GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 73~


__ADS_3

~PERASAAN YANH YANG KIAN BERTAMBAH.


###


Galang membantu sang istri yang hendak bangkit sambil menjawab, "Kamu demam, Sayang. Badanmu panas." Dia merapikan pakaian Amara yang sedikit berantakan, lalu menyelipkan rambut perempuan itu ke belakang telinga.


"Demam?" Amara menautkan alis, melirik Aldo yang masih berada di ruangan suaminya. Lalu, menatap Galang yang mengangguk.


"Iya. Kamu kelelahan. Tadi pagi kamu juga belum sempet sarapan. Biar aku suruh OB beliin makanan dulu. Tunggu bentar." Galang beranjak, berjalan menuju mejanya dan melakukan panggilan lewat interkom.


Sementara Galang sibuk melakukan panggilan, Aldo mendekati Amara lalu berbisik, "Ra, saya pergi dulu, ya. Saya udah kasih resep obat sama suamimu."


"Iya, Pak. Terima kasih." Amara mengulas senyum di bibirnya yang nampak sedikit pucat.


Sebelum menjauh dari Amara, Aldo pun berbisik lagi, "Jangan kecapekan. Tidur yang cukup, sama jangan sering begadang." Beringsut mundur dengan seringai jahilnya, Aldo juga pamit pada Galang yang telah selesai dengan urusannya. "Saya pergi dulu, Lang. Inget yang udah saya omongin tadi."


"Iya. Bawel!" Galang bersungut-sungut, memandang Aldo yang sudah melenggang dari ruangannya. "Aku udah pesenin makanan sama nyuruh Kevin ke sini. Tunggu bentar," ucapnya yang kembali mendaratkan bokongnya di sisi Amara.


"Mas, Pak Aldo ngomongin apa, sih? Aku enggak ngerti." Amara bertanya sebab merasa bingung dengan apa yang dibicarakan Aldo sesaat sebelum pria itu pergi.


"Udah, enggak usah dipikirin. Dia cuma bilang kalo kamu kecapekan sama harus banyak istirahat," sahut Galang sembari mengusap lembut pipi Amara yang masih terasa hangat.


Hanya itu yang bisa Galang katakan. Tidak mungkin juga dia membeberkan semuanya. Anggap saja dia terlalu malu atau apalah! Terserah kalian.


Tak lama Kevin meminta ijin untuk masuk ke ruangan.


"Boleh saya masuk, Pak?" tanya pemuda itu, melongokkan kepala.


Amara dan Galang menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Masuk, Kev," sahut Galang yang lantas mengeluarkan selembar kertas bertuliskan resep obat dari saku jas.


"Tadi saya ketemu Pak Aldo di depan. Katanya abis meriksa Bu Amara. Memang Bu Amara sakit apa?"

__ADS_1


Kevin yang sudah mendekat langsung mengatakan apa yang baru saja terjadi. Beberapa saat yang lalu, dia sempat bertemu dengan Aldo di depan pintu keluar. Lalu, dia pun bertanya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi kepada Amara.


"Amara demam," ucap Galang, kemudian menyodorkan selembar kertas yang sejak tadi ada di genggaman. "Ini resep obatnya. Kamu bisa suruh OB buat beli ke apotek."


Kevin menerima kertas tersebut sambil menganggukkan kepala. "Baik, Pak. Saya akan suruh OB sekarang juga. Kalo begitu, saya permisi dulu." Dia menurunkan pandangan sekilas, seraya melangkah mundur satu langkah. Kemudian, berbalik dan keluar dari ruangan Galang.


Beberapa saat kemudian....


"Udah, Mas. Aku kenyang." Amara memundurkan wajahnya saat Galang hendak menyuapinya lagi. "Perutku udah enggak muat." Memegangi perutnya yang memang terasa penuh.


Suaminya ini sangat posesif dalam mengurusnya. Membelikan Amara begitu banyak makanan dan buah-buahan. Tak lupa, lelaki itu juga membelikan jus buah kemasan dengan macam rasa.


Galang menarik sendok yang sempat ingin dia masukkan ke mulut sang istri. Mengangguk lantas mengiyakan. "Baiklah." Kemudian menaruh kotak makanan yang isinya tinggal separuh itu ke meja.


"... minumlah. Terus, ini obatnya," ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih dan obat.


Amara menerima gelas itu, dan beberapa butir obat dari tangan suaminya. Satu persatu dia menelan obat tersebut hingga tak bersisa. Ada empat macam jenis obat yang diresepkan Aldo.


"Sama-sama." Galang menaruh gelas itu ke meja. "Kamu istirahat aja. Biar Kevin yang lanjutin kerjaan kamu," katanya lagi yang meminta Amara untuk beristirahat.


