
~BERTEMU LAGI.
###
Amara memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri agar tidak terpancing emosi karena ucapan Vanila barusan. Sebuah tuduhan yang sungguh menyakitkan dan akan membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi marah. Kedua tangan Amara saling mengepal erat di sisi tubuh sembari mengatur napas panjang.
'Tenang Amara. Tenang. Jangan sampai kamu terpancing emosi. Rileks....' Menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan-lahan.
Setelah berhasil menguasai diri dan menekan segala kemarahan yang siap meledak. Amara pun membuka matanya perlahan. Tepat di depannya kini ada orang-orang yang sedang berbisik-bisik sambil melirik dengan tatapan tak suka dan mengintimidasi. Amara sudah menduganya itu.
Orang hanya akan mendengarkan tanpa peduli dengan apa yang terjadi sebenarnya. Oke. Sampai di sini, Amara faham dan lebih mengenal karakter Vanila. Pantas saja, Galang memilih berpisah dengannya tanpa mau berkompromi.
Memutar tumitnya perlahan sambil berusaha menampilkan senyum yang elegan, Amara mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Maniknya seketika menatap Vanila yang saat ini berdiri dengan tangan bersedekap. Mantan istri suaminya itu menampilkan senyum mengejek dan remeh.
"Ekhm! Maaf, tadi Anda bilang apa? PELAKOR? Anda ngatain saya PELAKOR? ckckck...." Amara mencibir dengan senyum miring, masih berusaha menjaga sikap dan ucapannya yang mungkin setelah ini akan membuat Vanila lebih malu dari pada dirinya.
Jelas Vanila tercengang dengan reaksi yang ditunjukkan Amara. Perempuan tinggi itu lantas maju satu langkah dan menjawab Amara.
"Iya. Kamu tuli? Atau... pura-pura tuli?" Vanila berkacak pinggang. Kemudian, mengedarkan pandangan ke seluruh pengunjung yang menonton mereka. Tak lama dia pun kembali menatap Amara. "Mungkin, semua orang yang ada di sini bisa mendengar dengan jelas. Tadi saya ngomong apa?" Bola mata Vanila melirik sekilas orang-orang yang nampak menikmati perdebatan mereka.
Seulas senyum terbit dari bibir Amara, tetapi dalam hati dia berdecih dan mengutuk Vanila.
"Huh, kira-kira mereka akan percaya apa enggak, ya, sama omongan Anda? Sedangkan Anda sendiri itu tukang selingkuh! Wajar dong, kalo suami Anda lebih memilih saya dan menceraikan istrinya yang tukang selingkuh? Gimana?" sindir Amara dan langsung mengenai harga diri Vanila dengan telak.
Suatu fakta yang telah menamparnya secara kasat mata, berhasil membuat Vanila naik pitam.
"Kamu!" Vanila panik, lalu menunjuk wajah Amara dengan geram.
Suara bisik-bisik semakin riuh terdengar di area kasir. Tak jarang, ada yang membenarkan ucapan Amara dan mencibir Vanila. Mereka semua kini berbalik memandang Vanila dengan sebelah mata.
"Apa? Ada yang salah sama omongan saya?" Amara menunjuk dirinya sendiri. "Mungkin, orang-orang yang ada di sini sudah tidak asing dengan Anda. Secara, kabar perselingkuhan Anda dengan manager Anda sempat viral beberapa waktu yang lalu."
__ADS_1
Vanila semakin mendidih dan geram saat ucapan-ucapan yang memang benar adanya terlontar dari bibir Amara. Niatnya ingin mempermalukan istri baru dari mantan suaminya, justru berbalik ke dirinya sendiri. Kini, semua pengunjung mencemooh dan saling bersahutan untuk membenarkan perkataan Amara.
Melihat mantan istri suaminya yang bermulut pedas itu memerah dan geram, membuat Amara merasa puas. Jangan pikir dia akan diam dan menerima semua tuduhan palsu itu seperti yang sudah-sudah.
Tidak!
Statusnya kini sudah sah menjadi istri dari Galang. Jadi, tak ada yang bisa berkata miring atau menjelek-jelekkannya lagi mulai detik ini. Terlebih, tuduhan itu terlontar dari mulut Vanila.
"Oke. Saya rasa urusan kita sudah selesai! Lebih baik saya pergi. Karena suami saya sedang menunggu di rumah." Amara berbalik dan berniat meninggalkan tempat itu. Dia sudah muak berada di sana lama-lama.
Namun pada saat yang bersamaan Vanila menahan bahunya, hingga mau tidak mau Amara kembali berhadapan dengan perempuan itu. Lalu, dengan cepat tangan Vanila terangkat tinggi hendak mendarat di pipi Amara. Tetapi, belum sempat semua itu terjadi, sebuah tangan besar dan kokoh berhasil menahannya di udara.
