GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 64~


__ADS_3

~CAPEK, MAS.


###


"Kamu tahu apartemen yang deket enggak sama kantor, Kev?" tanya Galang kepada Kevin yang sibuk menyetir mobil. Mereka baru saja selesai makan siang, lalu melanjutkan perjalanan menuju kantor.


Kevin menoleh sekilas ke samping. "Tahu, Pak."


"Ajak saya ke sana. Saya mau lihat-lihat dulu. Siapa tahu cocok."


"Baik." Kevin lantas membawa mobilnya menuju ke tempat yang hendak direkomendasikan.


Beberapa saat kemudian, setelah tiba di sana Galang dan Kevin bertanya-tanya terlebih dahulu. Melihat-lihat unit yang sekiranya cocok untuk ditempati, dan yang paling bagus tentunya. Gedung bertingkat itu sangat strategis dan dekat dengan arah ke kantor, Galang langsung membeli satu unit saat itu juga, lalu meminta pengelola untuk melengkapi fasilitasnya hari ini juga. Dia akan menempatinya bersama Amara mulai besok siang.


Usai menyelesaikan urusannya, Galang dan Kevin pergi dari sana untuk kembali ke kantor sebentar. Setibanya di kantor, Galang tidak masuk ke dalam melainkan langsung mengambil mobilnya. Hari ini dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang istri.


Di perjalanan, Galang berhenti sebentar di toko bunga, niatnya ingin membelikan Amara bunga Lily favoritnya. Selama ini dia belum pernah membelikan sesuatu yang berkesan untuk perempuan itu, selain mas kawin. Galang juga sudah menyiapkan jatah bulanan untuk Amara berupa kartu no limited supaya sang pujaan hati tak mengalami kesulitan nantinya.


Senyuman tak pernah surut dari bibir pria bertubuh tegap itu, sepanjang dia melewati lorong Hotel menuju kamar yang disewanya. Satu buket bunga Lily ada di tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam paper bag berisikan baju tidur seksi. Galang sempat mampir di toko baju setelah dari toko bunga. Dia membeli tiga potong lingerie dengan model dan warna berbeda.


Mendorong pintu kamarnya perlahan, Galang melongokkan kepala terlebih dahulu. Di dalam tak ada tanda-tanda keberadaan istrinya. Lantas, dia mendorong pintu tersebut lebih lebar, kemudian masuk, lalu menutup pintunya lagi.


"Kok, sepi? Amara mana?" Galang bergumam sendiri seraya menyusuri ruangan luas itu, pandangannya menelisik ke setiap sudut. "Amara. Sayang....?" Galang memanggil nama istrinya yang belum terlihat.


Buket bunga dan paper bag yang dia bawa, diletakkannya ke meja, lalu membuka kancing jas-nya satu persatu sembari menunggu kemunculan Amara yang belum menyahut.


"Amara ke mana, ya?" Galang bermonolog seraya menyampirkan jas di pinggir ranjang. Pikirannya terus tertuju pada Amara yang belum muncul.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba dia berjengit saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Merangkulnya posesif, lalu sesuatu yang keras dan kenyal menempel di punggungnya. Aroma harum menyeruak ke indera penciuman Galang. Wangi dan sangat menggoda.


Bibir Galang menyunggingkan senyuman, lantas berkata, "Amara." Dia memegang tangan mungil itu yang dia hapal betul milik siapa.


Sedangkan Amara tersenyum dengan rona malu tercetak di pipinya. "Mas, kok, baru pulang, sih? Aku nunggu dari tadi enggak dateng-dateng," ucapnya dengan sedikit merengek.


Galang berbalik, dan seketika itu juga memandang Amara yang nampak sangat cantik dengan balutan dress tipis berbahan brokat model sabrina. Istrinya itu terlihat ranum dan menggoda, walau tanpa polesan make up yang tebal. Segala yang ada pada Amara seakan sesuai dengan porsinya. Bentuk mata, hidung, dan bibir. Semua sangat indah.


"Ya ampun, cantiknya istriku," pujinya hingga membuat Amara tersipu. "maaf, nunggu lama. Saya tadi ke suatu tempat dulu." Lantaran tak tahan dengan kecantikan Amara, Galang mencium gemas bibir merekah itu tanpa permisi.


"Mas." Amara mencebik, mencubit lengan suaminya yang nakal. "Katanya tadi langsung pulang dari pengadilan." Dia masih membahas masalah Galang yang pulang terlambat. Bayangkan, dia hampir bosan menunggu di Hotel sendirian. Hari pun hampir menjelang malam.


"Kan, tadi saya udah bilang kalo tadi saya mampir ke suatu tempat dulu. Oh, iya, bentar. Saya ada sesuatu buat kamu." Galang menjauh, mengambil buket bunga yang ada di meja.


Amara memerhatikan suaminya, alisnya menaut. Namun, ketika dia melihat apa yang ada di tangan Galang, sudut bibirnya langsung tertarik ke samping.


