
~KAMU CEMBURU?
####
Mobil yang dikendarai Galang, berhenti tepat di depan pelataran parkir sebuah Hotel yang lokasinya agak jauh dari rumah. Lelaki itu sengaja ingin menghabiskan waktunya bersama Amara di Hotel lantaran api cemburu di dadanya kian berkobar. Panas dan semakin membara di dalam sana seiring hasratnya yang kembali tersulut sebab belum tertuntaskan sepenuhnya.
Sementara Amara melongo tak percaya, dia nyaris tak bisa berkata-kata saat Galang membuka sabuk pengaman yang melingkar di pinggangnya. Sorot mata suaminya seolah memancarkan sesuatu yang mengerikan. Kabut gairah dan cemburu bersatu padu di manik kecokelatannya.
"Mas, k-kamu enggak apa-apa'kan? K-kamu nakutin." Amara berucap terbata-bata, memindai raut wajah Galang yang datar tanpa ekspresi sama sekali. Lelaki itu kini menatapnya intens, membuat jantung Amara semakin berdebar tak keruan.
Bisa dilihat dengan jelas, gurat-gurat kekesalan di wajahnya yang terpahat dengan sempurna. Aura ketampanan suaminya justru semakin terpancar dalam keadaan marah seperti ini.
"Ayo turun," pinta Galang, suaranya terdengar berat dan khas. Dia turun terlebih dulu meninggalkan Amara yang tak bergeming. "Ayo." Amara terperanjat ketika pintu mobil terbuka, dan Galang melongokkan kepala.
"I-iya." Amara menyambut uluran tangan suaminya, lalu turun dari mobil.
Begitu turun, Galang langsung menggandeng tangan Amara dengan posesif. Menuntun istrinya berjalan bersisian menuju pintu masuk Hotel. Sedangkan Amara berupaya menetralkan raut gugup, sesekali dia tersenyum kikuk kepada dua pelayan Hotel yang berdiri menyambut kedatangan tamu.
Langkah mereka berhenti tepat di resepsionis. Setelah berbasa-basi agak lama, sang resepsionis tersebut menyerahkan kartu akses kepada Galang.
"Terima kasih." Galang mengulas senyum ramah, kemudian menuntun Amara meninggalkan bagian resepsionis itu. "Ayo, Ra."
Keduanya berjalan bersisian menyusuri lorong Hotel menuju lift, lantas segera masuk saat pintu besi itu terbuka. Sudut mata Amara melirik Galang yang menekan tombol angka 14. Di dalam lift Galang sama sekali tak berbicara. Dia menelan ludah seraya menatap bayangan tubuh tegap tinggi suaminya dari ruangan berjalan itu.
'Mas Galang sebenernya kenapa, sih?' Kok, aku jadi takut.'
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka.
"Ayo, Ra." Galang menuntun Amara keluar dari sana. Keduanya berjalan bersisian lagi hingga tiba di depan pintu kamar bernomor 125. Dengan satu tangan, Galang membuka akses pintu kamar sementara tangannya yang lain masih menggenggam tangan Amara.
__ADS_1
"Masuklah." Amara mengangguk setelah Galang mempersilakan dirinya terlebih dulu untuk masuk.
Kamar yang luas, megah dan mewah langsung memanjakan mata Amara. Seketika perempuan berambut panjang itu terpukau.
"Mas, kamarnya bagus banget. Lebih bagus dari yang kemaren," ucapnya seraya melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada. Fasilitas di dalamnya juga sangat lengkap.
"Kamu suka?" Galang tersenyum, memandangi istrinya yang nampak menyukai pilihannya kali ini. Sengaja memilih kamar dengan fasilitas lengkap agar Amara merasa lebih nyaman.
Menoleh sekilas lantas menyahut, "Suka, Mas." Senyuman manis tersungging di bibirnya yang ranum. Rasa gugup seketika itu juga enyah entah ke mana.
"Syukurlah, kalau kamu suka." Galang melepas jas yang sedari tadi menutupi tubuh gagahnya, melemparnya ke sembarang arah, lalu membuka kancing lengan kemejanya, menariknya hingga sebatas siku, seraya berjalan menghampiri istrinya.
Tubuh Amara sontak menegang, kala tangan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
"Mas. Kamu bikin aku kaget," ucapnya dengan napas putus-putus sebab kini suaminya tengah menyingkap rambut panjangnya ke sisi bahu, mendaratkan kecupan-kecupan basah hingga membuat tubuhnya semakin meremang. Geli bercampur dengan hasrat yang perlahan mulai tersulut.
Napas keduanya memburu, mengisi kekosongan di ruangan luas itu. Galang tak bisa mengendalikan diri jika bersentuhan dengan Amara. Aroma Lily yang menguar dari leher jenjang istrinya selalu mampu membangkitkan gairahnya.
