
~DASAR PELAKOR!
###
Dengan izin dari sang suami, Amara mengatakan ingin pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa baju dan mainan untuk Kasih. Sebentar lagi adalah hari ulang tahun putri kesayangannya itu. Jadi, Amara ingin memberikan hadiah yang selama ini tidak bisa dia berikan. Sebenarnya, hadiah yang diminta Kasih tidaklah pernah muluk-muluk. Gadis kecilnya hanya meminta dibelikan satu paket lengkap Boneka Barbie beserta istananya.
Namun, karena harganya yang cukup mahal, dulu Amara belum bisa mewujudkan keinginan tersebut. Uang yang dimiliki hanyalah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membeli obat. Kasih pun faham dan mengerti akan hal itu. Gadis kecilnya selalu menurut dan bersabar bila Amara membujuknya. Lantas, kebetulan saat ini Amara sudah mempunyai rezeki yang cukup, maka keinginan Kasih pasti akan dia turuti. Apa pun yang diinginkan dan diminta kasih, sebisa mungkin Amara akan memenuhinya.
Menikah dengan Galang merupakan hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan. Hingga detik ini, Amara masih belum percaya jika dirinya telah menikah dan menjadi seorang istri dari lelaki yang mempunyai nama. Kehidupannya pun jelas berubah, yang awalnya biasa saja dan sederhana. Kini, Amara bisa membeli apa pun yang dia inginkan tanpa menekan budget yang dia punya.
Galang membebaskan Amara dalam urusan itu. Menyenangkan hati perempuan yang saat ini menjadi ratu di hatinya. Tak hanya memenuhi nafkah batin, lelaki itu juga melimpahkan nafkah lahir yang terlampau cukup dan berlebihan bagi Amara.
Meski demikian, Amara tak mau memanfaatkan semua kepercayaan yang diserahkan Galang padanya. Tanggung jawabnya sebagai seorang istri saat ini sedang diuji. Bisakah dia mengatur dengan baik keuangan, atau malah justru berfoya-foya dan membeli semaunya? Tidak! Amara bukanlah tipe perempuan yang hobi berbelanja atau pun membeli barang-barang mewah. Perempuan itu sudah terbiasa hidup sederhana dan seadanya. Membeli sesuatu yang sesuai kebutuhan bukan membeli sesuatu demi memenuhi keinginan.
Usai memilih mainan yang diinginkan Kasih sejak lama, Amara pun memutuskan untuk membayarnya ke kasir. Perasaannya saat ini tak perlu ditanyakan lagi. Bahagia dan merasa puas lantaran bisa mewujudkan keinginan sang putri satu-satunya.
"Kasih pasti suka." Sedari tadi bibirnya tak berhenti tersenyum, walau hanya membayangkan ekspresi muka Kasih ketika menerima hadiah itu.
"Totalnya lima juta enam ratus delapan puluh, Kak," ucap salah satu kasir yang melayani Amara. Dia menyerahkan kertas struk belanja itu dengan ramah.
Amara mengangguk, lantas mengambil dompet dari tasnya. "Bayar pakai debit bisa 'kan, ya?" tanyanya sambil menunjukkan kartu tersebut kepada kasir.
Maklum, selama ini Amara sama sekali belum pernah menggunakan kartu semacam itu. Dia pun sempat kaget dengan total belanjaannya. Seumur hidup, baru kali ini dia berbelanja mainan semahal itu. Biasanya, paling mahal ya sekitar seratus ribu.
"Bisa, Kak. Biar saya bantu."
Amara tersenyum lega, lalu memberikan kartu tersebut kepada kasir. Setelah menunggu beberapa saat kasir pun meminta pin kepadanya.
"Minta tolong pin-nya, Kak."
Mengangguk seraya tersenyum, Amara menekan pin kartu debitnya ke alat transaksi yang ada di depannya. Angka cantik yang merupakan tanggal pernikahannya dengan sang suami.
"Terima kasih," ucap kasir wanita itu, usai menyelesaikan transaksi pembayaran sambil mengembalikan kartu milik Amara.
"Mari...." Amara mengambil kartunya, lalu pergi dari toko mainan itu dengan bag berisikan mainan di tangannya.
Sesuai niat awalnya, setelah membeli mainan, Amara juga ingin membeli beberapa baju untuk Kasih. Karena itu, dia pun memutuskan untuk masuk ke salah satu toko baju yang menurutnya paling bagus di Mall tersebut.
__ADS_1
"Bajunya bagus-bagus banget. Lucu-lucu. Pasti Kasih suka kalo aku beliin baju karakter kesukaannya."
Bola mata bulat itu berbinar saat kakinya melangkah masuk ke toko baju. Model baju dari usia anak-anak sampai dewasa semua tersedia di sana. Amara sampai bingung harus memilih yang mana, karena menurutnya semua terlihat bagus.
Melangkah pelan menyusuri setiap sudut sembari memilah pilihannya. Perhatian Amara fokus pada setiap baju anak dengan warna-warna cerah. Memang agak bingung, tetapi tak membutuhkan waktu lama dia telah menemukan baju yang cocok untuk Kasih.
"Ini kayanya cocok, deh. Warnanya juga cantik." Amara mengambil stelan baju anak berwarna pink dan hijau tosca. Lalu, mengambil jumpsuit couple bahan denim yang terpajang di manekin.
Puas dengan pilihannya, Amara pun menyudahi karena sudah merasa cukup. Di tangannya kini ada empat stelan baju anak dan dua baju couple.
