
~AMARA & PERASAANNYA YANG MASIH ABU-ABU.
###
Hari ini rencananya, Galang hendak mengajak Amara ke sebuah Butik langganan mami Sarah. Semalam, Galang yang sudah tidak sabar nekad menelepon sang ibu hanya ingin menanyakan di mana dia bisa memesan gaun pengantin dengan waktu yang singkat. Awalnya mami Sarah tidak yakin jika ada Butik yang mau menerima pesanan gaun pengantin secara mendadak. Namun, setelah beliau mencoba bertanya kepada salah satu Butik langganannya ternyata ada yang mau menyanggupi.
Veronica Boutique menjadi pilihan mami Sarah untuk Galang datangi. Di sana Amara bisa bebas memesan gaun model apa saja. Dari yang simpel hingga yang paling bagus juga tersedia.
Sekitar pukul sepuluh pagi Galang telah tiba di rumah Amara. Perempuan itu heran dengan lelaki itu, tanpa memberi kabar terlebih dahulu tiba-tiba muncul di depan pintu.
"Pak, Anda mau ngapain ke rumah saya?" Amara bertanya dengan raut konyol sekaligus sedikit terpana. Penampilan calon suaminya sangat berbeda dari biasanya. 'Apa dia Pak Galang?' Bola mata Amara memindai Galang dari atas sampai bawah tanpa berkedip.
Galang mengulum senyum, dia berhasil membuat perempuan ini terpesona. Tidak sia-sia dia mencoba hal baru yang sama sekali belum pernah dia lakukan. Memakai pakaian kasual pria dan snickers sebagai penunjang penampilannya.
"Ekhm!" Deheman Galang menyentak Amara yang masih betah larut dalam pesona atasan sekaligus calon suaminya ini. "Saya tunggu kamu lima belas menit untuk bersiap-siap. Bisa 'kan?" ucap Galang yang terdengar seperti sedikit memerintah seraya menunjuk arloji mahalnya yang melingkar di tangan.
"A-apa? Me—" Belum sempat Amara meluapkan protesnya Galang terlebih dahulu menginterupsinya lagi.
"Amara, lima belas menit. Oke. Saya tunggu di sini." Dengan santainya Galang duduk di teras rumah Amara sambil memainkan ponsel.
Bibir Amara mencebik, tak hanya penampilannya yang berbeda, tingkah Galang juga terlihat aneh dan tak biasa. Meski bersungut-sungut, tak urung Amara segera kembali masuk, lalu bersiap-siap.
"Aneh." Dia bergumam sendiri sembari melangkah masuk ke kamar.
Lima belas menit berlalu, Amara pun keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah terlihat berbeda. Hari ini dia memakai floral dress berlengan panjang berwarna peach sebatas lutut, dipadukan dengan snickers berwarna putih. Kakinya yang agak pendek terlihat lebih jenjang, ini adalah salah satu trik untuk menutupi kekurangannya yang memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi.
"Pak."
Suara Amara mengalihkan pandangan Galang yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sudah si—" Bibir Galang mendadak kaku ketika Amara sudah berdiri di samping tempatnya duduk. "Kayaknya memang sudah. Kamu kelihatan cantik, Ra," pujinya kemudian sambil mengacungkan jempol ke arah Amara yang tersipu-sipu.
__ADS_1
Lantaran waktu yang sudah terlewat dari yang dijanjikan, Galang bergegas beranjak dan menggandeng tangan Amara. "Kita udah sedikit terlambat, Ra. Ayo." Dia menuntun Amara ke mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Amara kepada Galang yang sedang membukakan pintu mobil untuknya.
"Kita mau ke butik. Masuklah." Galang menyuruh Amara masuk ke mobil, lalu menutupnya kembali. Dengan sedikit tergesa mengitari badan mobil, Galang lalu menyusul masuk dan duduk di bangku kemudi.
"Kita mau ngapain ke butik, Pak?" Amara bertanya begitu Galang sudah siap membawa mobilnya melesat dari rumah. Dia masih belum juga mengerti maksud Galang mengajaknya ke tempat tersebut.
"Kita mau pesan gaun pengantin. Kenapa?" Galang menyahut lalu bertanya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sebab masih berada di gang yang agak sempit dan ramai.
"Gaun?" Kening Amara mengernyit.
"Iya, gaun."
Amara lantas mengangguk paham, dia lalu merubah posisinya menghadap depan. Dari samping seperti ini, Amara terlihat semakin cantik. Sudut mata Galang tak lepas melirik perempuan yang sebentar lagi menjadi istrinya itu. Menurutnya Amara sangat pandai memadupadankan penampilan dan menyesuaikan diri ke tempat yang ingin dia kunjungi.
