GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 63~


__ADS_3

~BERTEMU AKMAL LAGI.


###


"Mas, bangun, Mas." Amara berbisik di telinga Galang seraya mengguncang pelan pundak lebar suaminya. Dia yang baru terbangun sontak terkejut saat mendapati Galang tertidur di sofa dengan memakai jubah mandi. Dua paper bag berukuran cukup besar juga berada di sisi sofa.


Kelopak mata Galang bergerak-gerak, lantas perlahan-lahan terbuka. "Eh, Sayang." Dia menegakkan punggung, kemudian mengerjap-ngerjap lambat guna mengumpulkan kesadaran. Menatap wajah Amara yang berada tepat di depannya dengan pandangan sedikit buram.


"Mas, kok, tidur di sini? Bukannya tidur di tempat tidur," cecar Amara, raut wajahnya nampak cemas. Ada rasa bersalah bersarang di dadanya saat ini sebab tertidur terlebih dulu. Kemudian, tatapannya beralih ke troli yang terdapat beberapa macam makanan. Makan malam yang pastinya sudah dingin.


Mengulum senyum seraya membelai kepala Amara, "Iya, maaf. Tadi saya malah ketiduran di sini, niatnya mau bangunin kamu waktu Kevin dari sini. Eh, malah tahu-tahu ketiduran. Maaf, ya ....?" jawab Galang yang lantas mengecup pipi Amara. "Ini jam berapa, Sayang?"


"Jam sepuluh, Mas." Amara beranjak, berjalan menuju troli. Dia hendak mengecek makanan yang terbengkalai itu. Menu santap malam yang sangat menggugah selera, tetapi sayang sudah dingin. "Mas, makanannya dingin. Gimana, dong? Ini gara-gara aku yang ketiduran," ucapnya lagi, lalu menunduk. Perasaan bersalah kian bertambah.


Tak mau sang istri bersedih dan menyalahkan diri sendiri, Galang gegas beranjak dari duduknya, menghampiri Amara, lalu meraih tangannya.


"Hei, kamu kenapa jadi sedih? Ini bukan kesalahan kamu, Sayang," tampiknya sembari merengkuh tubuh Amara ke dekapan. "Kalo makanannya dingin enggak masalah. Kita bisa pesen lagi yang baru. Gimana, hm?" Galang mengangkat dagu Amara, menelisik bola mata jernih itu yang memerah dan menyiratkan rasa bersalah.


"Jangan, Mas. Mubazir. Aku sih enggak masalah makan ini. Tapi kalo kamu?"


"Saya juga enggak masalah, Sayang." Telapak tangan Galang merangkum wajah kecil Amara, senyuman tulus dia berikan, lalu disusul dengan kecupan-kecupan mesra dan gemas. "Ayo, makan. Habis ini saya mau makan kamu lagi." Kerlingan nakal dia luncurkan dan disambut dengan tonjokan pelan di bahunya.


"Mas, ih!" Amara mencebik, merona malu dan bersemu. Galang selalu berkata vulgar tanpa disaring terlebih dahulu. Namun, di sudut hatinya muncul debaran aneh itu lagi, setiap kali suaminya menghujaninya dengan tatapan penuh cinta.


_


Keesokannya di kantor, Galang tengah bersiap pergi ke pengadilan untuk sidang kasus perebutan hak asuh anak. Dia tengah menunggu Kevin menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk sidang. Galang cukup mengandalkan asistennya itu, berkat Kevin pula pekerjaannya terhendel dengan baik.


"Kev, kamu sudah buka lowongan 'kan di internet?" Tiba-tiba dia teringat akan hal itu. Galang ingin segera mendapat pengganti Amara, supaya istrinya bisa di rumah saja.


Kevin yang semula fokus pada dokumen di depannya seketika beralih menatap Galang. "Hum ...


sudah, Pak. Tapi belum ada yang melamar," jawabnya singkat.


"Belum ada?" Kedua alis Galang tertaut. "Bagiamana bisa?"

__ADS_1


"Saya juga kurang ngerti, Pak. Tapi nanti saya coba cek lagi."


"Ya, sudah. Kalo bisa secepatnya. Saya enggak mau Amara kelelahan di kantor karena mengurus ini itu. Lagi pula sebentar lagi kami juga mau ke Singapura buat nengok keadaan Kasih."


Kevin mengangguk. "Baik, Pak. Nanti selesai mengurus ini saya coba cek lagi," ucapnya, lalu berjibaku dengan dokumen lagi.


"Hem." Galang menanggapinya dengan gumaman, lantas iseng mengirimi istrinya pesan. Saat ini Amara sedang berada di Hotel. Tadi pagi Galang menyuruhnya untuk tidak perlu berangkat, akibat ulahnya Amara sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dan, menyarankan untuk beristirahat dan memanfaatkan jasa pijat yang diberikan pihak Hotel.


