
~HAMILIN AKU SEKALI, MAS...
###
Galang tercenung sesaat, kenangan masa lalu kembali berputar di kepalanya. Pertanyaan Amara mengingatkannya akan keinginannya yang begitu ingin memiliki momongan. Menghela pendek, lalu mencoba mengenyahkan semua kenangan pahit yang dulu pernah dia alami.
Diraihnya tangan Amara, kemudian menuntunnya pada sofa yang berada di ruang tengah. Galang duduk terlebih dulu, baru setelahnya meminta istrinya duduk di pangkuan.
Amara masih belum lepas menatap wajah tampan itu. Dia pun berpikir, apakah Galang marah atau tersinggung dengan pertanyaannya barusan?
"Mas? Mas marah, ya? Karena aku tanya begitu?" tanya Amara sembari memegang dada Galang. Mengelusnya sebentar, kemudian merambat naik perlahan-lahan dan berhenti di pundak. Maniknya fokus pada bibir suaminya yang tengah berdehem.
Seulas senyum terbit di bibir Galang lantaran dia tidak tahan dengan sikap polos Amara.
"Siapa yang bilang aku marah?" Galang iseng meremat pinggul kecil nan seksi itu.
"Hem, itu buktinya kamu enggak jawab pertanyaan aku." Bibir ranum Amara mencebik, lantas segera dikecup singkat oleh Galang yang semakin gemas dan tidak tahan dengan godaan tersebut.
"Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa tiba-tiba kamu tanya masa lalu aku? Kenapa... kamu tiba-tiba pengen tahu?" Galang bertanya demikian hanya untuk memastikan, kenapa Amara tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu padanya.
Tangan kanannya sambil sibuk mengelus-elus paha Amara yang tertutup kain jumpsuit. Sementara tangan kirinya menyingkirkan anak rambut yang menutupi area leher jenjang sang istri.
Obrolan ini terdengar sensitif, apabila Galang salah menjawab, mungkin Amara akan berpikiran yang tidak-tidak. Walau dia tahu, jika perempuan yang duduk di atas pahanya saat ini mempunyai pikiran yang positif dan terbuka.
Amara diam, tetapi dia tengah berusaha untuk jujur pada Galang jika dirinya tadi sempat bertemu dengan Vanila.
"Tadi aku ketemu sama mantan istri kamu, Mas," ucap Amara. "Dia...." Amara menunduk, menghalau rasa sesak yang mendadak muncul. Mengingat perkataan Vanila padanya, membuat tenggorokan Amara tercekat.
Sakit hati yang dirasakan Amara, mungkin tidaklah seberapa. Namun, rasa malu yang dia dapatkan akan kejadian itu, seolah terus membayanginya.
__ADS_1
Perasaan Galang mendadak tidak enak, mendapati Amara yang menunduk dan menyebut mantan istri. Itu artinya...
"Ra.... Vanila ada ngomong jelek sama kamu? Iya?" tanya Galang sembari mengangkat dagu Amara. Maniknya seketika melebar saat tahu jika manik Amara telah basah. "Hei...." Kedua ibu jarinya gegas mengusap jejak air mata di pipi Amara.
Tanpa Amara menjawab pun, Galang sudah bisa memastikan jika mantan istrinya pasti sudah berkata yang tidak baik. Lantas, dia merengkuh tubuh itu ke pelukan. Membiarkan istrinya merasa tenang terlebih dahulu.
"Kalo kamu enggak mau cerita enggak apa-apa. Mas enggak akan maksa," ucap Galang yang mengerti perasaan Amara saat ini. "Lupain apa yang pernah kamu denger dari Vanila. Mas enggak mau kamu jadi kepikiran." Dia menepuk-nepuk punggung Amara yang hanya menganggukkan kepala.
Sebisa mungkin, Galang menyingkirkan rasa penasarannya terlebih dahulu. Karena jika dia memaksa pun, itu cuma akan menambah luka di hati Amara.
"Dulu kami menikah atas dasar saling suka. Tapi, sejak awal pernikahan kami, Vanila sudah mengajukan syarat yang mau enggak mau harus aku setujui." Galang mulai menceritakan tentang pernikahannya dengan Vanila.
Amara sontak menarik diri, lalu bertanya, "Syarat apa?"
"Dia mau nerima lamaranku asal kami menunda momongan terlebih dulu. Dia enggak mau punya anak karena mau ngejar karirnya. Dan, aku setuju dan enggak mempermasalahkannya. Terus, setahun, dua tahun, dan di tiga tahun pernikahan kami, Vanila selalu ngasih alasan dan bilang belum siap punya anak. Vanila lebih mementingkan karir dibanding dengan urusan rumah tangga kami. Sampai...."
"Sampai pada akhirnya kamu tahu soal perselingkuhannya?" Amara menyela, melanjutkan ucapan suaminya yang dia tahu akan berakhir seperti apa.
