dan meminta putranya lekas pulang. Semua persiapan untuk penyambutan selesai. Ethan menerima pesan itu kemudian tersenyum semringah. Jika hari ini Ethan berhasil mengurung Olivette di dalam kamar, maka di mansion saat Ethan libur bekerja akan mengurungnya seharian di dalam kamarnya.


"Sayang, kau sudah berkemas?" tanya Ethan.


"Sudah. Hanya beberapa saja yang belum masuk ke dalam koper."


"Hemm, lekas bereskan! Kita akan pulang sekarang," jelas Ethan. Dia berdiri untuk membantu istrinya berkemas. Setelah dirasa tidak ada yang ketinggalan, mereka pun pergi ke resepsionis untuk melakukan check out.


Memasukkan koper adalah tugas Ethan. Ethan juga melarang istrinya untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil karena dia akan membukakan pintunya.


"Terima kasih," ucap Olivette setelah dirinya duduk di bangku penumpang.


"Sudah siap? Kita akan pulang ke mansion. Di sanalah kehidupan baru benar-benar dimulai. Apa pun yang mengganjal di benakmu, jangan simpan sendiri. Ingat!"

__ADS_1


Ethan terus saja mengingatkan istrinya. Rasanya seperti remaja belasan tahun yang baru saja mengenal cinta. Ethan sangat perhatian sekali pada Olivette. Mulai dari hal kecil hingga semua yang dibutuhkan istrinya.


Walaupun bukan pertama kalinya ke mansion suaminya, saat tiba di sana rasanya asing sekali. Para Maid menyambutnya dengan ramah. Begitu pun mama mertuanya, Clara.


"Selamat datang, Nyonya. Semoga Anda selalu berbahagia," ucap salah satu Maid.


"Terima kasih," jawab Olivette ramah.


"Wah, kalian akhirnya sampai juga di sini. Selamat datang anggota keluarga baru. Semoga kau betah di mansion suamimu," sahut Clara.


"Terima kasih, Ma. Tentu saja Olive betah."


Ethan merasa setelah ini akan kalah dengan mamanya. Sudah bisa ditebak bahwa ketika Ethan pergi ke kantor, maka penguasa yang sesungguhnya adalah Clara.


"Sebentar lagi kau harus siap diajak mama ke mana pun pergi. Ya, kau tahulah kalau sesama wanita sudah bertemu. Maka mereka pasti sudah bisa dipastikan klik untuk sekadar belanja atau pergi ke salon," jelas Ethan.


"Itu tidak masalah, Sayang. Asalkan kau mengizinkanku," jawab Olivette lembut.


Sungguh, Ethan merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bergegas dia mengajak istrinya ke kamar yang akan mereka tempati.


"Ini kamar kita. Semoga kau menyukainya. Mama yang menyiapkan segalanya," ucap Ethan setelah membuka pintunya.


Ruangan besar dengan ranjang king size, bunga mawar merah yang menghiasi ranjang, make up lengkap di atas meja rias, dan beberapa keindahan lainnya yang ada di kamar itu. Sungguh, mata Olivette dimanjakan dengan banyak hal.


"Ini bukan kamar lama Anda, bukan?" Satu pertanyaan lolos dari mulut Olivette kemudian membuat Ethan langsung gugup.


Sebenarnya dia bisa saja memberikan kamar lamanya pada istrinya, tetapi Ethan ingin membuat sebuah hubungan baru dan kenangan baru.


"Aku tidak bisa memberikan kamar bekas Wileen, Olive. Bagiku, kau adalah wanita yang berhak mendapatkan semuanya serba baru."


"Kalau aku tidak masalah, bagaimana? Itu kamar utama yang selama ini menjadi tempat yang nyaman, bukan? Lalu, mengapa harus ke kamar baru, jika kamar utama bisa kita ubah? Bukankah di sana hanya akan ada aku dan kau, Sayang?"


Rasanya Ethan tidak percaya. Kamar yang selama ini ditempati dengan Wileen adalah kebanggaannya. Kamar itu pun yang paling luas dan segala inspirasinya ada di sana. Entah, diam-diam Ethan merasa jika Olivette bisa mengerti dirinya.


"Baiklah. Kita akan tinggal di kamar utama," tegas Ethan.


...🌾🌾🌾...

__ADS_1


Sambil menunggu update, hayuk mampir ke karya teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️🥰🙏



__ADS_2