Tadinya Amara sempat menolak, tetapi dia terpaksa menuruti kemauan suaminya lantaran telah mengundang dua orang pelayan Hotel yang bertugas memberikan pelayanan ekstra untuk datang secara langsung ke kamar, tanpa sepengetahuannya.


[Siang, Sayang. Bagaimana? Apakah kamu suka pelayangan mereka?]


Selang beberapa menit pesannya terkirim dan langsung bercentang biru. Itu artinya Amara sudah membacanya. Galang sampai tersenyum sendiri menatap layar ponselnya, dia tidak sabar menunggu balasan dari Amara.


Ponselnya bergetar, pertanda ada pesan masuk. Buru-buru, Galang membuka pesan tersebut, dia tersenyum senang saat membaca balasan pesan istrinya.


[Siang, Mas. Aku suka, Mas. Badanku udah enggak pegel. Terutama di bagian itu, hihiii]


Galang harus menahan tawa saat selesai membaca pesan Amara. Dia tidak mau menggangu Kevin yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya.


[Belum, Mas. Mas sendiri?]


[Aku juga belum. Nanti sekalian abis dari pengadilan aku makan. Kamu makanlah, Sayang. Jangan telat makan.]


[Iya, Mas. Nanti aku makan, ini aku lagi berendam di bak mandi. Mas mau ikut, enggak? hehe..]


[Waah... kamu mulai nakal, ya? Nanti malem liat aja, saya enggak akan biarin kamu tidur.]


[Aku ketularan kamu, Mas. Hem ... cepetan ke sini, ya, Mas. Aku iseng di hotel sendirian.]


[Oke, Sayang. Tunggu saya. Nanti habis dari pengadilan saya langsung ke hotel. See you, Baby.]


[See you, Mas.]


Keduanya mengakhiri bertukar pesan singkat itu, bersamaan dengan Kevin yang telah menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Ayo, Pak. Berkasnya sudah siap." Kevin beranjak dari tempatnya, lalu menyerahkannya kepada Galang.


"Sudah semua?" Galang menerimanya, lantas membuka dan mengeceknya sebentar. "Hem, siapa yang menangani kasus lawan klien kita?" tanyanya seraya menutup dokumen tersebut, kemudian berdiri.


"Pak Akmal, Pak."


"Dia lagi?" Galang nampak tidak suka mendengar nama pria itu.


"Iya, Pak."


Menghela panjang sambil membenahi ikatan dasi di lehernya, Galang malas bertemu dengan pria itu lagi sebenarnya. Namun, dia sudah terlanjur mengambil kasus ini. Mau tidak mau dia kembali bertemu dengan Akmal, seseorang yang sudah membuatnya cemburu.


"Ayo." Galang berjalan mendahului Kevin setelah memakai jas, sementara Kevin langsung mengikutinya dari belakang. Keduanya lantas meninggalkan kantor dan segera menuju pengadilan.


***


Tepat pukul empat sore Galang keluar dari gedung pengadilan, dia yang hendak menuju mobil tak sengaja bertemu Akmal. Sorot ketidaksukaan langsung terpancar dari mata mereka masing-masing.


"Udah mau langsung pulang?" Akmal menghampiri Galang, kemudian bertanya seolah akrab dengan suami dari Amara itu.


Sementara Galang mendengkus, seraya melengos. Sikap Akmal sungguh memuakkan, penuh kepura-puraan. Cih!


"Bukan urusan Anda, Tuan Akmal." Galang menjawabnya dengan malas.


Akmal justru tersenyum miring, menatap Galang dengan tatapan mengejek. Seakan dia tidak terpengaruh. "Anda kenapa, Tuan? Sepertinya ada yang membuat Anda marah? Apa Anda marah karena soal kemarin?"


Galang langsung menoleh cepat, matanya menyorot tajam Akmal yang masih berdiri di depannya.


"Huh! Maaf? Saya tidak merasa punya masalah dengan Anda. Jadi, saya rasa tidak ada yang perlu dibahas. Kalau begitu saya permisi." Dengan mengangkat dagu, Galang berlalu dari hadapan Akmal. Dia tidak mau terpancing dengan perkataan Akmal yang nampaknya sengaja mengingatkan kejadian kemarin. Seolah Akmal memang sengaja ingin memanas-manasinya.


Di tempatnya, Akmal menatap punggung Galang yang semakin menjauh dari pandangannya. Dia merasa tidak terima sebab semua rencananya gagal total. Amara telah lebih dulu dimiliki rivalnya itu.


###


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2