Gerbang Perselingkuhan

Gerbang Perselingkuhan
Bab 38. Rencana Honeymoon


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Will mengantarkan Wileen terlebih dahulu untuk mengambil beberapa barangnya. Selain itu, Wileen juga harus mengganti gaunnya dengan baju biasa.


Ini kebahagiaan dan kesempatannya masuk ke mansion suaminya untuk menjadi nyonya besar di sana. Rasanya sudah tidak sabar untuk menikmati kemewahan tersebut.


"Will, semuanya sudah masuk. Tidak ada lagi yang ketinggalan. Oh ya, apakah para Maid di mansionmu orangnya baik-baik?" tanya Wileen.


"Mereka baik tergantung sikapmu. Kalau kau baik, mereka juga baik," jawab Will.


"Ck, kau sepertinya meremehkanku, Will. Aku ini orang baik. Mana mungkin mereka tidak bisa bersikap baik kepadaku?"


Perbedaan sikap yang sangat jauh sekali antara Wileen dan Olivette. Sudah bisa dipastikan bahwa Wileen tidak akan senyaman mantan istrinya.


Saat sampai di sana, para maid memang keluar menyambut tuannya. Namun, mereka terkejut saat tahu bahwa tuannya sudah membawa wanita lain, bukan mantan istrinya.


"Selamat datang, Tuan!" sapa Maid.


Wileen merasa diabaikan. Dia tidak peduli. Yang dipedulikan hanya tinggal di mansion bak seorang ratu. Terlebih saat tinggal di mansion mantan suaminya, Wileen kalah dengan Clara.


"Bawakan beberapa koper ini ke dalam kamar di sudut ruangan!" perintah Will.


Kamar yang dimaksud adalah kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar utama, yaitu bekas kamar Will dan Olivette. Dia tidak mau memasukkan Wileen ke kamar penuh kenangan dengan mantan istrinya.


"Will, ini bukan kamar utama. Kenapa bukan di kamar itu?" Wileen menunjuk kamar utama saat mereka sudah berada di lantai atas mansion.


"Itu hanya untuk Olivette, bukan untukmu!" tegas Will.


Wileen jelas cemburu. Dia membanting tas yang saat ini sedang dibawanya. Harusnya kamar itu menjadi miliknya sekarang. Namun, Will malah tidak memberikannya.


"Kenapa kau membanting tas seperti itu? Aku tidak mau anak yang kau kandung memiliki kelakuan yang sama!" tegur Will.


"Will, aku istrimu! Harusnya kamar itu menjadi kamarku sekarang. Aku tidak mau tidur di kamar yang itu!" Wileen menunjuk kamar yang sebentar lagi akan ditempatinya.


"Wileen, ini mansionku. Jangan jadikan Istri sebagai alasan agar kau bisa menentukan sendiri kamarmu. Aku yang berkuasa di sini."


Rasanya sakit sekali. Will seperti menjadi pribadi yang lain. Berubah total. Tidak sama seperti saat menjadi kekasihnya.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan Wileen, para maid memasukkan koper tersebut ke dalam kamar yang ditolak Wileen. Setelah semua koper itu masuk ke sana, terpaksa Wileen pun masuk. Sayang, suaminya yang dianggap bisa memberikan kebahagiaan itu nyatanya malah membiarkannya sendiri di dalam kamar itu.


Salah satu maid masuk mengantarkan minuman seperti permintaan tuannya. Selain itu, maid tersebut membawakan makanan ringan dan beberapa makanan berat lainnya.


"Kenapa dibawa ke sini? Nanti aku bisa turun dan memintanya padamu," ucap Wileen.


"Tuan Will yang memintanya, Nyonya."


"Hemm, baguslah. Oh ya, perkenalkan namaku Wileen. Aku yang akan menggantikan mantan istri Will. Aku adalah istri barunya Will."


Perkenalan pertama membuat maid tersebut terlihat tidak nyaman. Tatapannya pada Wileen sangatlah berbeda. Seperti wanita sombong dan berbeda dengan Olivette yang anggun dan merakyat.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Wileen.


"Ah, maaf, Nyonya. Aku pamit dulu, ya! Kalau Anda membutuhkan sesuatu, bisa panggil salah satu dari kami," jelas Maid tersebut.


"Ya, ya. Pergilah! Oh ya, tolong panggilkan tuanmu sekarang!"


"Baik, Nyonya."


