GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 54~


__ADS_3

~AJAKAN KENCAN.


###


"Halo Ibu! Kasih kangen sama Ibu!" seru Kasih dengan riang, menyapa Amara lewat panggilan video call. Ini adalah ide dari Galang yang sengaja menghubungi mami usai makan siang, tetapi justru Kasih yang terlihat sangat antusias. Bocah itu langsung menyerobot ponsel neneknya.


"Halo Kasih, Sayang. Apa kabar?" Amara bertanya sembari menyeka sudut matanya yang berair. Kerinduannya kepada Kasih seketika mencuat saat menatap wajah polos putrinya itu. Kasih nampak pucat namun itu tak menyurutkan semangatnya untuk sembuh, meski dia tahu jika putrinya itu sedang menahan sakit yang teramat.


"Kasih baik, Ibu. Kasih mau cepet sembuh biar bisa ketemu sama Ibu," sahut Kasih, senyuman di wajahnya menjadi kekuatan bagi Amara untuk tidak meneteskan air mata di hadapan Kasih. "Ibu, selamat, ya, Ibu udah nikah sama Om Galang."


"Makasih, Sayang. Kamu harus semangat, ya, Nak. Jangan rewel dan jangan nyusahin nenek sama kakek." Amara memasang senyum senang, kendati tenggorokannya mulai tercekat.


"Iya, Bu. Kasih enggak nakal, kok! Tanya aja sama Nenek. Iya 'kan, Nek?" Kasih menoleh ke mami yang ada di sebelahnya.


"Iya. Kasih nurut, kok. Kasih udah enggak pernah rewel." Mami Sarah menimpali sembari membelai rambut cucunya.


"Alhamdulillah ... Kasih memang anak pinter." Amara mengarahkan jempolnya ke layar ponsel Galang.


"Kan Kasih inget kata-kata Ibu."


"Kasih memang anak pinter dan penurut. Om yakin Kasih pasti cepet sembuh." Galang turut menimpali.


"Makasih, Om." Kasih meringis memamerkan giginya yang ompong. "Om kapan ngajak Ibu ke sini? Katanya mau nyusul Kasih...?" Bocah itu merajuk sebab Galang tak kunjung membawa ibunya untuk menyusul ke Singapura.


Galang dan Amara saling pandang. Sebetulnya Galang sudah mempersiapkan segalanya, tetapi jadwal sidangnya yang tertunda masih menunggunya. Ada banyak pekerjaan setelah ini, jadi Galang belum bisa memastikan kapan mereka akan ke Singapura.


"Kasih, mungkin dalam beberapa hari ini kami belum bisa ke sana. Kerjaan om di sini masih banyak. Doain semoga kerjaan om cepet selesai dan bisa segera nyusul Kasih. Kasih sabar dulu, ya..."


Sebisa mungkin Galang menjelaskan kepada Kasih, tak ingin membuat hati keponakannya itu merasa kecewa lantaran harus menunggu lama. Amara yang berada di sampingnya pun ikut menimpali.

__ADS_1


"Kasih ... nanti kalau udah ada waktu ibu pasti nyusul ke sana. Yang penting sekarang kamu jangan mikirin itu dulu, ya, Nak. Kamu fokus aja sama pengobatan kamu. Kamu jangan sedih karena ibu belum bisa nemenin Kasih." Buru-buru Amara menyembunyikan tangisannya yang tak bisa dia bendung lagi. Amara beranjak dari hadapan Kasih dan memilih duduk di meja rias. Dia tak mau Kasih melihat kesedihannya lantaran menahan rindu.


Galang yang melihatnya tidak tega, dan meminta Kasih supaya lebih bersabar lagi. Lalu, mengatakan akan menghubunginya lagi nanti. Sambungan video call pun diputus. Meletakkan ponsel ke atas nakas, Galang beranjak, kemudian segera menghampiri Amara yang sudah tersedu-sedu.


"Hei ...." Lelaki itu membelai rambut Amara, lalu berjongkok di depan kursi yang Amara duduki. Mengusap pipi Amara yang basah dengan kedua ibu jari, kemudian memberikan sebuah kecupan sayang di kening sang pujaan hati.


Suami mana yang tidak ikut bersedih menyaksikan sang istri menangis seperti ini. Galang bisa mengerti dengan perasaan yang hinggap di hati Amara, air matanya sudah cukup mewakili bagaimana kerinduannya terhadap Kasih yang sudah dia anggap sebagai anak kandung.


"Maaf, Mas. Aku malah ngerusak suasana. Aku enggak bisa nahan kesedihan ini," ujar Amara seraya mengusap jejak air mata yang seolah tak mau berhenti mengalir dari bola mata jernihnya.


Dadanya begitu sesak kala harus berjauhan dengan Kasih. Namun, Amara juga tidak bisa bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Kesehatan Kasih yang utama, meski harus berpisah untuk sementara waktu Amara rela berkorban untuk itu.


Meraih tangan Amara yang ada di pangkuan, Galang memegangnya dengan erat, kemudian mengecupnya berulang-ulang. Istrinya ini teramat polos dan lugu. Bagaimana mungkin Amara berpikir jika dirinya akan marah perihal sepele semacam ini. Yang ada justru Galang semakin memahami dan mengerti dengan perasaan Amara yang benar-benar tulus menyayangi keponakannya.


"Kenapa kamu selalu meminta maaf untuk hal kecil? Kamu enggak salah, Ra. Saya bisa memahami perasaan kamu sekarang ini. Kamu pasti kangen sama Kasih, makanya kamu nangis. Iya 'kan?" tanyanya sambil membantu Amara menyeka sisa-sisa tangisnya.


