
~GUSAR.
###
Begitu Kevin memarkir roda empat miliknya di pelataran parkir Firma Hukum, Galang bergegas melepas sabuk pengaman, lalu memutar tubuh ke belakang untuk mengambil buket bunga yang dia taruh di jok penumpang.
Tanpa mau menunggu lagi, lelaki dengan tinggi 183 cm itu lantas turun dari mobil dan melangkah lebar-lebar menuju ke dalam. Dua sekuriti yang biasa berjaga sempat menyapa disertai menganggukkan kepala mereka. Galang membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala juga. Sementara Kevin yang tertinggal jauh di belakang cuma menggeleng dan menahan senyum.
"Pak Galang kayanya sayang banget sama Mbak Amara. Sampe buru-buru gitu." Kevin bicara sendiri, menilai sang atasan yang begitu mencintai sang istri. Langkahnya sangat santai, sesekali dia membalas sapaan para staf yang keluar dari lift.
Kaki panjang Galang mengayun dengan cepat dan sedikit berlari begitu keluar dari lift. Nampaknya, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu Amara yang pasti sedang menunggunya di ruangan. Hingga ketika dia tiba di depan ruangannya, Galang meraih handle pintu dan mendorongnya pelan.
"Ra...." Nama itu lolos dari bibirnya ketika melihat sosok yang sangat ingin dia temui tengah duduk di sofa sambil membaca majalah.
Mendengar namanya disebut, Amara seketika mengangkat pandangannya ke depan. Di sana sudah berdiri lelaki yang ditunggunya sedari tadi.
"Mas?" Menutup majalah yang ada di pangkuan, Amara lantas berdiri.
"Sorry, aku kelamaan, ya?" ucap Galang saat sudah berdiri di depan Amara. Tangannya yang bebas meraih kepala istrinya untuk dia kecup.
"Lumayan, sih. Tapi, enggak apa-apa. Aku seneng kamu baik-baik aja. Soalnya aku khawatir sama kamu, Mas. Chatku enggak kamu bales. Ponsel Mas juga mati. Aku kepikiran kamu, Mas." Amara merapatkan tubuhnya di tubuh gagah itu, melingkarkan tangannya di pinggang, lalu menaruh kepalanya di dada bidang suaminya. Tempat favoritnya semenjak menikah. Begitu nyaman dan damai.
Satu tangan Galang membalas pelukan Amara. Dia menghela lega karena Amara tidak marah atau pun mengomel padanya.
"Maafin, Mas, ya. Hape Mas tadi keabisan daya. Terus, Mas juga lupa bawa cas," ungkap Galang menjelaskan.
Amara mengangguk, masih betah berada di dada bidang suaminya itu. "Iya, Mas. Enggak apa-apa."
Ah, rasanya kenapa selalu nyaman dan tenang saat berada di pelukan Galang. Amara enggan melepaskannya barang sebentar. Besok, dia tidak akan bisa memeluk lelaki ini lagi, karena dia besok harus berangkat ke Singapura.
Galang membiarkan Amara memeluknya sampai puas. Menikmati sikap manja perempuan berambut sebahu itu. Amara sudah tidak malu-malu lagi mengekspresikan perasaannya. Dan, Galang sangat menyukainya. Itu artinya, dirinya sangat penting bagi Amara.
Setelah cukup puas, Amara lantas melepas pelukannya, lalu menarik diri dan mendongak.
__ADS_1
"Ayo, pulang, Mas. Kamu pasti capek 'kan?" ucapnya, yang entah mengapa bagi Galang itu terdengar sangat manis dan menggelitik. Suara Amara yang sedikit serak telah terekam di pendengarannya dengan baik. Apalagi saat perempuan itu mendesahkan namanya di sela percintaan mereka.
Astaga... Bisa-bisanya, di saat seperti ini dia memikirkan hal itu. Ck!
"Ayo." Galang mengangguk, tak lama kemudian dia menyerahkan buket bunga yang sedari tadi dia sembunyikan di balik punggung. "Ini... buat kamu, Sayang. Sebagai permintaan maafku karena udah bikin kamu nunggu lama." Tak lupa seulas senyum manis dia persembahkan pula.
"Bunga lagi?" Kening Amara mengernyit.
"Lagi?" Galang mengulang kata lagi dengan kerutan di dahi. "Maksudnya?" Kini giliran alisnya yang saling tertaut sebab belum mengerti dengan perkataan Amara.
"Ini bunga buat aku?" Amara mengambil buket bunga tersebut dari tangan Galang. "Terus itu?" Dia lantas menunjuk buket bunga Lily yang tergeletak di atas meja.
"Apa?" Galang berbalik, mengikuti telunjuk Amara yang mengacung ke meja kerjanya. "Buket bunga?" tanyanya yang kembali menatap Amara.