"Buat kamu, Ra. Bunga Lily yang cantik untuk perempuan paling cantik." Galang menyodorkan buket bunga tersebut ke Amara, disertai satu kecupan di kening. "suka enggak?"


"Syukurlah kalo kamu suka." Galang mengulas senyum, menempelkan telapak tangannya di pipi Amara, kemudian mengelusnya. "Kamu udah makan?" Dia seakan tak pernah bosan memandangi wajah Amara.


"Tadi udah, Mas. Selesai mandi aku makan. Mas sendiri?" Amara menuntun tangan Galang supaya duduk di pinggir ranjang. Meletakkan buket bunga pemberian dari suaminya ke nakas. Lantas, menyusul duduk di samping Galang.


"Saya belum," sahut Galang yang kemudian meraih tangan Amara, menarik tubuh itu ke pangkuan. Tangannya yang kokoh seketika melingkar di pinggang ramping itu. "tapi saya mau makan kamu sekarang. Boleh, enggak?" Mulai meluncurkan kecupan-kecupan di seluruh wajah Amara yang hanya menggeliat kegelian.


"Mas. Kamu mandi dulu, dong." Amara beringsut mundur, mengindari serangan bibir dari suaminya. Namun, tangan kekar itu justru semakin erat melilitnya.


"Mandinya nanti setelah kita bermain-main sebentar. Ngeliat kamu pakek baju ini saya jadi horny, Ra. Kamu selalu membangkitkan gairah saya. Ini terlalu sayang dilewatkan." Galang meremat dada sebelah kiri Amara, sembari mengulum bibir manis istrinya dengan rakus.

__ADS_1


"Eugh..." Amara melenguh, dia tidak bisa menghindar lagi dari jeratan suaminya ini. Tubuhnya tak pernah menolak bahkan saat ini menginginkan lebih. "Mas...." Dia mendesahkan nama Galang dengan sensual. Lelaki itu terlalu lihai membuatnya kepayang.


Galang mencumbu Amara habis-habisan yang berada di pangkuannya, menyentuh apa saja yang bisa dijangkau oleh tangannya. Meremas pinggul, bongkahan padat yang berada di atas pahanya, lalu menelusup ke balik dress Amara yang tipis. Sesuai dugaan, Amara tak memakai pembungkus dada, karena telapak tangannya langsung bisa meraba benda sintal yang membusung indah dan kencang.


"Mas ...." Amara melenguh sekali lagi, saat Galang memainkan puncak dadanya. Seluruh tubuhnya bak disengat listrik, meremang dan berdesir hangat. Secara naluri, Amara membantu membuka kancing kemeja suaminya satu persatu. Di antara pertahanannya yang kian menipis, lantaran Galang terus menerjangnya dengan cumbuan melenakan.


"Ra...." Suara Galang terdengar seksi, Amara suka ketika namanya disebut dengan suara khas Galang.


Setelah berhasil membuka semua kancing, Amara lantas meloloskannya perlahan-lahan. Matanya tak berkedip sedikit pun ketika dada bidang Galang tersuguh, terpampang jelas. Di bawah sana Amara merasakan sesuatu yang semakin mengeras berada di antara sela-sela pahanya. Milik Galang rupanya sudah sangat siap untuk bermain.


"Mas...."


Galang menarik dress Amara dari bawah, membiarkannya terbuka sampai sebatas dada. Kemudian, dia mengangkat tubuh Amara dengan satu tangan. Lutut perempuan itu bertumpu pada ranjang, sementara tangannya melingkar di leher Galang. Masih saling menikmati bibir masing-masing, tanpa melepas pagutan lembut itu. Galang melepas sabuk, lalu meloloskan celananya dengan sekali tarik.


Keduanya telah sama-sama siap, bergelung dengan peluh tanpa menunggu lama lagi. Kali ini Amaralah yang menuntun permainan dadakan itu, bergerak lincah di pangkuan suaminya. Gairah di waktu menjelang malam tersebut seakan menggiring mereka ke pusaran kenikmatan surgawi. Suara-suara de-sahan dan erangan bersahutan menggema di seluruh ruangan.


"Amara...."


"Mas...."


Galang pasrah berada di bawah kendali Amara yang tak berhenti mengerakkan pinggulnya. Tangannya tak lantas menganggur, memberikan pijatan-pijatan lembut pada dada Amara yang ikut bergerak, terlihat sangat menggoda dan seksi.


Lama keduanya saling mengejar, hingga sesuatu di bawah sana mengetat dan berdenyut. Gelombang kenikmatan itu muncul bersamaan, Amara dan Galang mencapai puncak pelepasan yang begitu dahsyat.


"sshh...." Erangan nikmat lolos dari bibir masing-masing seiring tubuh yang menggelinjang. Amara menjatuhkan kepalanya di pundak Galang, menopangkan dagunya di sana, napasnya terengah. Peluh membasahi seluruh tubuhnya yang setengah telanjang.


"Heuh, capek, Mas."

__ADS_1


####


bersambung...


__ADS_2