GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 83~


__ADS_3

~Berdoa dan Berharap.


###


Setelah mendapat suntikan dari suster, Kasih pelan-pelan merasa tenang. Kedua matanya pun mulai terasa berat, dan mengantuk. Sementara Amara dengan sayang mengusap jejak air mata di pipi putrinya itu. Sepertinya, obat yang baru disuntikkan adalah obat penenang.


"Kasih ngantuk, Bu...." lirih Kasih, yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuk. Denyutan di kepalanya pun mulai mereda dan tidak sesakit tadi.


"Kasih bobok aja kalo ngantuk." Amara beralih mengusap kening Kasih. "Ibu bakal nunggu di sini." Hatinya mulai merasa tenang, melihat putrinya tak merasakan sakit seperti tadi.


Sungguh, yang tadi itu benar-benar membuat Amara nelangsa dan sedih. Tangisan Kasih dan keluhan gadis kecilnya itu membuat Amara hancur. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kondisi Kasih semakin buruk? Itu yang saat ini ada di kepala Amara.


Melihat Kasih sudah terlelap, lantas Amara menarik tangannya dari genggaman Kasih dengan hati-hati. Dia beranjak dari duduknya, lalu menghampiri ketiga orang yang ada di belakangnya sedari tadi. Mami, papi, dan Galang duduk termenung di sofa panjang yang berada di ruangan tersebut. Ketiganya terdiam dengan pikiran berkelana.


"Mom...." panggil Amara ketika sudah ikut duduk di samping suaminya. Ada banyak sekali pertanyaan di benak wanita itu mengenai kondisi Kasih yang malah semakin parah.


Mami menatap Amara. Beliau tahu apa yang akan dilontarkan menantunya saat ini. Oleh karena itu, beliau telah menyiapkan jawaban atas semua pertanyaan yang akan dia dapatkan dari Amara. Sebuah kabar yang mungkin akan mengejutkan Amara dan Galang.


Galang lantas menggenggam tangan Amara dengan erat. Lelaki itu sama hancurnya dan sedih. Keponakan yang baru saja dia temukan, tengah berjuang di ranjang pesakitan. Sebagai Om dari Kasih, Galang merasa sangat tidak berguna sama sekali. Semua upaya telah dia lakukan untuk kesembuhan sang keponakan, tetapi hingga sekarang belum membuahkan hasil.


"Mami... ada yang mau dijelasin ke kita?" tanya Amara dengan sopan. Meskipun dia sudah tidak sabar dengan apa yang ingin didengar dari mami, sebisa mungkin Amara menahan diri agar tidak terlalu emosional.


Tutur kata pun, Amara berusaha untuk tidak menyinggung sang mertua yang kini terisak. Papi dengan sigap merangkul mami yang kembali berurai air mata. Mengusap lembut punggung mami yang bergetar.


Entah kenapa, tangisan mami menjadi sebuah firasat buruk bagi Amara. Perasaannya semakin tidak tenang dan cemas.

__ADS_1


"Mom, apa ada hal yang enggak kami ketahui?" Galang yang sedari tadi menahan diri untuk tidak mendesak mami, akhirnya memilih membuka mulut. Menelisik kedua orang tuanya yang bungkam, malah membuatnya gemas sendiri.


Menyusut air mata di pipi, mami pun berusaha berbicara, meski suaranya terdengar serak. "Maaf, sebelumnya. Mami juga baru tahu kabar ini tadi pagi. Dokter yang menangani Kasih, tadi pagi bilang kalo hasil pemeriksaan medis Kasih ternyata ada kejanggalan lain. Di hasil kemarin, dokter menemukan kalo ada penyakit lain yang diidap Kasih." Air mata mami kembali tumpah ketika mengingat perkataan dokter.


"Ssstt... udah, Mi. Udah...." Papi menepuk-nepuk punggung mami yang sesenggukan. Beliau juga ikut menitikkan air mata.


"M-maksudnya?" Galang dan Amara bertanya serentak. Saling menatap sekilas, lalu menatap mami dan papi lagi. Keduanya sama-sama penasaran dan tegang.


Mami menyeka air mata dengan punggung tangan, menghela panjang guna menghalau rasa sesak yang semakin menghimpit dada. Setelah dirasa cukup, beliau lantas kembali menjawab.