"Hu'umm." Amara mengangguk. "Dari Mas 'kan?"
"Bukan." Galang menggeleng. "Itu bukan dari Mas." sanggahnya dengan hati mulai merasa tidak tenang.
"Enggak, Sayang. Mas enggak kirim bunga buat kamu."
"Kalo bukan Mas, terus siapa, dong?" Amara mendadak bingung dan bertanya-tanya dalam hati. 'Kalo bukan Mas Galang, lalu...?'
"Mas juga enggak tahu, Sayang," balas Galang disertai gelengan lagi. Kepalanya kembali memutar untuk menatap buket bunga itu. "Emang, enggak ada nama pengirimnya?" Kakinya melangkah ke meja, lalu memerhatikan sekilas kelopak berwarna putih itu.
"Enggak ada," jawab Amara.
***
Semilir angin malam ini terasa sangat sejuk, tetapi tidak dapat menyejukkan hati seorang lelaki yang kini tengah berdiri di balkon kamarnya saat ini. Maniknya begitu nyalang menatap langit gelap di atas kepalanya. Kegundahan menyelimuti sejak mengetahui ada seseorang yang mengirimi istrinya buket bunga Lily.
"Siapa? Siapa yang ngirim bunga itu?" Pertanyaan yang menggangu pikirannya sejak tadi, hingga membuat dadanya terasa sesak.
Pria mana yang akan merasa tenang, saat tahu istrinya tengah dikejar pria lain. Meski itu belum bisa dipastikan, apa maksud dan motif lelaki tersebut. Sebagai laki-laki dewasa jelas Galang faham dan mengerti dengan apa terjadi. Sialnya, dia tidak tahu siapa sosok yang saat ini tengah mengincar sang istri.
__ADS_1
"Argh!" Menggeram kesal seraya mengepalkan tinju ke udara. Rasa panas dan cemburu kini bercampur menjadi satu di dalam hati Galang. Namun, dia memilih untuk tidak menampakkannya di depan Amara. Dia hanya takut, jika Amara berpikir dirinya tengah dicurigai.
Lantas, Galang tentu tidak akan tinggal diam. Besok, dia akan meminta Kevin untuk menyelidikinya.
"Ya, besok aku akan menyuruh Kevin untuk mencari tahu." Dia mengeratkan rahangnya dengan gigi saling gemeletuk.
Sesaat, Galang merasakan telapak tangan menyentuh kulit terbukanya. Merambat perlahan, menelusuri pinggang, lalu melingkarinya. Kulit punggungnya pun merasa hangat saat tubuh kecil itu mendekap.
"Amara...." Tentu Galang tahu siapa sosok yang ada di balik punggungnya saat ini. Dari wanginya saja dia sudah bisa menebak jika Amaralah yang memeluknya.
"Mas kenapa ada di sini? Bukannya tidur nemenin aku," ucap Amara yang merengek karena Galang tidak ada di sampingnya saat dia terjaga.
Galang memutar tubuhnya perlahan, agar bisa menatap wajah cantik Amara yang sekarang ini pasti sangat menggemaskan.
"Maaf. Mas enggak bisa tidur. Jadinya, Mas cari angin bentar ke sini," ucap Galang beralasan. Dia merangkum wajah Amara dengan kedua telapak tangannya yang besar, lalu memangkas jarak yang ada.
"Mas lagi mikirin apa? Sampe enggak bisa tidur? Apa Mas lagi mikirin masalah bunga tadi, ya?" tanya Amara yang dahinya sudah menempel di dahi sang suami.
"Bukan. Mas enggak lagi mikirin itu, Sayang. Mas cuma lagi mikirin kamu yang besok pergi ke Singapura." Galang masih mencoba menutupi dengan alasan lain.
"Bohong?"
"Beneran." Galang menurunkan satu tangannya ke pinggul Amara. Membawa tubuh kecil itu agar semakin merapat kepadanya. Kini bukan cuma keningnya yang menempel, dada Amara yang berukuran besar melesak ke dadanya. Begitu hangat dan....
"Nanti Mas langsung nyusul 'kan? Jangan lama-lama, ya, Mas. Kalo bisa malemnya kamu berangkat," pinta Amara yang terdengar seperti sebuah perintah.
Galang terkekeh mendengarnya. "Mas enggak bisa janji, Sayang," ucapnya seraya memiringkan kepala untuk menjangkau bibir ranum Amara yang merengut. Menempelkan sesaat bibirnya di atas bibir merekah itu, lalu membukanya perlahan agar lebih bisa merasai manisnya bibir sang istri.
"Eugh...." Amara melenguh saat lidah Galang menyapu lembut bibirnya. Aliran darahnya seketika memompa cepat ketika tangan nakal suaminya itu meremas bokongnya.
###
bersambung....
__ADS_1