GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 62~


__ADS_3

~SIFAT MANJA AMARA.


###


Ruang kamar yang dingin seketika menjadi panas karena pergumulan dua sejoli yang sedang berlomba-lomba menuju puncak kenikmatan surgawi. Kini Amara berada di bawah kendali sang suami yang sedang menggagahinya, bergerak tiada henti, mencumbunya tanpa bosan.


"Mas..." Napas Amara terengah, sekujur tubuhnya gemetar luar biasa ketika pelepasan yang diraihnya untuk kesekian kali.


"Amara... ssshh...." Galang pun sama, menyentak lebih dalam lagi miliknya saat dia mencapai puncak pelepasan yang membuat sekujur tubuhnya menggelinjang. Mendongak dengan mata terpejam rapat, menikmati gulungan ombak gairah yang menerjangnya tanpa ampun. Nikmat dan sungguh luar biasa.


Lengan kokoh Galang menjadi sandaran tubuh mungil Amara yang terduduk di atas wastafel. Ya, Galang memberikan posisi dan gaya bercinta di luar dugaannya. Berpindah-pindah tempat dan mencoba berbagai macam gaya. Astaga! Lutut Amara bahkan rasanya sampai lemas dan pegal. Area pangkal pahanya terasa linu dan sedikit kebas. Milik Galang yang berukuran spesial menghujamnya tanpa ampun, memberikan sensasi yang selalu menjadi candu.


"Capek, Ra?" Galang bertanya dengan nada jahil, tangannya yang nakal sengaja mencubit gemas puncak dada Amara yang selalu terlihat menggoda.


Amara berjengit kaget, lalu mengigit pundak lebar suaminya. "Geli, Mas! Kamu usil! Pakek nanya capek apa enggak. Jelas-jelas aku capek, Mas. Kamu kuat banget. Aku sampe kewalahan," celetuknya berpura-pura jengkel, padahal dalam hati dia merasa senang dan bahagia bisa membuat sang suami merasa puas.


Galang tertawa mendengar keluhan Amara yang mirip anak kecil. Namun, dia juga tidak bisa mengelak jika Amara memiliki sesuatu yang sangat-sangat berbeda dari mantan istrinya—Vanila. Kedua perempuan itu mempunyai sifat dan tingkah yang berbeda saat sedang bercinta. Vanila lebih ke agresif dan liar, jika Amara masih malu-malu dan terkadang agak sedikit nakal. Istrinya ini mudah sekali belajar, dituntun sebentar saja dia sudah bisa mengeksplornya sendiri. Galang suka dengan cara Amara memanjakan miliknya.


"Hemm, mau lagi, enggak?" goda Galang sembari meremas pinggul disertai kecupan di telinga Amara. Berbisik sensual yang seketika meremangkan bulu kuduk Amara.


"Enggak. Aku beneran capek, Mas. Lututku pegel sama kakiku. Kayaknya abis ini aku bakalan enggak bisa jalan, deh." Amara merengek, mencebik seraya mengelus-elus dada bidang suaminya. Dia sedang dalam mode meminta digendong. hihi...


Berkacak pinggang, lalu tersenyum. "Minta digendong, nih, ceritanya?" tebak Galang yang langsung mendapat anggukan dari istrinya. "Baiklah. Saya juga akan mandiin kamu. Ayo." Dengan segera Galang mengangkat tubuh Amara dan membawanya ke bawah shower.

__ADS_1


Setelah beberapa menit selesai dengan urusan membersihkan diri, Galang membawa keluar Amara. Dia masih menggendong istrinya yang sudah berbalut jubah mandi, membawanya menuju ranjang, menurunkan perlahan-lahan.


"Makasih, Mas." Amara tersenyum, lalu mencium sekilas rahang Galang yang tegas, sebagai tanda terima kasih.


"Sama-sama, Ra. Karena saya kamu jadi begini. Maaf." Galang balas mengecup dalam kening Amara. Di usapnya lembut rambut basah istrinya. "Saya telepon Kevin dulu buat anterin baju ke sini. Sebentar, kamu duduk aja di sini jangan ke mana-mana. Saya akan pesankan minum sama makanan."


"Iya, Mas."


Galang berlalu dari hadapan Amara, berjalan menuju sofa di mana celana dan kemejanya teronggok di sana. Dia hendak mengambil ponsel yang ada di saku kemeja. Menghubungi Kevin, kemudian petugas Hotel untuk mengantarkan pesanannya.


"Tunggu sebentar, ya. Mungkin sekitar dua puluh menit lagi Kevin baru sampe. Saya juga udah pesenin makan malam. Kamu kalo mau tidur dulu enggak apa-apa, Ra. Nanti kalo makanannya dateng saya bangunin." Galang berkata usai menghubungi Kevin dan petugas Hotel. Dia mendaratkan tubuhnya di pinggir ranjang tepat di sisi Amara.


Amara mengangguk, lantas menyandarkan kepalanya di dada Galang yang bidang. Rasanya sangat nyaman berada di pelukan suaminya ini.


