
~MAKAN YANG BANYAK.
###
Seperti janjinya, Galang akan mengajak Amara berkencan, dengan kata lain dia ingin menghibur hati istrinya yang sedang tidak baik-baik saja. Sudah banyak yang dialami oleh Amara selama dia membesarkan Kasih—keponakannya. Kali ini biar Galang membayar waktu yang Amara lewatkan selama menjaga Kasih. Sebagai laki-laki yang sedang belajar menarik hati perempuan yang dia cintai, Galang jelas tak akan membuang-buang waktu berharganya bersama Amara.
Tujuh tahun waktu yang Amara habiskan untuk merawat Kasih, dan pastinya banyak hal-hal yang dilewatkan oleh istrinya itu. Semisal; berpacaran dan menjalin hubungan dengan seorang pria. Amara pernah berkata jika dia tidak ada waktu untuk memikirkan soal urusan asmara apalagi berpacaran. Hari-harinya dia habiskan untuk membesarkan putrinya, memberikan yang terbaik dan mencurahkan segalanya.
Lalu, hari ini Galang akan memberikan semua kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang seharusnya Amara dapatkan sejak dulu. Tempat pertama yang dia tuju adalah sebuah Mall yang letaknya tak jauh dari Hotel tempatnya menginap. Hanya butuh waktu tiga puluh menit Galang tiba di sana.
Amara sempat bertanya-tanya mengapa Galang mengajaknya ke Mall, lalu dengan santainya suaminya itu menjawab jika dia ingin menonton film romantis yang baru saja dirilis.
"Mas suka nonton ternyata?" Amara berkata setelah dia pikir jika suaminya ini ternyata punya hobi menonton bioskop. Padahal, Galang juga sama sekali belum pernah menonton di bioskop.
"Enggak juga. Saya cuma lagi pengen aja." Galang mengeratkan rangkulannya di pinggang Amara, melangkah bersamaan menaiki eskalator yang cukup ramai pengunjung. Maklum, hari ini adalah hari Minggu. Dia tidak melepaskan Amara barang sebentar saja.
"Loh? Kok gitu?" Amara mendongak dengan kerutan samar di keningnya. "Berarti Mas juga belum pernah ke bioskop?" Galang mengangkat bahu sebagai jawabannya.
"Hati-hati, Ra." Lelaki itu begitu menjaga Amara bahkan perlakuannya menjadi sorotan orang-orang yang ada di belakangnya. Tanpa malu, dia menggandeng Amara dan menuntunnya melangkah ke anak tangga eskalator terakhir.
Sedangkan yang diperlakukan demikian hanya mengulum senyum senang. Merasa sangat dilindungi dan diperhatikan sebegitu besar. Amara lantas mengeratkan genggaman tangannya. Berjalan beriringan seperti ini di sebuah Mall besar tak pernah ada di pikirannya selama ini. Boro-boro bergandengan tangan, masuk ke sebuah Mall saja dia sangatlah jarang.
"Kamu belum pernah 'kan kencan di Mall?" tanya Galang tiba-tiba, mereka kini tengah menuju tempat yang menjadi tujuannya semula.
"Belum."
"Sudah saya duga."
"Kencan? Aku aja masuk Mall itu bisa dihitung pakek jari, Mas. Enggak ada waktu juga, cuma buang-buang duit." Amara terkekeh setelahnya, menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang menganggur.
"Sekarang anggep aja kita lagi kencan. Saya mau memulainya dari sini. Ngelakuin hal-hal yang sebelumnya belum pernah kamu lakuin. Karena saya tahu, kalo dulu kamu enggak akan ada waktu buat itu. Jadi, hari ini kamu bebas mau melakukan apa, saya akan turuti semuanya." Galang mengusak puncak kepala istrinya yang saat ini sudah bersemu merah lantaran malu sekaligus tak percaya.
__ADS_1
"Makasih, Mas. Kamu udah berusaha keras buat nyenengin hati aku," ujar Amara tulus. Sudut hatinya berdesir hangat, Galang selalu sukses membuatnya merasa berharga dan selalu dipuja.
"Itu udah jadi tugas saya sebagai seorang suami. Menyenangkan hati istri itu adalah kewajiban. Ya... itung-itung saya membalas kebaikan kamu yang udah rela semalaman saya kerjain sampe berkali-kali."
"Mas! Malu ih! Masa ngomongnya gitu? Nanti kalo didenger orang, gimana?" Amara celingukan ke sana kemari, takut jika ada seseorang yang mendengar ucapan frontal suaminya itu. Haisshhh...
Galang terkekeh lantas mencubit gemas pipi Amara yang memerah. "Biarin aja! Toh, kita udah sah ini."