"Dokter bilang kalo di otak Kasih ada tumor sebesar buah anggur. Dan, ternyata sudah memasuki stadium akhir. Ka—" Mami menjeda ucapannya lantaran tidak sanggup untuk melanjutkan. Tangisannya kembali meluncur, bahkan terdengar semakin nyaring.


Manik Amara melebar. "A-apa? I-itu gak mungkin. Enggak!" Dia menggeleng tidak percaya. Berharap semua yang dikatakan mami hanyalah kebohongan. "Mas, Mami bohong 'kan? Heuh?" Amara mengguncang pundak Galang yang masih belum bergeming.


Lelaki itu nampaknya merasa syok dan tengah berusaha mencerna perkataan mami barusan.


Galang memiringkan kepala, tangannya terulur memegang punggung Amara yang bergetar. Dirangkulnya tubuh kecil itu dengan erat. "Tenang, Ra... Tenang. Udah... jangan nangis. Nanti kita tanya sendiri sama dokter. Buat mastiin lagi."


Ya, Galang akan menanyakan hal tersebut supaya lebih jelas lagi. Agar hati Amara dan hatinya tenang dan yakin. Dan, semoga saja masih ada jalan keluar terbaik bagi Kasih.


_


Beberapa jam kemudian...


Amara tak berhenti menangis sejak keluar dari ruangan dokter yang menangani Kasih. Galang pun sama. Dia tidak dapat membendung kesedihan yang teramat mendalam. Semua yang dikatakan dokter sama persis dengan apa yang disampaikan mami.

__ADS_1


Penyakit lain yang ada pada Kasih ternyata baru terdeteksi kemarin. Itu pun kata dokter yang menangani, jika selama ini dokter yang memeriksa kondisi Kasih untuk pertama kali sudah kecolongan. Mereka hanya menemukan kanker dalam tubuh Kasih, padahal ada penyakit yang lebih membutuhkan penanganan secepatnya.


Andai saja, tumor yang ada di kepala Kasih segera diangkat, kemungkinan besar nyawa gadis itu masih bisa diselamatkan. Sayangnya, tumor tersebut sudah menjalar ke seluruh syaraf dan semakin membesar. Sementara, kanker yang dideritanya juga sudah naik menjadi stadium tiga.


Rencananya, besok dokter akan melakukan tindakan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang terlebih dahulu. Baru kemudian, setelah itu operasi pengangkatan tumor. Akan tetapi, dokter tidak bisa menjamin keberhasilan tindakan ini. Kemungkinannya sangat kecil, hanya sepuluh persen dari perkiraan. Itu pun, belum ditambah dengan prosedur lainnya.


Banyak rangkaian pengobatan yang harus dijalani Kasih setelah operasi besar tersebut. Tindakan yang dilakukan sebenarnya hanya untuk memperpanjang umur Kasih. Para dokter akan berusaha semaksimal dan mengerahkan segenap kemampuan.


Namun, semua itu tidak bisa menjadi patokan untuk Kasih bisa sembuh total. Tidak. Seluruh keluarga hanya perlu memberi dukungan lebih kepada bocah tujuh itu.


"Mas... Kasih, Mas. Aku gak mau Kasih pergi. Aku mau dia berumur panjang." Amara tergugu di pelukan Galang.


Mereka kini tengah berada di lorong rumah sakit tepat sebelum bangsal rawat inap Kasih berada.


Keduanya duduk di kursi yang tersedia di sana. Menenangkan diri dan tidak mau Kasih melihat kesedihan yang sedang mereka alami.


Galang merangkum wajah Amara yang hampir seluruhnya basah karena air mata. "Tenanglah, Sayang. Lebih baik kita pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Jangan berhenti berharap dan berdoa. Kita harus yakin kalau Kasih pasti akan sembuh. Dia pasti sembuh," ujarnya menenangkan, kemudian memeluknya erat agar Amara tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah ini.


Galang sendiri buntu. Tak tahu harus memakai cara apalagi supaya Kasih tetap hidup dan bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya.


"Tapi, Mas... aku...." Amara tak sanggup lagi untuk melanjutkan kalimatnya. Ucapannya tertahan di tenggorokan yang semakin tercekat.


"Ssst... udah... udah...."


###

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2