Amara melangkah menuju kasir, dan mengantre. Toko tersebut cukup ramai pengunjung, jadi dia terpaksa harus antre. Sembari menunggu antreannya tiba, Amara mengecek ponselnya yang ada di tas yang sempat bergetar.
"Mas Galang?"
Tak dapat menyembunyikan rasa senang, lantaran sang suami mengiriminya pesan. Bibir Amara tersenyum lebar dengan hati berbunga-bunga, membaca isi pesan itu.
[Belanjanya udah selesai, belum? Jangan kecapekan.]
[Sebentar lagi, Mas. Ini lagi antri di kasir.] Amara membalasnya cepat, dan melihat centang biru. Itu artinya sang suami langsung membacanya.
[Ya udah. Kalo udah selesai langsung pulang. Jangan capek-capek. Jangan lupa beli kebutuhan buat kamu juga, Ra.]
[Iya, Mas. Abis ini aku langsung pulang, kok. Kakiku juga udah pegel-pegel.]
Amara mengetik pesan balasan sambil sesekali memerhatikan antrean. Kakinya melangkah sedikit demi sedikit agar cepat ke nomer urutan.
[Oke. Happy shopping, Dear. I love you, see....]
[Love you to, Babe....❤️]
Selesai berbalas chat, akhirnya giliran Amara tiba. Dia pun disambut ramah oleh kasir yang bertugas. Menyerahkan barang belanjaan yang sejak tadi dibawanya, Amara lantas menunggu kasir men-total semuanya, dan mengembalikan ponsel ke dalam tas.
"Totalnya empat juta dua ratus tujuh, Kak." Kata kasir tersebut sembari memberikan kertas struk pembayaran.
"Saya pakek debit, ya?"
"Boleh."
__ADS_1
Amara mengeluarkan dompetnya lagi, dan mengambil kartu yang sama. "Ini." Menyerahkannya pada kasir.
"Tunggu sebentar ya, Kak."
Amara mengangguk sebagai jawaban. Dia pun menunggu kasir menyelesaikan tugasnya. Namun, pada saat yang tak diduga tiba-tiba ada suara yang berseloroh dari balik punggungnya.
"Ck! Ada yang lagi foya-foya, nih! Enak, dong, sekarang jadi istri dari pengacara bisa shopping sepuasnya. Maklum, sindrom orang kaya baru. Bawaannya pengen belanja mulu."
Merasa familiar dengan suara itu, Amara lekas menolehkan kepalanya.
"Mbak Vanila?" Dia sudah bisa menebak. Pelakunya adalah mantan istri dari suaminya.
"Cih! Mbak? Ngerasa deket kamu sama saya?" Vanila memutar malas bola matanya. Sepertinya dia merasa iri dengan keberadaan Amara di toko ini. Bisa belanja sepuasnya dengan menggunakan uang mantan suaminya.
Amara menghela, mencoba bersikap tenang dan tidak terpancing dengan ucapan pedas Vanila. Tersenyum anggun lantas menanggapi semua ocehan Vanila dengan santai.
"Loh, bukannya tadi Mbak duluan, ya, yang nyapa saya? Itu artinya, Mbak ngerasa kenal saya. Tapi maaf, saya malah lupa. Mbak itu siapa, ya? Kok, tau-tau ngomong gitu? Ngerasa deket sama saya?" Senyum miring tercetak di bibir Amara, setelah puas membalas Vanila dengan telak.
Lantas, Amara kembali menghadap kasir yang menginterupsi untuk menyelesaikan transaksi pembayaran.
Semua orang yang berada di sana sontak memusatkan perhatian mereka kepada kedua perempuan itu. Amara dan Vanila bersitegang di depan umum.
Vanila mengepal erat, rahangnya mengeras seraya menyorot tajam Amara yang saat ini dengan tenangnya mengobrol bersama kasir. Istri baru mantan suaminya itu baru saja menyelesaikan transaksi pembayaran dengan menggunakan kartu debit. Jelas hal tersebut semakin membuat Vanila merasa panas.
Semua yang harusnya menjadi miliknya, kini berpindah tangan dan dimiliki perempuan lain. Kebencian terhadap Amara pun semakin menjadi, hingga membuat Vanila pun berpikir untuk mempermalukan sekertaris mantan suaminya itu.
Kaki Vanila melangkah maju, maniknya melihat ke sekeliling sekilas. Bibirnya tersenyum miring saat mendapat kesempatan untuk membalas Amara. Orang-orang di sekitarnya, masih memusatkan perhatian ke mereka berdua.
Di saat Amara hendak berbalik dan meninggalkan antrean, Vanila tiba-tiba melontarkan kalimat yang sontak membuat para pengunjung di sana berbisik-bisik.
"Jelas aja saya kenal kamu. Kamu itu 'kan mantan selingkuhan suami saya. Cih! Pura-pura polos. Dasar pelakor!" Vanila tersenyum smirks sembari menyilangkan tangan di dada.
Dalam sekejap dia memutar balikkan fakta, dan sukses membuat Amara mematung di tempatnya.
'Rasain, kamu! Biar aku liat, kamu bakal jawab apa.' Vanila membatin puas, menatap Amara yang hanya diam berdiri membelakanginya.
###
__ADS_1
bersambung..
hadeeuuuh... ckckck! Si biang onar muncul, genk's 😅 enaknya diapain, ya??😆