
Pintu kamar rawat inap Maya dibuka perlahan oleh Galang. "Boleh Galang masuk?" tanyanya pada mami dan papi yang sedari tadi menunggu di ruangan tersebut.
"Masuklah." Papi yang menyahut, lantaran mami Sarah terlihat sangat sedih. Perempuan paruh baya itu tak henti-hentinya meneteskan air mata, memikirkan kondisi sang putri sekaligus cucunya.
Setelah diperbolehkan, Galang lantas membuka lebar pintu tersebut dan menggandeng sang istri yang berada di balik punggung. "Ayo, Sayang."
Amara mengangguk, menerima uluran tangan suaminya, lalu melangkah masuk. Hal yang pertama kali dia lihat adalah Maya yang terbaring dengan tenang di brankar.
"Gimana kondisi Kak Maya, Pi?" tanya Galang pada papi, dia berdiri di samping sang ayah, sementara Amara memilih menghampiri mami yang berada di seberang brankar.
Papi menghela pendek sebelum menjawab, manik dan raut wajahnya tak bisa menutupi jika detik ini beliau sedang dalam keadaan gusar dan khawatir. "Kakakmu baru tenang setelah dokter memberinya obat penenang," ucapnya, menatap wajah Maya yang pucat.
"Apa kata dokter?" Galang meraih tangan sang kakak yang terasa dingin, menggenggamnya sembari mengelus puncak kepala wanita itu. Dadanya terasa sesak melihat kondisi Maya yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Berbagai macam cara padahal sudah dia usahakan semaksimal mungkin. Namun, pada kenyataannya tidak membuahkan hasil.
"Kakakmu harus dibawa ke psikolog. Trauma yang dialami belum sepenuhnya sembuh. Jadi, papi minta sama pihak rumah sakit supaya mencarikan psikolog terbaik di negeri ini. Dan, kebetulan di rumah sakit ada," kata papi yang ditanggapi anggukan kepala oleh Galang.
"Syukurlah." Galang menghela lega. "Mami sama Papi udah makan?" tanyanya kemudian, menatap bergantian mami dan papi.
"Papi tadi udah. Mamimu yang belum makan dari pagi," sahut papi mengedikkan dagu ke arah sang istri yang betah terdiam sedari tadi.
Amara segera memegang tangan mami, seraya menawarinya makan. "Mi, makan, yuk? Amara temenin."
"Mami gak laper, Ra. Mami mau di sini aja." Mami menolak ajakan menantunya, maniknya mengembun dengan kesedihan yang mendalam.
"Nanti Mami sakit, loh, kalo gak mau makan. Terus kalo sakit gak bisa jagain Kak Maya," ujar Amara hanya sekadar mengingatkan, agar mami mau berubah pikiran. Dia pun tidak tega melihat kondisi kakak iparnya yang terbaring tak berdaya.
__ADS_1
Akan tetapi, kita juga harus memikirkan kondisi kesehatan kita sendiri. Itulah yang dia dengar dari sang suami.
"Iya, Mom. Mami jaga kesehatan. Jangan sampai lupa makan dan ikutan jatuh sakit," ujar Galang menimpali perkataan Amara. "Kita semua harus tetap sehat agar bisa terus bisa jagain Kak Maya dan Kasih." Dia menjulurkan tangan, mengusap punggung mami dengan lembut.
"Gimana Kasih?" Mami mengalihkan pembicaraan, bertanya perihal cucunya yang belum dia jenguk selepas operasi tadi.
"Kasih masih tidur, Mi. Kata dokter dia baru sadar nanti malem," sahut Amara. "Mi, makan, ya? Setidaknya demi Kasih dan Kak Maya," bujuknya sekali lagi. Amara sudah menganggap mami seperti orang tua kandung, karena itu dia tidak mau melihat
orang yang disayangi satu persatu sakit.
"Mami gak selera, Amara. Mami sedih. Mami kepikiran Kasih sama Maya." Lantaran tak kuasa menahan luapan kesedihan yang sejak tadi bercokol di dada, mami menghambur ke pelukan Amara. Menumpahkan tangisnya di dada sang menantu. "Kenapa semua ini harus menimpa orang-orang yang mami sayang. Kenapa?"
Kesedihan mami jelas menular ke Amara, maniknya yang bulat kini mengembun. "Ssstt... Udah, Mi, udah. Mami jangan sedih, ini semua cobaan dari yang di atas. Kita semua lagi diuji. Jadi, kita harus sabar dan tabah. Kita juga gak bisa nyalahin Yang Kuasa, karena semua ini udah jalannya. Yang terpenting kita jangan pernah berhenti berdoa buat kesembuhan Kak Maya dan Kasih. Allah juga pasti lihat usaha kita, Mi. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini kalau Allah udah berkehendak." Amara menepuk-nepuk punggung bergetar mami.
Belajar dari masa lalu yang sudah dia lewati selama hampir tujuh tahun belakangan. Sendirian dalam mengurus Kasih, membesarkan dan mengupayakan yang terbaik selama ini. Amara tentu sedih, dia pun memiliki pemikiran yang sama seperti mami. Mengapa, Tuhan tidak pernah berhenti memberinya cobaan, sejak Kasih bayi hingga usianya yang ke-7.