"Mas. A-aku gerah." Amara ingin menghindar, tetapi Galang tak mengizinkannya bergerak sedikit pun. "Mas, geli." Dia menggeliat, bahkan nyaris menggelinjang saat bibir suaminya dengan nakal menghisap hamparan kulitnya yang mulus, hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana.
"Kamu tahu, Ra. Kalau saya tadi cemburu waktu liat kamu di sentuh laki-laki lain," ucap Galang mulai mengutarakan perasaannya yang sejak tadi bercokol dan hampir membuatnya gila. Namun, tangannya tak henti bergerak menelusuri setiap lekukan tubuh Amara. Pinggang, perut, lalu merambat ke dada sintal yang membusung indah.
Terkejut mendengar pengakuan Galang, Amara yang tengah menikmati sentuhan-sentuhan itu nyaris tak percaya. "Mas cemburu? Mas cemburu sama Mas Akmal?" tanyanya, lalu mendesis nikmat saat telapak tangan Galang meremat dadanya. "Ssshh ..."
"Saya enggak suka kamu sebut nama pria lain dengan sebutan Mas," kata Galang, yang kemudian memutar tubuh Amara perlahan agar menghadapnya.
Tatapan keduanya beradu, kabut gairah terpancar dari sorot masing-masing. Galang menatap intens Amara yang wajahnya kini kemerahan menahan hasrat. Kepalanya menunduk, lalu menyentuh dagu Amara, mengangkatnya sedikit.
"Kamu denger 'kan? Apa yang tadi saya bilang."
__ADS_1
"Denger, Mas. Aku denger. Maaf ...." Amara mengerjap lambat seraya memindai wajah Galang yang hanya berjarak satu senti dari wajahnya. Napas hangat menerpa kulit pipi dan bibirnya.
"Bagus." Galang menyeringai penuh arti, kemudian mengecup sekilas bibir ranum nan merekah itu. "Kamu enggak perlu minta maaf. Cukup kamu ingat-ingat saja perkataan saya. Di sini, rasanya panas dan nyeri waktu saya lihat kamu di sentuh laki-laki lain." Telunjuknya menunjuk dadanya sendiri.
Amara cuma mengangguk pelan. "I-iya, Mas." Suaminya sangat menakutkan jika sedang cemburu seperti ini. Namun, dia juga merasa sangat senang sebab dicintai begitu besarnya oleh lelaki ini.
Menyentuh kepala Amara, lalu mengecup keningnya sangat dalam. Galang tak bermaksud menakut-nakuti istrinya yang polos, tetapi jika dibiarkan bisa-bisa laki-laki itu besar kepala dan salah mengartikan sikap Amara.
"Saya bukannya marah sama kamu, Ra. Saya cuma enggak suka aja sama sikapnya yang pegang-pegang kamu seenaknya," jelas Galang supaya istrinya ini tidak berpikir buruk tentangnya.
"Aku ngerti, Mas. Aku juga salah. Seharusnya aku bisa membatasi diri dari laki-laki lain. Maaf, setelah ini aku janji enggak akan terulang lagi." Amara memegang lengan kekar suaminya, lalu berjinjit supaya tingginya sejajar dengan Galang. Entah dapat keberanian dari mana, tiba-tiba dia mendaratkan sebuah kecupan di pipi Galang.
eh?
Galang terhenyak, masih belum percaya jika Amara baru saja mencium pipinya. Dia memandangi wajah ayu itu yang kini menampilkan semburat kemerahan. Malu. Amara tersipu sendiri dengan sikap beraninya. Pesona Galang selalu berhasil membuatnya hilang akal. Tampan, gagah, penyayang, dan romantis. Paket komplit jika diibaratkan sebagai pria idaman jaman sekarang.
"Hei, kamu mulai berani rupanya." Galang mencubit gemas hidung Amara, lalu mengecupnya.
"Mas tahu, waktu tadi aku liat mantan istri Mas peluk-peluk, dada aku rasanya juga sesek terus berdenyut. Kayak ada yang sakit tapi enggak keliatan," cicit Amara yang belum menyadari arti perasaan itu.
"Oh, iya?" Galang tersenyum senang dengan ungkapan Amara. Itu artinya istrinya ini mulai menaruh perasaan kepadanya.
"Hu'umm." Amara mengangguk-angguk lucu, hingga Galang gemas dibuatnya. Wajahnya sangat polos ketika mengutarakan itu semua.
"Kamu tahu enggak itu artinya apa?"
"Apa?" Bola mata jernih Amara menyorot Galang dengan penuh tanya.
"Itu artinya kamu cemburu. Rasa itu tiba-tiba muncul saat kamu liat orang yang kamu suka dideketin orang lain. Hal yang sama yang saya rasain." Galang menarik perlahan-lahan tangan Amara agar mendekat, lalu mulai melingkarkan tangannya di pinggang. "Kamu cemburu liat Vanila meluk saya?"
__ADS_1
###
bersambung....