
~AKU MILIKMU, MAS.
###
AREA DEWASA, JANGAN BAPER YA GENK'S!đŸ˜‚
***
Suara pintu kamar mandi yang di buka sama sekali tak terdengar olehnya. Lantaran asyik memerhatikan dirinya di depan cermin, Amara sampai tidak menyadari keberadaan Galang yang berdiri di sampingnya.
Galang memerhatikan Amara dalam diam, dia ingin menikmati pemandangan indah ini untuk sementara waktu. Dia pikir Amara tidak akan mengetahui paper bag tersebut, namun, ternyata dia salah menduga. Justru Amara berinisiatif untuk memakainya langsung.
"Ekhm!" Galang berdeham seraya melangkah menghampiri Amara yang kini gelagapan lantaran terkejut.
"M-Mas? Sejak kapan kamu di situ?" Amara bergerak gelisah sembari membuang pandangannya ke arah lain sebab kini suaminya itu hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Dada bidang Galang begitu menggiurkan dan menggoda imannya. Ketampanan Galang berkali-kali lipat dalam keadaan setengah tela-njang seperti itu.
Memiringkan kepala, lalu mengikis jarak antara dia dan Amara, Galang berbisik, "Sejak kamu tersenyum malu-malu di depan cermin." Lantas mencium pipi istrinya yang hanya membeku. Seringai penuh arti tersungging di bibirnya yang menguarkan aroma mint. "Kamu ... sangat cantik, Ra. Lingerie ini sangat cocok dipakai sama kamu." Galang menyentuh dagu Amara, menuntun perempuan itu supaya mau menatapnya.
Cahaya lampu temaram kamar tak mengurangi kecantikan Amara, apalagi saat pipinya bersemu kemerahan seperti sekarang. Galang tergoda ingin mencicipi manisnya bibir mungil berwarna pink milik Amara.
"Apa saya boleh mencicipi ini?" tanyanya seraya mengusap bibir Amara dengan ibu jari. Suaranya terdengar parau, tatapan matanya pun berubah sayu. Pesona Amara dalam sekejap membangkitkan sisi lain dari dalam dirinya.
Amara mengerjap lambat, matanya terpaku pada satu titik juga yaitu bibir Galang yang sangat terlihat seksi.
"K-kenapa Mas bertanya? Bukankah aku sudah menjadi milikmu? Terserah Mas mau berbuat apa." Jangan ditanya kondisi jantung Amara saat ini. Berdebar layaknya habis lari maraton. Jari-jarinya saling menaut satu sama lain. Wangi sabun menggelitik penciumannya, wajah Galang begitu dekat dengan wajahnya. 'Mas Galang kenapa sangat berbeda malam ini?'
__ADS_1
Secara naluri Amara memejamkan mata, seolah dia memberikan izin suaminya yang hendak menciumnya. Sejurus kemudian, Amara merasakan benda kenyal nan hangat menempel di bibirnya, awalnya menempel, lalu perlahan-lahan berubah menjadi pagutan lembut dan melenakan.
"Eugh...." Lenguhan sensual lolos dari bibir Amara yang tengah dinikmati Galang. Lelaki itu sangat pandai membuat Amara kepayang. Tubuh mungil Amara tanpa sadar hendak limbung lantaran Galang semakin menuntut dengan ciumannya.
Terkesan amatir, Galang memaklumi jika ini adalah yang pertama bagi Amara. Perempuan itu sedikit kaku membalas pagutan lembut darinya. Tangan kokoh Galang merayap di pinggang lalu perlahan naik di tengkuk leher Amara. Menekannya sedikit guna memperdalam pagutannya.
Sesuatu di bawah sana telah menegang sejak tadi, Galang tak mau membuang waktu lebih lama lagi. Lalu, tanpa melepas pagutannya, Galang mengangkat tubuh mungil Amara dengan sekali angkat. Jelas Amara memekik dan melepas pagutannya.
"Mas."
"Kamu pasti lelah kalau berdiri terus." Dengan hati-hati Galang merebahkan Amara ke atas ranjang yang di atasnya ada ratusan kelopak bunga mawar merah dan putih. Mengecup bibir Amara yang sedikit membengkak karena ulahnya. "Aku suka ini, Ra. Manis," pujinya seraya mengusapnya dengan ibu jari.
"Kamu beneran udah siap?" tanya Galang lagi. Sekadar memastikan jika Amara benar-benar telah siap menyerahkan diri padanya. Dia telah mengungkung istrinya yang sebentar lagi berada di bawah kendalinya.
Mengangguk pelan, lalu tersenyum. Amara berinisiatif mengalungkan tangannya ke leher Galang yang kini mengungkungnya.
