
~MENCOBA MENGUNGKAPKAN.
###
"Boleh aku masuk, Mas?" tanya Amara sambil melongokkan kepala di depan pintu ruangan suaminya. Meski dia berstatus sebagai istri dari sang pemilik kantor, tetapi di tempat ini dia hanya berstatus sebagai sekretaris dari Galang. Tidak etis rasanya, main asal nyelonong masuk ke ruangan atasan.
Wajah Galang yang semula menunduk, sontak menatap lurus ke arah pintu. "Boleh, dong, Sayang. Ayo, masuk!" Galang tersenyum lebar, dia beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri sang istri yang kini masuk setelah mendapatkan ijin darinya.
Disambutnya dengan satu kecupan mesra di kening perempuan pemilik hatinya saat ini. Galang memeluk Amara sebentar, lalu berkata, "Kenapa kamu selalu minta izin, sih, kalo mau masuk ke ruanganku? Kamu 'kan tinggal masuk, Sayang. Ini juga ruangan suamimu." Dengan perlahan dia menuntun Amara menuju sofa.
"... duduklah." Galang menyusul duduk di samping Amara.
"Ya enggak bisa gitu, dong, Mas. Suami 'kan kalo lagi di rumah? Kalo di sini, ya, beda lagi. Aku tetep bawahan kamu. Jadi, aku tetep harus menjaga etika," jawab Amara, yang menyanggah perkataan suaminya.
Galang mengulas senyum, lalu mengusap pipi Amara dengan sayang. Sifat inilah yang begitu dia sukai dari Amara. Tak hanya cantik, pintar dan penyayang. Amara juga sangat menjaga nilai-nilai kesopanan dan sangat menghargai suatu hubungan.
Bagaimana bisa, jika dia tidak semakin jatuh hati dengan perempuan ini?
"Iya-iya, aku hargai pemikiran kamu," ucapnya yang lantas tersadar akan sesuatu. "kamu ke sini pasti ada hal penting yang mau kamu omongin. Ada apa?" tanyanya sembari mengusap kepala Amara yang saat ini terlihat gelisah.
Saran dari Kevin, rupanya membuat perempuan berkulit sawo matang itu terus gelisah dan cemas. Kemudian, setelah berpikir panjang dan merasa yakin, Amara lantas mengambil keputusan ini. Dia hendak meminta Galang untuk mempertimbangkan lagi keputusan menerima Tania. Selain penampilan gadis itu yang kurang pantas, sikap dan sifatnya juga harus menjadi pertimbangan sekali lagi.
Amara tidak mau, Tania bisa seenaknya bersikap demikian tidak hanya kepada suaminya. Melainkan, kepada para staf kantor lainnya. Mengingat, cara berpakaian dan dandanan gadis itu yang mengundang perhatian maupun penilaian yang kurang baik.
Menghela pendek sebelum pada akhirnya Amara melontarkan ucapan yang telah disusunnya dengan baik. "Mas, kalo ... misalkan aku kurang setuju sama Tania, gimana?" tanyanya dengan nada bicara lembut. Tak sedikit pun dia menampakkan raut tak suka.
__ADS_1
Alis Galang sontak menaut, kemudian dia bertanya tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Kamu keberatan dia kerja di sini?"
Menggeleng samar, dengan bibir terlipat ke dalam. "Ya ... sedikit, sih, Mas." Dia menggeleng tetapi jawaban yang terlontar malah membuat Galang terkekeh.
"Maksudnya, gimana? Ngomong yang jelas, Sayang. Jangan kaya gitu. Kamu gelengin kepala, tapi jawaban kamu seolah menyatakan kamu setuju mengiyakan pertanyaan aku." Galang gemas sekali dengan sikap Amara, sehingga dia tidak tahan untuk tidak mencuri kecupan di bibir yang selalu menggoda itu.
Amara mendelik seraya melayangkan cubitan di perut berotot sang suami, yang saat ini terlihat santai saja. Padahal, Amara takut jika perbuatan Galang tadi dipergoki salah satu staf-nya.
"Mas! Kebiasaan, deh... Kalo nyium enggak lihat-lihat tempat dulu. Gimana kalo nanti ada yang lihat? Kan yang malu aku, Mas...." Bibir Amara mencebik, meski pun begitu, dia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang tercetak di pipinya. Ciuman barusan tentu membuat aliran darahnya berdesir hangat.
ck! Murahan sekali dirinya ini! Di cium begitu saja sudah membuatnya salah tingkah dan berdebar.
"Makanya, jangan bikin gemes aku." Galang beralih mencubit gemas pipi Amara. "tinggal to the points aja, kenapa susah banget, sih? Ngomong, kalo kamu emang enggak suka sama Tania. Aku pasti bakal nurutin kemauan kamu. Enggak perlu takut, dan ragu ngomong sama aku, Ra. Faham?" Kini dia beralih menggenggam tangan Amara.
