
~AMARA RESAH.
###
RUMAH SAKIT.
Kevin baru saja menyelesaikan biaya administrasi perawatan jalan untuk seseorang, setelah memastikan semuanya sudah beres dia menghampiri Galang yang menunggunya di depan pintu masuk Rumah Sakit.
"Semuanya sudah beres, Pak. Mas Andi bisa pulang ke rumah. Dan, ini obatnya." Kevin menyodorkan kantung plastik berwarna putih berisikan obat-obatan yang dia tebus sekalian kepada pria yang duduk di samping Galang.
Pria bernama Andi itu menerimanya lantas mengucapkan terima kasih. "Makasih, Mas, Pak. Sudah mau repot-repot menjenguk saya," ucapnya sungkan. Dia tidak menyangka jika pria yang memukulinya datang dan mengurus semuanya di sini. Seketika dia merasa tidak enak lantaran sempat menyudutkan orang baik ini siang tadi.
Sebenarnya, Andi hanya mengatakan apa yang dia ketahui dari seseorang yang misterius. Orang itu tak lain adalah Erik. Tuntutan pekerjaannyalah yang memaksa Andi untuk melakukan hal tersebut. Sebagai wartawan dia harus bisa mendapatkan informasi yang menarik untuk dikulik.
Memegang pundak Andi lalu menepuk-nepuknya dengan senyumannya yang khas, Galang merasa lega sebab Andi mau menerima permintaan maafnya. Dan, tidak memperpanjang masalah ini. Jika pun diperpanjang tak masalah baginya. Galang siap menerima konsekuensi atas apa yang telah dia lakukan. Bahkan jika dia harus menerima sanksi sekali pun. Namun, Andi bersedia membantunya apabila Galang terseret masalah lain setelah ini.
"Seharusnya saya yang berterima kasih karena kamu mau memaafkan saya. Terima kasih karena kamu tidak memperpanjang masalah ini," ucap Galang sambil mengulurkan tangannya kepada Andi dan dibalas cepat oleh pemuda itu.
"Sama-sama, Pak. Kalau Bapak mau saya bisa memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf karena ini murni bukan kesalahan Anda. Kamilah yang terkadang kelewat batas dan keterlaluan melontarkan pertanyaan. Jadi, menurut saya itu wajar kalau Anda marah karena saya telah menghina istri Anda." Andi berujar dengan raut bersalah sekaligus malu.
Galang tersenyum maklum. "Sudahlah. Masalah ini sudah selesai. Semoga kamu cepat sembuh dan kalau bisa ubahlah imej seorang wartawan menjadi lebih baik lagi. Jangan pernah mengambil asumsi dari sebelah pihak. Telaah terlebih dahulu sebelum menyebarkan informasi tersebut. Jangan sampai akibat informasi yang salah kalian justru membuat pihak yang bersangkutan merasa dirugikan. Itu saja pesan saya." Merasa tidak ada yang ingin dia katakan lagi, Galang pun berdiri dari tempatnya.
Andi ikut berdiri. "Baik, Pak. Saya akan mengingat semua pesan Anda. Sekali lagi saya minta maaf."
Galang mengangguk, lalu berpamitan pada Andi. "Ya sudah, saya permisi dulu. Cepat sembuh." Dia meninggalkan Andi, kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran Rumah Sakit, sedangkan Kevin sudah lebih dulu membukakan pintu mobil untuk atasannya itu.
Mobil pun segera dibawa pergi oleh Kevin meninggalkan Rumah Sakit. Kelegaan bersarang pada diri masing-masing, Galang dan Kevin telah berhasil menyelesaikan masalah ini. Kekalutan yang semula menghinggapi lelaki yang baru saja sah menikah itu kini berganti dengan perasaan tenang.
__ADS_1
"Untung kamu bergerak cepat, Vin. Kalau enggak saya enggak tahu bakal bagaimana masalah ini," ucap Galang yang selalu merasa beruntung karena Kevin bekerja sangat keras demi menyelesaikan masalahnya.
"Saya hanya melakukan tugas saya, Pak. Nama baik Bapak juga tanggung jawab saya. Bapak orang baik, masalah ini tentu dengan mudah mencoreng nama Bapak yang selama ini mempunyai citra baik. Saya rasa harus segera mengatasinya dan mengambil tindakan. Karena masalah ini tidak hanya menyangkut imej tapi juga menyangkut firma hukum Bapak."
Jawaban yang menurut Galang sangat lugas dan penuh rasa tanggung jawab. Kinerja Kevin selama ini memang sangat baik melebihi ekspektasi. Galang merasa bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang memiliki pemikiran positif dan terbuka.
Berkat Kevin pula dia sekarang sudah resmi menjadi suami Amara. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain hal itu. Masalah yang terjadi setidaknya membawa keuntungan tersendiri baginya. Ck!
Seketika dia jadi tidak sabar ingin bertemu Amara yang saat ini sedang menunggunya di Hotel. Malam ini Galang berniat menghabiskan malam pengantinnya di Hotel saja. Tak ingin membuang waktu lagi lantaran selama ini dia sudah lama menunggu hal ini. Bersama dengan wanita pujaan hatinya. Ah, secara tidak tahu malu Galang sudah berpikiran liar membayangkan malam nanti.
"Kita mampir ke toko baju sebentar, Vin. Saya mau beli baju dulu buat Amara."
"Baik, Pak."