Putus asa? Tentu, detik ini Amara tengah berada dalam fase tersebut. Merasa takut, marah, bingung, cemas dan khawatir. Itu hal lumrah, mengingat jika dia hanyalah seorang manusia biasa yang mempunyai sifat serakah dan egois. Tugasnya saat ini hanyalah berdoa dan berikhtiar. Menjaga apa yang sudah dititipkan Sang Ilahi. Kasih segalanya bagi Amara. Seluruh napas dan hidupnya milik gadis kecil itu.
Harapannya pun masih sama. Kasih bisa berumur panjang, dan kembali sehat seperti sediakala. Bisa tertawa lagi dan hidup normal layaknya anak-anak di luar sana.
_
"Makasih, Sayang. Berkat kamu, Mami akhirnya mau makan." Galang meraih tangan sang istri yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit. Menuntunnya duduk di sofa panjang yang berada di ruang rawat Kasih.
"Apaan, sih? Itu 'kan udah jadi tugasku, Mas. Mami udah aku anggep kaya ibu kandung. Beliau harus sehat karena di usianya sekarang ini sangat rentan. Aku gak mau, Mas, liat orang-orang yang aku sayang, satu persatu jatuh sakit. Aku gak mau." Bibir Amara bergetar menahan isak tangis. Buru-buru dia mengusap sudut matanya dengan telapak tangan.
__ADS_1
Membicarakan orang-orang terdekatnya, membuat hati Amara mudah terbawa perasaan. Mami, papi, Maya telah menjadi bagian kehidupannya saat ini. Meskipun mereka baru hadir, tetapi hubungan yang terjalin begitu kuat. Amara beruntung karena dikelilingi orang-orang baik.
Tak ingin sang istri semakin larut dalam kesedihan, Galang segera merangkul pundak Amara, memberikan kecupan-kecupan di pelipis dan dahi. "Beruntungnya aku punya istri kamu, Sayang. Selain cantik, kamu juga punya hati yang tulus. Gak salah aku memilih kamu. Dan...." Galang menggantung ucapannya, beranjak dari duduknya, lalu berjongkok di depan Amara.
"Mas?" Sepasang alis Amara menaut. "Kamu ngapain?" Dia yang sempat bersedih, berganti kebingungan. Pasalnya, suaminya malah berjongkok sambil terus menatapnya.
"Maaf, ya, Ra. Aku belum bisa ngadain resepsi pernikahan impian kamu," ujar Galang, yang merasa bersalah lantaran belum bisa mengadakan resepsi pernikahannya dengan Amara.
"Astaga, Mas, aku pikir apa." Amara menghela panjang, seraya menggelengkan kepala. Dia pikir ada apa, ternyata Galang mengkhawatirkan dirinya. "Aku, tuh, gak ada, ya, Mas mikirin itu. Aku udah lupa malah," ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung tangan Galang.
Soal resepsi pernikahannya dengan Galang, jujur Amara sama sekali tidak memikirkan hal itu. Pikirannya sudah dipenuhi oleh Kasih dan Kasih.
"Tapi gak bisa gitu, Sayang. Aku juga pengen bahagiain kamu. Aku pengen liat kamu pakek baju pengantin terus ngenalin kamu ke rekan kerjaku. Ini, loh, istriku Amara yang paling cantik dan baik." Galang mengecup kedua punggung tangan Amara bergantian, dan justru membuat Amara terkekeh mendengar penuturannya.
"Berlebihan kamu, Mas. Masih banyak, kok, perempuan di luaran sana yang jauh lebih cantik dan baik daripada aku." Amara mencubit gemas hidung Galang. Mengecupnya, lalu menuntunnya agar kembali duduk di sofa.
"Tapi—"
"Ssstt!" Amara segera menutup mulut Galang dengan telapak tangan, supaya berhenti bicara. "Gak usah dibahas lagi. Please... kita fokus penyembuhan Kasih dulu. Oke?" Karena jika tidak seperti ini, Galang akan tetap kukuh memaksanya. Kesembuhan Kasih yang paling utama untuk saat ini.
Merasa kalah, Galang pun hanya bisa menghela. Menyingkirkan telapak tangan Amara dari mulutnya, lalu berkata, "Baiklah. Kalau itu keinginanmu. Aku hargai. Aku nurut aja, asal kamu bahagia. Tapi, kamu gak boleh sedih lagi. Hm?"
Amara mengangguk. "Oke. Aku akan lebih tegar lagi demi Kasih. Aku janji."
Segera Galang merengkuh tubuh mungil itu ke pelukan. "Kamu gak sendiri lagi, Sayang. Ada aku di sampingmu. Jangan pernah sungkan untuk berbagi. Kita bakal sama-sama lewati masalah ini." Sudah cukup Amara sendirian selama ini, sekarang waktunya dia mendampingi perempuan itu. Melewati ujian yang diberikan Tuhan.
__ADS_1
"Makasih, Mas. Makasih."