"Hei, kamu berani juga rupanya." Galang mencubit gemas hidung Amara, terkejut dengan kenakalan istrinya barusan. "Mungkin ini akan terasa sakit, Ra. Tapi saya janji akan melakukannya dengan lembut dan membuat kamu melayang ke nirwana." Telapak tangan Galang mulai menelusuri setiap inchi wajah Amara.
"Bawa aku ke tempat itu. Biarkan aku tersesat di sana. Aku percaya kamu, Mas. Kamu enggak akan menyakitiku." Sekali lagi Amara mengecup bibir Galang yang menyeringai penuh arti. Tatapan matanya sayu dan penuh damba. Amara merasa jika hasratnya mulai bangkit dan menuntut sebuah kepuasan. Hanya dengan sentuhan saja dia hampir kehilangan kendali.
"Bersiaplah untuk terbang bersamaku. Malam ini akan menjadi malam panjang bagi kita, Ra." Galang membungkuk, mengecupi seluruh wajah Amara tanpa ada yang terlewat satu pun. Kecupan itu perlahan turun ke leher, lalu berhenti di tulang selangka Amara. Galang menghisap lembut permukaan kulit yang menguarkan aroma Lily favorit Amara hingga kini kulit leher itu berubah kemerahan.
"Eugh...." Lenguhan lolos dari bibir Amara, desiran hangat menjalar ke setiap aliran darahnya. Cumbuan Galang membuat Amara kepayang hingga tak sadar mencengkeram erat punggung polos itu.
Sedetik kemudian, Galang telah menarik turun tali lingerie Amara, lalu meloloskannya sampai kaki. Kini terpampang jelas tubuh mulus istrinya. Galang melempar ke sembarang arah kain tipis segitiga yang tersisa di tubuh Amara.
__ADS_1
"Cantik sekali, Ra," pujinya, lantas menghempaskan handuk yang melilit pinggangnya.
Sontak Amara memejamkan mata. Dia tidak berani menatap sesuatu yang terpampang di depan wajahnya. 'Astaga, apa itu?' Amara membatin takut. Sesuatu yang baru pertama kali dia lihat dan sebentar lagi dia rasakan. Haisshhh....
"Rileks, Ra." Galang yang paham mencoba menghibur, lelaki itu tak bisa menahan tawanya melihat tingkah Amara.
Mengangguk tanpa membuka matanya yang terkatup rapat. "Pelan-pelan, ya, Mas."
"Tenang aja, Ra. Awalnya mungkin memang sakit namun lama kelamaan akan berubah." Galang mulai mengambil posisi yang pas, membawa kedua tangan Amara untuk dia genggam di antara sisi kepala. "Buka mata kamu, Ra. Tatap Saya. Saya mau menatapmu."
Pelan-pelan kelopak mata Amara terbuka, wajah Galang telah berada dekat di wajahnya. Lelaki itu siap memasuki Amara. Namun, sebelum itu dia memberikan sedikit rangsangan kepada Amara. Cumbuan sensual dia berikan di bibir Amara, lalu dengan hati-hati Galang memasuki miliknya pada lembah yang telah basah itu.
"Eugh..." Pekikan Amara tertahan oleh bibir Galang yang tak berhenti menyesapnya. Dia merasakan sakit yang sangat luar biasa, hingga tak terasa meneteskan air mata.
Galang yang tidak tega berhenti sejenak, lalu melepas pagutannya dan kini beralih ke dada Amara yang berukuran cukup besar. Lidahnya bermain-main di puncak dada itu. Mengulum dan menghisapnya seperti bayi yang kehausan.
"Mas, eugh...." Amara melenguh, rasa perih terganti dengan rasa nikmat yang luar biasa. Kemudian dia merasa Galang mulai bergerak lagi, melesakkan miliknya pada inti tubuh Amara yang berdenyut.
"Eugh, sshh....." Amara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat miliknya terasa robek. Milik Galang telah berhasil masuk sempurna di bawah sana, dia pun merasakan sesuatu yang hangat mengalir membasahi miliknya dan milik Galang yang sudah menyatu.
Lantaran berhasil membuat Amara menjadi miliknya, Galang menghentikan hisapannya.
"Maaf, Ra, udah bikin kamu kesakitan," ucapnya seraya menghapus jejak air mata yang mengalir dari sudut mata Amara. Perasaannya campur aduk menjadi satu. "Terima kasih karena telah percaya dan memberikan apa yang kamu punya." Mengecup kening Amara dengan perasaan membuncah. Mulai detik ini Amara telah resmi menjadi miliknya.
###
__ADS_1
bersambung....