Mobil Galang telah memasuki area jalan raya yang cukup padat. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, di mana semua orang sedang menghabiskan waktu weekend mereka dengan berlibur atau pun berpergian ke suatu tempat. Kemacetan adalah hal yang paling dibenci olehnya. Galang tidak suka apabila sedang terburu-buru seperti ini malah terjebak macet. Kesal lantaran jalanan yang padat merayap, mulutnya pun tak henti mengumpat. Namun, itu semua tidak akan bisa mengubah keadaan. Meski dia memaki atau mengomel sepanjang hari, rentetan mobil yang mengular juga tidak akan berkurang atau pun menghilang dari pandangannya begitu saja.
***
Akhirnya, mobil Galang memasuki sebuah Butik setelah berhasil bebas dari kemacetan. Memarkirnya di tempat yang seharusnya, Galang dan Amara gegas turun dari mobil.
"Veronica Boutique.' Amara menyebut nama Butik itu dalam hati saat kepalanya mendongak ke atas menatap tulisan yang ada di gedung yang bisa dikatakan cukup mewah untuk ukuran sebuah Butik.
Tahu bila sang calon istri sedang mengamati sekitar, Galang menghampiri lalu menggenggam tangan Amara. "Kenapa?" tanyanya sembari menatap wajah Amara yang begitu polos saat memindai pelataran parkir Butik yang dipadati mobil-mobil bagus.
"Ini ... pasti butik terkenal, saya sering melihat brandnya di sosial media." Amara menyahut tanpa mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk yang dijaga oleh dua sekuriti. Sungguh, dia sama sekali tidak berani bermimpi datang ke tempat mahal seperti ini. Namun, detik ini rasanya dia enggan bangun dari mimpinya jika memang apa yang dia lihat sekarang hanyalah sebuah mimpi.
Tersenyum, itulah yang dilakukan Galang menanggapi Amara yang nampaknya belum percaya jika sedang berada di tempat ini.
"Benarkah? Berarti kamu tahu soal fashion juga?" Galang iseng bertanya demikian lantaran merasa gemas dengan Amara.
__ADS_1
Menggeleng pelan, lalu menyahut, "Enggak. Saya awam dengan dunia fashion. Saya cuma kaget aja, Bapak mengajak saya ke tempat seperti ini. Seumur hidup, saya belum pernah ke sini. Ini pertama kalinya, jadi harap dimaklumi, ya, Pak." Amara meringis polos yang membuat Galang tak bisa lagi menahan tawanya.
"Kamu ini bisa aja. Saya juga baru pertama kali ke sini. Ini juga atas rekomendasi Mami yang nyuruh saya ke sini." Galang masih belum melepas tatapannya kepada Amara yang kini menundukkan pandangannya.
"Saya malu, Pak. Apa baju yang kita pakai cocok untuk masuk ke dalam?" Amara bergerak gelisah sembari menelisik penampilannya yang dia rasa kurang cocok.
"Why? Kita bebas, kok, mau pakai apa aja. Kan kita customer. Penampilan memang penting, tapi yang lebih penting rasa percaya diri. Selagi kamu pergi sama saya jangan pernah minder dan takut. Mulai sekarang jika kamu merasa rendah diri, peganglah tangan saya. Saya siap mendampingi kamu dalam situasi atau kondisi apa pun. Mengerti?"
Amara mengerjap saat Galang mulai menggenggam erat tangannya. Dan, benar saja, rasa ketidakpercayaan diri yang semula hadir perlahan enyah entah ke mana. Berganti dengan perasaan yakin jika laki-laki yang ada di hadapannya ini akan selalu mendampinginya. Ketulusan Galang selalu terpancar dari sorot matanya yang akhir-akhir ini memaksa Amara untuk masuk ke dalamnya dan tersesat di sana.
Galang begitu mudah membuatnya luluh hingga secara tidak sadar Amara mulai membuka hatinya, memberi sedikit celah untuk perasaannya yang masih abu-abu.
"Ra."
"Hem."
"Nanti kalo udah di dalem, jangan panggil saya Bapak, ya?"
"Kenapa?"
"Bukannya saya udah suruh kamu panggil Mas?"
"Hah? Mas?" Amara menelan ludah sembari mengerjap-ngerjap lucu. "Ba-baiklah. M-Mas." Bibirnya yang belum terbiasa sedikit kaku dan tergagap.
Galang tersenyum lantas mengusak puncak kepala Amara. "Good. Kamu memang penurut."
###
bersambung...
__ADS_1