GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 59~


__ADS_3

~GALANG CEMBURU.


###


"Saya baik." Akmal menatap sekilas jari manis Amara yang tersemat cincin kawin.


'Berarti bener, dia udah nikah sama Galang.' Dia membatin kesal sebab ternyata isu yang dia dengar bukan isapan jempol belaka. Galang telah lebih dulu mendapatkan Amara.


"Mas Akmal bukannya di luar negeri, ya?" tanya Amara yang masih mengingat sedikit tentang Akmal.


"Iya. Tapi dulu. Saya kangen sama Indonesia, terutama sama seorang gadis, makanya saya pulang ke sini. Tapi sayang ternyata dia udah nikah." Akmal sengaja menjawab demikian, dia berharap perempuan di hadapannya ini peka.


"Waah ... sayang banget, ya, Mas."


"Iya. Padahal saya bela-belain pulang karena mau ngelamar dia. Saya cari ke rumahnya, tapi ternyata udah pindah."


"Mungkin belum jodoh kali, Mas," timpal Amara menanggapi. "Mas Akmal 'kan baik, pasti bakalan dapet yang terbaik." Setahu Amara, Akmal pria baik. Oleh karena itu dia mendoakan lelaki ini.


Akmal memegang lengan Amara, kemudian mengelusnya sebentar. "Makasih, doanya, Ra. Kalo kamu sendiri, gimana? Udah nikah, ya?" Dia berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Ah, iya Mas. Aku udah ni—"


"Dia udah nikah. Dan, saya suaminya."


Akmal dan Amara menoleh ke sumber suara berat tersebut secara bersamaan.


"Mas Galang?" Amara tersenyum, ternyata suaminya yang sudah menyela ucapannya.


Sementara Akmal tampak mengeraskan rahangnya, dan mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, seraya mengumpat kesal dalam hati.


'Heuh! Sial! Ternyata ada dia di sini.'


Galang yang baru saja selesai kembali dari toilet, sempat mendengar pertanyaan Akmal dan melihat lelaki itu menyentuh lengan istrinya. Dia geram, lalu langsung menyela jawaban Amara.


"Maaf, udah bikin kamu nunggu lama," ucap Galang begitu berdiri di sisi Amara. Sudut matanya melirik sekilas Akmal yang dia tahu sedang menatapnya dengan tatapan tak suka. Lantas, dengan sengaja Galang menarik pinggang ramping Amara supaya mendekat padanya.


'Dia kenal Amara?' Galang membatin, tentu dia tahu dan kenal Akmal.


"Enggak apa-apa, Mas. Enggak lama, kok." Amara mengulas senyum, dia nampak biasa diperlakukan demikian oleh Galang. Namun, dia juga tidak sadar, bila saat ini ada seseorang yang sedang menahan cemburu. "Oh, iya, Mas. Kenalin, dia Mas Akmal. Mas Akmal, dia suamiku, Mas Galang."


Akmal terpaksa memasang senyuman palsu, dia tidak mau Amara menyadari ketidaksukaannya.

__ADS_1


"Kami udah saling kenal, Ra. Bukankah begitu, Tuan Galang," ucapnya dengan tatapan mata tak suka, dan Galang dapat membaca itu dengan jelas dari nada bicara lelaki berperawakan tegap ini.


'Heuh! Masih sombong!'


"Ah, iya, tentu. Kami emang udah saling kenal, Ra." Galang mengiyakan perkataan Akmal.


"Oh ....?" Amara manggut-manggut saja.


"Ayo, kita balik ke kantor sekarang," ajak Galang.


"Ayo, Mas. Mas Akmal aku tinggal dulu, ya?" Amara berpamitan kepada Akmal.


"Silakan, Ra." Akmal masih mempertahankan senyum palsunya, walau sebenarnya dia sudah tidak tahan melihat kemesraan Galang dan Amara.


Menggeser posisinya, Akmal memberi jalan bagi Galang dan Amara melewatinya. Pandangannya tak lepas menatap punggung Amara yang berjalan menjauh, dan masuk ke mobil.


_


"Kamu kenal dia di mana, Ra?" Di dalam mobil, Galang yang sejak tadi kepikiran merasa ingin tahu bagaimana istrinya bisa mengenal Akmal. Bayangan tatapan Akmal menatap istrinya membuat hati Galang seketika resah. Sebagai pria dewasa dia tentu paham dan tahu, jika tatapan Akmal menyiratkan makna lain.


Amara segera mengalihkan pandangan yang semula menatap jendela, menjadi menatap sang suami.


"Siapa?" Dia malah balik bertanya.


"Oh, Mas Akmal."


