
Mobil yang dikendarai Paul akhirnya sampai juga di mansion bosnya. Ya, keputusan Will untuk keluar dari pesta pernikahan itu adalah keputusan tepat. Sepanjang jalan menuju mansion, ponselnya terus saja berbunyi. Beruntung karena Will menggunakan mode silent kali ini. Jika tidak, maka siap-siap gendang telinganya akan pecah akibat omelan istrinya.
"Terima kasih, Paul. Sebentar lagi mansion ini pasti akan meledak."
"Kenapa, Tuan? Apa ada bom di dalamnya?" tanya Paul.
"Ya, bomnya itu istriku," sahut Will asal.
"Anda pasti cemburu dan menyesal, bukan? Tidak ada yang mampu menandingi kesabaran Nyonya Olivette."
Paul terus saja mengunggulkan mantan istri bosnya yang kini sudah dimiliki pria lain. Semakin sering Paul membicarakan Olivette, otak kotor Will terus saja menyusun strategi buruk. Dia benar-benar menginginkan mantan istrinya kembali dan menceraikan Wileen.
"Kenapa kau terus saja menyebut namanya, Paul?"
"Agar Anda sadar, Tuan. Bahwa hanya wanita pertama yang memiliki Anda lah yang bisa mengerti dan memahami sepenuhnya kehidupan Anda. Kalau yang kedua ... aku ragu. Terlebih Nyonya Wileen tipikal wanita agresif. Yah, Anda jelas lebih paham ketimbang aku, Tuan."
Bukannya menyesal, Will malah tersenyum mendengar ucapan Paul. Itu artinya tidak ada yang bisa memahami Ethan seperti Wileen memahami mantan suaminya itu.
"Kenapa Anda malah tersenyum, Tuan? Apa argumentasiku salah?"
"Tidak, Paul. Justru aku berterima kasih padamu. Ya, kupikir sama halnya dengan Olivette yang tidak akan mampu memahami Ethan sebaik dia memahami aku, bukan?"
Kini, Paul malah menertawakan bosnya. Rupanya Will salah tangkap dengan apa yang dimaksud oleh Paul.
"Kurasa Anda salah paham mengenai hal ini, Tuan."
"Apa maksudmu?"
"Begini, Tuan. Jika Nyonya Olivette mampu memahami Anda dengan baik, justru dengan kegagalan pernikahannya dengan Anda akan menjadi batu loncatan lebih baik lagi. Maksudku, pemahaman Nyonya Olivette mengenai suaminya sekarang akan jauh lebih baik ketimbang pemahamannya terhadap Anda. Itu karena bagaimana dari cara Tuan Ethan memperlakukan Nyonya Olivette, maka Nyonya akan memberikan timbal balik yang sepantasnya."
Will terdiam. Pemahamannya mengenai hal ini malah lebih dikuasai Paul yang notabene belum menikah. Seakan Paul bisa membaca semua pikiran tuannya.
"Baiklah. Kalau begitu aku turun dulu. Sekali lagi, terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, Tuan."
Will tidak tahu jika Wileen sejak tadi mengamatinya dari ruang tamu. Saat tahu mobil Paul masuk, Wileen segera turun dari kamarnya. Dia bersiap untuk memaki suaminya yang diam-diam datang ke pernikahan mantan suaminya.
Saat pintu ruang tamu terbuka, sontak tepukan tangan menyambut kedatangan Will. Dia terkejut saat tahu Wileen sudah berada di sana.
"Kau di sini?"
"Justru aku yang harusnya bertanya padamu. Dari mana saja? Ini malam pernikahan kita. Kau pergi dan menghadiri pernikahan mantan istrimu itu, bukan? Oh, atau kau berniat merebutnya kembali dari tangan mantan suamiku?" cecar Wileen.
Semua ucapan istrinya benar, tetapi ada yang mengganjal di benaknya. Benarkah rasa ingin memiliki kembali Olivette begitu tinggi?
"Jika itu benar, kenapa? Apa kau cemburu kalau aku ingin memiliki Olivette lagi?"
"Will, jaga ucapanmu! Harusnya kau beruntung ketimbang mendapatkan istri sepertinya yang tidak kunjung bisa hamil. Ayo, kita bertaruh! Jika sampai dia bisa hamil, kau bebas mau berbuat apa padaku!" kesal Wileen.