"Aku kangen sama Kasih, Mas. Aku biasa nemenin dia tidur. Nemenin dia makan, nemenin dia belajar," ucap Amara sesekali menyusut cairan yang mengalir di hidungnya dengan tisu. "Dari dia masih bayi sampai sebesar itu, aku belum pernah berpisah jauh sama dia. Selama ini kami selalu sama-sama. Aku yang pertama kali ngajarin dia ngomong, berjalan, berlari. Aku orang yang pertama kali dia sebut sebagai ibu. Itu hal yang enggak akan pernah aku lupain seumur hidup aku. Kasih itu anugerah buat aku, dia segalanya buat aku. Makanya, meski aku harus tersiksa karena jauh darinya, aku berusaha buat baik-baik aja. Dan, terus berdoa demi kesembuhannya." Bola mata jernih itu kembali menganak sungai, kenangannya bersama Kasih terlalu berharga bagi Amara.


Sementara suaminya masih setia mendengarkan Amara bercerita soal Kasih. Jujur, Galang begitu iri kepada Amara yang mempunyai kesempatan untuk bersama Kasih dan melihat perkembangan bocah itu. Galang meraih kursi, lalu ikut duduk di depan Amara yang nampaknya masih belum ingin berhenti bercerita.


"Tapi aku sebagai ibunya enggak mau liat anakku terus-terusan sedih dan murung. Pelan-pelan aku jelasin ke dia, Mas, kalo Tuhan sayang sama dia karena itu Tuhan ngasih dia ujian dengan penyakit ini. Aku enggak mau Kasih patah semangat dan ngerasa dia sendirian di dunia ini. Aku bilang sama dia kalo bukan cuma dia aja yang punya penyakit seperti itu. Masih banyak anak-anak di luaran sana yang juga sakit kayak Kasih, tapi mereka tetep bisa senyum, bisa ketawa, bermain. Terus, dari situ dia mulai belajar menerima penyakitnya. Lama-lama dia udah mau ngomong lagi, bercanda lagi, ketawa lagi. Dan sampai sekarang semangat buat sembuh masih bisa aku lihat di matanya." Amara tersenyum disela-sela kesedihan yang melandanya.


Sebab Amara menangis ialah semangat Kasih dan rasa rindu yang kian hari semakin menggunung.


Mendengar cerita soal Kasih, Galang semakin kagum dengan sosok perempuan ini. Amara bukan hanya seorang ibu yang hebat, dia juga seorang bidadari yang dikirimkan Tuhan untuk menjaga Kasih selama ini. Cinta dan kasih sayangnya tak perlu diragukan lagi. Kasih tumbuh menjadi anak yang penurut, pintar dan tegar itu semua berkat didikan Amara sebagai ibunya.


"Kamu kangen sama Kasih 'kan? Kalo gitu kamu boleh nyusul dia duluan ke Singapura, kalo perlu hari ini juga kamu bisa berangkat, Ra," ucap Galang berpendapat. Dia hanya ingin menyenangkan hati istrinya ini.


Amara menggeleng cepat. "Enggak, Mas. Aku enggak bisa pergi sendirian ke sana sementara kamu di sini sibuk sama kerjaan kamu. Aku enggak mau dicap sebagai istri yang cuma mementingkan kepentingannya sendiri dan malah ngelupain kewajibannya. Kalo harus ke sana, ya, mending sama-sama. Nunggu kerjaan kamu selesai semua baru kita berangkat nyusul Kasih ke Singapura. Bukannya aku masih jadi sekretaris kamu? Aku juga masih punya tanggung jawab sama kerjaan aku."

__ADS_1


Penolakan Amara disambut helaan panjang dari Galang. Di saat seperti ini pun Amara masih ingat dengan pekerjaannya.


"Kamu yakin?"


"Yakin."


"Ya udah terserah kamu. Semoga aja kerjaan saya bisa cepet selesai dan kita bisa langsung nyusul Kasih ke Singapura sekalian bulan madu," bisik Galang diakhir kalimatnya disertai kikikan yang tentunya Amara sangat paham arahnya akan ke mana.


"Baiklah... terserah Mas. Aku nurut aja." Amara hanya bisa pasrah dengan apa yang diinginkan suaminya.


Mengusak puncak kepala Amara, lantas Galang beranjak dari duduknya. "Ayo kita kencan. Mumpung masih ada waktu libur. Kita 'kan belum sempet kencan?" Galang mengulurkan tangannya kepada Amara.


Menautkan alisnya seraya bertanya, "Kencan? Ke mana?" Amara menyambut uluran tangan suaminya lalu berdiri.


"Terserah kamu. Mau ke mana."


"Ya udah. Aku siap-siap dulu kalo gitu. Mas tunggu bentar."


"Enggak usah. Gini aja kamu udah cantik, Ra. Beneran." Galang mencegah Amara yang hendak merapikan penampilannya.


"Tapi muka aku kusut, Mas. Jelek. Abis nangis juga. Seenggaknya aku mau cuci muka dulu." Amara mencebik tak setuju dengan perkataan suaminya yang mengatakan jika dia tetap terlihat cantik walau tampil seadanya.


"Iya-iya. Saya tunggu kamu siap-siap. Jangan terlalu cantik, Ra. Saya enggak mau kamu jadi pusat perhatian laki-laki lain di luar sana."


Amara memutar bola matanya ke atas, menggeleng samar, lantas gegas ke kamar mandi, meninggalkan Galang yang mulai overprotektif kepadanya.


"Berlebihan.' Batinnya menyeru.


###

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2