Berbeda di lain tempat, yaitu di sebuah hotel ternama. Ethan dan istrinya baru saja sampai di sana. Ethan khusus membukakan pintu untuk istrinya. Padahal sopir pun ada, tetapi dia ingin memberikan pelayanan yang baik untuk Olivette.


Selain membuka pintu, Ethan juga menggandeng mesra tangan istrinya. Beberapa pasang mata sempat memandang pasangan sempurna yang baru saja masuk. Cantik dan tampan.


"Terima kasih," ucap Olivette saat mereka baru saja sampai di kamar presiden suit.


"Untuk apa? Aku suamimu sekarang. Sudah sewajarnya memberikan perhatian lebih padamu. Oh ya, lebih baik kau beristirahat saja. Nanti malam agar lebih segar dan tidak lelah. Tamu undangan akan banyak yang hadir malam ini."


"Terima kasih." Lagi-lagi Olivette hanya mengucapkan kata itu sehingga membuat Ethan sangat gemas sekali.


"Sayang, apakah kau akan terus bersikap formal seperti ini? Kita seperti pasangan atasan dan bawahan, bukan seperti suami istri. Tolong panggil aku dengan sebutan Sayang, Honey, atau apa pun asalkan bisa terdengar romantis!"


Budak cinta pertama adalah Ethan. Dia sudah tertarik sejak pertemuan pertama kalinya. Namun, saat Ethan sadar bahwa mereka masih memiliki pasangan masing-masing, Ethan mencoba memupuskan harapan. Ternyata Tuhan berkehendak lain dan mempertemukannya lagi pada malam itu. Malam di mana Clara mengundang para wanita sosialita.


"Iya, Sa-yang. Maaf, aku masih merasa kaku untuk mengucapkannya."

__ADS_1


"Tidak masalah, Istriku. Aku senang kau memanggilku demikian."


Olivette mengangguk. Sangat berbeda saat bersama Will. Dia bisa menyebut mantan suaminya itu dengan sangat mudah. Terlebih dia itu pria pertama yang berhasil memikat hati Olivette.


Olivette pikir setelah berucap demikian semuanya akan berakhir. Nyatanya dia salah. Masih ada yang perlu dilakukan olehnya atas permintaan Ethan.


"Oh ya, ada aturan yang harus kau patuhi jika sedang bersamaku. Selalu panggil Sayang dan bersikaplah layaknya seorang istri. Layani suamimu sebagaimana mestinya. Kalau kau ragu harus berbuat apa, kau bisa bertanya padaku. Bisakah kau melakukan itu, Sayangku?"


"Baik, Sayangku."


Olivette tampak sudah lancar memanggil suaminya. Ini harus selalu dibiasakan. Entah, sampai kapan menjadi wanita asing tiba-tiba menikah dengan mantan suami selingkuhan suaminya.


Ethan sengaja meninggalkan Olivette sendirian di kamar agar dia bisa beristirahat. Dia meminta Bella untuk datang ke hotel hanya untuk membicarakan bisnis. Beberapa hari ke depan, Ethan berencana mengajak istrinya berbulan madu.


Saat ini Ethan sudah berada di restoran hotel. Dia memesan makanan untuknya dan mengirimkan makanan untuk istrinya. Dia sengaja melakukan itu agar Olivette benar-benar nyaman sebelum membuatnya hilang kendali.


"Selamat siang, Tuan," sapa Bella.


"Ah, akhirnya kau datang juga."


Bella meletakkan beberapa berkas. Dia juga menatap wajah tuannya sangat intens sekali untuk melihat perbedaannya.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Ethan.


"Ck, wajar aku memandangi pengantin baru. Harusnya siang ini Anda manfaatkan sebaik mungkin untuk melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan."


"Apa maksudmu? Kau mengajariku untuk berbuat apa?"


Bella tidak mau melanjutkan ucapannya. Pasti Ethan akan semakin kesal dan gemas padanya.


"Tidak, Tuan. Kurasa Anda paham maksudku. Yang seperti normalnya sepasang pengantin baru."


Ah, lagi-lagi Bella harus menutup mulutnya karena tidak bisa menjaga diri menggoda bosnya.


"Aku tahu. Makanya aku memintamu datang kemari. Aku akan mengajaknya berbulan madu selama beberapa hari. Aku titip perusahaan padamu."

__ADS_1


Nah, Ethan akhirnya paham juga maksud Bella. Ya, walaupun sama-sama dewasa, Ethan adalah tipikal pria yang baik dan tidak pernah bersikap kurang ajar kepada karyawan atau para wanita mana pun.


__ADS_2