Mendengar sang istri menyebut nama lelaki lain dengan sebutan Mas, membuat Galang seketika mengeratkan genggamannya pada kemudi, giginya bahkan saling gemeletuk di dalam sana. Urat-urat lehernya menonjol pertanda dia sedang dalam mode kesal dan jengkel.


"Kamu kayaknya udah kenal akrab sama dia," celetuknya seraya menoleh sekilas ke Amara yang kini mengulum senyum tipis.


"Enggak akrab juga, sih, Mas."


"Terus kenapa bisa kenal sama dia?" Ah, Galang tidak tahan dengan situasi ini. Rasa cemburunya mendadak muncul dan mendorongnya ingin bertanya lebih.


"Mas Akmal itu dulu donatur tetap di sekolah aku, Mas. Aku ketemu dia itu dulu waktu aku kelas dua SMA," jelas Amara yang belum sadar jika suaminya tengah mati-matian menahan cemburu.


'Mas? Mas Akmal? Astaga! Aku beneran bisa gila kalo terus-terusan denger Amara sebut si Akmal pakek embel-embel Mas.' Galang tak henti menggerutu dalam hati.


"Benarkah?" ucap Galang menanggapi.


Amara mengangguk. "Iya. Kalo Mas sendiri bisa kenal Mas Akmal, gimana?"

__ADS_1


"Saya dulu pernah sekali jadi lawannya di sidang memperebutkan hak asuh anak."


"Mas Akmal pengacara juga?" Saking terkejutnya, Amara sampai menggeser posisinya menyamping sebab yang dia tahu dulu itu Akmal hanya seorang pengusaha.


"Iya," ucap Galang, lalu menoleh sebentar memandangi Amara. "Kenapa? Kok, kamu kayak kaget gitu?" Pandangannya kembali lurus ke depan.


"Enggak ... aku cuma keinget aja dulu setahu aku dia itu pengusaha. Tapi, ternyata dia juga pengacara."


"Kamu kenal dia lama dong, ya?" Galang masih belum puas mencecar Amara. Aneh. Lelaki itu merasa cemburu, tetapi terus-terusan memercikkan api yang semakin mengobarkan kecemburuannya.


"Lumayan juga sih, Mas. Sampe aku lulus sekolah kami berhubungan baik," ujar Amara, lalu keningnya perlahan-lahan mengerut, saat mengamati jalan yang di lewatinya terasa asing. "Loh, Mas? Ini kayak bukan arah jalan ke kantor?"


"Emang bukan."


"Kok, bukan? Kan kita mau balik ke kantor? Kenapa lewat sini?" Kening Amara semakin mengernyit tak paham dengan maksud suaminya yang lewat jalan lain.


"Kita jalan-jalan dulu bentar, Ra. Suasana hati saya lagi enggak baik." Alasan yang diutarakan oleh Galang malah justru semakin menambah rasa penasaran Amara.


"Mas kenapa? Mas sakit?" tanya Amara dengan polosnya. Dia menjulurkan tangan, lalu menempelkan ke kening Galang. "Enggak panas."


'Hfuuh ... Amara ini sama sekali enggak peka. Masa dipikir aku sakit? Jelas-jelas aku ini lagi cemburu.'


"Saya memang enggak sakit, Amara. Lagian siapa yang bilang kalau saya sakit."


"Aku pikir Mas sakit, makanya butuh refreshing." Amara terkikik, dia merasa konyol sendiri.


Galang berdecak, memang ada yang lucu?


"Saya enggak cuma sekadar butuh refreshing, Ra. Saya butuh hiburan." Ide jahil seketika muncul di otak Galang.


"Hiburan? Hiburan apa?"


"Gimana kalo kita mampir ke hotel?"


"Hah? Ho-hotel?"


####


Aihh... Galang, ckckck 😆


Hola! Kenapa makin lama makin anyep ya ini novel? Kalian enggak suka ya? Maaf bgt kalo ceritanya enggak sesuai ekspektasi kalian.. Mungkin kalian berpikir, kenapa ini ceritanya enggak sesuai judul. Banyak yang bilang kalo alurnya enggak sesuai judul dan melenceng jauh dari sinopnya. Kalian pikir mungkin ini cerita ttg perselingkuhan tanpa ikatan, hihiii.... padahal sebenernya enggak mengarah ke situ.

__ADS_1


Yg fav ratusan bahkan ada yang unfav, karena kecewa sama jalan ceritanya, huhuu🤧😪yang like juga makin tipis, 😢 Makasih buat yg masih setia baca ini cerita 🙏meski cuma tape like doank. Dukungan kalian sangat berarti buat author remahan ini..😌


__ADS_2