"Aku udah enggak apa-apa, Mas," tolak Amara yang merasa tubuhnya sudah agak lebih baikan. Meski kepalanya masih agak terasa pusing.


Menggeleng cepat tanpa mau dibantah. "Enggak bisa. Kamu harus istirahat."


"Mas."


"Amara."


Nampaknya, percuma saja Amara membantah Galang. Perintahnya tidak bisa diganggu gugat.


Menghela pendek, lalu berkata, "Baiklah. Aku istirahat."


"Bagus." Galang tersenyum, mendaratkan kecupan di kening Amara. "Kamu bisa tiduran di sini sambil nungguin aku kerja. Oke."

__ADS_1


"Iya-iya." Lebih baik Amara mengiyakan saja. Namun, tak ada pergerakan sama sekali dari suaminya itu. "Kenapa masih di sini, Mas? Katanya mau lanjut kerja?"


"Kamu beneran udah enakan badannya?" Bukannya menjawab, Galang malah melontarkan pertanyaan. Raut kecemasan masih tercetak di wajah tampannya. Rasa bersalah pun masih menghinggapi. Kondisi Amara yang seperti ini, itu semua akibat ulahnya.


"Udah, Mas. Aku udah enakan. Beneran." Amara menjawabnya dengan sedikit kekehan. Galang terlalu mencemaskan kondisinya, sampai-sampai berulang kali melayangkan pertanyaan yang sama.


"Kalo belum, mendingan kamu pulang duluan aja, Ra. Aku takut, entar kamu malah enggak bisa istirahat," ucap Galang mengeluarkan pendapat. Dia hanya ingin istrinya cepat sembuh dan kembali sehat, karena besok Amara harus berangkat ke Singapura.


Amara mengelus lengan Galang dan segera menyanggah. "Ya ampun, Mas. Aku beneran udah baikan. Kamu enggak usah cemas. Nih, liat, nih." Dia sedikit beringsut maju supaya Galang percaya perkataannya. Mendekatkan wajahnya ke depan muka suaminya. "Udah enggak pucet, kan?"


Dengan jarak sedekat ini, tentu Galang bisa mengamati wajah Amara. Wajah yang sempat terlihat pucat kini sudah agak lebih cerah. Lalu, demi memastikan sekali lagi, dia pun menempelkan punggung tangan ke dahi Amara.


"Udah enggak sepanas tadi, Ra. Itu artinya kamu udah enggak demam," ucapnya yang merasa percaya karena sudah mengeceknya secara langsung. Suhu tubuh Amara tidak sepanas tadi.


"Nah, kan. Aku bilang juga apa? Aku udah mendingan, Mas." Bibirnya mengerucut manja.


"Iya-iya, maaf." Galang mencubit hidung Amara dengan gemas. "Aku takut aja, Ra. Soalnya tadi badan kamu panas banget. Terus kamu juga kayak ngigau enggak jelas."


Kening Amara mengerut. "Masa, sih?"


"Iya." Galang mengangguk. "Kamu bikin aku panik, tahu, enggak?" Menarik tubuh Amara agar lebih mendekat. "Kalo capek bilang, ya, Ra. Jangan ditutup-tutupi. Aku enggak mau istriku kecapekan gara-gara aku." Kini dia memeluk tubuh kecil Amara dengan erat.


Rasa cemas yang sempat hadir, telah berganti rasa lega. Sejak tadi Galang masih kepikiran perkataan Aldo. Takut apabila terjadi sesuatu pada Amara jika semua yang dikatakan Aldo itu benar adanya. Memang, terkadang dia tidak bisa mengendalikan diri jika berdekatan dengan Amara seperti ini. Istrinya ini terlalu cantik dan menggoda di matanya.


Maka di setiap ada kesempatan, Galang tak menyia-nyiakan itu. Bergumul dan bergelung sepuasnya bersama Amara merupakan sesuatu hal yang membuat gelora mudanya kembali berkobar. Dia tidak bisa menekan hasrat dan gairahnya yang semakin lama semakin bertambah jika disuguhkan pemandangan indah setiap harinya.


Amara tersenyum di balik dada sang suami, merasa tenang dan nyaman setiap berada di pelukan lelaki itu. Perasaannya pun kian bertambah besar dengan semua perlakuan dan perhatian yang dicurahkan Galang untuknya.


'Aku cinta sama kamu, Mas.' Ungkapnya yang hanya mampu dia ucapkan dalam hati. Amara masih malu jika mengatakannya secara langsung. Meski dia ingat betul, jika sudah berkata jujur sebelumnya.


###


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2