
~Kondisi Maya....
###
Malam ini seharusnya adalah malam perayaan ulang tahun Kasih. Di mana tepat di tanggal ini Amara bertemu dengan malaikat kecilnya itu. Ya, semenjak hari itu, Amara memutuskan untuk menjadikan tanggal tersebut sebagai tanggal lahir Kasih.
Setiap tahunnya, Amara selalu merayakan hari ini dengan sederhana, dan memberikan kejutan untuk Kasih. Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Amara tidak bisa merayakan lantaran kendala kondisi sang buah hati, yang sedang berjuang di ranjang pesakitan setelah menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang.
Kasih masih tertidur di bawah pengaruh obat bius. Amara hanya bisa menatapnya nanar tanpa bisa melakukan apa-apa. Putrinya terbaring dengan berbagai macam alat medis yang menempel di hampir seluruh tubuh. Ibu mana yang tega jika disuguhkan pemandangan memilukan seperti ini.
Bocah yang biasanya ceria dan penuh canda tawa, kini hanya bisa pasrah dalam kendali alat-alat tersebut. Semua rasa sakit yang ada tentu sangat menyiksa. Tanpa Kasih berucap pun, Amara dapat merasakan itu. Sebelum, masuk ke ruang operasi, Kasih sempat ketakutan dan memintanya untuk menemani di dalam. Akan tetapi, dokter melarang hal tersebut, lantaran hanya tim medis yang diperbolehkan ada di sana.
"Ra..." Sentuhan tangan Galang mengalihkan perhatian Amara. Lelaki itu baru saja masuk ke ruangan rawat Kasih, dengan baju steril melekat di tubuhnya.
"Mas...." Amara menoleh sekilas, lalu kembali menatap Kasih yang betah tertidur di ranjang pasien.
Galang merangkul sang istri yang beberapa hari ini benar-benar terguncang. Amara tak berhenti menangis setelah mengetahui fakta lain dari kondisi Kasih. Dia bahkan sudah mencoba berbagai cara untuk membuat perempuan itu untuk tidak larut dalam kesedihannya. Namun, Amara tetap saja tidak bisa merasa tenang dan malah semakin bersedih.
"Ayo kita keluar, Ra. Kamu udah dari tadi di sini. Kamu juga belum makan dari kemarin malam, Sayang. Nanti kalau kamu sakit, gimana? Kamu gak bisa jagain Kasih," ujar Galang mencoba merayu sang istri yang sangat sulit untuk makan sejak kemarin.
Galang takut, kalau Amara malah akan ikutan drop dan sakit.
"Aku mana bisa makan, Mas. Liat anakku dengan kondisi begini. Selera makanku hilang. Aku cuma mau ada di deket Kasih, cuma itu," sahut Amara dengan suara seraknya. Rasa lapar sama sekali tidak dia hiraukan, terkalahkan dengan rasa cemas memikirkan kondisi Kasih.
__ADS_1
Jawaban Amara ditanggapi helaan panjang oleh Galang. Dia bisa memahami perasaan Amara saat ini. Namun, Galang juga tidak bisa membiarkan perempuan yang dicintainya itu terus-terusan tenggelam dalam kesedihan. Sehingga mengabaikan kesehatannya sendiri.
"Sayang... sekali ini aja, kamu dengerin aku. Ini semua juga demi kebaikan kamu. Kalau kamu sehat, kamu bisa terus ada di samping Kasih buat jagain dia," ucap Galang masih berusaha menjelaskannya dengan tutur kata yang lembut. Tak mau sedikit pun membuat hati Amara tersinggung dan berpikir bila dia tengah mendesaknya.
Lantas, Amara tercenung sejenak. Mencerna perkataan sang suami dengan pikiran yang bercabang. Andai saja, Amara tetap mengabaikan nasehat Galang dan kekeuh tidak makan. Mungkin, dia akan ikut-ikutan sakit. Dan, tidak bisa menjaga Kasih selama 24jam. Lalu, Amara terpaksa menuruti perintah Galang untuk makan, setidaknya dia memiliki tenaga untuk menjaga Kasih.
"Baiklah, Mas. Aku akan makan," putus Amara akhirnya, sembari meraih tangan Galang untuk digenggam. "Mas, juga belum makan 'kan?" Dia tahu itu, sebab Galang sama sekali tidak pernah membiarkannya sendirian sejak semalam.
Seulas senyuman tersemat di bibir Galang, walaupun separuh wajahnya tertutupi masker. Nampak dari kedua maniknya yang menyipit.
