GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 36~


__ADS_3

~SAYA AKAN LANGSUNG MENIKAHI KAMU SAAT INI JUGA. KAMU MAU 'KAN?


###


Sorenya, Amara mendapatkan kabar dari mami jika mereka sudah tiba di Singapura kemarin dengan selamat. Dan, meminta maaf jika tidak langsung memberi kabar. Kemudian, mami bertanya perihal ponsel Galang yang tidak bisa dihubungi sejak pagi. Amara sempat bingung harus menjawab apa lantaran dia tidak mau jika mami merasa khawatir.


Namun, Galang menyuruhnya untuk berkata apa adanya. Tidak perlu menutup-nutupi perihal kondisinya. Toh, mami juga sudah tahu riwayat penyakit putra bungsunya itu. Jadi, mami tidak akan terlalu syok, justru yang ada beliau mengomel tiada henti.


Lalu, mami meminta Amara untuk menjaga dan merawat Galang selagi beliau tidak ada di Jakarta.


"Mami titip Galang, ya, Ra. Cuma kamu yang bisa mami percayakan. Dia udah sendiri sekarang, jadi enggak ada yang merhatiin. Eh, mami lupa, kalo dulu sama sekarang enggak ada bedanya. Punya istri kayak enggak punya istri," ujar mami Sarah dari seberang sana yang justru malah menyinggung mantan menantunya.


Amara cuma mendengarkan dalam diam tanpa mau berkomentar, dia hanya takut salah bicara jika membahas soal itu. Tentang permintaan mami yang memintanya untuk merawat Galang, sepertinya dia harus memikirkannya lagi. Jika dia harus menjaga Galang itu artinya dia harus mengundur kepergiannya dari rumah itu. Sementara saat ini sikap Galang benar-benar telah berubah dari sebelumnya.


Sejak dia menyatakan perasaannya, calon duda itu menjelma menjadi seorang yang sangat posesif. Amara sampai canggung dibuatnya, apalagi setelah adegan cium kening. Mengingatnya saja Amara masih merasa sangat malu.


Lihatlah, saat ini saja Galang terus menatapnya dengan tatapan lain dari yang biasanya. Untuk sekadar pindah duduk saja, dia tidak mengizinkan Amara. Galang menahan gadis itu untuk tetap duduk di sampingnya.


"Kamu enggak usah khawatir, Ra. Galang sama Vanila udah cerai, jadi enggak akan ada yang akan nyalahin kamu atau nuduh kamu lagi. Mami harap, kamu segera memberikan jawaban secepatnya," ujar mami, menyambung perkataannya yang sempat terjeda sesaat. Terdengar kekehan setelahnya.


Sontak Amara mengarahkan pandangannya pada Galang dan lelaki itu mengedikkan dagu lantas bertanya,


"Kenapa?"


Memutar bola matanya disertai helaan panjang, hanya itu reaksi yang ditunjukkan oleh Amara. Sementara dalam hatinya berkali-kali menggerutu seraya menggelengkan kepala.


'Bisa-bisanya Pak Galang ngasih tahu Nyonya Sarah.' Batinnya menyeru tak habis pikir dengan lelaki di depannya ini. Tidakkah dia berpikir jika saat ini dirinya seperti tengah dikuliti?


'Ra, Amara. Kok, diem?' Mami memanggil Amara sebab gadis itu sejak tadi tak membalas ucapannya.


Memalingkan wajah, Amara menyahut gugup, "I-iya, Nyonya." Sudut matanya melirik sekilas Galang yang tersenyum ke arahnya sembari membatin,


'Hish! Orang ini kenapa berubah jadi gini, sih? Kenapa juga dia mesti ngomong ke maminya?'

__ADS_1


"Kamu denger 'kan apa yang saya bilang tadi?"


"Denger, Nyonya." Amara masih melirik sinis ke arah Galang. Mau tidak mau dia harus melakukan apa yang diinginkan mami.


"Kamu pasti kaget, kenapa saya bisa tahu?" Mami masih ingin membahas perihal hubungan putranya dengan Amara. Beliau jelas terkejut saat Galang mengatakan padanya soal ketertarikannya terhadap Amara. Namun, keterkejutan itu tak berlangsung lama, mami justru mendukung putranya untuk mendekati Amara.


Dan, karena desakan mami pula, Galang mengambil langkah cepat. Katanya, pamali menunda-nunda hal baik. Itu yang dikatakan mami sebelum dia berangkat ke Singapura.


Amara meringis kecil disertai menggigit bibirnya sendiri, antara malu dan canggung. "Sedikit, Nyonya."


Dari seberang sana terdengar suara kekehan lagi. Mami sepertinya senang menggoda calon mantu barunya.


"Jangan panggil nyonya. Panggil saja mami. Kan sebentar lagi kamu jadi menantu saya."


"Hah?" Amara membuka mulutnya lebar-lebar, kemudian menelan ludah. "Sa-saya enggak bisa, Nyonya," tolaknya halus. Mana bisa dia tahu-tahu memanggil mami Sarah dengan sebutan Mami.


"Bisa. Harus bisa. Kamu harus terbiasa mulai dari sekarang. Ya udah, mami tutup dulu teleponnya. Mami mau lanjut jalan-jalan dulu sama Kasih."


"Ba-baik, Nyo— eh, Ma-mi," sahut Amara dengan terbata. "Titip salam buat Kasih." Rindunya semakin bertambah.


Obrolan pun berhenti, Amara menyimpan ponselnya di dalam tas kembali.


Galang yang sejak tadi menyimak lantas bertanya, "Kenapa? Mami ngomong apa sama kamu?" Matanya mengamati perubahan raut wajah Amara.


