
~ TERPESONA.
###
Paginya, Aldo masuk ke kamar rawat Galang dengan tergesa-gesa. Sepanjang perjalanan dia menuju ke Rumah Sakit tak hentinya pria berkacamata itu menggerutu dan mengumpat. Alasan Aldo bersikap demikian lantaran Galang menyuruhnya untuk ke Rumah Sakit padahal hari ini adalah hari liburnya.
'Si Galang emang bikin repot aja bisanya. Enggak dulu enggak sekarang. Sukanya nyusahin aku.' Batinnya tak henti mengomel lelaki yang saat ini tengah bersiap-siap untuk pulang itu.
Yah, Galang mendesak Aldo supaya memberinya izin pulang hari ini sebab ada hal yang sangat penting. Apalagi jika bukan rencananya yang akan melamar Amara. Dia pun sudah mengabari Aldo sebelumnya jika rencana yang kemarin sempat disusun harus batal. Awalnya Aldo merasa lega sebab dirinya tak perlu repot-repot mencari orang untuk menjadi saksi.
Namun, kelegaannya tak bertahan lama ketika Galang justru memberinya tugas lain yang cukup banyak. Galang memintanya mencarikan tempat yang bagus untuk melamar Amara. Jelas saja Aldo kesal bukan main, dia itu seorang dokter bukan orang W.O yang dimintai untuk mencarikan gedung.
ck!
"Kamu harusnya belum boleh pulang." Aldo berkata sembari membantu temannya duduk di atas bed. Lelaki ini begitu nekad padahal kondisinya masih lemah.
Galang berdecak lantas menyahuti, "Berobat jalan juga enggak masalah 'kan? Aku bosen di rumah sakit."
"Bosen apa udah ngebet," ejek Aldo. "Terus, si Amara mana? Kok, kamu sendirian?" tanyanya yang baru sadar jika Amara tak ada di kamar itu.
"Amara udah aku suruh pulang duluan sama sopir."
"Terus, kamu gimana?"
"Nanti aku bareng Kevin."
"Cincinnya udah dapet?"
"Udah."
Galang langsung memerintah Kevin membeli cincin di toko langganan mami. Meski dia sempat pusing lantaran bingung harus membeli cincin dalam waktu singkat. Galang pun tak kehabisan ide dan merubah seluruh rencana yang telah dia susun rapi. Dan, Kevinlah yang saat ini sedang mondar-mandi dan paling sibuk.
"Restorannya udah siap?" tanya Galang memastikan lagi, padahal belum ada satu jam dia bertanya.
Aldo menghela panjang lantas menjawab, "Udah Bapak pengacara yang terhormat."
__ADS_1
Galang terkekeh. "Sip!" Mengacungkan jempolnya ke depan muka Aldo yang masam.
Beberapa saat kemudian, perawat masuk dan meminta Galang untuk mengambil obat dan menandatangani surat kepulangannya. Dengan, ditemani Aldo, Galang menuju ke bagian yang dimaksud. Usai menyelesaikan urusannya, Galang memilih menunggu Kevin di kantin Rumah Sakit saja.
Berbincang-bincang sebentar, dan tak sadar waktu berlalu begitu cepat. Hampir pukul sebelas siang Kevin tiba di sana dan langsung menemui Galang.
"Terima kasih, ya. Kalo enggak ada kalian saya mungkin enggak bisa lakuin ini semua," ucap Galang sekadar mengapresiasi bantuan dari kedua orang yang ada di hadapannya ini. Aldo dan Kevin.
Kedua pria itu mengangguk bersamaan.
"Kita pulang dulu atau gimana, Pak?" tanya Kevin seraya beranjak dari duduknya.
"Kita langsung aja. Nanti saya akan share lock alamatnya ke Amara. Biar nanti dia dianter sopir.
"Aku ikut enggak, nih?" Aldo tiba-tiba menyela. Dia ikut berdiri dan menatap bergantian Galang dan Kevin.
"Kamu ikut aja. Siapa tahu butuh edukasi untuk melamar," celetuk Galang yang tak lebih sebuah sindiran.
Aldo mendengus seraya berkacak pinggang. Lagi-lagi dia yang kena sasaran. Nasib jomblo abadi ya memang begini. Selalu jadi bahan ejekan. Sementara Kevin cuma bisa menahan tawanya sambil geleng-geleng kepala. Bosnya ini suka sekali mengejek Aldo—pikirnya.
Kevin merogoh saku celananya, mengambil benda berbentuk kotak beludru berwarna biru. Kemudian, dia menyodorkan benda itu pada Galang.
"Ini, Pak. Semoga pas sama ukuran jarinya Mbak Amara," ucap Kevin penuh harap lantaran pada saat membeli dirinya hanya mengira-ngiranya saja.