"Hati-hati, Nyonya! Jika Anda tidak mau dikenakan pasal berlapis dan dituduh atas pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, melakukan tindak kekerasan secara sengaja," ucap seorang pria berjas rapi dengan tegas. Memaparkan semua kemungkinan yang akan ditanggung Vanila setelah dia nekad menampar Amara di depan umum.
Manik Vanila melebar sambil menarik tangannya dari genggaman pria tersebut. "Jangan ikut campur! Saya enggak butuh ocehan Anda!" hardiknya yang semakin bertambah marah dan kesal sebab dia tidak jadi menampar Amara.
"Saya ini seorang pengacara. Dan, saya bisa saja menyeret Anda ke jalur hukum. Karena yang Anda lakukan ini adalah perbuatan tidak menyenangkan. Dan itu ada hukumnya, Nyonya. Ingat itu!" sergah pria berjas hitam dan berpenampilan rapi itu.
Lalu, tanpa bisa berkutik dan berkata apa-apa lagi, Vanila pun gegas pergi dari sana. Semua barang belanjaan yang ada di tangan dia jatuhkan begitu saja. Vanila pergi dengan membawa rasa malu dan dongkol setengah mati.
"Silakan dilanjutkan. Dan, maaf sudah menggangu ketenangan Anda semua di sini," ucap pria yang sama, mengatupkan kedua tangan di dada dan menatap satu persatu semua orang di sana.
Semua orang pun kembali fokus pada urusan masing-masing. Antrean yang sempat tertunda kini kembali berjalan normal.
"Kamu enggak kenapa-napa'kan, Ra?" tanya pria itu kepada Amara yang sempat terbengong.
"A-aku enggak apa-apa, Mas," jawab Amara yang terhenyak sebentar untuk memastikan jika yang dilihatnya adalah pria yang sama. "Mas... Akmal 'kan ya?"
Lelaki bermata sipit itu tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Iya. Kamu lupa sama saya?"
"Ah, enggak juga, sih. Aku agak-agak inget, tapi takut salah orang aja. Soalnya Mas beda dari waktu terakhir kita ketemu di restoran," jelas Amara yang memang sempat tak mengenali Akmal.
__ADS_1
"Beda, gimana? Sama aja, kok." Akmal memindai penampilannya dari kaki sampai atas dada. Menurutnya tidak ada yang berbeda dari penampilannya.
"Hari ini Mas Akmal keliatan formal. Pakek jas terus cara ngomongnya juga beda. Eh, tapi, sebelumnya aku mau bilang makasih. Mas udah belain saya."
Akmal terkekeh dengan sanjungan yang dilontarkan Amara untuknya. "Sama-sama. Itu udah jadi kewajiban saya sebagai pemilik toko yang harus mengutamakan kenyamanan pembeli. Bener, enggak? Dan, saya pikir tindakan yang tadi itu enggak bisa dibiarin aja. Bisa menggangu dan bikin enggak nyaman."
"Mas Akmal yang punya toko ini? Waah... hebat! Ternyata punya toko sebesar dan sebagus ini," puji Amara yang masih belum percaya jika Akmal ternyata memiliki banyak berbagai bisnis.
"Biasa aja, Ra. Kamunya berlebihan," sanggah Akmal.
"Ish, Mas aja yang ngerendah. Udah punya bisnis, jadi pengacara pula."
Akmal tertawa lagi. "Udah-udah jangan muji aku terus. Nanti aku bisa terbang," ucapnya, lalu terdiam sesaat dan mulai bertanya, "Yang tadi itu mantan istrinya suami kamu 'kan?"
"Iya." Amara mengangguk. "Mas, kok, tahu?"
"Siapa yang enggak tahu dia, coba?" Akmal membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
"Iya juga, sih. Secara, dia itu 'kan model. Jadi Mas juga pasti tahulah, ya...." Amara tertawa garing.
"Kamu belanja sendiri? Enggak ditemenin suamimu?" tanya Akmal yang sejak tadi tidak melihat keberadaan Galang.
"Iya. Suami aku di kantor."
"Ooh..." Akmal manggut-manggut. "Lain kali jangan belanja sendiri. Minta suamimu buat nemenin. Siapa tahu 'kan kamu tiba-tiba ketemu sama mantan istrinya lagi. Takutnya dia ngapa-ngapain kamu, Ra." Akmal yang masih memiliki perasaan kepada Amara tentu merasa cemas dan khawatir apabila Vanila berbuat nekad kepada Amara.
Mendapat perhatian dari Akmal, membuat Amara jadi merasa tidak enak dan langsung mengingat suaminya. "Iya, Mas. Biasanya juga ditemenin, kok, sama Mas Galang. Ini pas kebetulan aja sendiri."
Akmal menampilkan raut wajah tak terbaca saat Amara menyebut nama Galang. Rasa cemburu itu kembali mengusik hatinya yang hingga detik ini masih bersemayam nama Amara.
###
__ADS_1
bersambung....