"Terserah Mas." Amara cuma bisa menghela napas panjang seraya memutar bola matanya ke atas. Jadi begini sifat asli lelaki yang belum genap dua hari menjadi suaminya itu. Mesum.
"Kamu tunggu di sini dulu. Saya mau beli tiket," ucap Galang begitu tiba di tempat yang dituju.
Amara mengangguk. "Iya. Aku tunggu sini. Mas cepetan, ya?"
"Siap." Galang mencubit dagu Amara sebelum akhirnya dia pergi untuk membeli tiket.
_
_
"Habis ini mau ngapain lagi, Ra?" Galang bertanya sembari melirik sekilas jam yang ada di tangannya. "Masih sore. Apa kita makan dulu?" tawarnya kemudian.
"Boleh. Aku juga udah laper, Mas."
"Ya udah. Kita ke food court dulu. Habis makan kita lanjut lagi."
Keduanya lantas turun ke lantai bawah, lalu masuk ke food court. Galang menarik kursi untuk Amara terlebih dahulu sebelum dia menyusul duduk.
"Mau makan apa, Ra?" tawar Galang seraya membuka buku menu yang sudah tersedia di atas meja.
"Apa aja, Mas."
__ADS_1
"Kamu sukanya apa?" Galang bertanya lagi sebab dia juga ingin tahu makanan kesukaan istrinya.
"Aku sih sederhana aja, Mas. Yang penting ada nasinya. Hihii...." Amara terkikik. Dia bukanlah tipe perempuan yang pantang dengan makanan dan tidak memiliki menu khusus. Apa saja dia makan asalkan itu halal.
Tawa Amara seketika menular kepada Galang, lelaki itu menggelengkan kepala merasa lucu dengan jawaban istrinya.
"Ya udah, kalo gitu aku pesenin ayam bakar madu sama nasi liwet, mau?"
"Mau-mau. Kalo ada sama sambelnya, ya, Mas. Tapi kalo Mas jangan makan sambel dulu. Nanti asam lambung kamu naik lagi." Meski Amara sangat antusias dengan menu yang ditawarkan suaminya, dia tidak lupa mengingatkan Galang supaya jangan makan sambal terlebih dulu.
"Siap, Nyonya." Galang menjulurkan tangannya guna mengusap pipi Amara. Sederhana namun begitu berarti baginya. Diingatkan oleh pasangan yang kita cintai jarang sekali dia dapatkan dulu waktu masih bersama Vanila.
Tak lama seorang pelayan datang menghampiri meja keduanya setelah dipanggil. Menyapa dengan ramah, kemudian mencatat semua pesanan Galang. Amara menelan ludah sebab Galang memesan begitu banyak makanan.
"Mas, kamu mau bikin aku gendut, ya? Kenapa pesen makanan banyak banget?" protes Amara setelah kepergian pelayan itu. Dia memang doyan makan tetapi tidak akan sanggup jika harus menghabiskan semuanya.
Bayangkan saja, Galang memesan nasi liwet, ayam bakar madu, bebek goreng, cumi saos tiram, es campur, jus alpukat, jus jeruk dan roti bakar. Astaga... Bisa-bisa berat badannya naik setelah menikah dengan Galang.
"Kamu harus makan yang banyak, biar enggak kurus. Biar agak berisi itu badan kamu. Biar seimbang nanti pas lawan aku. Iya enggak?" Galang malah menyahut dengan santainya, seolah dia memang sengaja melakukannya. Bahkan dengan jahilnya dia menarik turunkan alisnya.
"Hfuuh...." Menghela panjang seraya menepuk jidatnya. Amara betul-betul tidak menyangka jika lelaki yang dia nikahi punya pemikiran sampai ke situ.
"Kenapa? Kok, malah tepok jidat?" Tingkah Amara mengundang tawa bagi Galang. "Hei...." Dia meraih tangan Amara lantas menggenggamnya. "Aku cuma bercanda tadi. Jangan dianggap serius. Badan kamu udah pas, kok. Malah udah bagus menurut aku." Galang pikir Amara tersinggung dengan perkataannya.
"Tapi lebih bagus lagi kalo lebih padat dan berisi," imbuhnya yang langsung mendapat tatapan horor dari Amara.
"Mas!" Bola mata Amara hampir keluar dari cangkangnya. "Ngeselin kamu!" Menarik tangannya dari genggaman Galang yang malah tersenyum senang lantaran berhasil menggoda istrinya.
"Saya bercanda, Amara...."
####
__ADS_1
bersambung....
Hadeeuuuh.... Pak Galang bisa ae ðŸ¤