Senyum penuh arti tercetak jelas di bibir Galang saat ini. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas dia mau memberikan kesan yang indah untuk Amara. Galang akan mempersembahkan cintanya kepada perempuan itu malam ini dan membuat Amara tak akan pernah bisa melupakannya seumur hidup.
***
Sementara di tempat lain yaitu Hotel yang sengaja disewa Galang untuk menghabiskan malam pengantin, Amara tengah duduk gelisah sembari berulang kali memandang ke arah pintu yang tertutup rapat. Dia resah menunggu kedatangan suaminya.
Suami? Hei, Amara selamat! Kamu udah resmi menjadi istri dari Galang.
Amara menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya. Nampaknya, perkataan Anggi sedikit mempengaruhi dirinya.
"Amara, siap-siap buat malam pertama, ya. Jangan lupa nanti ceritain ke aku."
Anggi menggoda Amara yang sengaja menghubunginya sebab ingin memberi kabar bahwa dia telah menikah dengan Galang. Amara juga menceritakan semuanya soal pernikahan mendadak mereka. Lalu, dengan santainya sahabatnya itu mengatakan hal-hal vulgar yang membuat otak Amara harus bekerja keras mencernanya. Dari hal pertama yang harus dia lakukan untuk membangkitkan semangat Galang sampai cara agar suaminya merasa puas.
__ADS_1
"Si Anggi bikin aku sakit kepala. Omongannya menyesatkan semuanya. Masa aku harus gitu sama Mas Galang? Kan nanti kesannya aku murahan. Haisshhh..." Amara menggerutu seraya menekan-nekan pelipisnya.
"Pakek baju seksi, Ra. Terus jangan lupa kalo perlu bercukur. Biar rapi."
"Astaga, bercukur?" Amara semakin pusing mengingat perkataan Anggi yang satu itu. Bercukur? Apanya yang harus dicukur, coba? Perempuan yang saat ini memakai baju tidur berwarna toska itu beranjak, lalu menatap cermin rias yang berada di kamar Hotel.
Kamar Hotel itu sendiri sudah dipersiapkan secara khusus bagi para pengantin yang ingin berbulan madu. Suite room honeymoon lengkap dengan perintilan lainnya; lilin aroma terapi, ranjang tidur empuk yang berhias kelopak mawar merah dan putih.
"Hfuuh ...." Amara duduk di kursi meja rias, memandangi dirinya lewat pantulan cermin. "Aku udah nikah sekarang. Meski aku belum cinta sama Mas Galang, tapi aku harus melakukan kewajiban itu. Tapi, bagaimana? Ini adalah yang pertama bagiku. Sementara Mas Galang udah pernah nikah dan pastinya sering melakukannya sama mantan istrinya. Aku takut dan enggak yakin bisa menyenangkan hatinya. Aku ... argh!" Amara menelungkupkan wajahnya di meja rias. Debaran jantungnya semakin menjadi saat memikirkan apa yang harus dilakukan setelah Galang datang.
Dia merasa tidak percaya diri dan malu. Amara menggeleng lalu mengangkat kepalanya lagi. "Kamu pasti bisa Amara, pasti! Harus bisa! Kamu enggak boleh mengecewakan suamimu yang baik itu. Mas Galang udah ngelakuin kemauan kamu, masa kamu enggak mau ngasih dia sesuatu sebagai hadiah?" Amara seperti orang gila yang berbicara sendiri di depan cermin.
Instingnya pun tiba-tiba muncul. "Aku harus mulai dari mana, ya? Ah, iya. Kata Anggi aku harus bercukur, tapi enggak mungkin 'kan sampe habis? Apa enggak kelihatan aneh? hihihi." Amara terkikik geli, membayangkan hal itu. Dia paham dan mulai mengerti apa maksud perkataan Anggi. Berdiri lalu berlenggak lenggok di depan cermin, memindai baju tidur yang dia pakai. "Kata Anggi aku suruh pakek baju seksi. Sedangkan aku enggak punya baju begituan. Ini aja baju dari hotel," gumamnya sambil menghela napas bingung.
Amara benar-benar tidak mengerti, baju seperti apa yang harus dia pakai. Namun, Amara tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada hanya untuk berpikir dan menggerutu. Lebih baik dia segera melakukan apa yang dikatakan Anggi padanya. Lantas, dia pun bergegas masuk ke kamar mandi yang di dalamnya sudah dilengkapi apa yang dia butuhkan. Mulai dari sabun, shampoo, sikat gigi beserta odolnya.
"Aku mau mandi lagi biar wangi." Amara melepas kancing baju tidurnya satu persatu, tetapi karena terburu-buru dia malah tak sengaja menjatuhkan baju itu ke lantai kamar mandi. "Yah ... basah?" Amara mendengus kesal, akibat ulahnya yang terburu-buru kini baju itu basah dan tak bisa dipakai lagi.
Terpaksa dia melempar baju yang sudah basah itu ke wadah baju kotor di sudut kamar mandi. Amara melepas penutup atas dan bawahnya, lalu masuk ke dalam bak mandi yang sudah berisi busa sabun beraroma Lily favoritnya.
###
bersambung...
Jangan lupa like dan komentarnya, bila perlu hadiahnya jangan lupa karena sebentar lagi ada yang mau diunboxing. wkwkwkwk 🤣
Abis ini aku tambah lagi satu bab semoga lulus ya...karena agak hahemm, hihiii🙈🤪
__ADS_1