GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 69~


__ADS_3

~CEMBURU YANG KE SEKIAN KALI.


###


Wajah Amara nampak sedikit lesu. Antara sedih bercampur dengan rasa kecewa menjadi satu. Sedih dikarenakan sebentar dia tidak lagi bekerja di kantor ini, lalu kecewa sebab Galang tidak memberi tahunya terlebih dahulu soal calon sekretaris barunya itu.


Andai saja dia bisa mengatakan jika dirinya kurang setuju dengan calon sekretaris baru suaminya, Amara pasti bisa sedikit merasa lebih tenang. Akan tetapi, Amara memilih diam dan tidak berkomentar berlebihan lantaran takut jika Galang menganggapnya terlalu ikut campur dalam urusan yang bukan ranahnya.


Di ruangannya Amara terus saja melamun, bayangan sikap Tania kepada Galang terus saja menggangunya. Fokusnya terbagi, seharusnya dia sudah menyelesaikan laporan tentang jadwal sidang Galang untuk satu bulan ke depan. Ada banyak sekali temu janji dalam list pertemuan dengan klien. Dan, beberapa jam yang lalu Galang sudah memintanya untuk menyalin semuanya ke dalam file baru, lalu menyerahkan berkas tersebut kepada Tania.


Namun, hingga detik ini Amara belum juga mengerjakan tugas yang diberikan oleh suaminya. Harusnya, saat ini dia sudah menyerahkan file itu kepada Tania. Suara pintu yang diketuk memecah lamunan perempuan berusia 27 tahun itu.


Amara terhenyak sesaat, lantas menyeru, "Masuk!"


Lantas, dia mengarahkan pandangannya pada pintu yang didorong dari luar.


"Permisi, boleh saya masuk, Mbak?" Kevin menyembulkan kepalanya lebih dulu, meminta ijin untuk masuk.


"Silakan, Kev."


Kevin pun masuk setelah mendapat ijin dari istri bos-nya itu. Menutup kembali pintu ruangan tersebut, lalu menghampiri meja Amara.


"Duduk, Kev." Amara menyuruh Kevin duduk, dia kemudian mengalihkan tatapannya pada layar laptop yang masih menyala. Sembari mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh asisten suaminya, Amara memilih melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai selama hampir dua jam lamanya.


Kevin segera mengatakan apa yang ingin ditanyakan, tak mau membuang waktu sebab dia harus bertemu dengan klien baru Galang setelah ini.


"Mbak, saya cuma mau nanyain soal file yang berisikan jadwal pertemuan dan sidang Pak Galang selanjutnya. Soalnya, saya mau mencocokkan lebih dulu sebelum diberikan ke Tania. Apa ... udah selesai, Mbak?" Kevin bertanya dengan nada suara lirih dan hati-hati. Dari raut wajah saja, dia sudah bisa menebak jika Amara sedang tidak baik-baik saja.


Gerakan jemari Amara terhenti saat berada di atas keyboard. Melirik sekilas ke arah Kevin dengan helaan panjang. Selesai apanya? Dia bahkan baru saja membukanya.


"Hem ... maaf, Kev. Itu ... saya baru aja buka file-nya. Kemungkinan satu jam lagi selesai. Gimana?" ucap Amara dengan raut bersalah dan tidak enak. Ini adalah kesalahannya yang telah lalai dengan tugas yang diberikan suaminya.


Amara lantas menyandarkan punggungnya, meraup wajahnya berulang-ulang dengan helaan napas lelah. Bagaimana dia bisa melakukan kesalahan ini? Hanya karena seorang gadis yang akan menjadi sekretaris baru suaminya. Amara tak mengerti dengan suasana hatinya sendiri.


Melihat Amara yang bertingkah demikian, Kevin hanya mengulas senyum penuh arti. Selama bekerja sama dengan perempuan ini, Kevin tak pernah sekali pun melihat kesalahan dalam pekerjaan Amara. Namun, kali ini nampaknya ada hal yang menggangu pikirannya sehingga Amara menjadi tidak profesional dalam bekerja.


"Enggak apa-apa, Mbak. Mungkin saya bisa bantu. Biar saya aja yang selesaikan tugas Mbak," ujar Kevin menanggapi sekaligus menawarkan diri.


Amara sontak menatapnya dengan raut tegang. "Eh, jangan! Kerjaan kamu udah banyak, Kev. Biar ini aku yang kerjain," sergahnya yang lantas kembali menyentuh papan keyboard untuk melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Jika Kevin yang menyelesaikan pekerjaannya, nanti apa kata Galang? Bisa-bisa, dia kena teguran dari suaminya. Pekerjaan mudah saja, kenapa dia tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat. Ck!


Semua ini gara-gara Tania!


Kevin terkekeh. "Udah, Mbak ... enggak usah dipaksain kalo enggak fokus, mah. Entar yang ada malah berantakan." Pemuda itu berseloroh, dan langsung mendapat tatapan dari Amara.


"Maksudnya?"


"Ya ... saya tahu Mbak, kalo Mbak Amara pasti lagi kepikiran sesuatu. Keliatan banget dari mukanya. Hehe...." celetuknya dan itu sukses membuat bola mata Amara melebar.


"Eh? Kok, kamu tahu, sih? Kelihatan banget, ya?" Dengan cepat Amara menyambar tas yang ada di atas meja, merogohnya dan mengambil benda berbentuk bulat kecil dari sana. Amara menatap pantulan wajahnya di kaca bedak.