"Bagus," puji Galang yang langsung membuka dan melihat cincin tersebut. Cincin yang sangat manis dan cantik, sesuai keinginannya. Dia tak henti mengulum senyum sambil membayangkan Amara yang akan terlihat lebih cantik dengan memakai cincin ini.
Tak mau membuang waktu lagi, ketiganya bergegas meninggalkan Rumah Sakit dan langsung menuju Restoran yang sudah dipersiapkan Aldo. Perasaan Galang nano-nano, antara gugup dan cemas. Namun, rasa percaya diri lebih mendominasi. Dia yakin jika Amara pasti akan menerima lamaran.
***
Di rumah Galang, Amara kini sedang bersiap-siap untuk pergi lagi. Dia merasa sedikit aneh dengan gelagat Galang tadi. Kenapa dia diminta untuk pulang lebih dulu dan harus datang ke suatu tempat dengan berdandan secantik mungkin.
"Aneh. Kayak ada yang ditutup-tutupin sama dia. Kenapa dia udah diijinin pulang?" Amara tak habis pikir dengan sikap atasannya itu, dia pun bertanya-tanya sendiri perihal Galang yang sudah diijinkan pulang.
Memilih mengabaikannya saja. Fokus Amara langsung teralihkan pada sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Pak Galang~ Datang ke alamat ini jam dua. Aku tunggu kamu di sana.
"Restoran?" Amara mengernyit saat membuka pesan Galang yang memberinya alamat lokasi. "Mau ngapain ngajak ke situ?" Dia semakin penasaran dengan apa yang sedang direncanakan Galang.
Memberi sentuhan terakhir pada bagian pipi, Amara pun gegas berdiri. Mematut sekilas penampilannya dan memeriksa kembali riasan di wajahnya. Tak lupa dia menyemprotkan parfum beraroma Lily favoritnya pada bagian-bagian tertentu.
Selanjutnya, dia langsung bergegas keluar kamar dan menuju halaman rumah. Tepat Amara keluar, bersamaan dengan sopir yang membukakan pintu mobil. Sang sopir segera membawa pergi Amara ke alamat yang sudah dikirimkan Galang sebelumnya.
***
Di Restoran, Galang dan dua pria lainnya terlihat sudah duduk di tempat terpisah. Berkali-kali Galang membenahi letak dasinya yang membuatnya sedikit sesak. Penampilannya tak kalah gagah dan tampan dengan balutan jas berwarna hitam dan kemeja putih di dalamnya.
Mendesah gusar seraya mengecek jam tangan, Galang celingukan ke sana kemari memindai ruangan yang telah dia sewa khusus siang ini. Dulu, ketika dia melamar Vanila tidak seistimewa dan se-menegangkan ini.
"Hfuuh," Mencoba untuk merilekskan diri dengan meneguk air putih yang ada di depannya. Rasa dingin menjalar ke tenggorokannya yang kering, rupanya cara ini sedikit ampuh. Otot-ototnya yang semula menegang perlahan mengendur dan memberikan efek luar biasa.
"Lama banget. Apa kena macet, ya?" gumam Galang sembari mengecek sekali lagi jam yang melingkar di tangannya. "Jam dua. Kenapa belum sampe?" Bola matanya bergulir dan terfokus pada pintu. Berharap, seseorang membuka pintu tersebut dari luar.
Dia pun berinisiatif menghubungi sopir yang ditugaskan untuk mengantar Amara. Namun, tak ada jawaban dari sana. Galang merasa gelisah dan cemas.
"Kenapa enggak dijawab? Bikin orang kepikiran aja," gerutu lelaki itu sambil menatap layar ponselnya. Lalu, di saat dia hendak menghubungi Amara tiba-tiba suara pintu yang dibuka mengalihkan pandangannya. Sontak Galang menatap ke arah pintu itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Amara ....?" Refleks dia berdiri dari tempatnya sambil terus menatap sosok wanita yang dia tunggu-tunggu sejak tadi sedang berjalan menghampiri.
Terpesona dengan kecantikan Amara yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Galang memindai penampilan Amara yang sangat-sangat berbeda dari biasanya. Perempuan itu memakai dress putih sebatas lutut dan berlengan pendek. Rambutnya dia biarkan tergerai bebas. Riasan wajahnya juga sangat natural dan alami. Pandangan keduanya seketika bertemu, saat Amara berdiri tepat di depan Galang.
###
bersambung....
wkwkwkwk 🤣 terserah kalian mau bayangin siapa. Kalo author bayanginnya mereka...🤭😆
Maaf, updatenya malem... Mood nulis mendadak ilang gegara mikirin sekolah dua bocahku. Yang gede mau masuk SMP, emaknya lagi puyeng 😌 yaah....jadi curhat deh,,🙈😬
__ADS_1