"Enggak ngomong apa-apa." Amara menyahuti seraya merubah posisinya jadi menyamping. Dia menatap lamat-lamat lelaki yang juga sedang menatapnya. "Bapak mau saya bersikap bagaimana?"


Kedua alis Galang terangkat bersamaan, dia terlalu kaget dengan pertanyaan Amara. Lantas, segera merubah ekspresi keterkejutannya menjadi seringai lebar.


"Bersikap seperti apa yang hati kamu inginkan. Saya enggak akan maksa. Kamu juga udah dewasa, Amara. Kita sama-sama dewasa dan sudah saling mengenal," ujar lelaki bermanik cokelat itu. Dia tidak mau membatasi Amara.


Amara menggeleng cepat lantas menyahut, "Belum. Kita belum mengenal sepenuhnya." menjeda sejenak kemudian menghela panjang. "Bapak memang sudah berpengalaman, tapi kalau saya? Saya belum punya pengalaman apa pun soal menjalin hubungan dengan seorang pria. Kalau dikatakan baik, Pak Galang memang sangat baik, itu enggak usah diragukan lagi. Lalu, Pak Galang menikahi istri Bapak juga enggak sebentar, tapi ujung-ujungnya bercerai juga. Padahal Bapak sangat mencintai istri Bapak. Saya benar 'kan?"


Galang mengangguk, dia masih mencerna semua perkataan Amara barusan.

__ADS_1


"Yang saya enggak habis pikir, kenapa tiba-tiba Bapak suka sama saya? Padahal kita belum genap tiga bulan kenal," ujar Amara lagi. "Saya cuma takut, Bapak cuma jadiin saya pelarian, karena masalah rumah tangga yang sedang Bapak hadapi." Dari nada bicaranya Amara terdengar merasa cemas.


Galang menggeleng cepat lantas segera menampik asumsi Amara yang tidak masuk akal. "Bukan! Bukan seperti itu, Amara. Saya enggak se-brengsek itu, sampai-sampai jadiin kamu tempat pelarian." Entah kenapa Galang merasa kesal sendiri dengan pemikiran Amara. "Saya juga enggak tahu kapan saya mulai jatuh cinta sama kamu. Tapi yang jelas, dada saya selalu berdebar ketika melihat kamu. Memang sedikit aneh, tapi itulah yang saya rasakan saat ini."


Amara bisa melihat dengan jelas ada ketulusan dari setiap kata-kata yang diucapkan Galang. Akan tetapi, dia masih perlu meyakinkan diri bahwa perasaan atasannya itu memanglah tulus. Bukankah itu hal yang wajar? Mengingat ini adalah yang pertama bagi Amara.


"Amara, maaf kalau saya terlalu memaksakan kehendak saya," ujar Galang lantas menggenggam tangan gadis yang masih betah terdiam itu.


Helaan panjang berembus lagi dari hidung Amara. Sejak tadi dia sudah berpikir mantap dengan langkah apa yang harus dia ambil. Dia tidak mau mengambil resiko atau pun membiarkan orang lain berpikiran buruk tentangnya. Memang saat ini di hatinya belum ada rasa cinta, tetapi Amara yakin lambat laun perasaan itu akan muncul dengan sendirinya. Tentu saja jika lelaki di hadapannya ini terus mau berusaha.


"Tadi mami Anda menyuruh saya untuk menjaga dan merawat Anda. Itu artinya saya harus tinggal di rumah Anda. Padahal niat saya mau ijin pulang. Tapi, setelah saya pikir-pikir saya juga harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Anda. Karena itu saya mengurungkan niat saya yang mau pulang. Tapi ... saya jadi kepikiran."


"Apa?"


"Apakah baik kita tinggal satu atap sedangkan kita belum ada ikatan. Sementara saya tahu di luaran sana pasti akan ada gosip miring lagi tentang Anda. Saya—" Kepala Amara menunduk setelahnya.


Tinggal satu rumah dengan Galang sepertinya bukanlah ide yang bagus. Dulu tidak masalah sebab ada mami dan papi, tetapi sekarang?


Galang berusaha memahami apa yang menjadi kecemasan gadis ini. Sebagai laki-laki normal dia juga tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka tinggal dalam satu atap. Mungkin, ini kesempatan baginya untuk meyakinkan Amara bahwa perasaannya tidak main-main atau sekedar pelarian.


"Amara." Galang menyentuh dagu Amara lalu mengangkatnya perlahan. "Saya mengerti dengan kecemasan yang saat ini kamu pikirkan. Jika kamu mau kita ... bisa ...." Mulutnya terasa ragu untuk melanjutkan.


Lantas, setelah menjeda ucapannya, Galang memberanikan diri untuk melanjutkannya lagi.


"Saya ... akan menikahi kamu saat ini juga. Bagaimana? Kamu ... mau 'kan? Jadi, kamu enggak usah cemas lagi mikirin omongan orang di luaran sana. Hem?"


"Tapi, Pak. Kenapa Anda bisa langsung tahu apa yang saya pikirkan? Saya 'kan belum ngomong apa-apa?"


Galang terkekeh dan mencubit gemas hidung Amara. Perkataannya memang se-polos wajahnya. Tentu saja dia bisa langsung menebak apa yang dipikirkan gadis ini.


Haruskah dia berterima kasih kepada sang mami yang secara tidak langsung sudah membantunya?


###

__ADS_1


Yuk doa yuk semoga Amara langsung mau dinikahin sama calon duda satu ini, wkwkwk 🤣🤣🤣


__ADS_2