GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 66~


__ADS_3

~TEMPAT TINGGAL BARU.


###


Dua jam kemudian....


Usai membeli keperluan yang dibutuhkan, Galang dan Amara kini tengah dalam perjalanan menuju Apartemen. Mereka berdua membeli banyak sekali barang dan bahan-bahan lainnya untuk dapur. Namun, nampaknya Amara masih bertanya-tanya dalam hati perihal apa yang telah dibeli tadi.


Lantas, pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya sejak tadi malah semakin menjadi saat mobil Galang masuk ke basemen parkir di sebuah gedung bertingkat tinggi.


'Kayaknya ini bukan tempat parkir hotel yang kemarin, deh...?' Amara membatin seraya mengamati sekitar yang nampak asing baginya.


Lantaran tak tahan, dia pun bertanya langsung kepada suaminya. "Mas, ini kayak bukan tempat parkir yang di hotel, ya?"


"Memang bukan," jawab Galang sambil tersenyum, lalu melepas sabuk pengaman. "Ayo turun, Ra." Dia turun terlebih dahulu, kemudian langsung membuka bagasi mobil, sedangkan Amara segera menyusul dan membantu suaminya.


"Aku bantu, Mas." Amara hendak mengambil beberapa kantung belanjaannya, tetapi Galang mencegahnya.


"Enggak usah, Sayang. Biar nanti aku minta tolong sekuriti aja yang ada di sana buat bantuin." Galang mengeluarkan dua kardus berikut sedang dari bagasi, meletakkannya di tanah.


"Kalo cuma bawa ini aku bisa, kok, Mas. Ini enteng." Tak ingin cuma menjadi penonton saja, Amara pun berinisiatif membawa kantung belanjaan yang hanya berisikan bahan makanan dan masakan.


"Ya udah, kalo enteng enggak apa-apa," ucap Galang menyahuti. "Aku ke sana dulu, mau minta tolong sekuriti. Kamu tunggu bentar." Dia menunjuk dua sekuriti yang tengah berjaga di pos.


Amara mengangguk. "Iya, Mas."


Beberapa saat kemudian Galang kembali ke tempat Amara berada dengan salah satu sekuriti. Galang meminta sekuriti tersebut untuk membawa tumpukan kardus berisikan peralatan dapur. Ketiganya lantas berjalan menuju lantai atas dengan bersisian. Amara masih menebak-nebak di dalam hati, kenapa Galang mengajaknya ke gedung ini.


Lorong demi lorong telah dilewati, kemudian ketiganya masuk ke lift. Lift pun berhenti tepat di lantai 15. Mereka pun keluar dari lift, lantas berjalan menuju unit yang telah siap dihuni itu.


"Pak, taruh sini aja. Nanti saya yang bawa ke dalem." Galang berkata sambil mengambil dompet dari saku celana, mengeluarkan dua lembar ratusan ribu, lalu menyodorkan ke sekuriti tersebut. "Ini buat Bapak. Terima kasih bantuannya."


Sekuriti itu nampak semringah seraya menerima uang pemberian Galang. "Wah, terima kasih banyak, Pak. Kalo gitu saya permisi dulu. Semoga betah tinggal di sini," ucapnya, yang kemudian pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


Selepas kepergian sekuriti, Galang menekan pin kode akses masuk yang kemarin sudah dia dapatkan. Membuka pintu itu lebar-lebar, lalu mempersilakan Amara masuk terlebih dahulu.


"Selamat datang di tempat tinggal kita yang baru..." selorohan Galang malah disambut kernyitan di dahi Amara.


Tercenung sesaat guna mencerna ucapan suaminya, Amara menatap Galang tanpa berkedip. "Ki-kita tinggal di sini?" tanyanya kemudian.


Galang mengulas senyum seraya mengangguk. "Ayo masuk," ajaknya sambil mengangkat kardus yang tadi sempat dibawa sekuriti.


"I-iya, Mas." Kaki Amara melangkah ragu-ragu, dia masih belum percaya akan tinggal di sebuah Apartemen mewah seperti ini. Bola matanya bahkan tak berkedip sama sekali.


'Ya ampun ... luas banget.' Batinnya menyeru takjub, sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan bergaya klasik tersebut.


Galang sengaja memilih unit yang ukurannya cukup luas dan besar, sebab rencananya dia akan tinggal permanen di sini.


