
~BUKET BUNGA.
###
Suara pintu yang diketuk, seketika mengalihkan perhatian Amara yang sejak tadi menggulir layar ponselnya.
"Masuk!"
Benda persegi itu di dorong dari luar oleh seorang OB. Ketika pintu tersebut terbuka, Amara langsung bisa melihat buket bunga Lily berukuran besar di tangan OB itu.
"Maaf, Bu... Ini ada kiriman bunga. Katanya buat Bu Amara," ucap OB pria bernama Deni. Dia melangkah mendekati istri atasannya yang kini bangkit dari tempatnya.
"Bunga? Saya enggak pesen bunga, Den." Kening Amara mengernyit seraya menerima buket bunga Lily favoritnya dari tangan Deni. "Ada nama pengirimnya, enggak?" Amara menelisik buket tersebut, mencari sesuatu yang biasanya tersampir nama pengirimnya.
"Tadi kurirnya enggak bilang apa-apa, Bu. Cuma ngomongnya, kalo bunga ini buat Bu Amara," jelas Deni tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Enggak ada?" Rasa penasaran Amara jelas semakin bertambah. "Apa Mas Galang yang ngirim?" Cuma nama suaminya yang terbersit di pikirannya saat ini. Karena memang hanya Galang yang tahu bunga favoritnya.
Merasa sudah tidak ada lagi urusan, Deni pun pamit undur diri dari ruangan.
"Kalo gitu saya permisi, Bu... Mari."
Manik Amara langsung beralih ke Deni yang sudah melangkah mundur. "Ah, iya. Makasih ya, Den."
"Sama-sama, Bu." Deni berbalik dan segera keluar dari sana.
Sejurus kemudian, Amara tersenyum dengan perasaan bahagia. Memandangi buket bunga yang sangat indah yang ada di tangannya. Untuk sementara, dia berpikir jika sang suamilah yang mengirimkan ini untuknya.
"Mas Galang romantis banget, sih. Pakek ngirim bunga segala." Bibirnya tak berhenti melengkungkan senyum, seraya mengendus aroma bunga Lily yang menguar di hidung. Amara sangat menyukai bunga tersebut dan dia hendak membawanya ke Apartemen.
__ADS_1
Sementara itu, Galang dan Kevin kini tengah terjebak di jalan yang sangat padat merayap. Kemacetan yang paling dibenci oleh lelaki itu hampir membuatnya gila. Ditambah lagi dengan ponselnya yang mati dan Galang lupa membawa cas.
Alhasil, dia tidak bisa membalas chat dari sang istri yang belum sempat terbaca. Pun, dengan Kevin. Ponsel pemuda itu juga lowbat dan lupa membawa cas. Sungguh! Kemalangan berjamaah kalau sudah seperti ini.
Harusnya, Galang sudah kembali ke kantor satu jam yang lalu. Persidangannya tadi selesai sekitar pukul 15.00 sore, dan dia keluar dari gedung pengadilan pada puku 15.30. Ada hal yang harus dia urus sebelumnya dengan kliennya. Itulah yang menyebabkan dirinya agak sedikit terlambat.
Namun, saat dia sedang terburu-buru malah kemacetan yang menyambutnya. ck!
"Hfuuh...." Galang mengembuskan napas frustrasi dan juga lelah.
Kepalanya pusing dan penat lantaran menatap rentetan mobil yang mengular di depan matanya. Andai saja, dia saat ini tidak sedang berada di jalan tol. Mungkin, sudah sedari tadi dia keluar dari mobil dan memilih memesan ojek online. Sayangnya, semua itu tidak bisa dia lakukan seperti yang dia bayangkan.
"Amara pasti lagi nunggu saya, Kev," ucap Galang, tanpa mengalihkan pandangannya dari mobil-mobil yang mengular di depan sana. Sikunya bersandar di pinggir jendela mobil, sementara ke lima jarinya sibuk menekan-nekan pelipis yang berdenyut.
Kevin menoleh, dia kehabisan kata-kata untuk menanggapi Galang yang tak ada habisnya mengingat Amara. Sudah sepuluh kali lebih, bos-nya itu berkata demikian. Amara dan Amara. Hanya nama itu yang meluncur dari bibirnya.