"Silakan, Sayangku. Kamu boleh tidur di sini kapan pun kamu mau." Galang berbisik, berinisiatif merangkul posesif tubuh mungil Amara yang menempel di tubuhnya. Memberinya kecupan mesra di kening dan puncak kepala. Dia suka sifat Amara yang manja seperti ini, merasa dibutuhkan. Galang siap memberikan apa pun untuk pujaan hatinya, meski harus semalaman dalam posisi begini.


Tak lama terdengar suara dengkuran halus dari hidung Amara, napasnya teratur dan kelihatannya sudah sangat lelap.


"Ya ampun... dia beneran capek kayaknya. Cepet banget tidurnya," ucap Galang bermonolog sendiri, seraya menatap wajah polos Amara yang terlihat semakin cantik saja. Dia paling suka pada bibir ranum Amara, meski tanpa polesan sudah berwarna alami. Lalu dengan jahilnya dia mencuri kecupan singkat di bibir merekah itu hingga membuat sang empunya menggeliat lantaran tidurnya merasa terganggu. Galang terkikik sebab berhasil mengerjai istrinya ini.


Baru dua hari menikah dengan Amara, Galang merasa hidupnya semakin lebih berwarna. Jiwa mudanya seolah kembali bangkit jika berdekatan dengan istrinya, Amara yang usianya lebih muda darinya membuat Galang ingin selalu melindunginya. Apalagi dengan sifatnya yang masih terlalu polos, bahkan Amara belum menyadari perasaannya sendiri.


Harapannya tak muluk-muluk, bisa membahagiakan Amara saja rasanya sudah cukup. Ya walaupun keinginan untuk memiliki momongan masih menggebu-gebu, tetapi fokusnya saat ini hanya kepada Amara seorang. Soal itu bisa dibicarakan lagi ke depannya, sekarang Galang masih ingin menikmati masa pacaran bersama Amara dulu. Mengingat, jika istrinya sama sekali belum pernah merasakan indahnya masa berpacaran.

__ADS_1


"Saya berjanji akan membahagiakan kamu, Amara. Berkat kamu saya dengan mudah melupakan rasa sakit itu. Berkat kamu saya berani menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita. Berkat kamu juga dunia saya yang suram menjadi lebih berwarna. Kamu pantas mendapatkan semuanya, cinta dan kasih sayang. Sekarang giliran kamu buat bahagia, setelah kamu mengorbankan masa muda untuk merawat Kasih," ucap Galang sambil mengeratkan dekapannya, menggeser posisi Amara supaya lebih nyaman.


Pergerakannya terganggu saat bel pintu kamarnya berbunyi.


"Itu pasti pelayan hotel." Lantas, Galang mengangkat pelan-pelan Amara, merebahkan di atas ranjang dengan hati-hati. Menarik selimut hingga sebatas leher, Galang mengecup kening Amara sebentar, kemudian beranjak dari ranjang.


"Selamat malam, Pak. Kami mau mengantarkan pesanan Anda." Seorang pelayan Hotel menyapa ramah ketika Galang membuka pintu kamar.


Galang tersenyum, lalu membuka lebar pintu. Mempersilakan dua pelayan laki-laki masuk dengan troli berisikan berbagai menu santap malam yang lengkap.


"Taruh di situ saja," ucapnya menginterupsi dua pelayan tersebut agar meletakkannya di dekat meja saja. "Ini tip buat kalian." Galang menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu kepada mereka.


"Waah... terima kasih, Pak. Kalau begitu silakan dinikmati santap malamnya. Jika Anda butuh yang lainnya jangan segan-segan menghubungi pusat pelayanan kami. Permisi." Setelah menerimanya, kedua pelayan itu pun pamit undur diri, lalu menutup pintu kamar Galang.


Memindai sekilas troli berisikan beraneka macam makanan dan minuman, Galang mengalihkan pandangannya ke Amara yang nampaknya masih tertidur pulas. Dia tidak tega jika harus mengganggu tidur istrinya.


"Hfuuh...." Menghela panjang, lalu menghampiri ranjang king size itu. "Amara pules banget tidurnya. Aku jadi enggak tega banguninnya." Galang membungkuk guna membenarkan letak selimut yang agak sedikit bergeser. Diusapnya lembut puncak kepala Amara, kemudian mengecupnya. Dia memilih untuk menunggu sang pujaan hati terbangun dari lelapnya saja.


Sambil menunggu Amara terbangun, Galang duduk di sofa sekalian menunggu kedatangan Kevin. Malam ini dia berniat menginap di Hotel saja, berangkat ke kantor dari sini. Galang masih ingin menghabiskan waktu bersama Amara berdua saja tanpa ada yang menggangu. Bila di rumah akan ada bi Ratna dan pekerja lainnya yang berseliweran di sana. Berbeda bila di sini, dia mau melakukan apa saja kepada istrinya tak akan ada orang yang melihat atau pun mengganggunya.


"Sepertinya aku butuh apartemen."


###

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2