"Ra," panggil Galang yang menghampiri sang istri setelah meletakkan barang-barang di tempat seharusnya. "Suka enggak?" tanyanya sembari merangkul pinggang ramping Amara yang agak berjengit.


"Hah? Kenapa, Mas?" Amara malah balik bertanya lantaran masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Hem ... a-aku suka, Mas. Suka banget." Amara tersenyum kaku. Rasanya masih seperti mimpi, dia bisa tinggal di gedung mewah semacam ini.


"Syukurlah. Aku seneng kalo kamu suka, Ra," ujar Galang. "ayo kita lihat-lihat ruangan lainnya." Dia pun lantas menggandeng tangan Amara.


"Ini aku taruh mana, Mas?" tanya Amara, menunjukkan kantung yang masih ada di tangannya..


"Oh, itu taruh di dapur aja, Sayang. Sini aku tunjukkin." Galang menuntun Amara menuju pantry yang ukurannya lebih luas dari dapur di rumah perempuan itu.


"Taruh sini, Sayang." Galang menunjuk meja makan minimalis berbentuk bulat tersebut, lantas Amara meletakkannya di sana. "Tinggal dulu aja. Kita lihat-lihat ruangan lain dulu."


Amara cuma menurut, mengikuti langkah kaki suaminya yang kini menuju balkon. Seketika Amara terperangah sebab dia bisa melihat pemandangan ibu kota dari atas sini. Angin sore menerpa kulitnya, sejuk dan terasa segar.


"Balkonnya cocok buat nyantai, Mas," celetuk Amara sambil menikmati semilir angin yang membuat rambut panjangnya berterbangan.


"Suka?" Galang sudah berada di balik punggung Amara, melingkarkan tangannya ke pinggang dengan menopangkan dagunya di pundak indah istrinya. Sesekali dia menghirup aroma parfum yang menguar dari permukaan kulit leher jenjang itu.

__ADS_1


"Suka dong, Mas. Di sini indah banget. Sejuk lagi," cicit Amara, bibirnya tak berhenti mengulas senyum. "Mas, kalo kita tinggal di sini, terus rumah Mami gimana?" Seketika dia mengingat mami Sarah dan putrinya.


"Hem ... ya enggak gimana-gimana." Galang menjawab sembari sibuk mengendusi leher istrinya. Berdekatan seperti ini selalu membangkitkan hasratnya.


Menggeliat resah, fokus Amara perlahan buyar akibat kecupan-kecupan basah yang terus menerus diberikan Galang di lehernya.


"Mami tahu kalo kita bakalan tinggal di apartemen?"


"Belum."


"Kok, belum?"


"Aku belum sempet telepon Mami, Sayang."


"Nanti kalo Mami marah, gimana?"


"Enggak akan."


Galang memutar tubuh Amara perlahan, supaya menghadapnya. Menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik itu, dia lantas menatap lekat-lekat bola mata jernih nan bulat milik Amara dengan tatapan penuh cinta. Pandangan mereka seketika mengunci satu sama lain. Embusan angin semakin membuat mereka larut dalam suasana.


"Mulai hari ini kita tinggal di sini. Kamu ... mau 'kan?" tanya Galang, yang perlahan mengikis jarak wajahnya dari wajah Amara.


"Aku ikut kamu aja, Mas. Aku terserah kamu mau tinggal di mana pun, aku sih enggak masalah." Amara berucap sambil menahan hawa panas yang mulai terasa di tengkuk lehernya. Sorot mata Galang seolah menyeretnya untuk terjebak di dalam sana. Teduh tetapi menghanyutkan.


Mendengar penuturan Amara, senyuman terbit seketika itu juga dari bibir Galang. Telapak tangannya yang lebar menangkup wajah mungil itu, lalu menempelkan keningnya di kening Amara. Hangatnya napas menerpa wajah masing-masing. Dada Amara berdesir, dengan debar jantung berkali-kali lipat dari biasanya.


Entah mengapa, rasanya Amara ingin sekali Galang menciumnya. Haisshhh...


Lalu, di detik berikutnya, Galang mulai menempelkan bibirnya ke bibir merekah itu, seakan dia mengerti keinginan sang istri. Awalnya hanya menempel, lalu perlahan berubah menjadi pagutan lembut dan melenakan. Secara intens, Galang menyesap bergantian bibir atas bawah milik Amara. Merasai manisnya bibir itu tanpa bosan.


###


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2