"Gimana mas bisa makan? Kalau istri mas aja gak makan," sahut Galang yang lantas menuntun Amara untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Harusnya gak bisa gitu, Mas," tampik Amara memicingkan mata ke arah sang suami. Mereka kini sudah berada di luar ruangan rawat Kasih.
Galang membuka masker dan penutup kepala, dia terkekeh gemas melihat reaksi Amara. "Kenapa gak bisa? Buktinya bisa?" ucapnya sambil membantu Amara melepas masker dan penutup kepala. "Ayo, kita ke ruangan ganti dulu. Baru setelah itu kita ke kantin rumah sakit."
Amara menuruti saja perintah Galang. Biar bagaimanapun ini semua demi kebaikan mereka berdua. Galang rela tidak makan, semua karena dirinya. Oleh sebab itu, Amara memutuskan untuk berhenti mogok makan. Dia tidak setega itu, membiarkan sang suami kelaparan karena tindakan konyolnya.
_
"Udah, Mas, cukup. Aku udah kenyang," tolak Amara sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan. Perutnya benar-benar sudah penuh, dan sudah tidak sanggup lagi mengunyah sisa makanan yang masih tersisa di piring.
Galang menarik tangannya, kemudian meletakkan sendok berisi makanan yang sempat tertahan di udara ke piring. "Beneran udah kenyang?" tanyanya, lalu mengambil gelas berisikan jus jeruk dari meja, dan memberikannya ke Amara yang mengangguk.
__ADS_1
"Beneran." Amara menerima jus jeruk pesanannya, lalu meminumnya perlahan. "Sekarang giliran kamu makan, Mas. Makanan kamu dingin, gara-gara kamu sibuk suapi aku." Dia meletakkan gelas tersebut ke meja, lantas menunjuk pesanan suaminya yang belum tersentuh sama sekali.
"Iya, ini mas makan." Galang pun mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya. Tak masalah jika makanannya dingin, asal dia sudah memastikan sendiri Amara makan dengan benar.
Melihat sang suami yang makan dengan tenang dan tanpa keberatan sama sekali, membuat Amara geleng-geleng kepala. "Maaf, Mas. Karena aku, Mas jadi kelaperan," ujarnya merasa tidak enak sendiri.
"Apa, sih, Ra? Udah gak usah dipikirin," tampik Galang, yang sibuk mengunyah makanannya. "Yang penting sekarang kamu udah makan. Mas udah tenang, itu aja."
Senyum haru tersemat di bibir mungil Amara. Apa jadinya, bila tidak ada Galang di sisinya. Lelaki itu mendampinginya tanpa mengenal lelah.
"Mami sama Papi, ke mana Mas? Kok, aku belum liat mereka dari tadi?" Amara tiba-tiba mengingat kedua mertuanya yang belum terlihat sejak Kasih selesai dioperasi.
"Mami sama Papi ada di kamar Kak Maya." Galang menjawab sembari menyeka kedua sudut bibirnya dengan tisu. Dia baru saja selesai menghabiskan makanannya.
"Di kamar Kak Maya? Ngapain?" Amara memberikan gelas berisikan teh hangat kepada Galang.
"Kak Maya enggak mau ditinggal. Dia ketakutan." Galang meminumnya perlahan, lalu meletakkannya ke meja lagi. "Kayanya dia belum menunjukkan tanda-tanda sembuh, Ra. Kakakku masih belum inget apa pun."
Amara mengangguk faham dengan kondisi kakak iparnya itu. Memang tidak mudah untuk menyembuhkan psikologis seseorang. Butuh waktu dan kesabaran untuk mengembalikan kondisi seperti sedia kala. Apalagi, kakak dari Galang tersebut seingatnya begitu membenci Kasih, dan sempat ingin melenyapkan nyawa putrinya sendiri.
"Ayo, Ra. Aku udah selesai. Kita ke kamar Kak Maya bentar, ya?" Galang beranjak, lalu mengulurkan tangan ke depan Amara.
Amara mendongak, mengangguk kecil, kemudian membalas uluran tangan sang suami. Dia lalu berdiri dan mengambil tas selempang yang dia letakkan di sampingnya. "Ayo, Mas. Aku juga pengen liat keadaan Kak Maya."
__ADS_1
Keduanya lantas pergi dari kantin Rumah Sakit dan segera menuju ruangan di mana Maya dirawat.