'Keliatan banget ya kalo aku lagi mikirin sesuatu?' Membatin seraya memindai wajahnya sendiri. Dan, Amara hanya melihat kecemasan di wajahnya itu.


"Udah, Mbak," ujar Kevin. "sini, file-nya biar aku bantu kerjain." Kevin berdiri, lalu hendak memutar laptop.


"Enggak usah, Kev! Aku aja." Amara buru-buru mencegah.


"Yakin?" Kevin melepaskan laptop Amara sambil meyakinkan perempuan itu lagi.


"Yakin!" Amara mengangguk cepat meski dia sendiri juga tidak yakin, apa bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan pikiran carut marut seperti ini.


"Mending Mbak ngomong, deh, sama Pak Galang kalo Mbak enggak mau Tania yang gantiin Mbak. Entar saya bisa cariin lagi yang sesuai kriteria Mbak Amara."


'Tunggu! Dari mana Kevin bisa tahu kalo aku lagi mikirin masalah itu?'


"Kamu ... kenapa bisa tahu kalo aku lagi kepikiran itu?" tanya Amara sambil memicing ke arah Kevin. "kamu keturunan cenayang, ya?" tuduhnya menunjuk hidung Kevin.


Kevin tergelak dengan tuduhan asal Amara.


"Bukanlah, Mbak! Mbak ada-ada aja," tampiknya sembari mengibaskan tangan ke depan muka Amara.


Amara meringis, menatap aneh Kevin yang terlihat jarang sekali tersenyum kini justru tertawa lepas. Seakan tebakannya benar adanya, lalu dengan bebas menertawakannya. Ck!


Kemudian, dengan terpaksa dia pun berkata sejujurnya.


"Aku enggak berani, Kev," ucap Amara yang saat itu juga memudarkan tawa Kevin.


"Kenapa enggak berani? Pak Galang'kan suaminya Mbak. Dia baik dan sangat mencintai Mbak Amara. Pak Galang pasti mau mendengarkan omongan Mbak."

__ADS_1


"Aku takut kalo Mas Galang malah enggak suka sama pendapatku," kata Amara lagi yang kini menunduk lesu.


"Ya enggak mungkinlah, Mbak. Dari penglihatan aku selama ini, Pak Galang sangat memperlakukan Mbak dengan baik. Beliau juga sayang banget sama Mbak Amara. Makanya Pak Galang pengen buru-buru cari gantinya Mbak, biar Mbak enggak perlu capek-capek lagi ngurus kerjaannya."


"Tuh 'kan? Apalagi Mas Galang udah mutusin gitu. Terus aku bisa apa?" timpal Amara, dia semakin minder untuk melakukan saran dari Kevin.


"Mbak Amara 'kan belum nyoba? Masa udah nyerah?" Kevin terus memprovokasi Amara.


"Ini juga salah kamu! Kenapa enggak dilihat-lihat dulu orang yang mau ngelamar. Masa ngelamar jadi sekretaris gayanya kaya mau ngelamar jadi SPG? Bajunya ketat, roknya pendek, dandanannya menor! Haisshhh..."


"Ya saya mana tahu, Mbak. Kan dia ngelamar lewat email. Terus baru liat langsung orangnya tadi pagi. Saya juga kaget pas ketemu langsung. Tania bukan kriteria-nya Pak Galang. Beneran! Tadi aja beliau suruh saya buat negur Tania."


"Tegur gimana?" Amara sontak menyondongkan badan ke depan muka Kevin. Dia penasaran dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh pemuda itu.


"Ya ... Pak Galang nyuruh dia mulai besok pakek baju yang sopan dan agak longgar. Kayak Mbak Amara, yang selalu berpenampilan rapi, tapi terlihat elegan dan menarik," jawab Kevin apa adanya. Memang Galang sempat berkata demikian padanya.


Pipi Amara seketika merona. Dia pikir Galang tidak keberatan dengan penampilan Tania yang mencolok itu. Namun, ternyata itu semua tidak benar.


'Kalo gini 'kan aku jadi lebih tenang. Itu artinya Mas Galang enggak akan tertarik sama Tania. Syukurlah...'


"Mbak! Mbak Amara?" panggil Kevin, karena perempuan itu tak bergeming sama sekali.


"I-iya?" Amara tergagap dan segera sadar dari lamunannya. "Apa?" Memandang Kevin yang sudah berdiri menjulang di depan matanya. Dia harus sedikit mendongak.


"Saran aku, lebih baik Mbak ngomong sama beliau. Saya yakin Pak Galang pasti setuju sama saran Mbak. Dari pada Mbak harus nahan cemburu setiap hari, liat Tania deket-deket sama Pak Galang? Mbak enggak mau 'kan?"


"Cemburu? Kenapa mikirnya sampe jauh begitu? Ngarang kamu!" Amara menampiknya, yang jelas-jelas itu semua benar adanya. Hanya saja, dia belum menyadari.


Kevin terkekeh sekali lagi. "Ya ampun, Mbak. Enggak usah malu kali, ngaku cemburu. Itu juga hak Mbak Amara sebagai istrinya," selorohan Kevin hendak ditampik lagi oleh Amara.


"Tap—"


"Udah Mbak. Saran saya itu aja. Saya permisi. Satu jam lagi saya balik ke sini. Mari, Bu Amara ...." Kevin segera berlalu dari ruangan Amara, meninggalkan perempuan itu dengan sejuta pertanyaan di hatinya.


'Cemburu?'


###


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2