"Ck!" Galang berdecak nyaring. Mobil-mobil tersebut ibarat keong di matanya. Kenapa sangat lambat dan lama. Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan kemacetan ini.
"Besok-besok cari jalan alternatif, Kev. Biar kita enggak kejebak macet kaya gini lagi," ujarnya memberi usulan.
Alis Kevin sontak menaut, tanpa berani menatap Galang. Dalam hati dia bertanya-tanya sendiri.
Jalan alternatif? Emang ada ya?
"Setahu saya jalan alternatif menuju ke pengadilan enggak ada, Pak. Cuma jalan ini jalan satu-satunya. Itu yang saya tahu." Meski ragu, akhirnya Kevin menjawab usulan Galang. Karena memang hanya ini satu-satunya jalur menuju ke pengadilan. Dan, mereka sudah biasa melaluinya.
Tetapi, tidak seperti biasanya mereka terjebak di sini. Dan, semua ini tentu di luar dugaannya.
"Iya, saya tahu. Saya tadi cuma usul aja," sahut Galang dengan ekspresi wajah datar dan menahan kesal. Kedua maniknya tetap memandang ke depan sana. Namun, pikirannya berada di tempat lain, yakni memikirkan Amara yang sedang menunggunya di kantor.
__ADS_1
Kevin faham jika saat ini Galang tengah kacau dan tidak merasa tenang. Maka, dia memilih untuk tidak bersuara lagi. Sembari kakinya menginjak pedal gas perlahan karena nampaknya jalan sudah terlihat lengang. Sebentar lagi, mobil yang dikendarai tiba di pintu keluar tol, dan kemungkinan akan tiba di kantor sekitar lima belas menit.
Sesuai perkiraan, Kevin dan Galang hampir tiba di Firma Hukum setelah berhasil keluar dari kemacetan. Langit di atas sana sudah terlihat menggelap, dan itu sukses menambah kekesalan Galang. Dia molor hampir satu jam dari waktu yang dijanjikan kepada Amara. Lantas, demi menebus rasa bersalahnya, lelaki tampan itu berinisiatif membelikan bunga kesukaan sang istri.
Tepat, di nama mobilnya hampir melewati toko bunga, Galang meminta Kevin untuk mampir sebentar.
"Stop di sini bentar, Kev. Saya mau beli bunga dulu buat Amara." Galang gegas turun dari mobil setelah melepas sabuk pengaman. Dan tentunya setelah mobil terparkir di depan toko bunga tersebut.
Saat masuk, perhatian Galang langsung tertuju pada seikat bunga yang terpajang di depan toko. Bunga Lily favorit sang istri.
"Amara pasti suka ini." Melihat bunga tersebut, pikirannya langsung tertuju pada sang wanita pujaan. Tanpa menunggu lama, Galang segera menyuruh pemilik toko untuk merangkainya menjadi satu buket yang cantik.
"Terima kasih, semoga suka." Pemilik toko menyeru, mengantar kepergian Galang yang melenggang dari sana.
Galang buru-buru masuk ke mobil, lalu menaruh buket bunga yang baru saja dibelinya di jok belakang.
"Ayo, Kev, cepet sedikit. Amara pasti bosen nungguin kita," titahnya sambil memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.
Kevin mengangguk. "Baik, Pak," sahutnya yang lantas membawa mobil hitam itu melesat ke tempat semestinya.
Bayangan wajah Amara yang bahagia saat menerima buket bunga Lily darinya, terus berkelebat di benak Galang. Istrinya itu pasti akan senang dan tidak akan marah karena sudah dibuat terlalu lama menunggu. Semenjak menikahi Amara, Galang berusaha untuk tidak membuat perasaan perempuan itu kecewa. Sebisa mungkin dia memupuk rasa cinta di hati Amara agar tumbuh subur dan semakin berkembang.
Sebagai laki-laki yang pernah gagal dalam berumah tangga, dia tidak ingin ada celah di dalam hubungannya yang baru seumur jagung. Apalagi, Amara baru saja mengungkapkan perasaannya. Bisa dikatakan, rasa cinta istrinya itu baru ditahap pertama. Ibarat bunga yang belum sempurna mekarnya. Dia takut, jika dengan kesalahan kecil ini, rasa cinta Amara bisa saja berkurang.
haisshhh.... berlebihan sekali pikiran lelaki ini!
###
bersambung...
__ADS_1