"Dulu, aku pikir salah satu dari kalian mandul, Mas. Makanya belum dikasih momongan. Tapi, ternyata dugaanku salah." Amara mengungkap apa yang sempat dia pikirkan tentang masalah rumah tangga Galang.
"In Sya Allah enggak, Ra. Aku sering cek kesehatanku. Dan, alhamdulilah sehat. Cuma... ya itu tadi. Masalahnya ada di Vanila. Kalo aku sebenernya udah pengen punya anak. Mengingat umurku yang hampir kepala empat," sanggah Galang, sekaligus menjelaskan apa yang selama ini dia jalani.
Sampai di sini Amara faham dan bisa mengerti. Semua letak permasalahan ternyata ada di Vanila. Sementara suaminya hanyalah korban dari keegoisan mantan istrinya itu. Keinginan untuk memiliki momongan pun sudah sejak lama ada di pikiran Amara.
Mungkin kebahagiaannya akan lebih lengkap jika dia dan Galang punya anak. Ada Kasih, ada anak-anaknya kelak yang akan memberi warna pada kehidupannya di masa depan.
"Sekarang masih pengen punya anak, enggak?" tanya Amara dengan senyuman jahil di bibir. Rasa sedih yang sempat hadir menguap begitu saja.
Kedua alis Galang tersentak tinggi mendengar pertanyaan Amara. "Kalo itu sih jelas masih, Ra. Tapi kalo ka—"
__ADS_1
"Ssst!" Amara langsung menutup mulut Galang dengan telapak tangan. Dia tahu apa yang akan dikatakan suaminya itu. Jadi, lebih baik dia sendiri yang menyampaikan keinginannya. "Aku mau. Aku mau punya anak dari kamu, Mas. Aku mau ngasih kamu anak... dua atau tiga. Cukup 'kan?" Sebelah mata Amara mengerling nakal.
Tidak ada salahnya, kan bersikap nakal sama suami sendiri? Lagi pula Galang sudah berbuat banyak untuk dirinya dan Kasih. Memberikan anak bukan suatu hal yang sulit dan itu juga merupakan anugerah terindah bagi seorang wanita.
Amara hanya ingin membalas sekaligus memberikan apa yang menjadi impian dari suaminya ini. Yakni menjadi seorang ayah.
Perlahan Galang menyingkirkan tangan Amara dari mulutnya. "Apa? Kamu bilang apa tadi?"
"Aku... mau punya anak dari kamu, Mas...." Amara menunduk untuk menyembunyikan rasa malu yang membuat pipinya seketika memanas. Menggigit kecil bibir bawahnya dengan degup jantung menggila.
Keinginan Amara jelas disambut senyuman lebar dari Galang. Dia kira Amara akan menundanya, atau paling tidak memintanya untuk bersabar karena masih ingin mengurus Kasih. Namun, Galang tak dapat menyembunyikan perasaan bahagia, saat kalimat itu terlontar dari bibir Amara sendiri.
Merangkum wajah itu, lalu mengangkatnya perlahan. "Mungkin, dua udah cukup, Ra. Satu cowok, satu cewek. Sepasang. Gimana?" ujar Galang memberi penawaran yang terkesan konyol.
Akan tetapi, obrolan ini terdengar menyenangkan bagi Galang. Membicarakan perihal anak tak pernah sekali pun ada dalam cerita rumah tangganya terdahulu. Yang ada malah justru penolakan dan sikap tak acuh dari Vanila.
"Beneran cukup? Enggak mau nambah-nambah lagi?" balas Amara, berniat menggoda Galang yang kini mulai mendekati bibirnya. Kehangatan napas suaminya menerpa kulit pipi Amara dan menimbulkan sensasi yang membuat kepalanya merasa pening.
Mengecup singkat bibir merekah nan menggoda itu, lalu menjawab, "Aku sih terserah kamu. Kan kamu yang hamil."
"Emm...." Menggigit kecil bibirnya sambil memikirkan jawaban Galang. Amara lantas menjawab dengan frontal. "Ya udah. Kalo gitu hamilin aku sekarang juga, Mas. Sekarang...." bisik Amara di telinga Galang, lalu mengakhirinya dengan gigitan kecil.
"Hmm... udah mulai berani rupanya?"
Galang tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sinyal dari sang istri langsung terkoneksi dengan cepat. Amara tahu bila dirinya memang sedang bergairah di bawah sana. Tanpa menunggu lama, Galang segera meraup bibir Amara, memagutnya lembut dan lama kelamaan semakin menuntut.
Keduanya saling berbalas pagutan bibir dengan posisi Amara masih berada di pangkuan Galang. Dan, menuntaskan hasrat yang sudah berada di puncak ubun-ubun saat itu juga. Tak peduli bila sekarang ini tengah berada di ruang tamu.
###
__ADS_1
bersambung....