Bukannya memberikan kebahagiaan, ini malah mengajak untuk terus berdebat. Hingga akhirnya Will memilih masuk ke kamarnya sendiri dan membiarkan Wileen berada di luar. Wileen terus saja menggedor kamar suaminya tanpa mau menyerah. Olivette sudah menghancurkan kebahagiaannya malam ini.
"Awas kau, Olive! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" geram Wileen.
Seusai pesta dansa yang begitu menggemaskan, terjadi percakapan ambigu antara pasangan pengantin baru.
"Diam-diam kau pandai sekali berdansa. Apa ini dansa pertamamu denganku?" tanya Ethan.
"Tidak. Aku memang suka menari, tetapi orang tidak tahu kebiasaanku saja," ungkap Olivette.
"Wah, benarkah? Kapan-kapan aku ingin melihatmu menari. Tarian apa yang kau kuasai?"
"Aku menyukai pole dance. Hanya saja Will tidak pernah memberi kesempatan kepadaku," ungkapnya.
Ini sangat menarik. Olivette sangat cantik dan menyukai pole dance. Ethan semakin tidak sabar untuk melihat istrinya menari indah di depan matanya.
"Lupakan Will! Aku akan memberikan semua yang kau inginkan. Termasuk pole dance. Aku mengizinkannya, tetapi dengan syarat kau harus selalu menari di hadapanku. Bagaimana?"
__ADS_1
Sebenarnya Olivette ingin menyetujuinya, tetapi menggunakan gaun seksi di mata Ethan, bisa-bisa membuatnya malu.
"Hei, apa kalian akan terus berbincang? Sementara para tamu undangan menunggu kalian untuk melemparkan buket mawar itu," tegur Clara.
"Tunggu, Ma! Aku harus memakaikan kembali sepatu istriku," ucap Ethan santai.
"Ethan, lekaslah! Ini sudah malam. Mama dan mertuamu juga harus segera pulang," tegur Clara sekali lagi.
"Ethan, lebih baik tidak usah dipakai. Nanti aku akan memakainya sendiri," tolak Olivette.
"Sayang, gaunmu terlalu lebar. Akan sangat sulit kalau kau memasangnya sendiri."
Tingkah Ethan menjadi pusat perhatian semua orang. Terlebih mertuanya yang merasa bahwa Ethan adalah orang yang tepat untuk mewarisi semua kekayaan yang dimiliki Zion untuk putrinya. Namun, itu tidak akan diberikan sekarang. Zion harus menunggu sampai Olivette memiliki anak dari pernikahannya yang sekarang.
"Kau lihat kan, Pa? Menantumu itu sangat menyayangi Olivette."
"Kau benar, Ma. Ternyata pria itu begitu perhatian. Kadang, aku merasa bersalah saat mengingat Olivia. Andaikan dia masih hidup, mungkin ceritanya akan berbeda. Aku tidak akan sanggup membuat kedua anak kembarku itu merengek apalagi memilih pria yang sama," ungkap Zion.
Maksud Zion di sini adalah saat melihat cara Ethan membahagiakan Olivette, rasanya Zion ingin memperlakukan anak kembarnya yang lain dengan hal yang sama. Tuhan berkehendak lain dengan mengambil salah satu putrinya. Jika tidak, Zion akan semakin merasa bersalah saat melihat Olivette dibahagiakan suaminya.
"Olivia pasti bahagia di dalam diri Olivette, Pa. Dukung saja anak kita. Setelah Olivette melahirkan, maka kau bisa menentukan keputusanmu selanjutnya," ungkap Sophia.
Saat sepasang pengantin siap untuk melepaskan buket bunganya, saat itu juga Clara meminta orang tua Olivette untuk bersiap meninggalkan tempat acara.
"Maaf, sebentar lagi acara usai. Mari kita pergi sekarang!" ajak Clara.
"Ayo, Pa! Biarkan mereka melanjutkan pestanya," ucap Sophia.
Olivette dan Ethan mengangkat tinggi-tinggi buket mawar merah itu. Saat bersiap melemparnya ke belakang, para tamu undangan ikut menghitung dan memperkirakan jatuhnya.
"Satu, dua, tiga!"
Saat buket bunga itu entah melayang ke mana, Ethan pun mengucapkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Olivette merinding.
__ADS_1
"Malam ini aku ingin mendapatkan kebahagiaan darimu," bisik Ethan.