"Maaf, Mas. Aku enggak enak aja. Aku takut, kamu mikir yang bukan-bukan," tampik Amara, sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang begitu besar. Khawatir, jika Galang menolak untuk menerima sarannya.
Wajar bukan, jika dia mempunyai pikiran semacam itu?
"Enggak akan." Galang menyanggah pemikiran Amara yang menurutnya terlalu jauh. Dia sendiri merasa tidak setuju terhadap Tania, sebab penampilannya yang kurang pantas. "Aku bisa ngerti kenapa kamu enggak setuju kalo Tania yang bakal gantiin kamu," sambungnya lagi seraya mengelus sayang kepala Amara..
Kening Amara mengernyit. "Ma—ksudnya?"
Senyuman jahil tercetak di bibir seksi Galang. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Amara. Lantas, menyeringai penuh arti.
__ADS_1
"Kamu ... cemburu, kan? Hem?" Satu kecupan dia berikan di telinga Amara sebelum menarik wajahnya menjauh. "Iya 'kan?" menaik turunkan alisnya.
Jelas saja Amara menjadi gugup setengah mati. Ditembak dengan pertanyaan tersebut, membuatnya susah payah menelan ludah.
Membuang muka ke sembarang arah, lalu menjawabnya dengan terbata-bata. "Eng ... i—itu ... A-aku." Refleks Amara mengusap tengkuknya dan memilih tidak melanjutkan ucapannya.
Dipandang terus-terusan begini, membuatnya salah tingkah. Hawa panas seketika menyerbu ke seluruh tubuh. Amara tidak berani membalas tatapan sang suami yang selalu menyesatkan itu. Dia takut, jika tidak bisa mengendalikan diri, apabila tersesat di dalamnya.
Sudut bibir Galang tersungging tinggi. Tak perlu dia mendengar secara gamblang jawaban Amara. Dari sikap saja, sudah sangat jelas. Istrinya ini, memang tengah cemburu kepada Tania. Dan, Galang menyukai itu. Artinya, di hati Amara mulai tumbuh benih-benih cinta untuknya.
"Ra ...." Galang menyentuh dagu Amara yang masih enggan menatapnya. Memutar pelan agar bisa puas memandangi paras ayu ini. "enggak usah malu gitu. Aku ini suamimu. Kamu berhak atas diriku dan aku juga berhak atas dirimu. Kita suami istri. Kalo ada apa-apa lebih baik dibicarakan jangan dipendam sendiri," ucapnya, memberi pengertian dan penjelasan yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri.
Suatu hal yang sama sekali tidak berlaku pada pernikahan pertamanya kala itu. Dia dan Vanila terlalu sibuk, hingga jarang berkomunikasi dan ngobrol berdua. Kemudian, tanpa dia sadari celah itu dimanfaatkan orang lain untuk menggangu hubungannya. Alhasil, Vanila berselingkuh di belakangnya.
Oleh karena itu sebisa mungkin, di pernikahan keduanya ini, jangan sampai ada miskomunikasi antara dia dan Amara. Galang tidak mau hal tersebut sampai terulang lagi.
"Kita ini suami istri. Apa yang jadi urusan saya juga jadi urusan kamu. Kamu berhak mengeluarkan pendapat dan memberikan solusi di setiap masalah yang ada. Jangan ragu atau sungkan. Karena pada hakikatnya, istri wajib menegur suami apabila suami secara tidak sadar sudah melakukan kesalahan. Begitu pula sebaliknya. Saya mau kamu enggak cuma menjadi istri, tapi menjadi sahabat sekaligus tempat saya pulang. Kamu satu-satunya perempuan yang ada di hati saya, Amara. Cuma kamu." Galang berkata panjang lebar, dengan posisi dahi saling menempel.
Sementara Amara hanya mampu terdiam. Menyelami dan mencerna semua perkataan suaminya, seraya menelaah debaran ini. Getaran di hatinya yang kian hari bertambah frekuensinya. Di saat seperti ini, Amara ingin sekali bertanya. Namun, dia malu dan tidak percaya diri untuk mengungkapkan perasaannya.
"Mas ... " Amara menjauhkan wajahnya. Ditatapnya lekat-lekat manik kecokelatan Galang. "apa ... ini semua artinya aku cemburu? Aku enggak suka, Mas, lihat perempuan lain mandangin kamu. Aku juga enggak suka liat perempuan lain terang-terangan cari perhatian sama kamu. Di sini." Amara meletakkan telapak tangan Galang di dadanya.
"... rasanya sesak. Terus ada sesuatu yang mengganjal. Enggak enak pokoknya. Rasanya, aku tadi pengen marah terus jambak rambutnya Tania, pas aku tahu kalo dia lagi berusaha ngegoda kamu," sambungnya lagi masih memegang tangan Galang.
###
__ADS_1
bersambung....
Ekhm! cieee...ada yang lagi kasmaran 🤭🙈